Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kedatangan Mama Mila.


__ADS_3

"Aku pergi dulu By?" pamit Jason.


"Iya, hati-hati ya Papa!" ucap Shirleen.


Jason sudah mengatakan bahwa dirinya akan lembur malam ini, jadi ia berharap Shirleen tidak perlu khawatir.


Jason melajukan mobilnya ke kantor, pikirannya terus saja tertuju pada mimpinya semalam, ia memijit pangkal hidungnya, ia tidak bisa mengabaikan permintaan anak laki-laki yang ia anggap anaknya itu di mimpinya semalam.


"Gue nggak tau harus ngapain, ngeliat muka Adrian aja gue males, apa lagi harus menganggap semuanya udah baik-baik aja." gumam Jason sembari tangannya terus saja mengemudi.


"Gimana bisa coba?"


"Dia Papa yang buruk, meski dia mencoba menjadi baik pun bagi gue dia tetap aja Papa yang buruk, gue nggak suka Adrian berubah, gue mau dia tetep jd orang jahat biar gue nggak segan buat ngehancurin dia."


Hari ini adalah hari terakhir, tepatnya sore nanti, Jason akan memberi keputusan akan dibawa kemana perusahaannya dan Adrian, jika ia menerima kerja sama tersebut maka dipastikan Adrian akan hancur meski tidak langsung ambruk, namun sebentar lagi perusahaan Papanya itu akan mengalami krisis, dan ia bisa memastikan itu, nyawa perusahaan Papanya itu paling tidak hanya bisa bertahan di tiga bulan, itupun kalau bisa, mungkin jika Adrian tidak bisa mengatasinya waktu dua bulan cukup saja untuk melihat Adrian Group benar-benar hancur berikut antek-anteknya.


Sampailah Jason di kantor, langsung saja ia memasuki lift khusus dirinya dan Roy menuju lantai teratas di mana ruangannya berada.


Mery nampak memberikan salam hormat menyambut kedatangannya, Jason hanya mengangguk, ia sudah sedikit terbiasa akan kehadiran Mery, semenjak ada hari-hari di mana ia harus melibatkan Mery waktu itu.


Ceklek, pintu dibuka, Jason sedikit terkejut kala mendapati Mamanya sudah berada di ruangannya bersamaan dengan Roy yang sudah duduk di sofa.


Namun a mencoba bersikap tenang meski ia tau apa tujuan Mamanya berkunjung ke Kantornya kali ini.


"Tuan Muda, Nyonya besar ingin menemui Tuan Muda!" ucap Roy meminta izin.


"Hemm!" singkat Jason.


"Silahkan Nyonya!" suruh Roy pada Mama Mila.

__ADS_1


Roy hendak melangkah pergi, namun terhenti karena suara deheman Bosnya, membuat ia mengurungkan niatnya, meski tidak dalam bentuk ucapan, Roy sudah tau bahwa Tuan Mudanya itu meminta dirinya untuk tetap tinggal.


Mama Mila nampak bingung, mengapa asisten pribadi anaknya itu mengurungkan niat untuk keluar ruangan pikirnya, bukannya tadi jelas-jelas sudah mau melangkah pergi.


"Silahkan Nyonya!" suruh Roy sekali lagi, karena melihat Mama Mila nampak terdiam


"Ah iya, terimakasih Roy!" ucap Mama Mila.


"Jason, ini Mama, bisakah kita bicara?" tanya Mama Mila lembut, ia takut sekali menyinggung perasaan anaknya itu.


"Ya!" jawab Jason.


"Nak, mungkin kamu sudah tau apa yang membuat Mama datang kemari, jadi Mama tidak akan menjelaskan detil apa tujuan Mama ke sini, mungkin kami bukanlah orang tua yang baik selama ini, tapi bisakah orang tua yang buruk ini meminta sesuatu dari anaknya?" ungkap Mama Mila mencurahkan kehendaknya.


"Haahh," Jason menghela nafasnya, ia memiringkan sedikit sudut bibirnya, hancur sudah harapan bahwa Mamanya akan menanyakan kabarnya di saat pertemuan mereka kali ini, namun ternyata tidak, tanpa adanya basa-basi seseorang yang berharga baginya itu lagi-lagi menyakitinya.


Jason sangat sensitif jika masalah keluarga, kurangnya kasih sayang membuatnya selalu berpikir kekanakan.


"Jason, Mama mohon, relakan ini semua untuk Papamu, setidaknya..."


"Haisss, aku akan sangat berdosa kan, seperti anak durhaka saja jika aku berani membangkang." potong Jason, ia sungguh kecewa.


"Jason, bukan itu maksud Mama, kali ini saja relakan kerja sama internasional untuk Papamu." ucap Mama Mila lagi.


"Heh, aku yang hina ini bisa apa, bisanya hanya menambah pundi-pundi dosa karena tidak menurut apa kata orang tua, bukannya sudah sewajarnya aku merelakan itu, apa lagi yang bisa di lakukan seorang anak untuk kebahagiaan orang tuanya, apa lagi cuma hal semacam ini, aku harus merelakan itu demi Papa kan !" ucap Jason, ia menekankan kembali kata merelakan itu untuk Papanya, supaya Mamanya tau entah berapa banyak lagi yang harus ia relakan untuk Adrian Papanya itu, bahkan hidup normalnya saja sudah ia relakan hancur demi seseorang yang sayangnya harus ia panggil Papa.


"Nak, Jason, kami minta maaf kalau kamu begitu membutuhkan kerja sama ini, tapi Mama mohon sayang, di masa tuanya..."


"Di masa tua... Memangnya siapa yang akan membuat Adrian susah di masa tua, bukannya Adrian berkuasa, siapa yang berani menyusahkannya?" tanya Jason, ia sungguh malas menyakiti hati Mamanya, namun Mamanya lah yang memulai.

__ADS_1


"Jason, dia Papamu, tidak baik bilang begitu!" protes Mama Mila.


"Saat Mama berada disini dan mengatakan itu semua, aku tidak ragu lagi tentang apa keputusan yang akan aku ambil, Mama sudah membuktikan bahwa kita memang sudah semakin menjauh meski hubungan orang tua dan anak tidak akan bisa dibasuh, aku mengerti ini sulit bagi kalian, karena aku pernah mengalami ini, bahkan waktu itu aku belum punya mental yang cukup seperti kalian dan sayang sekali aku harus mengalaminya, dimana masa kecilku di renggut, hidup normalku bahkan kalian lupakan begitu saja, kalian tidak membiarkan aku hidup tenang, selalu saja ada perdebatan di setiap hari hanya karena Adrian yang selalu memaksakan kehendaknya." ungkap Jason, ini kedua kalinya ia marah dan mengatakan keluh kesahnya setelah yang pertama saat ia mendatangi Papanya untuk mencari keberadaan Shirleen.


Mama Mila terperangah, luka itu kembali ia buka meski secara tidak sengaja.


"Tenang saja, anak berumur delapan tahun saja bisa melewati semua itu, lalu mengapa kalian yang sudah berumur setengah abad malah nampak ketakutan?" tantang Jason.


"Jika hidup kalian sudah jauh dari kata normal nantinya, lama-lama mungkin kalian juga akan terbiasa seperti yang aku alami dulu."


"Jason..." Mama Mila menggenggam tangan anaknya itu, bagai sembilu menyayat hati, sungguh tidak sedikitpun niatnya untuk membuat Jason menderita selama ini, tidak ia sangat menyayangi putranya itu.


"Mama tau, kamu pasti sangat merasakan sakit saat itu, Mama minta maaf nak, sungguh Mama dan Papa minta maaf, kami ingin semuanya kembali seperti dulu, kami tidak menyangka kalau kamu akan sangat tersiksa, selama ini kami pikir kamu baik-baik saja, dan bisa menerima." lirih Mama Mila, ia sudah terisak, air matanya sudah jatuh.


"Tapi sayangnya, aku tidak punya hati seluas samudra."


Yah, bukannya malah menerima, namun Jason terus saja memupuk dendam, pernah saja ia menerima dan mencoba berdamai akan masalahnya, namun saat orang tuanya memisahkannya dari Shirleen waktu itu, dendam itu kembali ia kobarkan, dendam yang sudah sangat menggunung.


"Tidak sayang, tidak maafin Mama Nak!" lirih Mama Mila lagi.


Jason membelai lembut pipi Mamanya, ia juga sedih sudah membuat orang yang terkasihnya menangis, "Bagaimana kabar Mama? Sehatkah? Apa Mama hidup dengan baik?" ucap Jason, membuat Mama Mila tercengang akan sikapnya "Bahkan Mama belum menanyakan bagaimana kabarku sedari tadi aku tunggu!"


Jason berbalik pergi meninggalkan Mamanya menuju ruang pribadi di ruangannya, ia tidak mau melihat wajah Mamanya untuk saat ini, rasanya terlalu menyakitkan.


"Jason, Jasoonn, maafin Mama Nak, maafin Mama sayang...Hiks hiks, Jason buka pintunya!" Mama Mila yang langsung saja mengejar Jason harus menanggung lagi kesedihan itu, sungguh ia mengakui bahwa dirinya adalah orang tua yang buruk.


"Jason, buka pintunya, maafin Mama Nak!"


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2