Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Ada yang ingin bekerja.


__ADS_3

Besoknya, pagi setelah hari kematian Ibunya Athar, semua orang sudah mau berpamitan pulang.


"Thar, kamu rawatlah rumah ini, kamu harus kuat, meski nggak mudah tapi ikhlaskan Ibu, kamu harus tinggal disini, jagalah rumah ini, rumah peninggalan Ibu dan Ayah." ujar Delia.


Sementara Mutia dan Citra sekeluarga sudah berkemas barang mereka masing-masing, Mas Ilham suami Delia juga sudah menunggu di mobil.


"Iya Kak!" ujar Athar, rasanya pasti akan sangat sepi, meski ia sudah biasa bagai sendirian di rumah itu karena beberapa bulan Ibunya memang sakit parah, tapi tidak bisa ia pungkiri bahwa kehadiran Ibunya sangat berpengaruh.


"Kami tinggal dulu, kamu baik-baik disini." ujar Delia lagi.


"Iya Kak!"


Riska sudah kembali kemarin malam ke sel tahanan, sementara Fahri, perawat Almarhumah Ibunya itu sudah kembali juga ke rumahnya baru saja sebelum kepulangan kakak-kakaknya ini.


Lalu Delia dan semua keluarga Kakak-kakaknya pun pulang, tinggallah Athar dalam kesendirian, rumah Ibunya tidak terlalu besar, namun jika hanya ditinggali satu orang saja baginya juga lumayan luas.


Kini karena semua Kakak-kakaknya telah sepakat termasuk Riska, semalam mereka sudah memutuskan bahwa rumah itu akan menjadi miliknya sebagai adik bungsu, tanggung jawabnya untuk mengurus peninggalan Ibunya itu.


Athar masuk ke dalam, ia ingin mandi karena teringat akan ucapan Jason yang mengatakan kalau Shirleen tengah dirawat di rumah sakit, rencananya Athar akan menjenguk mantan istrinya itu sebentar.


Sementara di salah satu Kampus terbaik di Indonesia, Afik dan Angga mulai mengurus keperluan mereka untuk memulai kegiatan ospek besok hari, mereka akan menyimak informasi apa saja yang disampaikan terkait besok.


Beberapa ciwi-ciwi nampak antusias memperhatikan mereka berdua, tidak adanya Jason di dekat keduanya membuat mereka bagaikan primadona baru kampus tersebut.


Bolehkah Afik dan Angga sok ngartis tebar pesona, kalau dulu di masa SMA Guna Bhakti pesona mereka sedikit terlindungi oleh Jason namun kali ini keduanya bisa berbangga hati.


"Gue nggak nyangka mereka seantusias itu." gurau Angga.


"Apa gue terlalu lebay yah ngartiinnya, menurut lo gimana sih?" tanya Afik.


"Maksudnya?"


"Ya maksud gue, kali aja gue yang kepedean." jelas Afik.


"Hahaha!" tawa keras Angga, yang nggak ada jaim-jaimnya.


"Udah kuy cabut!" ajak Angga lagi.


"Kemana?" tanya Afik.


"Ya elah ini Sotong, lo nggak denger tadi pengumuman, ya kita cari bahan lah buat besok!" jelas Angga.


"Oh, ya udah ayok!"


Keduanya pun menuju mobil masing-masing, mereka akan mencari bahan untuk kegiatan ospek besok.

__ADS_1


"By, kamu yakin mau kuliah online tahun ini?" tanya Shirleen, ia dengar percakapan Afik dan Jason kemarin dan kalau tidak salah kegiatan ospeknya akan dimulai besok, untuk masalah kuliah online, suaminya itu sama sekali tidak pernah membicarakan keputusan itu padanya.


"Hemmm." singkat Jason.


"Padahal kan aku belum mau lahiran, masih lama juga, aku nggak papa kok kalau kamu kuliah, lagian ada Ipah, ada Mama, gak usah khawatirin aku." ujar Shirleen.


"Haahh," Jason menghela nafasnya, "Aku itu mau ngurusin kamu dari hamil sampe lahiran, bukannya malah seneng di urusin laki." ujar Jason.


"Ya tapi kan aku masih lama baru lahiran." ucap Shirleen lagi.


"Bukannya seneng diperhatiin!" sindir Jason.


"Ya tapi kan..."


"By, jadi kamu maunya gimana?" tanya Jason mulai serius.


Shirleen terdiam, ia meringis karena melihat tatapan Jason, sungguh sebenarnya ia hanya ingin Jason menjalani hidup normal, kuliah seperti layaknya orang biasa, menemukan teman-teman baru di semester pertama kuliah itu sangat seru karena dirinya dulu pernah mengalami itu semua.


Menjalani masa ospek, yang tidak akan pernah Shirleen lewatkan keseruannya, meski waktu itu pada zamannya masih kental kasus pembullyan namun ia hanya menyayangkan pada bagian itu saja, selebih dari itu rasanya Shirleen cukup menikmati.


"Kamu berharapnya gimana?" tanya ulang Jason.


"Ya nggak gimana-gimana sih?" jawab Shirleen lesu.


"Belajarnya sama, nggak ada yang aku lewatkan, lalu apa bedanya, untuk masalah aku tidak mengikuti proses lainnya aku rasa itu bukan masalah, karena kuliah itu tujuannya untuk belajar, bukan untuk bersenang-senang, dan sayangnya juga aku terlalu malas untuk melakukan hal yang kau anggap seru itu." jelas Jason.


"Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu untukmu, aku harus kerja, harus membagi waktu untuk kalian semua, lalu harus di tambah lagi dengan jadwal kuliah, aku rasa aku bukan robot kan, aku tidak mau tiap hari merasa letih sehingga tidak bisa melayanimu dengan baik dan benar." ucap Jason dengan kerlingan matanya.


"Istriku pasti akan sangat sedih jika dirinya lama tidak dibelai." Jason menaik turunkan alisnya genit.


"Apaan sih, dikit-dikit ke arah situ bicaranya." protes Shirleen.


"Ke arah mana?" tanya Jason sok polos.


Shirleen memanyunkan bibirnya, dasar menyebalkan, seenaknya saja membuat keadaan menjadi berbalik.


"Maksudku begini!" Jason membelai lembut rambut istrinya, "Memangnya kamu memikirkan apa By, ke arah yang bagaimana?" tanya Jason lagi, ia senang sekali bisa mempermainkan istrinya itu.


"Aku juga sama, maksudku juga begini." dalih Shirleen, ia mencari aman.


"Kamu suka aku belai By?" tanya Jason lagi.


"Iya suka!" sahut Shirleen, jujur saja dirinya merasa nyaman di dekapan Jason dengan manja membelai rambutnya.


"Hemm, harusnya aku membelaimu berapa kali dalam sehari?" tanya Jason lagi.

__ADS_1


"Hemm menurutmu?" tanya balik Shirleen.


"As you want!" ucap Jason.


"Kalau bisa sih sering-sering By, ini enak sekali." jujur Shirleen, rasanya mata Shirleen sudah menyipit karena Jason sungguh membuatnya merasa nyaman.


"Ohh," Jason mengangguk, "Ternyata begitu!" ucapnya.


"Iya By, ini enak sekali!"


"Baiklah aku akan membelaimu sering-sering sesuai keinginanmu!" ujar Jason, kini ia sudah membalikkan tubuh Shirleen, mencumbu mesra candunya yang sudah sangat ia rindukan, sudah berapa hari ia tidak menikmatinya.


Shirleen sampai susah bernafas karena serangan tiba-tiba Jason.


"Hah hah hah," Shirleen menetralkan nafasnya yang memburu, "By ini rumah sakit, kamu bener-bener yaaa, selalu saja salah arti, dikit-dikit pasti ke arah situ." omel Shirleen ditengah-tengah cepat nafasnya.


"Tidak masalah, Rumah Sakit rasa ruang pribadi, kita belum pernah melakukannya disini, sebelum pulang tidak ada salahnya kan kita mencoba untuk mengabadikan." ucap Jason, tatapannya penuh cinta dan juga naf*u.


Jangan salahkan dirinya, ia hanyalah manusia normal yang membutuhkan pelepasan setelah berpuasa beberapa hari.


Lagi pula Shirleen sudah bisa dikatakan pulih total saat dokter Eri tadi pagi memeriksanya, infus juga sudah di lepas, namun karena ini rumah sakit milik keluarga Adrian, dokter Eri bisa apa pada pasien dan keluarga pasiennya yang satu ini, mau menginap sebulan di Rumah Sakit ini juga siapa yang berani larang.


"By, kau benar-be..."


Jason tidak memberikan kesempatan untuk Shirleen protes, ia sudah membungkam lagi mulut istrinya itu dengan mulutnya, lidah mereka saling beradu, bertukar saliva, meski Shirleen tidak setuju namun dirinya tetap membalas permainan lidah Jason.


Tangan Jason tidak tinggal diam, menyelinap masuk pada piyama rumah sakit yang Shirleen pakai, mere*as bukit kembar yang tidak lagi pas di genggamannya itu, sehingga ada sedikit air asi yang membasahi tangannya.


Ia tidak bisa membiarkan itu, itu sungguh sangat mubazir jika terbuang sia-sia, tanpa ragu Jason mengarahkan wajahnya pada bu*h da*a Shirleen, mulutnya sudah menyesap rakus sumber makanan Jacob itu.


"Aaahhh." de*ah Shirleen akhirnya lolos juga, ia memegang kepala suaminya, mengisyaratkan bahwa ia juga menikmatinya.


Jason semakin membuat dirinya dan sang istri menggila, hingga nanti mereka berencana akan menuju puncak bersama-sama.


"Aku mencintaimu By." ucap Jason di tengah-tengah deru nafasnya, kini ia akan mulai melepaskan Jeki dari sangkarnya karena si Jeki sepertinya sudah sesak sedari tadi meminta kebebasan, ia akan memberi Jeki ruang untuk bekerja melakukan tugasnya, menunjukkan betapa perkasa si Jeki peliharaannya itu.


"Aku juga By." jawab Shirleen ditengah des*hnya.


Sreetttt, Jason mulai membuka syarat pertama untuk mengeluarkan si Jeki.


Namun lagi lagi,


Tok tok tok...


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2