
Hari ini adalah hari pertama kegiatan ospek yang akan dijalani Angga dan Afik, keduanya sudah berada di parkiran dan sudah siap dengan atribut lengkap sesuai permintaan.
"Kalian berdua mahasiswa baru kan, kenapa nggak kumpul mengakrabkan diri dengan yang lainnya?" tanya salah satu senior kampus, melihat Angga dan Afik memisahkan diri dari rombongan membuat ia tertarik untuk menanyakan itu, apalagi yang ditanya lumayan ganteng, bisa sekalian diajak kenalan kan nanti pikirnya.
"Kan belum disuruh kumpul kak, bel aja belum bunyi!" jawab Afik tanpa ragu, tidak tau saja para senior dengan kekuatan mulut cabe Afik.
"Kamu berani jawab saya!" bentak senior tersebut, wajah yang tadi bersahabat kini menjadi sedikit masam.
"Kan ditanya, ya kita jawab lah!" kali ini Angga menimbali jawaban Afik tadi.
"Tapi kalian liat, semua orang berinteraksi sesama mahasiswa baru, kalian malah santai-santai disini!" omel senior wanita itu lagi.
"Perasaan di informasi yang dijelasin kemaren nggak ada deh harus saling rumpi sesama mahasiswa baru, lo ada denger nggak kemaren Fik?" tanya Angga, keduanya memang tidak ada sopan sama sekali dengan senior, bagi mereka, mereka akan bersikap sopan pada yang sopan, dan kurang ajar pada yang kurang ajar juga.
"Saya senior disini yaaa, punya etika harusnya kalian!" bentak senior.
"Saya junior disini yaaa, cuma pengen bilang itu doang kak, kali aja kakak nggak tau, hehehe." ucap Afik, ia menaik turunkan alisnya.
Sumpah, wajah yang apik tidak mencerminkan kelakuan, buktinya Angga dan Afik, tampang meneduhkan tau-tau kelakuan gila, begitulah kiranya yang ada di pikiran senior wanita tersebut.
"Lo lagi ngapain sih?" tanya senior wanita satu lagi mendekat bersama dengan rombongannya.
"Ini nih, mahasiswa baru tapi udah berani nyolot kalau di tanya..."
"Eett ett ettt, mon maap ni ye kakak kakak, terutama buat lo, coba jelasin bagian mana perkataan gue sama temen gue yang lo anggep nyolot, ini masih pagi yaaa tolong jangan bikin ribut, gue daftar di kampus ini mau kuliah bukannya mau ngeladenin lo pada, belum kumpul juga kan, kita semua, ni anak baru semua nih nih yaaa," Afik menunjuk beberapa kelompok anak baru yang masih sedang asik berbincang namun tampak terusik karena perdebatannya dengan senior, "Belum disuruh ke lapangan kan, kalau mau kenalan bilang kak nggak usah dengan cara kek gini juga, basi." ucap Afik dengan pedenya, satu kata yang pasti, ia tidak perduli.
"Nah terus serah gue dong mau ngapain sama temen gue ini, anda sopan kami segan, jadi jangan ngajarin kita etika, nanti gue bakalan hormat sama lo kalau udah masuk jadwal ospeknya, lagian lo nanya sama kita tadi udah kayak mau malak aja, jadi ya jangan berharap gue bakalan baek-baek nanggepinnya." lanjut Afik lagi.
Para senior nampak tercengang, bagaimana bisa mereka baru saja di beri peringatan atau semacamnya, raut wajah masam menghiasi hampir di seluruh wajah para senior.
__ADS_1
"Tandain mereka guys!" ucap salah satu senior wanita tersebut, menatap nyalang Angga dan Afik, aura permusuhan kental sekali terlihat, lalu kemudian berlalu pergi.
"Tandain mereka gaes, woy gaes seenaknya aje, kalau nggak bully ya nyepik gitu dah kerjaannya" ucap kesal Afik.
Setengah jam berlalu, kini para mahasiswa baru sudah mulai di arahkan supaya memasuki lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan Ospek, begitu pula dengan Afik, seperti pada masa SMA, mereka akan menjadi mahasiswa teladan, mereka hanya tidak suka diatur-atur apa lagi aturan yang asalnya bukan dari pihak kampus, namun bukan berarti mereka hendak melawan aturan yang sudah di tetapkan, mereka sudah tau mana yang salah dan mana yang benar, mereka berdua tidak akan tunduk meski dengan senior sekalipun jika menurut mereka salah.
Sedang di tempat lain,
Jason sedang membahas kerja sama yang sempat di hadiri oleh Roy di luar kota menggantikannya, hanya ada dua perusahaan besar yang di pertimbangkan untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan asing yang berpusat di kota sebelah itu, dan sayang sekali lawannya kali ini adalah perusahaan Papanya sendiri, yang tidak lain adalah Adrian Group, perusahaan raksasa yang sudah memiliki cabang dimana-mana, ia pun tau, sebab ARAD Group awalnya adalah cabang Adrian Group sebelum akhirnya memisahkan diri.
Jason sudah berdiri sendiri saat ini, bahkan ia rela mengeluarkan kocek dengan nilai fantastis tak tanggung-tanggung untuk menandai ganti rugi supaya ARAD Group benar-benar jadi miliknya waktu itu.
"Bagaimana Tuan Muda?" tanya Roy, apapun keputusan Tuan Mudanya akan ia dukung, meski harus melawan Tuan Besar sebagai orang yang pertama kali mempekerjakannya.
"Apa konsekuensinya jika kita yang mundur?" tanya Jason.
"Lalu Adrian?" tanya Jason.
"Mungkin akan kehilangan sebagian sahamnya, tidak banyak perusahaan yang berinvestasi di perusahaan Tuan Besar, sedikit namun dengan jumlah yang banyak, jadi jika salah satu saja menarik saham mereka, Adrian Group akan sangat berkemungkinan untuk jatuh." jelas Roy lagi.
"Hemmm." Jason masih mencoba berpikir.
Inilah kesempatannya balas dendam, dia yang selalu diajarkan bahwa yang berkuasa bisa melakukan segalanya, yang berkuasa adalah yang terkuat, segala sesuatu selalu saja dinilai dengan uang.
Namun ucapan sang istri juga terus terngiang di pikirannya.
Jangan balas dendam, tidak ada gunanya.
Namun sudah lama ia menginginkan ini, melihat kejatuhan Adrian, ia akan menunjukkan bahwa dirinyalah yang berkuasa dibandingkan Adrian.
__ADS_1
Penjajahan otak yang dilakukan Pak Adrian padanya nampaknya sudah memenuhi ruang mental Jason, ia menjadi keras hati, yang ia tau hanyalah kekayaan bisa mengubah segalanya dalam hidup, karena sedari kecil itulah yang diajarkan oleh Papanya.
"Roy, bukankah kau sudah tau kalau memang inilah yang aku inginkan!" ucap Jason.
"Ya Tuan Muda!" sahur Roy membenarkan.
"Dia akan bertekuk lutut padaku!"
"Itu masih belum terjadi Tuan Muda, apa itu artinya Tuan Muda lebih memilih untuk menerima tawaran kerja sama ini?" tanya Roy.
Jason diam saja, ia juga sungguh bingung harus melangkah kemana.
Egonya menginginkan, namun ada hati yang seakan melawan tindakannya.
"Kapan ini akan diputuskan, maksudku dia memberi waktu untuk kita berapa hari?" tanya Jason lagi.
"Besok sore Tuan Muda, jika Tuan Muda sudah memutuskan maka mereka akan mengirimkan orang-orang mereka untuk mengadakan janji temu dengan Tuan Muda!" jawab Roy.
"Tinggalkan aku sendiri!" ucap Jason.
Ia akan mencoba berpikir masak-masak, ini bukan hanya masalah balas dendam namun masalah janji.
Dan ia tidak mau menjadi ingkar.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1