Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
By, bayi kita...


__ADS_3

"By..." Jason langsung saja memeluk istrinya saat melihat sang istri yang sedang di periksa oleh para medis, termasuk dokter Eri pun sudah berada di sana.


Tadi ia begitu khawatir, saat ia membuka pintu dilihatnya para medis tengah mengelilingi istrinya, namun saat ia melihat apa yang terjadi sungguh ia sangat merasa bersyukur.


Jason tidak percaya, baru saja sekitar setengah jam ia meninggalkan Shirleen, namun keajaiban telah terjadi pada istrinya, Shirleen sudah bangun meski dengan kondisi yang sangat lemah, namun istrinya itu sudah membuka mata.


"Tuan Muda, maaf tidak mengabarimu segera, Tante Mila baru saja memanggil kami kesini karena istrimu baru saja terbangun, kami sedang memeriksanya." ucap dokter Eri.


Jason mendengar, ia hanya mengangguk menandakan ia tidak apa, yang terpenting istrinya sudah sadar, itu sudah cukup baginya.


Terimakasih ya Allah.


Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan para dokter melakukan tugasnya.


"Lakukan yang terbaik!" perintahnya.


Dokter Eri mengangguk, mereka akan bekerja keras.


Setelah dilakukan pemeriksaan dan hasilnya kondisi Shirleen sudah semakin membaik, dokter Eri menyarankan Shirleen di rawat inap hingga benar-benar pulih total, karena bagi dokter Eri ini bukan hanya menyangkut kondisi Shirleen, ada tiga nyawa yang harus di perhatikan.


Jason setuju saja, ia kemudian menyuruh Roy untuk mengurus satu ruangan untuk rawat inap istrinya, jadi ia ingin membuat sebuah ruangan seperti kamar pribadi dengan fasilitas yang lengkap, ia tidak akan meninggalkan istrinya, sampai Shirleen benar-benar pulih ia yang akan menunggui dan merawatnya.


Jam dinding menunjukkan pukul 02:16 dini hari, namun Roy langsung saja bergegas mengurus segalanya, malam itu juga bangsal rumah sakit yang sempat disiapkan untuk Shirleen lahiran Jacob waktu itu sudah berubah menjadi ruangan pribadi super mewah.


Roy memang bisa diandalkan.


"Kau sudah benar-benar pulang atau akan kembali?" tanya Jason pada Roy saat semua pekerjaan asisten pribadinya itu sudah selesai.


"Aku sudah menyuruh Shakira kembali segera, tadi aku sempatkan menelponnya dan dia sudah berada di hotel dekat bandara internasional Incheon, mungkin akan sampai disini besok siang." jawab Roy.


"Maafkan aku, aku mengganggu acara menjelajahmu." ucap Jason lagi.

__ADS_1


Roy menganga tidak percaya, apakah ia tidak salah dengar, seorang Jason Ares Adrian meminta maaf.


"Kau kenapa?" tanya Jason.


"Tidak apa Tuan Muda, tidak perlu meminta maaf, aku akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu dengan Tuan Muda disini, aku juga tidak bisa tenang memikirkan Tuan Muda jika aku masih tetap di sana, aku ingin menemani Tuan Muda saja." ucap Roy.


Jason pura-pura bergidik ngeri, "Aku sudah seperti pacar saja bagimu, dengar yaaa kau urus saja itu Shakira, kau terlalu berlebihan padaku, kau pikir akan terjadi sesuatu apa padaku." ucapnya lalu melongos pergi meninggalkan Roy.


"Eh dia kembali lagi pada mode tidak tau diri dan suka semaunya." gumam Roy sangat pelan, rasanya ia masih tidak percaya Tuan Mudanya meminta maaf, dan lebih tidak percaya juga setelah mengatakan maaf malah seolah tidak pernah terjadi apa-apa, memang benar laki-laki yang sedang ia tatap kepergiannya itu masih tuan muda yang sama.


Shirleen sudah dipindahkan, Roy mengikuti sampai ke ruangan pribadi tuan mudanya itu, nona mudanya itu sudah tertidur lagi karena reaksi obat yang diberikan dokter, dilihatnya sang Tuan Muda setia menemani.


"Tuan Muda..."


"Aku tidak akan ke kantor besok, kau handel saja semuanya." seolah mengerti apa yang sebentar lagi akan terucap dari mulut Roy, Jason sudah menjawabnya.


"Baik Tuan Muda!"


"Baik Tuan Muda!"


"Kau boleh pergi."


Roy berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu, ada perasaan lega saat Tuan Mudanya itu sudah kembali pada sifat aslinya, ia tidak perlu khawatir karena baginya lebih baik begitu, Jason yang suka tidak tau diri itu adalah semangat baginya, karena itulah normalnya.


Jangan mengharapkan terimakasih pada Jason Ares Adrian, karena itu tidak akan mungkin.


Ia menuju parkiran hendak pulang ke rumahnya, baru tiga negara yang mereka sambangi, tidak apa masih ada lain waktu, atau entahlah setelah hari ini masih bisakah ia pergi berlibur barang sebentar, yah hari-hari bekerja keras sudah dimulai.


Jason mengecup singkat pipi istrinya, ia tersenyum kala melihat Shirleen tertidur lelap.


"Kau tau By, aku baru saja sholat isya lalu berdoa memohon pada yang kuasa untuk supaya kau bangun, dan langsung saja Allah mengabulkannya, kalau tau akan begitu kejadiannya, sudah lama aku melakukan sholat." gumam Jason, saat ini mereka hanya berdua di ruangan itu, Mama Mila dan Mama Nena sudah pamit pulang bersamaan dengan Shirleen yang berpindah ruangan tadi.

__ADS_1


"Aku sudah janji pada Allah akan selalu di jalannya, kau bisa pegang itu, karena jika dengan Tuhanku aku tidak bisa ingkar."


"Aku beruntung bayi kita tidak apa-apa, terimakasih By, kau sudah berjuang untuk kami, untuk mereka."


Jason lalu mengusap perut Shirleen dan kemudian menciumnya, Dokter Eri mengatakan kondisi bayinya sehat, hanya saja masih kekurangan nutrisi, tapi jika Shirleen sudah bangun maka semua itu bisa di atasi.


"Kecebongnya Papa, di dalam sana baik-baik aja yaaa, saling menguatkan, kalian adalah yang terhebat sama seperti Mama."


Jason naik ke atas ranjangnya, untuk beberapa hari ini ia harus rela tidur tidak seranjang dengan istrinya, namun lain kali jika Shirleen sudah sehat dan tinggal pemulihannya saja, ia tidak akan mengalah.


Shirleen tersadar setelah beberapa jam tertidur, ia melihat sekeliling, tubuhnya bagai tidak bisa dibangunkan, itu terlalu sulit baginya.


Ia mengingat kembali potongan-potongan kejadian yang menyebabkannya harus berakhir disini, ah iya suaminya itu lagi-lagi membohonginya.


Ia melihat di sisi kanannya, hanya berjarak tidak kurang satu meter dengan ranjang yang terpisah, suaminya itu nampak tertidur, sebuah senyum menghiasi bibir Shirleen, inilah yang membuatnya makin mencintai sosok di sampingnya itu, tidak akan meninggalkannya.


Sayangnya meski apapun yang telah Jason lakukan padanya, dirinya tidak bisa untuk membenci, mungkinkah itulah yang dinamakan sudah bucin.


Seketika teringat akan bayinya, lama ia menunggu pergerakan di perutnya, biasanya kedua janin di perutnya akan bergerak namun lama ia menunggu pergerakan itu tidak juga ada, tapi Shirleen rasa ia masih hamil, ia tidak bisa mengusap perutnya untuk memastikan karena tangannya juga sangat lemah.


"Hiks hiks..." tidak ada yang bisa Shirleen lakukan, ia takut sekali terjadi sesuatu pada bayi-bayinya.


Jason yang baru saja terlelap langsung saja mendengar suara tangis, matanya langsung tertuju pada istrinya, dan benar saja istrinya lah yang sedang menangis.


"By, ada apa? Kenapa? Mana yang sakit, ada aku ayok bilang!" ucap Jason.


"Hiks By, bayiku, bayi kita..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2