
""Kak Riska..." Delia yang sore ini bertugas menggantikan Citra menjaga ibu mereka dikejutkan dengan apa yang baru saja ia lihat.
Riska tersadar dari halusinasinya, ia menatap Ibunya yang sangat ketakutan, ia juga menatap balik Delia yang seperti mencurigainya.
"Apa ?" segera ia menetralkan wajahnya.
"Kak Riska ngapain tadi ?" tanya Delia dengan penuh selidik. Ia menekan tombol darurat supaya ibunya segera ditangani. Ia memegangi dan memeluk tubuh Ibunya yang kini bergetar hebat karena ketakutan.
Riska diam, sebenarnya ia juga bingung, apa yang ia lakukan tadi.
Hah, aku tadi kenapa, aku mau membunuh ibu, tidak, kenapa aku bisa begitu.
"Kak Riska ngapain tadi ?" Tanyanya sekali lagi setelah ibunya mendapatkan penanganan, kali ini dengan bentakan.
"Hah ?" Riska nampak bingung.
"Aku tanya, kak Riska tadi ngapain ?" selidik Delia.
Riska ingat apa yang telah ia lakukan. namun ia belum bisa mengerti mengapa ia bisa melakukan itu, suara itu datang lagi, lalu ia...
Ia terduduk dilantai, jiwanya telah terganggu, suara itu lagi, suara itu kembali menyerang telinganya.
Shirleen merasakan mulas diperutnya, usia kandungannya sudah delapan bulan, dulu saat ia mengandung Misca hal ini tidak pernah terjadi, kontraksi palsu, itu yang ia baca di browser tentang seputar kehamilan.
Sebentar lagi sembilan bulan, ia akan melahirkan, benarkah, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Haruskah ia memberi tahu Athar, ah tidak tidak, ia belum siap dengan kemarahan kekasih berondongnya itu, biarlah berjalan seperti apa yang orang lain tau, bukan maksudnya untuk mengambing hitamkan Jason, namun semuanya sudah terlanjur.
__ADS_1
Ia mengelus-elus perutnya, berharap mulas diperutnya akan menghilang.
"Sayangnya Mama, kamu didalem lagi ngapain sih, udah dong sakit perut mama nak... "
Misca menyadari Bundanya tidak seperti biasa, Bundanya nampak gelisah, seperti menahan sesuatu.
"Bunda, Kakak telpon Papa yah, Bunda sakit yaaa ?"
"Eeh, tidak sayang gak usah sampai telpon Papa, Papa lagi kerja, sini Kakak bicara sama adek"
Misca mendekati Bundanya, ia ikut mengelus perut buncit itu, menciumnya penuh sayang.
"Adek bayi, Bundanya kakak jangan dibikin sakit, nanti kakak gak mau jadi temen adek bayi kalau udah keluar" Misca menyayangi sang adik yang masih berada didalam sana. namun sejak mengetahui mereka tidak sama jenis, Misca lebih terlihat menunjukan kuasanya.
"Adek bayi, baik-baik didalam sana, Kakak janji mau jadi teman adek bayi, janji"
Shirleen mengusap puncak kepala anak gadisnya itu, Misca tidak pernah sekalipun menanyakan Athar, bayi ini juga tidak akan tau kalau ia anaknya Athar, tapi tetap saja ia merasa bersalah, seolah ia memanfaatkan Jason. Melakukan kebohongan, apakah ini sudah yang terbaik, entahlah.
"Bunda, Bunda kenapa ?" Misca melihat Bundanya seperti tak berdaya, diapartemen itu hanya ada ia dan Bundanya, ia tidak tau harus berbuat apa.
Ia melihat ponsel Bundanya yang baru saja dibelikan papanya, namun saat ia ingin meminta tunjukan bagaimana caranya ia menghubungi sang Papa, Bundanya nampak sudah tidak sadarkan diri.
Misca bingung, apa yang harus ia lakukan, ia terus mengguncang-guncang tubuh Bundanya, berharap sang Bunda akan bangun. Tak hentinya ia memanggil sang bunda.
Ia hanyalah seorang anak berusia empat tahun, yang belum bisa berbuat banyak jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Sudah kakak bilang, jangan sakiti Bunda Kakak, tapi adik bayi terus membuat Bunda kesakitan.
__ADS_1
Ia bergumam dalam hatinya, ia tidak tau harus berbuat apa, tangisnya pecah, ia menangis keras namun sang Bunda belum juga sadarkan diri.
Sebenarnya Jason memasang cctv yang terhubung pada ponselnya, namun hanya terpasang di berbagai sudut ruangan, sementara dikamar ia tidak berani untuk mengamati, ia takut khilaf.
Shirleen tidak keluar kamar dari tadi, ia mulas mulas dan hanya beristirahat dikamarnya, bolak-baik ke kamar mandi, dan sayangnya Jason tidak mengetahuinya.
"Bunda... Bangun Bunda, bangun, hiks hiks"
Misca terus menangis, ia tidak menyukai ini, ia mulai tidak menyukai adik bayi di perut Bundanya. Menurutnya Bundanya pingsan karena adik bayi terus bertingkah didalam sana.
"Bunda..."
"Bunda..."
Ia berlari mengambil minyak kayu putih di kamarnya, mengoleskan ke hidung dan kening Bundanya, mengoleskan ke perut sang Bunda, tangan, kaki, dan hampir seluruh badan, ia pernah melihat Papanya melakukan ini saat Bundanya tiba-tiba pingsan seperti ini dulu.
"Bunda bangun..."
Ia terus memberi pijatan di lengan dan kaki Bundanya, apapun akan ia lakukan berharap Bundanya segera bangun.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment. dan vote yah...
Happy reading** !!!