Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kita (Bukan) Siapa untuk Siapa


__ADS_3

Weni masih tetap saja mendiamkan Yudha, ia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Yudha, bukannya mereka kemarin-kemarin sangatlah tidak akur.


Ada apa dengan si bocil ini?


"Kenapa ?" tanya Yudha, saat pandangan mereka bertemu, jelas sekali Weni memang melihat heran padanya tadi.


"Nggak, kamu kenapa belum pergi ?" tanya balik Weni.


"Kan udah gue bilang, gue gak bakalan pergi sebelum lo maafin gue"


"Heh" Weni terseyum miring "Kalau gitu biar aku saja yang pergi" Weni sudah bangkit dari duduknya, ia berharap para pengunjung cafe sudah berganti sehingga tidak perlu ada yang mengenalinya saat ia keluar nanti.


"Wen Weni" cegah Yudha "Apa sebegitu salahnya gue, gue juga udah bantuin lo buat bersihin nama lo tadi, okelah gue ngaku gue emang salah karena udah nyium lo tanpa permisi, tapi seenggaknya nggak ada yang ngganggap lo remeh lagi kan" ujar Yudha menganggap tindakannya tadi lumayan benar, tangannya menahan tangan Weni, baginya ia tidak bisa menghilangkan kesempatannya begitu saja, sudah tertanam dihatinya.


"Segampang itu, sakit jiwa kamu ya ?" Weni semakin bertambah heran, pemuda dihadapannya ini sudah mencuri ciumannya dua kali, okelah jika yang pertama waktu itu ada unsur ketidaksengajaannya, tapi yang tadi apa ?


"Wen, bukan gitu juga, oke oke, apapun itu pokoknya maafin gue" sesal Yudha.


"Lepasin" arah pandang Weni menunjuk tangannya yang masih di tahan Yudha.


"Nggak, sebelum lo maafin gue" Yudha masih bersikeras.


"Mau kamu apa sih ?"


"Mau gue ya lo maafin gue"


"Dengar, setiap kita ketemu, kita itu selalu nggak akur, dan kamu tiba-tiba minta maaf secara lembut kayak gini, maksud kamu apa, kalau masalah ciuman tadi, coba kamu pikir lagi aja, gimana jadi aku, diperlakukan kayak gitu sama orang yang sama sekali gak punya cinta, apa kamu bisa ngerelain gitu aja, apa lagi dengan alasan kamu, kamu cuma ingin manas-manasin Sarah kan, aku nggak tau kamu punya hubungan apa dengan si Sarah itu, tapi tolong, tolong jangan kamu anggap aku ini gampangan" ucap Weni, aura kemarahan begitu mengena di wajahnya.


"Kamu siapa ? Apa selama ini kita pernah dekat, pernah saling jatuh cinta meski tidak ada yang berani mengungkapkan, pernah ada ketertarikan ? Tidak kan, aku rasa sebelumnya hanya ada benci di setiap kamu melihatku, jadi jangan berharap aku bisa menerima dengan ikhlas segala perlakuan kamu yang tiba-tiba tadi, kita ini bukan siapa-siapa Yudha dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa" Weni sudah menjelaskan duduk permasalahannya, begitu tegas, Yudha saja sampai tidak bisa lagi mengelak.


Yudha terdiam, benar ia hanya memikirkan perasaannya saja, tanpa tau atau lebih tepatnya tanpa mau tau apakah Weni akan marah atau tidak, benar ia telah lepas kendali tadinya.


Perlahan tangannya melepaskan genggaman itu, membiarkan Weni lepas darinya, toh memang benar pada kenyataannya ia dan Weni bukanlah siapa untuk siapa.


"Terimakasih lho By, aku seneng banget hari ini" ujar Shirleen, saat ini mereka sedang menuju rumah setelah dari pemakaman.

__ADS_1


"Kita pulang yaaa, kamu jangan capek-capek lagi, persiapin stamina buat besok, aku juga nggak bakalan ngantor kok, dirumah aja, orang juga udah rame dirumah kata Mama" imbuh Jason.


"Siap Pak Suami"


Setelah mereka sampai dirumah, rumah sudah tampak ramai, perkumpulan dua keluarga membuat rumah yang sudah sangat luas itu seolah masih terasa kurang luasnya juga, padahal rumah mewah Jason sudah bak hotel jika dilihat dari luar.


Apa lagi ada keluarga Shirleen dari Turki, ternyata mereka semua akan menginap di rumahnya.


"Tünaydın Babaane" ucap Shirleen sembari menyalami tangan neneknya lalu mencium kedua pipi orang yang sangat ia rindukan itu, ia bisa berbahasa Turki, karena waktu kecil ia lumayan lama disana.


"Tünaydın torunum, oh torunum evleniyor aman allahım onu ​​hep mutlu eyle, amin " ucap sang nenek, sambil tangannya menengadah berdoa untuk kebahagiaan cucunya.


"Amin, ya Allah, amin"


Jason melirik Shirleen, ia tidak mengerti bahasa Turki, meski ia sangat pintar namun ia belum mempelajari itu, lagi pula Turki bukan pilihannya berlibur saat dulu, dan ia juga tidak pernah menyangka akan menikah dangan wanita keturunan Turki.


Ia hanya bisa menyimpulkan mungkin neneknya itu mengucapkan sebuah doa untuk pernikahannya dan Shirleen.


Lalu Shirleen berbicara dengan keluarganya dari Turki itu, sepertinya Shirleen sedang memperkenalkannya, Jason lalu mengangguk ramah membalas sapaan ramah para keluarga Shirleen yang menyapanya.


"Ya Zahra, adını duydum, oldukça ünlü, Haaahh, değil mi..." tambah sepupu yang lainnya menambahkan, ia merasa pernah mendengar nama Jason Ares Adrian, lalu seperdetik kemudian ia terkejut dan langsung menutup mulutnya tak percaya, karena telah teringat akan sesuatu.


"Ne Zaine ?" bingung Zahra.


Gadis bernama Zaine itu langsung saja membuka ponselnya, ia akan memastikan sesuatu.


"Haaahh, Haklı çıktı Zahra bakalım bu gerçekten haksızlık" Zeine menunjukan hasil pencariannya, terpampang lah foto Jason dengan segala prestasinya. "Anne bunu gör" panggilnya pada sang ibu yang adalah juga bibi dari Shirleen.


"Haaahh" semua orang tampak terkejut, Jason hanya bisa tersenyum ramah, ia sudah menduga itu.


"Bilang pada keluargamu, jangan merasa sungkan padaku hanya karena statusku


begitu" bisik Jason pada istrinya, Shirleen mengangguk mengiyakan.


"Jason, internetteki haberler yüzünden onunla utanma, hepimiz bir aileyiz dedi" ucap Shirleen pada semua keluarganya.

__ADS_1


"Hemm masallah masallah" ucap beberapa keluarga Shirleen.


Lalu Shirleen menyuruh Jason untuk duluan saja beristirahat, ia akan temu kangen sebentar dengan keluarga jauhnya itu.


Di sebuah komplek perumahan ladat penduduk.


"Lo kenapa sih dari tadi murung banget keknya ?" tanya Dareen pada istrinya itu, semenjak dari pagi tadi Sri tampak kebingungan lalu murung saja bawaannya.


"Mas Dareen ini gimana sih, nggak peka atau gimana ?" ucap Sri, ia sangat menyayangkan ia yang harus meminta duluan, padahal ia berharap Dareen akan mengerti masalah yang tengah ia hadapi saat ini.


"Nggak peka ? Ya gimana mau peka orang gak dikasih tau apa maunya, jangan pake kode-kodean, gue bukan ahlinya, kalau mau apa-apa tuh tinggal bilang, gitu aja susah" ucap Dareen, ia lalu menguyel-nguyel Fahira yang semakin hari semakin chubby, jauh sekali dengan keadaannya saat masih tinggal bersama Athar dulu, mungkin anak sekecil itu tau bahwa ia tidak diinginkan. "Ibu marah tuh dek, bilangnya ayah nggak pekaan" ucap Dareen berbicara pada Fahira, bayi mungil itu tampak antusias bermanja dengan ayahnya.


Dasar cowok...


Bersambung...


NB :


Tünaydın Babaane : selamat siang Nenek.


Tünaydın torunum, oh torunum evleniyor aman Allahım onu ​​hep mutlu eyle, amin : Selamat siang cucuku, oh cucuku akan menikah, ya Allah bahagiakan dia selalu, amin


çok yakışıklı, benimle aynı yaşta mı ? Ah Anne Shirleen'e yenildim, masallah masallah : Dia sangat tampan, apakah dia seumuran denganku? Ah, Ibu aku sudah kalah dari Kak Shirleen, luar biasa.


Ya Zahra, adını duydum, oldukça ünlü, Haaahh, değil mi... : Ya Zahra, aku seperti oernah mendengar namanya, haaaahh bukankah dia...


Ne : Apa


Haaahh, Haklı çıktı Zahra bakalım bu gerçekten haksızlık : Coba kau lihat ini Zahra, bukankah ini tidak adil.


Anne bunu gör : Ibu coba lihat ini.


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2