Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Perceraian Riska dan Rendi.


__ADS_3

"Len" panggil Weni saat ia sudah berada dekat dengan Shirleen.


"Wen"


"Gimana keadaan Yudha ?" tanya Weni, entah mengapa rasanya ia cemas saja saat mendengar Yudha kecelakaan, jantungnya berdebar tidak karuan, entah reaksi semacam apa yang terjadi pada tubuhnya, ah mungkin hanya karena mendengar kabar yang kurang mengenakkan, sementara Yudha beberapa hari kemarin pernah menginap dirumahnya, ya mungkin saja ia sedikit terkejut batin Weni.


"Dia masih ditangani itu, kata suamiku sih tangan kanannya patah." jelas Shirleen.


"Weni !" seru Mama Wina, ia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan wanita yang pernah menolongnya waktu itu.


"Ah Tante, selamat pagi, eh siang Tante." salam Weni, ia rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuknya bertemu dengan Mamanya Yudha.


"Siang, kamu ngapain disini ? Kamu kenal Shirleen ?" tanya Mama Wina.


"Ah iya Tante, aku kebetulan mau jenguk teman disini, dan nggak sengaja ketemu Shirleen, dia ini sahabat aku." dusta Weni sambil nyengir tidak jelas.


"Oohh begitu, Yudha masuk rumah sakit kecelakaan, itu lagi ditangani." walaupun tidak ditanya, namun Mama Wina tetap mau menjelaskan.


"Oh iya Tante, tadi Shirleen juga sudah bilang, boleh aku liat Tante ?" tanya Weni sopan.


"Iya silahkan."


Weni lalu menuju kaca, tidak terlalu jelas memang, namun ia bisa melihat kalau Yudha memang sedang ditangani, lukanya lumayan banyak, Weni bergidik ngeri membayangkan sakitnya.


Jason tersenyum palsu, melihat drama antara Mama Wina, istrinya dan sahabat istrinya itu.


"Emang Mama Wina nggak tau ya kalo anaknya pernah nungguin anak gadis orang ?" tanya Jason membisikkan pada Shirleen.


Shirleen mengangkat kedua bahunya, tanda ia juga tidak mengetahui pasti.


"Drama banget, padahal kesini jelas-jelas mau tengokin si cebong." bisik Jason lagi diiringi kekehan, namun nampaknya Mama Wina melihat itu, sehingga menyeringit heran ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Auw !" Jason mengaduh kala siku Shirleen mendarat diperutnya, "Apaan sih By ?" tanya Jason yang masih terlihat meringis sakit akibat serangan yang tiba-tiba.


Shirleen dengan cepat merubah mimik mukanya, tersenyum manis saat dipandangan Mama Wina.


Mama Wina yang merasa semakin heran akan sikap pasangan beda usia tersebut, mencoba berpikir dimana letak kesalahannya.


"Len, sini deh." ucap Weni, yang berhasil menghentikan drama antara Shirleen dan suaminya.


"Kenapa ?" tanya Shirleen.


"Aku mau bicara, tapi nggak disini, yuk ke toilet aja." bisik Weni pada Shirleen.


Shirleen mengangguk, ia lalu meminta izin pada suaminya itu untuk menemani Weni ke toilet sebentar.


Di hari dan jam yang sama, Rendi dan Riska sedang berada di pengadilan agama, sidang putusan terakhir perceraian mereka diselenggarakan hari ini dan baru saja selesai, Riska terduduk lemah, tidak ada satu keluarga pun yang menemaninya, entah mengapa rasanya keluarganya seakan menjauhinya.


Ia tau ia bersalah, hal yang paling salah dan membuat keluarganya membencinya ialah karena ia menjual anaknya sendiri, Tiara.


Pun dengan kesalahan lainnya, yang telah menipu semua saudaranya mengatas namakan ibu mereka, ia juga tidak tau mengapa ia bisa menjadi orang yang gila dengan uang, suka berfoya-foya, membeli barang-barang mahal sesuka hatinya yang padahal jelas sekali belum tentu ada manfaatnya, dan ia pun akan selalu haus akan uang, yang ia punya selalu saja rasanya tidak pernah cukup.


Kini ada sedikit sesal yang menyelimuti ruang hatinya, Tiara sudah pergi, karena hak asuh Tiara jatuh pada Rendi, seseorang yang sekarang sudah resmi menjadi mantan suaminya.


"Mas," panggilnya pada Rendi saat pria itu hendak keluar dari ruangan persidangan.


"Ya !" jawab singkat Rendi, ada sedikit kecewa yang membuatnya lebih banyak berdiam diri sedari tadi, kecewa karena ia tidak bisa mempertahankan rumah tangganya.


"Bisa kita bicara ?" tanya Riska.


"Bicaralah !"


"Mas, apa aku bisa bertemu Tiara ?" tanya Riska hati-hati, jelas karena ia tau kesalahannya.

__ADS_1


"Haahh," Rendi menghembuskan nafasnya pelan, "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan mempertemukamu dengan Tiara, sebelum kau menyadari dan menyesal atas kesalahanmu." ucap tegas Rendi.


Riska tertunduk lesu, sudah beberapa minggu ia tidak bertemu dengan Tiara, mengapa rasanya begitu sesak menahan rindu, dan juga hanya satu hal, ia ingin meminta maaf pada putrinya itu, putrinya yang tidak tau apa-apa namun malah menjadi korban atas keegoisannya.


"Sudahlah Riska, jalani saja." ucap Rendi lagi.


"Apa, apa dia baik-baik saja Mas ?" Riska memilih menanyakan itu.


"Dia baik-baik saja, bersekolah, berteman, melakukan apapun yang ia mau, melakukan pekerjaan sesuai usianya." sindir Rendi pada mantan istrinya itu.


"Mas, aku merindukan Tiara ?" ucap lirih Riska.


"Bahkan sampai hari ini kau tidak juga menjawab apa alasanmu menjual anak kita Riska ?" Rendi menekankan lagi kesalahan Ibunya Tiara itu, supaya Riska sadar dan jangan seenaknya berkata rindu, ada rasa jijik saat Rendi mendengar kata rindu terucap dari mulut Riska.


Dan juga yang sebenarnya, Rendi sangat ingin mengetahui alasan dibalik semua itu, jika pun masih bisa di toleransi, mungkin ia bisa memaafkan Riska, namun mustahil karena sekeras apapun ia berpikir, menebak apa alasannya, baginya Riska benar-benar keterlaluan.


"Dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu, orang paling pertama yang akan melindungi anak-anaknya, tapi kau malah mau menjatuhkannya pada jurang yang dalam." ucap Rendi, dilihatnya Riska semakin tertunduk.


"Aku begitu jijik melihatmu saat teringat akan apa yang kau lakukan pada Tiara, untung anakku masih bisa dilindungi oleh malaikat-malaikat yang dikirimkan Tuhan, apa jadinya kalau ia sudah benar-benar rusak, apa kau sama sekali tidak memikirkan masa depannya hah ?"


"Aku selalu mengasihimu Riska, selama ini aku selalu merasa bersalah atas penghianatan yang pernah aku lakukan padamu, atas luka yang pernah aku torehkan, bahkan aku rela meminta maaf padamu sambil berlututpun aku ini rela, namun sekarang tidak lagi, karena sepertinya kami memang harus menjauh darimu, kamu berubah Riska." Rendi pergi meninggalkan Riska dalam kesendirian di ruangan persidangan itu.


"Mas, Tiara..." lirih Riska, tangisnya pecah saat itu juga. Ia benar-benar sendiri saat ini.


Riska keluar dari ruangan persidangan tersebut, ia akan menuju rumah sakit tempat Athar dirawat lagi, hanya Athar yang ia harapkan bisa menerimanya, meski sebelumnya ialah yang justru membenci Athar, sungguh roda kehidupan memang terus berputar, nyatanya keadaan bisa berbalik kapan saja.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2