Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Katakan, kau mau aku melakukan apa ?.


__ADS_3

"Weni..." seperdetik kemudian Yudha tersadar, meski perkataan Weni tadi begitu mengena di hati, namun bukankah inilah kesempatannya, ia sudah menyukai Weni, Weni sudah memenuhi hatinya, ia tau itu, hampir tiap malam ia memikirkan wanita itu, tidak... bagaimana bisa ia melepaskan Weni dengan mudah.


Yudha langsung saja memeluk Weni, erat sangat erat seolah takut akan kehilangan, yah ia benar-benar takut Weni akan meninggalkannya.


"Lepasin, kamu apa-apaan sih"


Drama itu terjadi di ambang pintu, Weni menghentikan langkahnya saat Yudha memanggilnya tadi, tidak disangka kalau Yudha akan memeluknya seperti ini.


"Lepasin, kamu jangan kurang ajar yaaa"


"Jangan tinggalin gue Wen, gue sayang sama lo" ucap lirih Yudha tepat di telinga Weni.


"Hah" Weni menajamkan pendengarannya, menurutnya si bocil mangkin aneh saja. "Heh kamu sudah gila yaaa, dasar bocil, lepasin nggak" gerutu Weni, ia mangkin bingung dengan perubahan sikap Yudha, dan semakin tidak mengerti lagi dengan apa yang baru saja Yudha ucapkan.


"Biarkan seperti ini, biarin gue meluk lo" ucap Yudha lagi.


"Wah parah, benar gila nih anak, kamu udah berani kurang ajar yaaa, lepasin" berontak Weni.


Namun sebagaimana pun ia mencoba berontak melepaskan diri, pelukan Yudha tidak melonggar sedikit pun, bahkan ia juga sudah malu karena beberapa karyawan cafe tampak melintas di hadapannya dan Yudha.


"Yudha lepas" ocehnya tidak menyerah.


"Nggak Wen, gue mau lo" ucap Yudha.


"Hah, jangan gila kamu, mau apaan, dasar mesum" ucap Weni spontan.


Yah itulah Weni kadang ia selalu saja berpikir pendek, otaknya kadang gagal mencerna perkataan orang lain dengan baik.


Yudha tersenyum miring, ia tidak menyangka kecerobohan dan tingkah Weni yang selalu apa adanya malah telah menjadi alasannya jatuh cinta pada wanita itu.


"Maafin gue, yuk kita duduk disana, gue mau ngomong sesuatu sama lo" ucap Yudha, ia gemas sekali melihat wajah Weni yang memerah entah karena apa, mungkin karena saat ini sedang marah atau karena dipeluk olehnya.


"Enggak, salah kamu juga udah nambah satu lagi, udah peluk-peluk aku tanpa permisi" kekeh Weni.

__ADS_1


"Apa lo mau kita terus berpelukan seperti ini, gue akan dengan senang hati nurutin kemauan lo" ucap Yudha.


"Salah, tepatnya bukan berpelukan, tapi kamu yang meluk aku" ralat Weni, ia tidak terima dengan perkataan Yudha yang menyatakan mereka berpelukan.


"Hemm, masih aja di koreksi" ujar Yudha.


"Ya udah ya udah, lepas dulu, nggak perlu ngomong apa lagi, oke aku udah maafin kamu anggap aja kita nggak pernah ada masalah, dan setelah ini tolong jangan ganggu aku" pasrah Weni, kakinya sudah kram berdiri sambil dipeluk erat oleh Yudha.


"Kalau gitu aku gak bakalan lepasin kamu"


"Maunya apa sih ni orang"


"Mau gue..." Yudha menggantungkan ucapannya, ia sebisa mungkin mempersiapkan mental untuk menghadapi Weni.


"Iya apaan ?" sergah Weni.


"Wen, gue sayang sama lo, gue mau jadi pacar lo, lo mau nggak jadi pacar gue ?" tembak Yudha langsung, ia sudah tidak bisa lagi membendung perasaannya, duduk di sofa ataupun masih tetap berdiri seperti ini baginya akan sama saja, Weni pasti belum mencintainya.


"Wen gue serius !!!" Tegas Yudha, ah tidak menyangka rasanya ia sudah sampai di tahap ini, ini adalah langkah awal baginya.


"Hah"


"Gue serius, gue mau lo jadi pacar gue, maafin gue yang baru nyadarin perasaan gue, selama ini cuma lo yang bisa buat gue betah lama-lama deketan sama cewek, cuma sama lo gue bisa bicara banyak sama cewek, yah meski setiap pertemuan kita selalu saja diiringi dengan perdebatan, kita selalu saja bertengkar, tapi jujur gue mulai nyaman akan kehadiran lo" ungkap Yudha, ia menjelaskan perasaannya itu dalam satu tarikan nafas.


Weni mematung, apa saat ini ia sedang ditembak, apa Yudha sedang menyatakan perasaan padanya pikirnya.


Si bocil nampak serius, apa benar, tapi kan dia... Ah nggak mungkin...


"Pfftt, hahahaha kamu lucu deh, ada bakat ngelawak kamu" ucap Weni, sungguh ia benar-benar belum percaya.


"Maksud lo ?"


"Iya, aku, kamu, pacaran, pfftt hahahaha" Weni masih menertawakan nasibnya, tubuh yang masih berada dalam pelukan Yudha itu berguncang.

__ADS_1


"Heh bocil, kamu jangan aneh-aneh deh, aku ini udah tuwir, cari aja yang sepadan sama kamu, aku gak cocok lagi kalau diajak cinta monyetan,yang kayak kamu ini palingan juga lagi... hahaha tau deh, kayaknya bocil sekarang kalau nggak mabar pasti nyepik aja kerjaanya"


"Cup" Yudha melayangkan serangan lagi, ia kesal karena ternyata Weni hanya menganggapnya main-main.


Bahkan saking kesalnya, Yudha sampai mel*mat bibir ranum Weni, kecupan yang biasanya singkat itu kini berubah menjadi ciuman, Yudha menahan tengkuk Weni, memainkan paksa bibir Weni meski dengan sangat lembut, ia tidak perduli ada sebagian karyawan cafe Jason yang melihatnya, toh baginya ini demi cinta.


Ia tau Weni terus saja memberontak, namun tidak ia hiraukan.


"Plaakk" sebuah tamparan mendarat di pipi Yudha saat Weni berhasil melepaskan diri, ia tidak menyangka Yudha akan melakukan yang ketiga kali itu padanya.


"Tampar gue" ucap Yudha.


Weni hendak melayangkan tamparan lagi, namun terhenti saat mendengar ucapan Yudha selanjutnya.


"Satu tamparan harusnya dibayar dua kali ciuman, gue rasa sebanding" ancam Yudha. Benar saja Weni mengurungkan niatnya.


"Kamu.... Dengar, aku masih sabar yaaa, jangan buat aku menghabiskan kesabaranku, kamu tenyata memang selalu menganggap gampang segalanya ya, kamu pikir semua ini main-main, termasuk aku yang bisa kau anggap sebagai mainan kamu, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana jalan pikiran kamu, pacaran, cinta, heh kamu itu hanya anak kemaren sore, sementara aku, aku tidak bisa hanya mengandalkan omong kosong yang kau sebut-sebut cinta itu, akan sangat gila jika aku harus berjodoh denganmu, tidak-tidak lupakan, itu terlalu jauh bisa-bisanya aku berpikiran sampai kesana, tidak anggap saja kita tidak pernah kenal" ucap Weni, semenjak Yudha menciumnya tadi, jujur saja ada getaran didalam sana, ia tidak bisa memungkiri itu, ia merasakan jantungnya berdetak tidak normal, tidak ia tidak mau, jangan sampai ia jatuh cinta dengan pemuda dihadapannya ini, tapi nalurinya seolah berkata lain.


"Sudah kubilang, aku mencintaimu, aku ingin kita pacaran, apanya yang main-main" ucap Yudha.


"Pacaran ? Kau tidak dengar tadi laki-laki itu bilang apa, perawan tua ! Kau pikir perawan tua sepertiku ini akan mau diajak pacaran, apa lagi denganmu, cuma bocil, kau tau kurasa aku bisa gila mendadak" ucap Weni, ia beralasan demikian supaya Yudha tidak lagi mendekatinya.


"Lalu kau mau apa, katakan kau mau aku melakukan apa, menikahimu seperti Jason menikahi Kak Shirleen, baik, ayo kita ke KUA sekarang" ancam Yudha, ia sudah menggenggam tangan Weni dan siap untuk keluar bersama.


"Yudha..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2