
Jason POV.
aku tidak tau, kenapa aku selalu saja di kecewakan, bayang-bayang kebencian pada orang tuaku masih sangat membekas, entalah kenapa sulit sekali terhapus mungkin lukanya begitu dalam.
Sudah kukatakan dengan jelas, jangan melibatkan Shirleen, aku tidak akan terima, tapi semua orang selalu saja memanfaatkan kepolosan istriku itu.
Aku juga kecewa padanya, namun aku bisa apa, aku sudah cinta, dan aku hanya mencoba menutup mata tentang segala kesalahannya.
Lain kali saat semuanya sudah berakhir dan aku sudah berhenti, aku ingin berbicara berdua dengannya, bercerita tentang hidupku yang tak pernah beruntung ini.
Bukan aku mengeluh dan tidak bersyukur, tapi bukankah benar adanya, aku hanya beruntung dalam segi materi namun tidak untuk cinta kasih.
Aku ingin di cintai, ingin merasakan kasih sayang orang tua yang berlimpah, aku iri pada Dareen, aku iri pada Yudha, Afik, dan Angga, mereka semua mempunyai keluarga yang hangat, sementara aku, aku hanya punya Mama dan sayangnya aku tidak bisa berharap banyak pada Mamaku, ia seakan sama saja karena selalu menuruti apapun kehendak papa termasuk merenggut kebahagiaanku.
Aku hanya punya sedikit kenangan manis tentang keluarga sebelum umurku delapan tahun, sebelumnya segala kemauanku selalu dituruti layaknya anak kecil lain yang selalu ditambuni dengan mainan begitupun aku, pantang berucap maka semua yang aku minta pasti sudah ada dalam sekejap mata.
Namun ternyata itu semua harus berbalas, aku harus membayar semuanya dengan menukar hidup normalku.
Kisah pilu itu aku hadapi sendirian semenjak dari umurku delapan tahun, aku seakan hilang arah dan tujuan hidup jika berada dirumah, aku diharuskan menurut dan tidak bebas dalam berteman, mereka memberikanku pelajaran yang tidak sesuai umurku, beruntung otak cerdasku ini bisa menampung semuanya, meski lelah aku tetap mencoba membahagiakan mereka, satu yang membuatku bertahan hanyalah Mama, dia yang kadang selalu menemaniku meski ia tidak bisa merubah keadaan.
Akan tetapi bahkan Mama pun tidak sekali pun menanyakan apa kemauanku, tidak sekali pun mama bertanya apa aku sanggup atau tidak menjalaninya, jika sekali saja mereka bertanya maka aku akan dengan sangat lantang menjawab bahwa aku tidak sanggup, aku lelah, sayangnya mereka tidak pernah menanyakan itu.
Kehidupanku terus berlanjut, hingga pribadiku terbentuk, aku sadar aku memilih jalan yang salah, namun bagai burung yang baru saja terlepas dari sangkar, akupun sama menjelajah semua yang aku kehendaki tidak perduli itu baik atau buruk langkah yang aku ambil.
Aku merasa nyaman dengan hidupku, menghasilkan uang sendiri hingga aku merasa aku bisa berbuat lebih dari orang tuaku, karena orang tuaku yang mengajarkan bahwa dengan kaya kita bisa berkuasa maka itulah aku sekarang, dimana aku merasa aku berkuasa karena nyatanya aku lebih kaya dari mereka.
__ADS_1
Aku tidak munafik meski kebencian itu masih ada, namun perlahan bisa memudar, toh semuanya sudah terjadi, walau tanpa kasih sayang yang berlimpah akupun tetap tumbuh jua, aku tetap hidup meski tidak dengan cinta kasih yang semestinya.
Aku mulai menerima Adrian sebagai papaku lagi, kuredam segala kebencian karena memang ia papaku, hubungan ayah dan anak tidak akan pernah bisa hilang meski sudah dibasuh sekalipun. Toh aku sudah bebas saat ini meski ia tidak sepenuhnya mengetahui gerak gerikku.
Lalu siapa yang menduga aku yang tidak beruntung ini bisa menemukan kebahagiaanku lagi, jatuh cinta dengan Shirleen, dan dia sudah menjadi istriku saat ini, seseorang yang paling aku cintai.
Aku tidak perduli apa statusnya dan apa latar belakangnya, bagiku aku mencintainya dan dia bisa mencintaiku itu sudah cukup.
Hari-hari yang ku lalui seakan lebih mudah, aku sangat bahagia.
Tapi sayangnya lagi dan lagi Papa mengecewakanku, bahkan Mama pun sama sepertinya kali ini, sekaan ikut mendukungnya.
Mereka memisahkanku dari Shirleen, mereka sekali lagi merenggut kebahagiaanku, tidak cukupkah segala yang mereka lakukan dulu, apa aku harus mengalah lagi dan membiarkan mereka menjalankan hidupku, hidup yang bagai sudah mati ini.
Wajar aku memberontak, dulu mungkin aku hanya anak kecil berumur delapan tahun yang hanya bisa menangis dalam keheningan saat mereka terus saja menyiksa otak dan mentalku.
Saat aku memikirkan bagaimana psikis wanita yang aku cintai saat itu karena Shirleen yang dengan jelas melihatku menodongkan pisau kearah Roy, sayangnya mereka tetap pada egonya seolah tidak memikirkan itu dan malah ternyata setelah aku ketahui mereka dengan sengaja melibatkan Shirleen.
Aku marah, dan seakan kebencian itu kian bertambah, aku bahkan meninggalkan rumahku karena aku tidak sanggup jika harus melihat wajah Adrian di rumah itu.
Beruntung saat aku berhasil menemukan Shirleen, Mama datang lalu menikahkan kami, hubunganku dengan mama berangsur membaik karena bagiku terima kasih sekali, aku yang sudah kebelet nikah ini sangat merasa terbantu.
Kami hidup bahagia dalam ikatan pernikahan, seperti janjiku aku akan berhenti dari dunia hitamku demi Shirleen, dan aku menepati itu meski tidak sepenuhnya.
Ku serahkan semua yang aku capai pada Darwin, meskipun begitu aku juga masih menikmati empat puluh persen dari hasil satu kali misi transaksinya.
__ADS_1
Aku tidak berbohong, aku benar-benar melepas kegiatanku disana, aku bahkan tidak pernah lagi mengunjungi markas kami, semua benar-benar sudah ku serahkan.
Dan ku dengar, dalam sebulan ini Darwin tidak pernah melakukan misi apapun, jadi dimana salahnya aku.
Tapi ternyata lagi-lagi aku harus menelan kecewa, saat seseorang yang sudah kuanggap orang tuaku malah ingin menghancurkanku juga.
Padahal aku yang tidak sepenuhnya berhenti ini juga karenanya, aku ingin selalu hebat sepertinya, tidak mengenal takut dan ampun, karena dari sampai umurku saat ini Tuan Fred adalah satu-satunya orang yang aku kagumi.
Saat malam itu, aku sudah mengatakannya bahwa aku akan berhenti jika ia juga berhenti, aku serius karena apapun yang ia lakukan aku akan mengikutinya, aku juga sangat mengaguminya karena ia bisa memecahkan kasus pembunuhan yang menimpa Opaku, dari mulai saat itu aku selalu menganggapnya sangat hebat, mungkin berlebihan tapi selama aku hidup aku tidak berinteraksi dengan banyak orang, mungkin karena itu juga sehingga aku hanya melihat dirinya saja sebagai orang yang menginspirasi.
Shirleen, heh istriku itu pasti sangat ketakutan karena aku semalam tidak bicara sepatah katapun padanya, aku ingin membuat ia mengerti bahwa terpisah dari kebahagiaan itu sangat menyiksa seperti ia yang semalaman tak bisa melihat Misca dan Jacob, bukankah itu cukup adil setelah apa yang aku alami di beberapa hari ini.
Tapi sayangnya, air mata itu lagi-lagi menyesakkan dadaku, aku salah lagi karena sedikit membalas dendam padanya, nyatanya aku yang selalu tidak bisa melihat ia menangis.
Kini aku sudah berjanji padanya, yah kali ini serius jika aku bisa menyelesaikan satu masalah yang masih memberatkanku.
Aku janji By...
Jason POV end.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!