Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kepergian Yudha.


__ADS_3

"By, gimana kalau resepsi kita ngadainnya pas sehari setelah perpisahan" tanya Jason, menurutnya ia harus mengundur acara resepsinya karena Yudha akan pulang saat perpisahan, dan ia menginginkan sahabatnya itu hadir juga di acaranya.


"Lho katanya mau deket-deket ini, kenapa ?"


"Ya gak papa, aku pengennya Yudha bisa hadir" jawab Jason.


"Ooh itu, ya udah kamu emangnya udah tau kapan tanggal perpisahannya ?"


"Belum sih, nanti deh aku hubungin pihak sekolah"


"Kamu jadi nganter Yudha nanti ?"


"Iya jadi, kenapa ?"


"Gak papa, cuma kami nebeng yah mau ke rumah Mama, soalnya aku mau nanya yang kemaren sama Mbak Sekar, sekalian udah lama juga kan gak kesana"


"Ooh, ya udah, By itu bang Jago udah tidur belum sih ?" tanya Jason, Jacob sedang berada di box bayi, tadi sih ia tengah memainkan jarinya, nggak tau kalau sekarang bayi ganteng itu sudah tidur apa belum.


"Udah ternyata, uuhh anak mama bobo aja tampan" ucap Shirleen sambil sedikit menguyel pipi bayinya itu.


"Eehh jangan di gituin, bangun nanti dia" cegah Jason.


"Gak bakalan bangun By, Jacob itu kalau baru aja tidur gini gak bakalan terganggu, kalau udah lamaan baru deh peka banget" jelas Shirleen yang memang sudah hapal apapun tentang Jacob.


"By, sini deh" suruh Jason.


"Kenapa ?" tanya Shirleen, sembari kakinya melangkah menuju suaminya di ranjang.


"By yuk" ucap Jason.


"Yuk kemana ?"


Jason menaik turunkan alisnya, Shirleen mengerti namun ia ingin sedikit mengerjai suaminya itu.


"Apa sih By"


"By..."


"Apa ?"

__ADS_1


Melihat Shirleen yang tidak ada pergerakan Jason langsung saja membuka bajunya, karena dari yang ia lihat Shirleen hanya pura-pura tidak tau saja.


Pura-pura nggak tau gayanya, oke gue bakal tunjukin.


"By, siang-siang gini ?" tanya Shirleen.


"Kenapa ? Ada apa dengan siang, jika naga api mau muntahin laharnya gimana, kamu aja kalau mau muntah nggak bisa di tahan"


"By..." memangnya siapa yang bisa memberi keputusan disini, benar kalau si perkasa mau maju mundur cantik di sarang, maka sang empuhnya bisa apa.


Tidak ada yang bisa Shirleen lakukan selain menerima setiap sentuhan dan serangan yang di berikan Jason, mencari pahala siang-siang begini nampaknya tidak terlalu buruk.


Dan jadilah Jason dan Shirleen dinas siang hari ini.


Setiap kehidupan pasti akan ada yang datang dan pergi, Jason tidak menyangka bahwa ia bisa seperasa ini saat Yudha memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah bersama-sama ia, Angga, dan Afik di sini.


"Gue pasti bakalan kangen kalian" ucap Yudha, saat ini mereka sedang berada di Bandara mengantar kepergian Yudha.


"Paan sih lo, jijik gue lo peluk-peluk kek gini" ucap Angga saat Yudha memeluknya, padahal yang sebenarnya ia sedang berusaha menahan tangisnya, enam tahun bersama bahkan dari kelas satu SMP, ia dan Yudha sudah menjadi kawan sebangku, bagaimana bisa ia melepas kepergian Yudha dengan mudah.


Diantara ketiganya, Anggalah yg paling merasa kehilangan, walau sering kali ia menghibur diri bahwa ini hanya luar negeri, hanya terpisah lautan, jarak dan waktu, tapi tetap saja ia begitu menjiwai.


"Tau lo, kek ciwi ciwi aja tau nggak"


"Yud, baik-baik di sana, jaga kesehatan jangan lupa kabarin kita gimana keadaan lo" ucap Jason.


"Pasti Men"


"Yud, lo jangan inget-inget si Serong lagi yaaa, gue takut lo gila, soalnya kan gak ada kita lagi yang bakal jagain lo" ucap Afik sembari mengusap bahu sahabatnya itu.


"Heeh, ya nggak lah, lo tenang aja udah gue lupain dia" ucap Yudha yakin.


"Wah beneran lo, lo kalau masih belum move on jangan sok sok move on, sakit sendiri ntar" tanggap Afik lagi.


"Ya enggak lah, gue beneran udah move on kali"


"Yah semoga aja, semoga temen gue ini memang udah move on, semoga cepet dapet yang baru biar move onnya lebih sempurna"


"Aahhah doa lo ada ada aja Fik" ucap Yudha, matanya sudah memanas, kenapa ia bisa dipertemukan dengan makhluk makhluk seasyik dan sepeduli ini, ia malah jadi berat untuk pergi kan.

__ADS_1


"Heh cebong, doa gue gak banyak cuma dua, semoga lo nggak dapet temen baru disana dan semoga gak ada yang mau temenan sama lo" ucap Angga.


"Iya iya, serah lo aja dah"


Padahal tuh doa intinya sama, dasar anak setan.


Shirleen tengah berada di rumah orang tuanya saat ini, ia berencana menginap nanti malam, dan Jason juga nanti akan pulang kesini untuk menginap bersama.


"Mbak Sekar, sini deh aku mau ngomong" panggil Shirleen pada asisten rumah tangganya itu.


"Ia Non, Non Ilen butuh sesuatu ?"


"Duduk dulu, ada yang mau aku omongin sama Mbak"


Sekar pun menurut, ia dan Shirleen hanya beda dua tahun tua dirinya, sedari kecil ia sudah biasa tinggal di rumah Pak Haris, karena Almarhum Bapak dan Ibunya dulu adalah asisten rumah tangga di rumah Shirleen, ia sering bermain dengan Shirleen waktu kecil hingga mereka remaja dulu, saat libur semester ia sering menginap di sini mengikuti Ibunya, sementara Bapaknya Pak Anca harus bekerja di perkebunan teh dekat dengan rumahnya di desa.


Ia sudah akrab dengan Shirleen sangat lama, saat ia menggantikan Ibunya yang sudah meninggal, saat itu juga Shirleen memutuskan menikah dengan Athar dan meninggalkan rumah, ia adalah salah satu orang yang senantiasa selalu berdoa supaya Shirleen segera kembali kerumahnya.


"Ada apa Non, kok sepertinya serius sekali ?" tanya Sekar.


"Mbak, Mbak jangan marah yaaa, ini aku cuma tanya lho, kalau Mbak nggak mau, bilang gak mau jangan sungkan untuk nolak, jangan ada rasa nggak nyaman sama aku" ucap Shirleen.


"Eehh iya Non, tapi apa dulu ini, kok malah jadi deg degan aku"


"Eemm kalau nggak salah lahan Almarhum yang di desa itu kan kosong, kalau misalnya mau di bikin masjid kira-kira Mbak Sekar setuju nggak ?" tanya Shirleen.


Lama Sekar terdiam, seolah mengingat masa lalunya, kehilangan ke dua orang tuanya secara bersamaan begitu pilu ia rasakan, ada rindu terselip di hatinya, ada sesal yang menyesakkan dadanya.


Bagaimanapun ia adalah satu-satunya orang yang selamat saat musibah kebakaran melanda rumahnya.


Ia yang saat itu baru pulang dari mengaji di kampung sebelah malah dikejutkan oleh api yang sudah menyala garang melahap habis rumahnya, ia berteriak histeris memanggil Ibu dan Bapaknya, para tetangga yang saat itu sudah ramai mencoba memadamkan api berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke dalam menyelamatkan orang tuanya, namun ia harus menelan pahitnya kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah tiada saat bisa di bawa keluar.


"Mbak... Mbak..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2