Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Patah hati Angga.


__ADS_3

"Makan mulu lo, jaim dikit napa jangan di ketarain itu gak tau malunya !" umpat Afik pada Angga.


"Bodo amat, gue laper abis baper liat si cebong, tuh anak belum makasih tau sama gue, kalau nggak gue bawa si Weni hari itu gak bakal tunangan tuh anak mama Wina." ucap Angga, dirinya tengah kesal saat ini, sebenarnya bukan karena itu, tapi karena dirinya baru saja mendengar dari Jason kalau ternyata Shakira sudah menikah, dan yang lebih menyakitkan lagi wanita incarannya itu malah sedang berbulan madu saat ini menjelajah lima negara, sungguh benar-benar inilah yang dinamakan menari di atas penderitaan, rintih Angga dalam hatinya.


"Noh banyak banget tau cewek-cewek cantik, lo nggak malu apa ?" tanya Afik lagi.


"Ngapain malu, gue cuma makan di kondangan wajar kan, ngapain musti malu ?" sahut Angga.


Bugh...


Rasanya ada yang menimpa tubuh Afik sedikit keras, mengakibatkan Afik yang saat itu berada dekat sekali dengan Angga justru membuat Angga terjatuh ke lantai.


"Lo apaan sih Fik !" ucap Angga marah, hari ini sungguh bahagia bagi Yudha namun ternyata derita baginya, mana ada drama jatuh lagi membuat sebagian tamu undangan spontan menoleh kearahnya, mau taruh dimana lagi muka gantengnya ini, ah bodo amat sok cuek aja.


"Sory sory, emm maaf !" ucap seorang gadis ia mengulurkan tangannya untuk membantu Angga.


"Gosah, gue bisa sendiri." tolak mentah Angga yang kemudian bangkit siap menjitak Afik.


"Gue nggak sengaja Ga, nih cewek tadi keknya buru-buru makannya nyenggol gue nah kena lo deh," sambung Afik dengan sedikit menghindar dari Angga, "Ati-ati neng jalannya, mau kemana sih ?" tanya Afik pada si cewek beserta rombongannya yang berjumlah empat orang.


"Eh, sebenarnya nggak kemana sih, emang mau kesini, kita boleh kenalan nggak ?" tanya salah satu dari para gadis pada Afik.


Ternyata keempat gadis tadi saling dorong mendorong untuk mencoba berkenalan pada duo A.


"Oh, boleh, kalian keluarganya kak Weni ya ?" tanya Afik mulai akrab.


"Bukan, kita para anak magang di butiknya kak Weni, kalian berdua teman-temannya tunangan Kak Weni ya atau saudaranya Kak Weni ?" tanya gadis yang berambut sebahu, lumayan cantik cukuplah untuk menarik hati Afik.


"Kenalin gue Afik dan ini Angga, kita sahabatnya Yudha yang tunangan sama kak Weni kalian itu," ucap Afik sembari menunjuk Angga yang nampak kembali asik menikmati muffin, ah sambil mengunyah ia masih saja teringat bagaimana Shakira waktu itu sedang tampak menikmati muffin juga saat ia mencoba mendekati wanita itu.


"Ga, woy jaim dikit napa, malu Ga !" bisik Afik pada telinga Angga.


Nih cowok kan yang waktu itu nyari-nyari Kak Weni, gak ada jaim-jaimnya depan cewek, dari mukanya keknya dia sedang kesal, apa jangan-jangan kak Weni terlibat cinta segitiga ya, kali aja nih cowok sedang patah hati karena kak Weni tunangan sama sahabatnya.


Rara, si biang gosip dengan antena super duper ngaco yang bisa menyimpulkan persepsi namun anehnya sering tepat, dia melihat Angga dari ujung rambut sampai ujung kaki, tertarik sih tapi sungguh menggelikan jika ia bisa merebut hati pemuda yang dengan tanpa malunya sedang mengunyah muffin seperti orang kelaparan itu.


"Hai !" sapanya pada Angga.

__ADS_1


Angga melihat sekilas namun dua detik kemudian kembali tidak menghiraukan.


Sialan gue di kacangin...


"Ga ada yang nyapa lo tuh !" ucap Afik.


Namun Angga tetap santai tidak berniat menggubris, sungguh patah hati telah membuat suasana hatinya menjadi buruk, Angga sedang kesal sekesal-kesalnya.


"Ga, lo kok gitu sih, nggak baik loh nolak rezeki, ntar dipatok gue baru tau rasa lo !" bisik Afik lagi, meski ia heran dengan perubahan sikap Angga.


Biasanya ia dan Angga adalah petualang cinta, ada gadis mau ngajak kenalan hayuk, jangankan diajak kenalan ngajak kenalan duluan aja mereka jabanin.


"Sikat aja !" sahut Angga.


"Hai, siapa namanya ?" tanya Afik pada Rara, gadis yang sempat menyapa Angga tadi.


"Rara," jawab Rara, "Hei kita pernah ketemu, lo masih ingat gue ?" tanyanya pada Angga lagi, meski tidak dipedulikan.


"Hemm" ucap Angga.


"Eh Bujang, sejak kapan lo hemm hemm ikut-ikutan si Junedi, lo jangan berubah dong gak ada kawan ngomong gue kalau lo pada udah dikutuk jadi es batu semua !" ucap Afik spontan, ya kali Angga akan mengikuti jejak Jason dan Yudha, alamak lah dia pada siapa akan mengadu kengenesan nantinya.


"Itu cewek ngajak lo kenalan, biasanya lo paling gercep." bisik Afik lagi.


"Gue Angga !" ucapnya singkat.


"Kita pernah ketemu kan, hari itu saat lo cari kak Weni !" oceh Rara lagi.


"Iya." sahut Angga.


Afik nampak akrab dengan ke tiga gadis teman-teman Rara tadi, sementara Rara ia masih mengharapkan Angga mau berkenalan dengannya.


Di lain tempat,


"Ini Jason Tante, suamiku !" ucap Shirleen memperkenalkan Jason pada orang tua Weni.


Saat ini mereka keluarga Yudha dan keluarga Weni serta dirinya dan Jason sedang berbincang santai, membahas apa saja yang penting nyambung.

__ADS_1


"Tante baru liat jelasnya sekarang, eh enggak deh pas waktu acara kamu itu kan, tapi nggak bisa lama-lama, duh gantengnya !" ucap Ibunya Weni.


"Bu..." ucap Weni nampak cemberut.


"Iya iya, Mas mu itu ya ganteng juga !" ucap Ibunya Weni, sadar kalau anaknya seolah tak terima hanya suami Shirleen yang dibilang ganteng.


Semua orang nampak tersenyum akan kelakuan Weni, lain halnya dengan Jason yang entah mengapa rasanya ia lebih ingin cepat pulang lalu bertemu dengan gulingnya, ah dia mulai mengantuk lagi.


"Mas Yudha." bisik Jason pada Yudha yang berada disebelahnya, ia menaik turunkan alisnya genit.


"Paan sih lo Junedi, geli gue !" ucap Yudha, saat Weni memanggilnya begitu rasanya bak serasa ingin terbang di udara, namun saat Jason memanggilnya seperti itu kok seperti merinding bulu romanya.


"Alah geli," goda Jason lagi. "By, aku mau tidur bisakah kita pulang lebih awal." ucap Jason lagi pada sang istri penuh harap.


"Perasaan kamu dari siang tadi kerjaannya cuma tidur deh By, gak ada puasnya apa, heran deh." bisik Shirleen.


"Kapan-kapan main ke rumah Ilen Bu, Pak, minta anter Weni, si Jacob sudah bisa merangkak sekarang." ucap Shirleen, ia tidak memperdulikan suaminya itu, entah apa maksud Jason mau pulang duluan dengan alasan mengantuk, hari juga baru jam delapan malam, apanya yang mengantuk seharian ini saja kerjaan suaminya itu lebih banyak tidur.


"Iya nanti pasti, kamu juga, Bapak dan Ibu kangen lho dulu padahal istrimu ini seringnya nginep disini lho nak Jason." ucap Ibunya Weni pada Jason dan Shirleen.


"Iya Bu." jawab Jason seadanya sembari menunjukkan senyumnya yang aduhai.


Untung masih bisa menjaga keseimbangan, kalau tidak mungkin saudara-saudara Weni disitu sudah tumbang dibuat senyuman maut itu.


"Lo nggak bisa bicara lebih leluasa apa, orang tua itu ege." bisik Yudha pada si Junedinya.


"Gue ngatuk." keluh Jason.


"Bukannya kata Kak Shirleen seharian ini lo kerjaannya cuma tidur ?" tanya heran Yudha.


"Iya tapi gue masih ngantuk !" ucap Jason.


"Junedi please, ini acara gue masa lo main tinggal aja, belum juga kumpul sama anak-anak," Yudha menghela nafasnya berat. "Besok gue balik, nanti kita rayain sebentar." lanjutnya lagi dengan masih berbisik pelan.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2