
Seorang wanita sedang berdiam diri di kursi roda, ia menatap dinding pembatas dikamarnya, dinding polos itu menjadi saksi betapa menderitanya ia.
Semenjak hari itu, hari dimana ia dititipkan di sini, suaminya tidak pernah lagi mengunjunginya, mungkin lebih tepatnya bukan lagi dititipkan, namun ia sudah dibuang.
Ia lebih banyak berdiam diri, enggan berinteraksi, bahkan dengan dokter dan para perawatpun ia hanya diam saja, semangkin menambah keyakinan bahwa ia memang mengalami depresi hingga berujung gila.
Mas Athar sudah membuangku, untuk apa lagi aku hidup, aku bahkan tidak bisa melihat anakku lagi, aku ini bisa apa, aku hanya seorang wanita lumpuh serta cacat, yaaa jadi wajar jika Mas Athar membuangku.
Ia akan kembali dengan Shirleen dan melupakanku, mengapa hidupku tidak pernah berkecukupan, selalu saja kurang, aku hanya ingin hidup bahagia, punya harta banyak untuk membeli segala penghinaan dari keluargaku, kenapa hidupku tidak seberuntung Shirleen yang punya segalanya.
Riana masih terus bergulat dengan pikirannya, entahlah mengapa wanita itu lambat sekali menyesali perbuatannya, seolah hatinya terbuat dari batu, padahal ia sadar kalau dirinya sudah tidak lagi berdaya.
Lain halnya dengan seorang perempuan yang saat ini masih terbaring lemah, sudah dua minggu tepatnya dihari ini, namun ia belum juga sadarkan diri.
__ADS_1
Orang tuanya sangat menyesal hingga enggan meninggalkannya barang sedetikpun.
Lisa yang begitu berharap ia tidak lagi bangun membuat ia lebih lama lagi dalam situasi koma.
"Aku tidak ingin bangun lagi, aku tidak mau bangun lagi"
Ia terus mengiangkan kalimat itu dalam tidur panjangnya, ia begitu malu untuk melihat dunia,melihat kekecewaan orang tuanya, ia sungguh tidak akan sanggup.
"Pa, kenapa Lisa belum juga bangun ?" ucap Mama Lisa setelah sekian lamanya hening menghiasi ruang rawat anaknya.
"Aku memang pernah gagal menjadi orang tua, hingga Lisa melakukan hal diluar batas, tapi bukannya memperbaiki aku malah membuat diriku semakin gagal Ma, dia anak kita. dia masih anak kita"
"Entah apa yang terjadi Pa, mama juga menyesal membiarkan anak kita di penjara, ibu macam apa aku ini, entah sudah berapa kali anak kita dianiaya disana dan katanya ia tidak sedikitpun pernah melawan" Mama Lisa mengusap air matanya yang kini sudah jatuh tak terhindari, melihat lagi kearah anaknya, ia pun kembali sesegukkan memandang wajah lebam Lisa yang berangsur membaik namun bekasnya masih menunjukkan betapa menderitanya Lisa.
__ADS_1
"Sudahlah Pa, berhenti menyalahkan diri papa, yang terpenting saat Lisa sadar nanti kita urus semuanya, bawa Lisa pergi jauh dari kota ini, kita akan memulai hidup baru bersama lagi" Lanjutnya lagi, keinginannya saat ini hanya satu, hidup tenang bersama keluarga kecilnya walau harus pergi jauh.
"Iya benar Ma, semoga saja Lisa segera sadar, papa ingin minta maaf Ma, Papa ingin ia tahu papa menyesal, dada ini sesak melihatnya seperti ini Ma"
"Iya Pa, kita harus sabar dan saling menguatkan" Ucap Mama Lisa, ia merangkul dan memeluk suaminya, karena dari mereka berdua Pak Jefrilah yang paling merasa bersalah, bahkan setiap hari ia selalu mencium kaki Lisa untuk meminta maaf, namun rasanya belum cukup karena Lisa belum juga sadar membuat ia terus dibayangi rasa bersalah.
Kedua orang tua yang dilanda penyesalan itu kembali menangis bersama, dihadapannya masih terbaring dan enggan membuka mata seorang putri yang pernah mereka buang, Ralisa Imanuella Syarif, Pak Jefri ingat nama itu ia yang memberikan, atas dasar cinta dan kasih ia pernah sangat bahagia mendapatkan putri seperti Lisa, namun karena sebuah kesalahan ia mengabaikan semuanya, dengan tangannya sendiri ia menunjuk pintu keluar membuang anaknya sendiri.
Jangankan luka batin, bahkan dengan luka di sekujur tubuh Lisa, ia merasa sudah tidak pantas dipanggil Papa untuk anaknya, baginya ia Papa yang buruk yang tega menelantarkan anaknya.
Bangun nak... Papa minta maaf....
Bersambung...
__ADS_1
Like, koment, gift dan vote...