
"Secepatnya aku akan urus surat cerai kita" ucap Riska penuh kebencian.
"Nggak, itu tidak akan pernah terjadi, kau menuduhku, aku tidak pernah berselingkuh, selama ini aku cuma milik kamu" Rendi membela diri, tuduhan itu sejauh ini hanya keluar dari mulut istrinya, tidak ada bukti yang istrinya bawa dan bisa di perlihatkan, membuat ia dengan sigap berkilah.
"Heh, kau pikir aku percaya ?" tersenyum remeh, yah bukti sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, bukti yang sangat jelas.
"Kau hanya menuduhku, selingkuh selingkuh, apa lagi dengan Riana, dia itu istrinya Athar, mana mungkin aku melakukannya, apa aku gila, mana buktinya aku berselingkuh"
"Kita lihat saja Mas, tunggu saja surat dari pengadilan"
Riska kembali ke kamarnya, dengan hati yang kacau ia mengemasi segala pakaian suaminya, sudah satu koper besar ia bawa kehadapan Mas Rendi, ia letakan kasar koper itu.
"Pergi..." ucap Riska sembari menunjuk pintu keluar.
"Riska, aku tidak pernah berselingkuh" Rendi masih terus pada pendiriannya, Tidak ia tidak pernah menyangka istrinya akan tau kelakuannya diluar sana.
"Papa..." Bersamaan dengan itu Tiara anaknya datang dengan muka kusut baru bangun tidurnya, sepagi ini ia mendengar pertengkaran orang tuanya, membuat dadanya sesak.
Ia sudah kelas satu SMP, ia sudah mengerti apa artinya sebuah perceraian.
"Ma... Jangan seperti ini Ma" Tiara berucap sambil menangis "Ma, Papa nggak boleh pergi"
"Biar saja Ara, Papamu sudah menghianati kita, biarkan dia pergi" ucap Riska, matanya syarat akan kekecewaan.
"Tidak, Tiara sayang, papa tidak pernah berkhianat, dengar nak, jangan pernah percaya apa kata Mamamu, selqma ini Papa selalu setia sama kalian" ucap Rendi lagi, haruskah pagi ini ia pergi, meninggalkan rumah tangganya yang sedikitpun tak pernah ia bayangkan ini akan terjadi sebelum ia mulai bermain api.
kejadian itu sudah lama, semenjak Riana sakit ia tidak pernah lagi bertemu Riana, ia tidak pernah berselingkuh lagi, ia sudah melupakan semuanya dan hidup damai dengan sang istri. Namun permainan yang begitu rapi ia perankan akhirnya tercium juga, entah dari mana istrinya mengetahui kelakuan hinanya itu.
"Pergi..." suara lantang keluar dari mulut Riska, ia begitu jijik melihat keberadaan suami yang sudah berselingkuh darinya itu.
"Ma... Jangan suruh Papa pergi Ma" Tiara memohon menguncang bahu Mamanya. Ia tidak ingin keluarganya berantakan seperti ini.
"Ma Ara mohon Ma..."
__ADS_1
Rendi mengambil koper besar berisi barang-barangnya itu, ia mengecup kening putrinya lama, ia tidak pernah berharap ini akan terjadi. Setelah hidup damai dan tidak terjadi apapun pada perselingkuhannya ia kira semuanya baik-baik saja, terlepas dari itu padahal ia begitu menyayangi keluarganya ini, tempat ia pulang. Dan pagi ini ia harus melangkahkan kaki keluar dari sini.
Maafkan Papa nak, karena kesalahan Papa kamu harus jadi korbannya, Papa janji Papa tidak akan berpisah dari Mamamu, Papa juga sangat mencintai kalian.
Walaupun mulutnya berkata tidak, mengatakan ia tidak pernah berselingkuh, tapi dalam hatinya ia sangat menyesal pernah menghianati istrinya itu, ia mengakui ia salah, tenggelam dalam ***** dunia, wanita adalah racun yang mematikan dalam rumah tangga.
Kini ia mengalaminya, menelan pil pahit atas kebesaran hatinya yang sudah berani membawa api kedalam rumah tangganya.
Ia pergi...
Riska kembali ke kamarnya, meninggalkan Tiara sendirian, ia begitu sulit memaafkan dan mengerti akan situasi saat ini.
"Arrrggggghhhh"
Praangg praangg prraaaanngg, dalam sekejap isi dikamarnya sudah berantakan, kaca kaca pecah, hancur sehancur hatinya kini.
Ia terduduk lemas lagi, cairan bening yang menganak sungai akhirnya luruh begitu saja, dalam sekejap hidupnya berubah, sungguh Tuhan begitu adil, apa yang terjadi pada Shirleen kini terjadi sudah padanya.
Yah Shirleen, mengingat nama itu ia kembali menerawang kejadian malam tadi.
Flashback.
"Ayo kita nonton film dulu"
Layar besar itu mulai menampilkan sebuah film yang lebih tepatnya seperti rekaman peristiwa.
Mulanya baik-baik saja, tidak ada pemeran yang tampil, membuat Riska heran, apa yang akan disuguhkan tuan muda disampingnya ini pikirnya.
Detik berlalu, ia yang menganggap tontonan itu sebuah film biasa, atau mungkinkah tuan muda berbesar hati memang meminta ia menemani nonton film tidak jelas ini, Riska abai dan tidak begitu terlalu fokus tentang filmnya, ia malah bahkan berusaha membuka ikatan di tangannya.
"Lihatlah dengan teliti, maka lo bakal menemukan adegan yang seru"
Sentak Jason dingin, mata elangnya berhasil menembus jantung Riska, hingga Riska menghentikan aksinya yang mencoba melepaskan tali pengikat itu, segera ia kembali fokus.
__ADS_1
Tidak lama, adegan inti pun tayang.
Air mata Riska menetes melihat apa yang ia tonton, jelas sekali peran utama di film itu adalah suaminya.
Disebuah kamar hotel, suaminya dengan tanpa bersalah melakukan hal haram dengan wanita lain.
Suara laknat mulai akrab memenuhi gendang telinganya, ingin menutup telinga namun apa daya dengan tangan yang masih terikat.
Hentikan, tolong hentikan.
Matanya memerah, rasa sesak didadanya begitu mengena, ia lemas, kakinya gemetar bagai tak sanggup menginjak bumi.
Suara itu kini berhasil merusak mentalnya.
Jason nampak puas, kali ini ia tak kan bermain fisik, cukup seperti ini maka wanita disampingnya ini akan gila dengan sendirinya. Bagaimana tidak, bisa dipastikan serangan mental ini akan selalu memenuhi otaknya.
Riska melihat Jason yang tak bereaksi, pemuda itu nampak santai saja melihat vidio menjijikan yang sangat disayangkan dilakoni oleh suaminya dan sang ipar.
Bukankah sebagai penyiksa manusia, Jason tetap harus menjaga totalitasnya. walau begitu menjijikan ia mencoba untuk tetap cool, santai saja anggap lah angin lalu.
Riska tertunduk lesu, ia sudah tidak tahan, amarah yang memuncak ini harus segera disalurkan.
Sudah hentikan, hentikan...
Bersambung...
*
*
*
Happy reading, jangan lupa like, koment, dan vote yahh...
__ADS_1