Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Tinggal bersama.


__ADS_3

Pagi menjelang, ini sudah hari ke dua semenjak Shirleen dirawat, ia sudah diperbolehkan pulang.


Jason sudah memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya itu, sampai Shirleen melahirkan. Ia tidak ingin melewatkan sesuatu jika sampai terjadi apa-apa dengan Shirleen.


"Kau serius By... apa kata orang nanti ?" Shirleen masih sungkan kalau saja benar kekasihnya itu ingin tinggal bersama, walau Jason pernah beberapa kali menginap dan bahkan tidur dengannya , tapi ia masih tau batas, apa kata orang nanti bukannya ini yang diamakan kumpul kebo. Dan sayangnya ini +62, hal semacam ini bukan kebiasaan warga negara mereka.


"Aku tidak perduli"


Arogan, yaahh siapa yang berani menentang kemauannya.


Baiklah Tuan Muda, yaaah aku akui sang penguasa, kau hebat, puas sekali kau yaaa.


Shirleen geram, pacarnya ini memang suka semaunya.


Hari-hari mereka lalui dengan biasa, pagi Shirleen tetap membuat sarapan, walau Jason sudah melarangnya.


Padahal Jason sudah mempekerjakan maid yang akan datang saat pagi, dan pulang saat sudah sore, tapi katanya Shirleen ingin memanjakan perut kekasihnya itu dengan masakannya. Bukankah itu sangat perhatian.


Jason berangkat sekolah, siangnya langsung ke kantor, ia baru pulang malam hari, begitulah rutinitas mereka yang sudah seperti memiliki ikatan sah saja.


Tanpa sepengetahuan Shirleen, Jason juga sudah memasang cctv di kamar Shirleen, hanya saja tersembunyi, jadi Shirleen tidak menyadarinya. Ia tidak ingin kejadian serupa terjadi kedua kalinya.


Kedekatan keduanya membiasakan mereka menjadi semangkin saling ketergantungan, hidup bersama acap kali membuat mereka seakan melupakan sejenak bahwa mereka belum sah, Jason sungguh belajar menjadi seperti seorang suami dan orang tua yang bertanggung jawab.


Disebuah rumah sederhana, kedua wanita sedang terlibat sebuah percakapan.


"Sebuah paket datang padaku, aku membukanya dan ternyata sebuah rekaman vidio, aku memutarnya dan saat itu... hiks hiks saat itu..." Riska terjeda, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya, karena kejadian sebenarnya bukanlah seperti itu.


"Tidak apa kalau kau belum siap, tapi sebaiknya persiapkan dirimu dengan lebih baik, ini harus diselesaikan" Clara mengusap lembut lengan pasiennya.


Riska mendongak, ia sangat ingin menceritakan detil kejadian sebenarnya, tapi ia takut, ia tidak berani, ancaman Jason sungguh masih memenuhi otaknya.


Ia menarik nafasnya dalam, lalu hembuskan, yah berulang kali.


"Aku siap !" ujarnya kemudian.


"Baiklah, lanjutkan"


"Awalnya biasa saja, aku juga bingung rekaman apa ini, kulihat paketnya tidak menyertakan nama pengirim, aku sempat berpikir apakah ini ditujukan untuk Mas Rendi, tapi dari siapa" Ia menjelaskan dengan dibumbui kebohongan. Ia memutuskan untuk menutupi kejadian sebenarnya, tapi tetap dengan tujuannya menceritakan trauma yang saat ini ia alami.


"Lalu, lalu sampai di bagian dimana ternyata suamiku berulah, ia... ia bermesraan bahkan main gila dengan iparku sendiri"


"Ku sangka kejadian itu sekitar tujuh atau delapan bulan yang lalu sebelum iparku sakit, mereka ternyata menghianatiku"


Clara masih menyimak.


"Aku sudah mencoba mematikan rekaman itu, tapi entah kenapa rekaman itu tidak bisa dimatikan, suaranya sangat jelas walau aku tidak melihat vidionya"


"Kok bisa ?" tanya Clara, ia mulai menemukan keganjalan.


"Aku juga tidak tau, tapi aku benar-benar tidak berbohong" ucap Riska, ia lupa yang berhadapan dengannya kini adalah psikolog, sedikit banyak pasti mengetahui bahasa tubuh.


Clara semakin yakin, yang diceritakan pasiennya ini sungguh ganjil, mana mungkin ada benda seperti itu, sebuah rekaman yang tidak bisa dimatikan, yang benar saja. Namun ia mencoba mendengarkan kelanjutannya, ia mengangguk paham seolah mengerti.

__ADS_1


"Lanjutkan..." ucap Clara.


"Dan suara-suara itu terus menghantuiku"


"Mereka melakukannya, mereka menghianatiku"


Clara bingung, disini ia bisa menyimpulkan mungkin pasiennya ini sedikit menyembunyikan sesuatu darinya, dilihat dari wajahnya, cerita pasiennya yang dihantui oleh suara-suara perselingkuhan suaminya itu sepertinya benar adanya, ia bisa melihat raut ketakutan Riska yang tidak main-main.


Ia akan coba membantu.


"Lalu ?"


"Aku, aku ingin mengurangi trauma ini, kuharap suara-suara itu bisa hilang, bisakah kau membantuku ?"


"Akan aku coba" Clara mencatat dan merekam semua penjelasan dan keluhan pasiennya.


Ia lalu memberikan beberapa permen dalam wadah botol kaca.


"Kau perlu menceritakan lebih detil lagi, lebih terbuka lagi, aku senang bisa membantumu"


Ia nampak menatap iba Riska.


"Dan makanlah ini setiap sebelum tidur, atau saat kau mulai mendengar suara itu, ini akan membantu menenangkanmu, meringankan traumamu" ucap Clara lagi.


Disini ia belum sepenuhnya masuk pada cerita pasiennya, ia merasa pasiennya masih sedikit tertutup, nanti ia akan lebih dekat lagi. Mungkin setelah pertemuan ketiga kalinya nanti, ia akan mencoba mengorek informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi, terus terang ia merasa ganjal.


Pertemuan kali ini cukup sampai disini, wajah Riska saja ia lihat sudah sangat tertekan, ia tidak mau menambah beban dengan memaksa pasiennya bercerita.


Ia dapat merasakan pasiennya seperti diancam hinga ia menutupi kejadian sebenarnya, ia yakin pasti kejadiannya bukan seperti itu, walau benar suaminya berselingkuh.


Yah mungkin saja, siapa yang tau masalah rumah tangga kadang begitu rumit.


Riska berpamitan pergi, ia sedikit lega walau beban berat nampak enggan meninggalkannya.


Apakah keputusannya ini sudah tepat, ia hanya berkonsultasi, tidak ada salahnya bukan.


"Riska...?" seseorang memanggilnya saat sudah keluar dari rumah Clara.


Riska enggan menoleh, segala apa yang terjadi padanya, membuat ia trauma.


"Riska..." panggilan itu terasa semakin dekat, namun ia masih tidak menyahut.


"Riska..." sebuah tangan memegang lengannya, ia yang saat itu memejamkan mata pun refleks berteriak histeris.


"Aaaaaaa" teriakan yang berpotensi memanggil warga terdekat, Rendi dengan cepat membekap mulut Riska dengan tangannya.


Dan Riska pun berhasil menjadi semakin ketakutan.


Ia tidak berani membuka mata, tiba-tiba kilatan peristiwa penculikannya terputar ulang secara otomatis.


Satu menit, dua menit berlalu, tidak ada yang terjadi, gelap seperti waktu itu, tapi kini ia memang sedang terpejam dan ia yakin masih sadar.


Pelan ia membuka matanya. Dilihatnya laki-laki yang saat ini begitu ia benci sekaligus ia cintai.

__ADS_1


"Mas Rendi..."


"Riska, kamu ngapain disini ?" tanya Rendi, ia memang sengaja mengikuti istrinya itu, ia ingin tau apa yang dilakukan sang istri, barang kali ia bisa menemukan penyebab perceraiannya, siapa yang punya vidio asusilanya itu, sedang ia sendiri pun tidak punya hak milik walau ia punya hak cipta.


"Bukan urusanmu" jawab Riska ketus.


"Urusanku, kamu masih istriku, tidak ada kata talak dariku, kamu masih tetap istriku, paham" Rendi mulai membawa hukum agama, ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Riska.


"Istri, hahaha" Riska tergelak keras, "Lucu sekali yah Mas, Mas masih menganggapku istri setelah semua yang Mas lakukan, sayangnya aku sudah tidak sudi jadi istrimu lagi" dengan mantap Riska mengatakannya.


"Riska... Riska hei dengar Mas, ingat Tiara, ingat anak kita, ia masih butuh kita berdua"


"Enggak, Tiara tidak butuh orang tua sepertimu Mas"


"Riska, yakinlah aku pernah tidak selingkuh"


"Hahahaha, sudahlah Mas, akui saja, aku sudah terima walau sakit rasanya" Riska hendak berlalu pergi.


Tidak pernah selingkuh, heh dasar buaya.


"Tunggu Riska" memegang tangan Riska. Rendi menatap curiga istrinya itu "Ini rumah siapa ?"


Sesaat Riska panik, ia tidak ingin suaminya mengetahui ia baru saja selesai konsultasi ke psikolog, beruntung rumah Clara seperti rumah orang pada umumnya, tidak ada yang menandakan ia membuka praktik dirumah itu.


"Bukan urusanmu" Riska menghempaskan pegangan tangan suaminya, ia benci keadaan ini.


"Sudah ku bilang kau masih urusanku Riska, ini rumah siapa ?" Bentak Rendi.


Riska terdiam, bukan... bukan ini yang ia mau.


Namun tatapan suaminya membuat ia tidak mempunyai pilihan lain. Haruskah ia mengatakannya, haruskah ia mengatakan ia hampir gila saat ini. Haruskah.


"Riska, kutanya sekali lagi, ini rumah siapa ?" Rendi mulai terbakar cemburu, seolah tidak sadar ia yang memulai segalanya.


Diseberang jalan, di depan rumah Clara kedua pasangan yang hampir bercerai itu saling pandang, Rendi menatap penuh kecurigaan sementara Riska melayangkan tatapan penuh bencinya.


"Kalau kau sungguh ingin tau, silahkan kau masuk dan tanya aku siapa bagi penghuni rumah ini, biar kau puas telah melakukan semua ini padaku Mas, silahkan, silahkan masuk dan tanyakan !" Setelah mengatakan itu, Riska berlalu pergi.


Hanya dengan melihat wajah suaminya, ia merasakan benci sekaligus sakit. Yah sakit sekali rasanya, terlebih bukannya malah menyesal, suaminya itu malah berkilah dan membantah kenyataan, dan lagi dengan seenaknya menuduh ia berselingkuh, heh apa ia tidak salah dengar.


Lalu bagaimana dengannya yang asik tergoda ******, hingga dengan tidak tau malunya melakukan hal haram.


Silahkan Mas, silahkan tertawa melihat aku yang hampir gila ini. Selamat kau sudah berhasil membuatku hancur Mas.


Bersambung...


*


*


*


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiahnya dan vote yah.

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2