Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan naroh bawang disini.


__ADS_3

Tok tok tok,


Pintu diketuk, Jason sudah menduga siapa yang akan datang, karena tadi Angga dan Afik sempat menelponnya menanyakan dimana ruang rawat Shirleen.


Jason segera membuka pintu, Shirleen sedang bersandar menikmati potongan-potongan buah yang sudah ia siapkan tadi.


Ceklek,


"Junedi, kok lho nggak bilang kalau bini lo sakit?" sergah Afik langsung.


"Hemmm!" tanggap Jason.


"Bukan apa yaaa, kemarin si Afik lagi kesusahan gue langsung ngabarin lo, sekarang lo yang lagi kesusahan kok nggak ada ngabarin kita, nggak penting banget ya gue ama nih curut atu." kali ini Angga yang melayangkan protes.


"Masuk!" ucap Jason.


"Ah ya, sampe lupa masuk dah gue!" ucap Afik.


Keduanya kini masuk ke ruang rawat Shirleen, Afik menganga seperti orang udik saja kala mendapati ruangan yang super mewah, padahal hanya untuk orang sakit, mirip seperti rumah pribadi, lengkap dengan dapur diujung sana, memangnya siapa yang akan memasak pikirnya, si Junedi kan masak air aja nggak pernah.


"Oh, it's my dream Mas!" pekik Afik, membuat Shirleen sedikit terkejut untung tidak tersedak potongan buah apel.


"Paan sih ege, pengang kuping gue!" protes Angga.


"Gue kalau sakit ruang rawat VIP paling cuma lebih kulkas sama sofa doang, ah AC juga, lah nih sultan kok udah kayak rumah pribadi mewah bener, jadi pengen kan gue." ucap Afik.

__ADS_1


"Pengen apa?" tanya Angga heran.


"Pengen juga yang kayak gini!" jawab Afik.


"Kirain pengen sakit, tapi coba aja deh lo sakit, kali aja Junedi berbaik hati bikinin ruangan buat lo kayak gini." usul Angga.


"Yeee, sa ae lo nyet!" ucap Afik.


Jason melanjutkan kegiatannya, ia hanya tersenyum saat mendengar perbincangan kedua sahabatnya, meski ia terlihat cuek namun sebenarnya dirinya merasa terhibur, apa lagi ia sedikit banyaknya masih mengingat apa yang sempat ditanyakan Shirleen tadi.


Angga dan Afik menemui Shirleen dan menanyakan bagaimana kesehatannya, bagaimana bayi kembarnya, Shirleen menjawab bahwa dirinya sudah baik-baik saja hanya tinggal pemulihan dan syukurlah tidak terjadi apa-apa pada bayinya, selain itu Angga dan Afik tidak berani banyak bertanya, ada Pak Satpam yang siap mengawasi gerak-gerik mereka, meski terlihat cuek dan tidak perduli namun percayalah telinga dan mata itu juga sedang bekerja sangat jeli ke arah mereka.


Kemudian Angga dan Afik duduk di sofa, menatap Jason yang sedang bekerja.


"Son, lo betah banget keknya!" ucap Afik tiba-tiba.


"Ya maksud gue ya, lo betah gitu kerja tiap hari, bahkan sebelum waktunya, lo udah gini semenjak SMP lho, gue salut sekaligus yaaa lo tau lah." terang Afik.


"Fik lho jangan gitu dong, kalau yang dulu lupain aja deh, sekarang kan si Junedi harus kerja buat anak sama bininya, dia udah wajib kali cari nafkah, udah ada tanggungan gak kayak kita." ucap Angga.


"Iya sih Ga, tapi gue ngerasa Jason terus aja diforsir buat bekerja dari dulu, nah lo jangan tersinggung nih ya." Afik mengarahkan pandangannya lagi pada Jason, "Gue cuma ngungkapin isi hati gue liat lo kayak gini, tapi gue yakin lo pasti bahagia sekarang, ada kak Ilen yang dampingin lo, gue percaya sih hidup lo udah nggak flat kayak dulu."


"Dan lo kerja udah ada tujuannya nggak kayak dulu." lanjut Afik.


"Sebentar lagi bakalan jadi ayah dari empat orang anak, gue salut men, sumpah demi apapun gue salut, tapi jika lo ingin istirahat gue dukung banget, jadilah orang biasa kek kita, gue nggak tega sama lo yang kayak gini." ucap Afik mengutarakan sesak di dadanya.

__ADS_1


Jujur saja ia merasa sangat iba, meski Jason bergelimang harta namun dulu ia sangat mengetahui bahwa Jason tidak bahagia, mungkin sekarang memang sudah bahagia, namun baginya Jason tidak seharusnya melakukan itu, di seumur hidupnya merelakan untuk hidup seperti itu.


"Gue bahagia Fik, dulu mungkin gue benci sama bokap gue sekaligus ingin menjadi anak yang penurut biar bisa disayang orang tua gue, jadi gue rela serela-relanya memforsir otak gue buat bekerja, tapi sekarang seperti kata lo tadi karena gue udah punya tujuan, gue kerja kayak gini ya... karena gue emang harus kerja, dan gue bisa aja kok berhenti, istirahat seperti apa kata lo tadi, tapi buktinya gue nggak bisa, sebenarnya tanpa gue sadari ini udah jadi bagian dari hidup gue, sekolah, kerja, itu udah serasi sama hidup gue, pernah gue mangkir kerja tapi ya idup gue gitu-gitu aja, bahkan kek ada sesuatu yang kosong gitu, hampa, ya jadinya gue kembali lagi ke hidup gue yang biasa." jelas Jason panjang lebar, Angga dan Afik sampai menganga dibuatnya.


"Lo beneran Junedi yang baru keknya." ucap Angga tidak percaya.


"Jadi ini ya kemauan gue, gue yang bekerja sekarang bukan lagi karena paksaan, tapi murni karena keinginan gue!" lanjut Jason lagi.


"Prok prok prok," Angga bahkan memberikan standing applause untuk Jason, "Sumpah Junedi lo keren banget, gue bangga sama lo!" girang Angga, tidak bisa dipungkiri ia memang benar-benar bangga dengan pola pikir Jason, bangga punya sahabat dengan keunggulan diatas rata-rata itu.


"Bener keknya lo dewasa sebelum waktunya, bukan hanya karena masalah hati, tapi juga pemikiran." sambung Afik lagi.


Shirleen yang mendengar pujian dari kedua sahabat suaminya itu tersenyum manis, memang benar suaminya itu adalah orang paling bijak dalam menghadapi segala hal, hanya kadang sulit mengendalikan emosi jika menyangkut keluarga kecil mereka, itu saja.


Afik menepuk pundak Jason, "Gue bangga sama lo, gue berdoa buat kebahagiaan lo, semoga setelah ini gak ada lagi ujian berat dalam hidup lo." ucap Afik.


"Jan kek gitu dong Fik, lo serasa lagi apa gitu, gue kan jadi terharu." sambung Angga sambil menghapus air matanya yang sedikit menetes, jika diingatkan lagi dengan hidup Jason ia masih sering saja sedih, dulu bahkan mereka tidak bisa sekedar jalan bersama setelah sepulang sekolah karena Jason selalu saja di jemput untuk bekerja, selalu di awasi oleh Pak Adrian, mereka sangat menyayangkan itu.


Saat Jason diserahkan satu perusahaan oleh Pak Adrian dan menunjuk Roy sebagai asisten pribadi Jason, bahkan mereka bertiga, Afik, Angga, dan Yudha pernah menyatakan ucapan terimakasih secara langsung pada Roy dengan membawa berbagai hadiah, mereka sangat berterimakasih karena dengan hadirnya Roy bisa sedikit membebaskan hidup Jason.


"Gue nggak papa lagi Men, makasih lo pada udah khawatirin gue, gue juga bangga banget punya sahabat kayak lo pada, yang selalu peduli." ucap Jason.


"Yah nambah lagi gue nangisnya, jangan naroh bawang disini ege." kesal Angga.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2