
"Capek ya?" tanya Shirleen, guratan lelah jelas terlihat di wajah suaminya, mungkin pekerjaan kantor kali ini benar-benar menguras pikiran sang suami pikirnya.
"Sedikit!" ucap Jason,
"Kakak sudah tidur?" tanyanya lagi.
"Sudah, malam ini Ipah menginap, dia tidur di kamar Kakak!" jawab Shirleen.
Jason lalu menyambar handuk yang telah disediakan Shirleen dan kemudian masuk ke kamar mandi.
Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, mendinginkan kepalanya yang memang terasa penat, memikirkan perusahaan Papanya diujung kehancuran sungguh membuat otaknya bekerja lebih ekstra.
Disisi lain ada rasa dendam pada Papanya itu, namun disisi lain ada juga iba yang tak bisa ia pungkiri, dan separuh lainnya ia mencoba berpikir realistis bahwa dalam bisnis semua itu bisa saja terjadi, hanya ada dua perusahaan, sebenarnya tidak ada salahnya jika ia maju, namun kemanusiaannya tetap saja tergerak, karena ternyata tanpa Jason sadari dirinya sudah tidak sekejam dulu, yang tidak akan pernah perduli apapun yang terjadi dengan orang-orang di sekitarnya, dirinya yang hanya tau kesenangannya saja tanpa pernah memikirkan nasib orang lain, namun itu dulu sebelum dia memutuskan untuk berubah.
"Bukan salah gue!" gumamnya pelan, sembari menarik sedikit rambutnya, ia sedang bimbang hati saat ini.
Ia melanjutkan mandinya, setelah selesai ia membalut tubuhnya dengan handuk, namun saat dirinya ingin keluar ia menemukan sebuah wajah di dalam cermin.
Wajah yang sangat mirip dengan orang yang ia benci, namun sayang sekali ia tidak bisa berbuat apapun.
"Kenapa lo hancurin hidup gue, saat gue butuh lo, tapi lo seakan buta mata tuli telinga nggak pernah mikirin perasaan gue." keluhnya pada pantulan wajah di cermin.
"Lo adalah bajingan yang sebenarnya, seharusnya lo sayang sama gue, seharusnya lo jaga gue baik-baik, bukannya lo pernah cerita ke gue kalau untuk mendapatkan seorang Jason bahkan lo harus menunggu selama sepuluh tahun."
"Gue kangen, gue kangen saat-saat masa kecil gue yang masih gue ingat, dimana meski lo nggak perduli dan selalu nggak ada waktu tapi hidup gue masih normal."
"Saat itu gue bisa apa, ngeliat tiap hari Mama belain gue tapi lo malah tiap hari juga ngajakin Mama berantem, gue bisa apa, gue nggak tahan dengan perdebatan, gue belum cukup umur untuk nerima itu."
"Dan sekarang saat gue udah punya segalanya, saat gue bisa nunjukin gue lebih dari lo, kenapa gue nggak bisa ngelakuinnya, kenapa gue nggak bisa bikin hidup lo menderita seperti apa yang lo lakuin ke gue dulu, hah, lo bajingan, lo Papa yang buruk, lo pantas di benci."
Jason menutup wajahnya, mengusap kasar, kalau boleh memilih ia rasanya tidak mau mirip dengan Papanya, karena setiap dirinya melihat gambar diri, ia akan merasakan benci pada sang Papa bukannya rasa cinta.
"Kenapa lo lakuin itu sama gue?" Jason meratapi nasibnya, hanya dengan kesendirian ia bisa berbagi masalahnya, dengan Shirleen pun ia jarang mau berbagi, karena ia tidak mau membuat Shirleen berpikir banyak tentang masalahnya.
"Lo udah ambil hidup berharga gue, masa kecil yang sayangnya nggak bisa gue beli dengan uang, bukan gue, tapi lo, lo adalah orang terkejam Adrian Cakrawala."
Jason masih mematung, ia menatap lekat gambar diri di cermin, matanya memanas sungguh yang sebenarnya ia sedang rindu Papanya.
Setiap kali rindu, dirinya akan seperti ini, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Papanya lah yang telah menghancurkan hidupnya, menghancurkan masa kecilnya.
"By..." terdengar panggilan dari luar, entahlah sudah berapa lama Jason berada di kamar mandi, tapi yang jelas pastilah istrinya itu sedang khawatir.
__ADS_1
Jason menghapus air matanya yang sedikit menetes, ia menetralkan perasaannya untuk terlihat baik-baik saja di hadapan sang istri.
Ceklek, pintu di buka.
"Aku sedikit mengantuk By, aku ketiduran di bathtub." kilah Jason seakan tau apa yang sebentar lagi akan terlontar dari mulut istrinya.
Shirleen mengangguk paham meski dirinya enggan percaya.
"Ya sudah, hari sudah malam begini, cepetan ganti baju, itu udah aku siapin, nanti masuk angin kalau lama-lama di kamar mandi." ujar Shirleen.
"Iya By!"
Jason lalu memakai pakaian yang telah disiapkan Shirleen, memang benar ia sedikit kedinginan, entahlah mungkin karena perasaannya sedang kacau dirinya tidak sadar bahwa telah menelantarkan tubuhnya.
"Papa sayang Abang!" ucapnya mengecup singkat pipi chubby Jacob, sebelum kemudian menuju ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Shirleen masih di kamar mandi, ia melakukan ritual sebelum tidur, dilihatnya bathup hanya basah sedikit, sama sekali tidak ada tanda-tanda orang habis mandi didalamnya.
"Dia berbohong!" gumam Shirleen, lalu melangkah keluar kamar mandi.
Suamiku sedang tidak baik-baik saja, tidak biasanya dia langsung tidur begini, meski letih tapi dia selalu menungguku untuk tidur.
Shirleen merasakan curiga pada suaminya, curiga bahwa ada yang sedang disembunyikan oleh suaminya itu.
Ia menghampiri Jason dan lalu mengecup lama kening suaminya itu, "Selamat tidur sayang, hari ini melelahkan yaaa, aku mencintaimu By!" ucapnya.
Shirleen lalu melihat Jacob di box bayi, bayi itu juga sudah pulas, dirinya juga mulai merebahkan diri di samping Jason, tidur, besok adalah hari baru.
Jason merasakan tidak tenang, dia bermimpi, dalam mimpinya Papanya datang padanya dengan keadaan sangat mengenaskan, berlutut di kakinya dan mengatakan maaf berulang kali.
Jason masih saja diam, ia masih belum bisa menerima permintaan maaf itu dengan mudah, meski sang Papa sudah memohon dengan sangat, sampai menangis begitu menyesakkan.
Ia hendak meninggalkan Papanya dalam kesendirian, namun sebuah tangan mungil menghentikannya dengan menggenggam erat salah satu jarinya, "Papa!" panggil pemilik tangan itu, wajah yang sangat mirip dengan istrinya namun versi laki-laki.
Jason tersenyum, ia menunduk mensejajarkan dirinya pada si anak laki-laki itu. "Papa tidak akan menjadi Papa yang buruk kan?" tanya anak laki-laki itu, Jason kira umurnya sekitar tiga tahun, namun entahlah.
"Tidak sayang, kalau boleh aku tau, apa kamu ini anakku?" tanya Jason, dalam mimpinya ia yakin bahwa sosok itu adalah anaknya, anak yang tengah di kandung Shirleen.
"Aku tidak akan menyusahkan Papa dan Mama saat aku dan adikku terlahir nanti, tapi bisakah Papa berjanji untukku?" ucap anak laki-laki itu.
"Eemm, janji, janji yang bagaimana?" tanya Jason.
__ADS_1
Anak laki-laki itu menjauh dari Jason dan mulai mendekat pada Papanya Jason, ia mengambil jari Pak Adrian dan memberi isyarat untuk mengikutinya, Pak Adrian mun menurut, dan ternyata anak laki-laki itu membawanya ke hadapan Jason lagi.
"Maukah Papa berjanji untuk ini?" tanya anak laki-laki itu, tangan Jason dan tangan Papanya menyatu saling menggenggam, anak laki-laki itu tersenyum manis, Jason jadi tidak tega untuk menolak permintaannya.
"Sekarang aku sudah yakin untuk lahir ke dunia nanti, Papaku tidak akan menjadi Papa yang buruk." anak laki-laki itu lalu mengedipkan sebelah matanya, persis seperti apa yang selalu Jason lakukan saat ia sering menggoda Shirleen.
"Dia benar-benar anakku." gumam Jason, namun sayangnya sebuah sinar terang mengalihkan perhatiannya, dengan masih menggenggam tangan Papanya dirinya bisa melihat anak laki-laki itu tadi pergi ke arah sinar terang yang menyilaukan matanya itu.
"Kau mau kemana?" tanya Jason.
Namun tidak ada jawaban, anak laki-laki itu semakin menjauh meninggalkannya, tanpa memperdulikan panggilannya.
"Kau mau kemana sayangku?" teriak Jason lebih keras.
"Jangan, jangan pergi!" ucap Jason lagi.
"Jangan, tetaplah disini, aku belum puas memandangi wajahmu, jangan, jangan pergi..."
"Lebih lama lagi sayang, Papa masih rindu..."
"Jangan..."
"Jangan..."
"Jangan pergi..."
"By... Hei, hei By, hei, ini aku, bangun..." Shirleen mengguncang kasar bahu suaminya. Keringat dingin membasahi wajah suaminya, mungkinkah suaminya itu tengah bermimpi buruk, lalu siapa yang tidak disuruhnya pergi, siapa yang dipanggilnya sayangku batin Shirleen.
"Hah hah hah..." Jason terbangun dari mimpinya, ia melihat Shirleen dengan wajah yang bingung, spontan saja Jason langsung memeluk istrinya, mimpinya tidak terlalu buruk namun tetap saja bermimpi seseorang yang belum lahir ke dunia itu rasanya jauh dari kata wajar.
"Ada apa By, tenang ada aku?" tanya Shirleen.
"Hah hah hah, By, aku bermimpi!" ujar Jason.
"Iya aku tau, sudah jangan dipikirkan." Shirleen mengelus punggung suaminya untuk menenangkan.
"By, aku mimpi dia!" aku Jason.
"Hah? Dia! Dia siapa?"
Bersambung...
__ADS_1
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...