
"By, kamu udah tidur ?" tanya Jason pada istrinya, malam semakin beranjak naik Shirleen sudah berniat memejamkan matanya.
"Kenapa ?" tanya Shirleen parau.
"Ada yang mau aku omongin" ungkap Jason.
Shirleen mulai serius, ia bangkit lalu duduk bersandar di kepala ranjang, siap mendengarkan apa yang akan suaminya sampaikan.
"Ada apa ?" tanyanya.
"Tadi siang aku dan Misca ke rumah ibunya Mas Athar, saat ini kan Mas Athar tinggal di rumah ibunya" Jason mulai menjelaskan apa yang telah terjadi, ia tidak ingin ada kesalah pahaman jika sampai Shirleen tau dari Misca ataupun dari orang lain.
"Di rumah Ibu, lho emangnya kenapa tidak tinggal di rumah kami waktu dulu" tanya Shirleen.
"Ceritanya cukup panjang, yang pasti intinya sudah beberapa bulan ini Mas Athar pindah dan menetap di rumah Ibunya, dia juga mempunyai kedai untuk usahanya" jelas Jason.
"Istrinya ?" tanya Shirleen, Shirleen nampaknya penasaran apa Athar dan istrinya pindah kerumah mantan mertuanya itu atau Athar sudah berpisah dari istrinya.
Bukan apa, ia hanya sekedar ingin tau saja bagaimana kehidupan ayah Misca tersebut, karena saat ini ia sudah ikhlas dan yang lebih membuatnya bersyukur karena ia mempunyai Jason dalam hidupnya, jadi ia juga berharap mantan suaminya itu bisa berbahagia seperti yang ia rasakan saat ini.
Meski menderita pun ia berhak mengasihani kan dan kalau bisa jika diizinkan bolehkah ia membantu, bukan sebagai mantan istri namun sebagai sesama manusia.
Sungguh ia benar-benar sudah berdamai akan hidupnya, baginya selama Athar tidak mengusik hidupnya ia tetap bisa menerima Athar sebagai teman misalnya.
"Riana sudah lama meninggal" aku Jason, sudah lama ia memendam ini, merahasiakan ini dari Shirleen, meski ia masih juga tidak merasakan apapun tentang kematian Riana, namun ia tidak bisa menyangkal jika ia sedikit banyaknya juga andil dalam kematian Riana.
Baginya bukan salahnya, ia hanya tidak suka miliknya disentuh, jangan salahkan dia jika Riana berakhir menyedihkan.
"Meninggal ?" Shirleen menutup mulutnya tidak percaya, masih ia ingat jayanya Riana saat menyombongkan diri di Mall waktu itu, berdebat dengannya hingga pada akhirnya ia masuk rumah sakit juga disebabkan oleh wanita jal*ng itu, kini apakah takdir sebegitu bercanda hingga yang menganggap dirinya kuat dan menang malah sudah tumbang duluan, karena apa, mengapa begitu cepat ?
"Iya, meninggal sakit katanya" ucap Jason sedikit berdusta.
"Aahh benarkah, lalu bayinya ?" tanya Shirleen lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tau By" dusta Jason.
Bohong jika Jason mengatakan tidak tau, karena ia adalah Jason, kehidupan orang yang pernah bermasalah padanya tentu akan ia ketahui sampai titik terjauh sekalipun.
Bahkan ia tau, anak Riana saat ini ada pada Dareen sahabatnya, ia menelusuri segalanya melalui orang-orangnya.
Yang ia tidak ketahui hanya siapa Bapak dari bayi mungil bernama Fahira tersebut, baginya itu bukan lagi urusannya.
"Aahh, apa dirumah Ibunya Mas Athar kemarin kamu nggak liat bayi ?" tanya Shirleen lagi.
"Mas Athar sedang di rumah sakit..."
"Apa ?" kaget Shirleen, ia tidak sadar memotong ucapan suaminya.
"Dia di rumah sakit, iparnya menjelaskan Mas Athar menjadi korban penusukan" ucap Jason, ia memang pernah bertanya pada Rendi, yah sebagai formalitas saja.
"Astagfirullah, jadi gimana By, keadaannya ?" Shirleen nampak sangat peduli, tidak menyadari bahwa tindakannya itu malah membuat Jason lumayan kesal.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, hanya saja Mas Athar masih membutuhkan donor darah karena luka tusuk yang ia dapat mengakibatkannya kehilangan banyak darah" jelas Jason jujur.
"Kau masih peduli dengannya ?" tanya Jason sinis.
"Bu bukan begitu By, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu, aku hanya..."
"Sudahlah tidak apa By, aku mengerti memang sulit rasanya melupakan seseorang yang sudah lama menempati hati kita" ucap Jason.
"By..." ucap Shirleen, kedua tangannya menggenggam erat tangan Jason.
"Kau tau, sama seperti dulu, Mas Athar yang pernah menempati seluruh hari ini saat aku masih dengannya, bukan hanya karena aku yang mencintainya namun bagiku itu adalah sebuah keharusan" Shirleen terhenti berbicara kala melihat Jason menundukkan wajahnya. "Sekarang aku adalah milikmu, aku akan melakukan hal yang sama, memberikan seluruh cintaku untukmu, dan membuat namamu menempati seluruh hati ini" jelas Shirleen.
"Aku hanya peduli padanya, bukan berarti aku masih mencintainya, bukan juga berarti aku masih memiliki perasaan terhadapnya" tambah Shirleen.
"Iya By, aku mengerti" ucap Jason.
__ADS_1
Entahlah, dalam hatinya seakan tidak bisa terima saat Shirleen seolah sangat peduli terhadap Athar.
"Cup" Shilreen mencium lembut bibir suaminya, ia mengerti sifat Jason yang kadang masih kekanakan, tidak bisa dengan mudah menerima ketika miliknya memikirkan orang lain, terlebih Athar adalah mantan suaminya, seseorang dari masa lalu yang pernah hidup bersama.
"Aku tau, aku tidak bisa membuktikan padamu, namun kita bukan hanya sekadar pacaran By, kita sudah menikah"
"Dari awal sudah pernah aku katakan, perkara menikah bukan hanya tentang menjadi teman hidup, tapi saat aku menikah aku berjanji hanya akan mencintai pasanganku saja seumur hidup, berharap selalu bersamanya dan hanya kematian yang akan memisahkan, aku tidak bisa menyuruhmu untuk percaya, tapi tetap akan aku lakukan, karena aku bukan berjanji padamu namun berjanji pada Tuhan"
"Aku berpisah dengan Mas Athar, karena dia menghianatiku, bagiku penghianatan dan perselingkuhan itu harga mati, aku bisa menerima kesalahan apapun kecuali penghianatan, itu sebabnya aku meninggalkan dia"
Jason terdiam, ia masih menyimak apa yang istrinya itu katakan.
"Jujur saja, dulu saat diawal-awal kami memutuskan untuk berpisah, cinta itu masih ada, keraguan sempat membayangi hati ini, berapa kali aku menangis di pelukan Weni, menumpahkan segala kegelisahan, air mata ini selalu menggenang dan luruh hampir disetiap malam, kala aku selalu mengingatnya untuk membunuh malam-malamku, jujur yang aku pikirkan hanyalah sanggup tidaknya aku tanpa dia, dan bagaimana nasib Misca"
Shirleen juga ingin mengutarakan hatinya. supaya tidak ada lagi kesalahpahaman di antara ia dan Jason.
"Kau pun datang, tidak mudah menggantikan posisi Mas Athar saat dulu, kau juga pasti mengerti kan"
"Bagiku selama kau bisa hanya melihat dan mencintaiku saja sudah cukup, aku juga akan melakukan hal yang sama"
"Aku mengerti By, aku juga hanya akan mencintaimu, tapi entahlah rasanya begitu sulit menerima jika kau begitu peduli dengan orang lain" ucap Jason, ia jujur saja dengan istrinya itu.
"By, Mas Athar itu adalah ayahnya Misca, coba bayangkan bagaimana perasaan Misca jika sampai kehilangan ayah kandungnya, mungkin kau bisa menggantikannya, aku juga yakin Misca tidak akan pernah kekurangan kasih sayang, namun bukankah sangat lengkap jika Mas Athar sebagai ayah kandungnya juga hadir dalam hidupnya, dalam setiap tumbuh kembangnya"
"Cemburu itu wajar By, tapi aku bisa berjanji padamu bahwa aku sudah tidak punya perasaan apapun terhadap Mas Athar, peduliku ini untuk Misca, dan sebagai sesama manusia"
"Aku mencintaimu..." ucap Jason, ia langsung saja memeluk istrinya itu.
Ah benar cemburu itu wajar, namun saling percaya itu harus.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!