
"Sebenarnya jika Riska mengizinkan aku ingin membawa Tiara beberapa hari ke Palembang, tapi rasanya mustahil, ah iya Thar apa Ara pernah meminta uang padamu ?"
"Iya Mas, satu kali, katanya untuk uang buku, aku juga memberikannya lebih untuk ia pegang barang kali kak Riska tidak memberinya uang jajan, Kak Riska sangat temprament sekarang, entahlah aku tidak tau berapa dalam luka yang ia rasakan akibat perceraiannya"
"Thar, tolong selalu kabari aku tentang Tiara, apakah ia makan dengan baik, tidur dengan cukup, aku takut dia kenapa-kenapa Thar" ucap Rendi.
"Iya Mas, nanti aku kabari, Tiara akan baik-baik saja, nanti akan ku minta ia hari-hari berada di kedaiku saja dengan alasan membantuku" ucap Athar meyakinkan.
"Yah kau benar, lebih baik begitu, aku yakin jika Ara berada di rumah, mamanya pasti akan menyuruhnya ini dan itu"
Rendi membayar pesanannya, ia akan langsung pulang kerumah karena harus packing untuk keberangkatannya nanti sore.
Sementara Riska, saat ini ia sedang berbelanja menghabiskan uang yang pagi tadi baru saja ia minta pada Athar.
Uang yang ia minta untuk biaya berobat ibunya, namun sama sekali tidak ia gunakan seharusnya.
"Lho kak Riska, kakak kok disini ?" tanya Delia, ia ingin mencari baju seragam untuk putranya karena sudah kekecilan, namun malah menjumpai kakaknya di mall, di salah satu toko baju branded yang ia saja tidak pernah cukup nyali untuk membelinya, Delia adalah ibu rumah tangga yang selalu berpikiran sayang jika uang yang sudah letih-letih suaminya cari harus ia hambur-hamburkan untuk membeli baju semacam itu, mending ditabung untuk biaya sekolah anak-anak.
"Eehh Del, iya nih lagi suntuk dirumah" jawab Riska sekenanya.
"Katanya nggak punya uang, tapi mainnya di barang mahal" sindir Delia.
"Ini cuma liat-liat aja kok Del, kakak mana ada uang untuk beli yang kayak gini, ih siapa lah yang bakalan ngasih, mas Rendi itu mana pernah peduli mentang-mentang kakak sama dia udah mau cerai, kebutuhan Ara saja kakak kadang harus pinjam sama Athar" ucap Riska pelan beralasan, untung saja ia belum membeli satu barang pun di toko ini sehingga ia masih bisa ngeles.
"Kak, gimana kondisi ibu, aku nanti jumat baru kesana yaaa, soalnya Mas Solihin ngambil cuti hari jumat, nanti kami sekalian nginep sampai hari minggu sore" ucap Delia, ia menelan bulat kecurigaannya, biarlah ia akan menanyakan nanti saja pada Athar, uang yang ia kirimkan pada kakaknya waktu itu apa sudah digunakan dengan semestinya.
"Aahh ibu baik-baik saja kok Del, belum ada perubahan tapi yaaa tidak buruk juga, kalau kalian sibuk tidak usah kesana juga tidak apa, ibu hidup dengan baik kalian tidak usah khawatir" ucap Riska, ia yang nampak cemas akan kelangsungan hidupnya jika saja adik-adiknya tau apa saja yang sudah ia lakukan selama ini.
Delia bisa menangkap gelagat kakaknya, dari suara yang bergetar dan sikap yang canggung seolah ada yang ditutupi, apa tandanya keadaan dirumah ibunya tidak baik-baik saja saat ini pikirnya.
"Tidak apa kak, aku hanya berkunjung, membantu kakak merawat ibu juga sudah menjadi kewajibanku kan, aku saja sungguh merasa tidak nyaman selalu merepotkan kakak" ujar Delia.
__ADS_1
Ia juga jadi berprasangka buruk pada kakak sulungnya, menurutnya ia kan hanya berkunjung bagaimana bisa kak Riska seakan mencegahnya, bukannya malah harusnya senang kalau saudara berkunjung, apa lagi dengan kondisi ibu yang sedang tidak sehat.
"Bagaimana Athar, apa dia hidup dengan baik juga ?" tanya Delia lagi.
"Dia baik-baik saja Del, usaha kedainya juga lancar" jawab Riska.
Ingin sekali Riska menyudahi pertemuan tidak disengaja ini, namun Delia nampak masih betah mengoceh bertanya ini dan itu.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya"
Delia memang begitu, mungkin karena jarak lahir antaranya dan Athar tidak begitu jauh membuat ia selalu merasa dekat dengan adiknya itu.
Terlepas dari apa yang pernah Athar lakukan pada ibu mereka, ia pelan-pelan juga bisa mengabaikan itu, ia merasa Athar tetaplah adiknya, mana mungkin seorang anak kandung bisa mencelakai ibu sendiri dengan sengaja, jadi ia berlapang dada dan selalu bisa memaafkan Athar.
Dulu saat Athar menikahi Shirleen ia juga kecewa, namun seiring berjalannya waktu ia juga memaafkan Athar tapi sayangnya tidak untuk Shirleen.
Ia juga sama seperti ibu dan ketiga kakaknya, sama-sama tidak bisa menerima Shirleen dalam keluarga mereka.
"Iya, aku juga sebentar lagi balik kok, kayaknya udah seger ini mata" ucap Riska.
Keduanya berpisah, Riska kembali berkeliling dan menikmati uang hasil palakannya.
Jason baru saja sampai dirumah, ia sengaja pulang cepat hari ini, ia mengira istrinya akan bercerita tentang hari pertama mengelola cafe.
"By... Hei aku pulang ini, gitu banget gak disambut suami pulang" ucapnya, saat sudah memasuki kamar.
Namun ia tidak menemukan keberadaan anak istrinya, ia mencari di sudut rumahnya namun hanya rasa letih yang ia dapatkan mengingat rumahnya yang luas tak terhingga, bodohnya dirinya jika menyangkut istrinya ia malah tidak bisa berpikir jernih.
Ia menuju ruang cctv, dan meninjau pergerakan istrinya, ternyata istrinya itu belum pulang ke rumah hingga kini.
Langsung saja ia mengambil ponselnya di saku, menghubungi istrinya untuk menanyakan dimana keberadaannya.
__ADS_1
Beberapa kali panggilan namun tidak juga tersambung, ia lalu melacak keberadaan mobil istrinya, dan ternyata posisinya masih di cafe, Jason lalu bergegas menuju cafe Jash untuk menjemput istrinya.
Tidak memerlukan waktu lama, ia kini sudah berada di cafe yang telah ia persembahkan pada istrinya itu.
Semua pegawai yang melihat kedatangannya tertunduk, beberapa ada yang berpikiran buruk karena tiba-tiba Tuan Muda mereka mengunjungi cafe, dan bertanya untuk apa kemari.
"Dimana istriku ?" tanyanya setelah mengetahui istrinya tidak juga ada di ruangan.
"Ibu sudah pulang sedari siang tadi tuan" ucap salah satu pegawai, butuh keberanian untuk menjawab pertanyaan itu, namun jika tidak dijawab mereka semua mungkin bisa binasa.
"Pulang ?" ulang Jason.
"Iya Tuan" beberapa menjawab serentak. Seakan bertaruh nyawa namun harus mereka lakukan.
Jason berlalu, melacak keberadaan istrinya namun tidak bisa, Shirleen tidak tau dimana keberadaanya.
Ingin ia menghubungi mertuanya, namun ia urungkan karena jika Shirleen tidak berada dirumah orang tuanya tentu akan sangat tidak nyaman.
Ia kemudian menghubungi mamanya, menanyakan keberadaan Shirleen, namun sayangnya Mama Mila mengatakan Shirleen tidak kerumahnya hari ini.
Jason masih termenung di mobilnya, memikirkan akan kemana ia pergi mencari.
Ah iya mungkin Shirleen di rumah, mungkin saja istri dan anaknya sudah pulang kerumah saat ini.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1