
"Bayi laki-lakinya?" tanya Shirleen, karena Mama Mila hanya membawa satu bayi perempuan ke hadapannya.
"Nak..."
"Abangnya harus menjalani perawatan intensif By, sewaktu dilahirkan Abangnya tidak menangis, karena ada sedikit masalah pada saluran pernapasannya." jelas Jason.
"Lalu, tapi bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Shirleen lagi. Rasa sesak menyeruak, membuat dirinya begitu panik, namun sayangnya tidak bisa berbuat apa.
"Tidak apa By, hanya perlu perawatan intensif terlebih dahulu di ruangan khusus." jelas Jason lagi, sangat kentara sebenarnya bahwa dirinya tidak mau membuat Shirleen khawatir, namun mau bagaimana lagi, sulit menyembunyikan ketakutannya.
"Dia baik-baik saja?" selidik Shirleen, wanita itu bisa menilik keraguan di wajah suaminya.
"Kita serahkan semuanya pada yang Kuasa, Dokter Eri mengatakan bayi kita tidak apa!" jawab Jason.
Berbohong atau tidak, entahlah Jason pun sulit menilai perkataannya kali ini.
Shirleen mengangguk, kemudian Mama Mila mendekatkan bayi perempuan itu pada Shirleen, Shirleen yang belum diperbolehkan untuk bangkit pun hanya bisa menatap bayinya dengan penuh cinta.
"Sayang..." serunya, ingin membelai namun tubuhnya masih lemas.
Mama Mila seolah mengerti, wanita paruh baya itu mendekatkan lagi bayi Shirleen supaya bisa sangat dekat.
"Dia mirip denganmu By..." ucap Shirleen.
Jason tersenyum, memang benar, "Yang cowok mirip denganmu By, tapi versi cowok." ucap Jason.
"Siapa namanya?" tanya Shirleen antusias.
"Kau punya nama yang sudah dipersiapkan?" tanya Jason pada Shirleen.
Shirleen menggeleng pelan, selama ini dirinya tidak pernah memberikan nama untuk anak-anaknya, saat kelahiran Misca pun demikian, Misca Amalia Dharma, nama itu Athar yang memberikannya untuk putri mereka.
"Biar Papanya saja yang berikan nama!" ucap Shirleen menggoda Jason, wanita itu tersenyum manis pada sang suami.
Untuk kesekian kalinya, Jason jatuh cinta pada Shirleen, terlebih wanita itu telah berjuang melahirkan keturunannya, sayang dan cinta yang tidak terhingga kini malah semakin bertambah.
"Namanya Jilly Almas Putri Adrian, panggilannya Jill!"ucap Jason sembari mengecup lama kening bayi perempuannya.
"Namanya indah, hay Jill!" seru Shirleen, matanya menatap lagi penuh cinta pada bayi perempuannya.
"Lalu siapa nama Abangnya?"
Mama Mila dan Pak Adrian juga penasaran, pasalnya kedua cucu mereka memang belum diberikan nama.
__ADS_1
"Jio Adskhan Putra Adrian. Kita bisa memanggilnya Jio!" jawab Jason, pemuda itu memang sudah menyiapkan nama dari jauh-jauh hari untuk bayi-bayinya.
Belajar dari nama Jacob Aslan Adrian, bayi itu sempat lama tidak bernama kala Jason belum menyiapkan nama, apa lagi Shirleen yang lahiran sangat mendahului hari perkiraan melahirkan.
"Jadi manggilnya Jio dan Jill ya si kembar kita?" tanya Mama Mila.
"Iya Ma!" setuju Jason.
"Hay Jill, uhhh Jill gemas sekali Oma lihat." Mama Mila menguyel pelan pipi bayi yang hanya berbobot 2,5 kg itu.
Bayi yang telah diberi nama Jill itu tampak menguap, sepertinya mengantuk.
"Uuhh uhhh, apa ini ngantuk ya, baru tidur udah mau tidur lagi, nggak main dulu sama Oma sama Opa." manja Mama Mila lagi.
"Jason, kamu belum kabarin mertua kamu di Turki, mereka pasti akan sangat senang mendengar berita baik ini." ucap Mama Mila.
Yah Jason hampir saja lupa, karena begitu banyaknya masalah yang terjadi.
Pemuda itu kemudian menghubungi ayah mertuanya, Di panggilan ke dua barulah diangkat oleh Pak Haris.
Mereka melakukan vidio call, meski nanti Jason harus menjelaskan lagi tentang kondisi bayi laki-lakinya pada ayah mertuanya.
"Assalamualaikum..."
^^^"Lho kenapa sayang, kok kayaknya di rumah sakit?" ^^^
Mama Nena sedikit panik kala dilihatnya Shirleen yang tengah memakai piyama rumah sakit, dengan kondisi tubuh yang menurutnya lemas itu.
"Ilen udah lahiran Ma, Pa, ini bayinya."
^^^"MasyaAllah, berita baik ini, aduuhhh Oma belum bisa ke sana, Babaanne masih sakit di sini." ^^^
"Nggak papa Jeng, santai aja, di sini ada kami kok, untung aja kemaren nggak jadi kami mau ke sana juga."
^^^"Iya lho Jeng, titip anakku yah!" ^^^
"Iya pasti, akan selalu dijagain menantu kesayanganku ini."
^^^"Ah kalian bisa aja, lahirannya apa? Normal?" ^^^
"Di caesar Ma!"
^^^"Mana bayi satunya, mau lihat juga, itu tadi yang cewek apa cowoknya, katanya kan kembar sepasang, benar nggak?" ^^^
__ADS_1
"Bayi yang cowok masih di ruang rawat Ma, soalnya pas lahir ada sedikit masalah, tapi nggak papa sih, udah ditanganin tinggal pemulihannya aja."
^^^"Kenapa? Ada masalah apa? Tapi Ilennya nggak papa kan? Dia baik-baik aja kan?"^^^
"Ilennya baik-baik aja Ma, bayi yang cowok, abangnya dia ini, katanya pas lahir nggak nangis karena saluran pernapasannya tersumbat air ketuban, tapi beruntung bisa cepat ditangani Ma, alhamdulillah bayinya selamat."
^^^"Oh syukurlah, alhamdulillah. Maafin Mama sama Papa yah yang belum bisa jengukin kalian sama anak-anak kalian."^^^
"Iya Ma, nggak papa, di sini ada orang tuaku juga Ma, Pa."
^^^"Sehat-sehat ya kalian, baik-baik, selamat ya Nak Jason sama Ilen udah nambah lagi anggota baru di keluarganya."^^^
"Iya Ma. Makasih yaaa!"
Kemudian, ponsel itu diambil alih oleh Mama Mila karena katanya Mama Nena ada yang ingin dibicarakan pada besannya itu.
Shirleen cukup lega, meski belum bisa melihat Jionya.
...##########...
Satu minggu berlalu, Shirleen dan bayinya sudah diperbolehkan pulang, meski dengan catatan Jio harus di kontrol rutin seminggu sekali untuk melihat perkembangan jantungnya.
Kondisi terakhir mengabarkan, jantung Jio masih bisa bekerja dengan baik, lubang kecil yang ada pada jantungnya hanya berpengaruh sedikit bagi Jio. Dan semoga saja seiring Jio bertumbuh maka lubang itu bisa tertutup dengan sendirinya.
Jason memperkerjakan lagi dua pengasuh untuk mengasuh masing-masing anaknya, terkhusus untuk Jio, Jason memerintahkan seseorang sesuai rekomendasi dokter Eri untuk merawat Jio, baginya Jionya begitu membutuhkan perhatian khusus.
Sementara Jill, bayi perempuan itu diasuh oleh Maid yang ditunjuk langsung olehnya, Jason bisa menilai seseorang seperti waktu dirinya menilai Ipah, siapa yang akan selalu setia padanya, dengan siapa yang mempunyai niatan buruk pada keluarganya pun dirinya mengetahui itu, dari gerak gerik dan cara berbicara Jason bisa menganalisa siapa orang-orang terbaik yang bisa ditempatkan di sisinya. Maka dari itu dia menunjuk langsung siapa yang bisa terpilih untuk hadir ditengah-tengah keluarga kecilnya seperti kehadiran Ipah. Orang terpilih itu haruslah cerdas dan bisa berpikir kritis, maka barulah Jason bisa menggantungkan sebuah tanggung jawab pada orang-orang yang dirinya percaya.
Jason membuka pintu utama rumah mewahnya, Shirleen masih mengenakan kursi roda, sementara Jio dan Jill berada dalam dekapan masing-masing pengasuh.
"SELAMAT DATANG JIO DAN JILL!!!"
Sebuah teriakan dari Ipah dan Misca menyambut kedatangan mereka, Misca langsung berhamburan memeluk kaki Bundanya, sementara Ipah mendekatkan Jacob pada Tuan dan Nona Mudanya.
"Anak Bunda, anak Mama..." lirih Shirleen, dirinya terharu.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote !!!