
📩 Mas Athar, ini nomor aku, Lisa. Save yaaa.
Athar nampak memicingkan mata kala melihat sebuah pesan masuk di ponselnya.
Lisa, ah iya anak SMA yang kemarin ia temui di pasar tradisional, hemm ternyata punya nyali juga pikir Athar.
Lalu ia melanjutkan kegiatannya, mengelola kedai lagi, setiap hari kedainya semakin ramai, ia juga sudah bisa menabung semenjak dirinya sendiri yang menangani kebutuhan rumah, ternyata memang terasa sekali bedanya dibandingkan waktu keuangan untuk rumah dikelola Riska.
"Mas Athar, Ibu gak bangun-bangun dari tadi." ucap Fahri perawat yang bekerja merawat Ibunya Athar tiba-tiba menghampirinya.
"Masa sih, kamu udah cek?" tanya balik Athar.
"Sudah Mas, tapi Ibu emang gak bangun, tapi nadinya masih ada, cuma sedikit lemah sih, saya sarankan Ibu untuk segera di bawa ke rumah sakit Mas!" ucap Fahri lagi.
"Ah iya kamu benar, aku telpon Kak Del dulu suruh dia bawa mobil kesini buat bawa Ibu."
"Iya Mas, cepet ya Mas!"
"Iya, ya sudah kamu kemasi keperluan Ibu." Athar langsung saja mendial nomor kakaknya itu, sembari kakinya melangkah masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Ibunya.
Dan benar saja, ia juga ikut membangunkan Ibunya, namun Ibunya itu sudah tidak bergerak.
"Halo kak Del, Ibu Kak, terjadi sesuatu sama Ibu, tolong ke sini, Ibu harus di bawa ke rumah sakit cepet Kak!"
^^^"Eh iya Thar, iya Kakak akan segera ke sana!"^^^
Athar masih saja mencoba membangunkan Ibunya, di raba olehnya dan memang benar denyut nadi Ibunya sungguh lemah.
"Mas tutup Kedai dulu ya Fahri, kamu jagain Ibu sebentar!" ucap Athar.
"Iya Mas!"
Lalu Athar bergegas menutup Kedainya, mereka akan membawa Ibunya kerumah sakit.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, akhirnya Delia sudah sampai di rumah Ibunya, ia langsung saja menemui Ibunya di kamar, air matanya sudah luruh melihat kondisi Ibunya, dengan segera ia meminta Fahri dan Athar untuk membawa Ibu mereka ke mobil.
Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lambat, Delia sudah berapa kali menyuruh Athar mengemudi lebih cepat, namun kondisi jalanan yang ramai tetap saja tidak mungkinkan.
Delia memangku sang Ibu sambil terus membangunkan, sementara Fahri duduk di samping kemudi, tapi saat Fahri menoleh kebelakang ia merasakan lain pada orang tua yang di rawatnya itu, tangannya refleks terulur untuk mengecek nadi orang tua itu.
Dan benar sekali dugaannya, Ibunya Athar sudah tiada, nadinya sudah terhenti.
"Mas tepiin mobilnya dulu Mas." suruh Fahri pada Athar.
"Kenapa?" Athar menoleh, dilihatnya Fahri tengah mengecek kondisi Ibunya. Ia pun menurut dan menepikan mobilnya di sisi kiri jalan.
Fahri mengecek lebih lanjut untuk memastikan dugaannya memang tidak salah.
Delia sudah berderai air mata, sungguh dirinya sudah berpikiran buruk semenjak dari melihat Ibunya tadi saat ia datang.
"Inalilahi Wainailaihi Rojiun." ucap Fahri yang memberi arti bahwa Ibunya Athar memang sudah tiada.
"Iya Teh, Ibu sudah nggak ada." jawab Fahri.
"Inalilahi Wainailaihi Rojiun." ucap Athar dan Delia serentak.
Air mata Delia luruh, ah rasanya meski Ibunya sakit-sakitan namun dirinya juga tidak terpikirkan kalau Ibunya akan pergi secepat ini.
Sementara Athar, ia sudah tidak tau harus menangis atau apa, baginya Ibunya sudah cukup menderita mungkin dengan begitu Ibunya sudah tidak akan merasakan sakit lagi.
"Dek, Ibu udah nggak ada dek." ucap Delia pada Athar.
"Iya Kak, kabarin yang lainnya, bilang suruh kumpul di rumah." ucap Athar.
"Mas, jadi ini gimana, mau di lanjut ke rumah sakit, barang kali mau tau kenapa bisa..."
"Udah Fahri, kita pulang aja, dengan kondisi Ibu yang gak ada perubahannya dari semenjak awal sakit, aku udah ikhlas kalau Ibu udah nggak ada, Ibu nggak ngerasain sakit lagi, dia udah tenang jadinya." potong Athar, baginya untuk apa lagi ke rumah sakit jika hanya untuk mengetahui penyebab kematian, lebih baik tidak usah, ia sudah ikhlas.
__ADS_1
"Iya Thar, Kakak juga nggak mau nunggu lama lagi, ibu dibawa kemana-mana, lebih baik kita urus aja langsung gak usah di bawa ke Rumah Sakit lagi." ujar Delia menambahkan.
Athar langsung putar balik pulang ke rumah Ibunya lagi, dalam perjalanan pulang Delia juga menghubungi kedua kakaknya dan sanak saudara mengabarkan bahwa Ibu mereka sudah tiada.
"Thar gimana kak Riska?" tanya Delia, meski Riska sedang menjalani masa hukuman namun mereka tidak mungkin tidak memberitahukan berita duka ini pada kakak sulung mereka itu.
"Nanti kakak urus semuanya, suruh Mas Ilham juga ke rumah, nanti pokoknya kakak urus semuanya, biar aku sama Fahri jemput kak Riska, kalau diizinin ya kita bawa Kak Riska buat hadir di pemakaman Ibu, kalau nggak ya pokoknya kita udah ngabarin kalau Ibu udah nggak ada." ujar Athar.
"Ya Fahri ya, nanti kamu temenin Mas sebentar ya." ajaknya pada Fahri.
"Iya Mas Athar."
Lalu mereka pun sampai, ternyata di rumah Ibu mereka sudah berkumpul para tetangga, ada juga Citra dan Mutia sekeluarga, ke empat adik beradik itu pun langsung saja menyiapkan tempat untuk pembaringan jasad Ibu mereka.
"Kak Citra, Kak Mutia, Ibu udah nggak ada..." ucap Delia, tangisnya juga tidak bisa ia bendung saat melihat kedua kakaknya.
"Iya Del, ikhlasin Ibu udah tenang, gak ngerasain sakit lagi, mungkin ini yang terbaik yang telah digariskan Allah untuk Ibu." ujar Mutia.
Tangis Delia pecah, sungguh ia ikhlas, namun tidak dengan hatinya, tidak bisa di pungkiri kesedihan begitu melanda hatinya saat ini, hari ini dengan tiadanya Ibu mereka, maka mereka, ke lima adik-beradik itu sudah benar-benar menjadi anak yatim piatu, Delia mulai memikirkan bagaimana mereka nantinya bermusyawarah dan mufakat, tidak ada lagi pembimbing, sinar yang terang yang selalu mereka andalkan sebagai petunjuk arah, sementara Riska, kakak sulung mereka saat ini harus mendekam di Penjara, seharusnya Riskalah saat ini sebagai penopang mereka, sebagai pengganti orang tua mereka.
Sementara saat sang Ibu sakit kemarin saja masalah datang silih berganti pada keluarga mereka, Riska hendak bercerai dan tidak ada yang bisa menyelamatkan Riska dari keputusan yang sangat amat menyakitkan itu, tidak ada yang bisa di dengar nasihatnya, Riska bertindak sendiri tanpa tau tindakannya malah menjerumuskannya pada lubang yang hitam.
Lalu, mereka sempat bersitegang, tidak ada lagi penengah, bagaimana nanti kedepannya.
Meski Ibu mereka bukanlah orang yang baik, karena Delia tau dengan terang-terangan Ibunya itu memisahkan Athar dari Shirleen dengan membawa Riana waktu itu, sikap Ibu mereka yang penuh dengan dendam, menghasut mereka untuk jangan pernah menyukai Shirleen waktu itu, sehingga mereka pun ikut mendukung tindakan Ibunya, tapi mau bagaimana pun seorang Ibu tetaplah seorang Ibu, yang selalu layak untuk di cintai oleh anak-anaknya, dan meski pun seburuk apapun Ibunya, Delia tetap mengasihi, sang Ibu tetaplah selalu di hati.
Kini ke empat beradik itu pun saling merangkul menangis haru, hari ini adalah hari tersedih bagi Athar, meski matanya tidak bisa untuk menangis meneteskan air mata.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1