
"Bunda, kenapa kita tidak bertemu Papa lagi, apa Papa juga sibuk bekerja sama seperti ayah ?" tanya Misca, ia heran sudah satu minggu ia meninggalkan rumahnya, dan hidup entah dimana, orang yang ia temui begitu asing, ia seperti harus membiasakan diri lagi.
Papanya juga tidak pernah mengunjunginya, sama seperti ayahnya dulu. Ia merindukan papanya.
"Kita akan tinggal disini, hanya sebentar kok, ayo main lagi sama adik bayi"
Kali keduanya Shirleen menjadi seperti orang yang begitu egois pada anak-anaknya, kali keduanya Misca kehilangan sosok orang tuanya.
Misca memang paling dekat dengan Jason, tidak heran jika Misca seolah berat atas perpisahan ini.
Shirleen kembali memandangi cincin dijari manisnya, walau hubungannya dengan Jason entah akan dibawa kemana, ia enggan melepaskan benda melingkar yang nampak pas dijarinya itu.
Walau raga terpisah jauh namun hatinya masih terparti pada kekasih berondongnya itu.
Lalu sebuah senyum terukir dibibir manisnya, ia geli sendiri saat mengingat awal-awal masa pertemuannya dengan Jason, Jason yang baginya sangat keterlaluan dan tidak tau diri itu sekarang adalah orang yang paling ingin ia temui, jangan lagi berdusta, akui saja kalau ia mulai rindu.
Misca yang berbaring di pangkuannya, pelan tertidur.
Shirleen menghela nafasnya pelan untuk mengurangi rasa sesak didadanya.
Sedang apa dia ?
Ia mulai membayangkan wajah tampan Jason yang memang sedari tadi sudah memenuhi pikirannya, satu harapannya adalah Jason mau berubah.
Ah berubah, ia kembali mengingat kejadian seminggu lalu, saat ia dengan terpaksa harus meninggalkan kekasihnya itu.
Flashback.
__ADS_1
"Ipah apa semuanya sudah siap ?" tanyanya pada Ipah, ia akan pergi meninggalkan kota ini, pergi jauh hingga Jason mungkin sulit menemukannya, karena dari novel online yang ia sering baca bukan hal sulit bagi seorang mafia untuk menemukan keberadaan seseorang yang dicari. Ah mafia, lagi-lagi ia tidak percaya bocah tengil itu ternyata kriminal.
"Sudah nona" Ipah lalu memberikan Jacob pada Shirleen.
"Ipah hanya kau yang mengetahui ini, kuharap kau bisa membantuku" ucap Shirleen dengan tatapan memohon yang sangat.
"Iya Nona, semoga saya bisa amanah" jawab Ipah lirih.
Keempat manusia itu mulai meninggalkan apartemen, semuanya sudah disiapkan oleh Mama Mila, sopir yang menjemput, identitas yang disamarkan saat ia memasuki bandara, dan segala halangan mengingat Jacob masih sangat bayi, Mama Mila menyiapkannya dengan sangat baik, Ia bisa terbang menuju sebuah daerah yang akan ia tinggali nanti.
Empat puluh lima menit berlalu, ia sudah sampai disebuah daerah yang ternyata sebuah kepulauan, asri, sejuk, nampak polusi sangat minim di daerah ini, semoga saja ia betah mengungsikan hidupnya.
Ia dan rombongannya langsung disambut hangat oleh pria paruh baya yang sedang mengangkat sebuah papan nama bertuliskan namanya, Shirleen mengerti setelahnya ia mengetahui nama pria paruh baya itu adalah Pak Ramli, seseorang yang ternyata telah ditugaskan pada sebuah rumah yang akan ia tinggali.
Mereka semua menuju lokasi, Shirleen hanya berharap dengan rencana ini Jason tidak mudah menemukannya, dan bisa segera sadar jika saja dengan kehilangannya benar akan membuat Jason meninggalkan dunia hitamnya.
Jauh, sangat jauh perjalanan yang mereka tempuh, Misca bahkan tiada hentinya menanyakan kapankah mereka akan sampai, namun sang roda empat terus berjalan entah sampai kapan dan dimana akan berhenti.
Tiga jam lebih perjalanan mereka lalui mengandalkan kesabaran, pada akhirnya sampailah ia disebuah rumah sederhana, namun tidak terlalu sederhana jika dibandingkan rumah sekelilingnya, masih bisa dikatakan mewah, fasilitas lengkap, sebuah jaminan jika ia tidak akan pernah kesulitan selama tinggal disini.
Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangannya ramah. Shirleen terkesan, setidaknya ia bertemu orang baik ditempat yang teramat asing baginya ini.
"Non Shirleen, biasanya makan apa, setau saya Non baru saja melahirkan, kalau ditempat kami biasanya orang yang masih dalam pantangan setidaknya biasa makan rebusan saja" Ucap Bi Ida yang ternyata istri dari Pak Ramli.
"Pantangan maksudnya larangan ?" tanya Shirleen ingin tau, ia baru mengetahui adat daerah sini yang berlaku bagi wanita baru saja melahirkan.
"Bu, non Shirleen kan orang kota, ia pasti ikut anjuran gizi bukan adat seperti orang kita kebanyakan" celutuk Pak Ramli yang baru saja selesai mengangkat semua koper kedalam rumah.
__ADS_1
"Aahh iya Bibi lupa ? Biasanya makan apa Non, kalau sejenis gorengan, semacam ikan dan ayam goreng boleh ndak ?" cara Bu Ida melafalkan bahasanya sangat kaku, mungkin Shirleen pikir wanita paruh baya itu tidak terbiasa berbahasa indonesia.
"Apa saja Bi, yang penting jangan yang pedas" ucap Shirleen, ia tidak ingin merepotkan orang-orang disini, sebisa mungkin secepatnya ia harus bisa beradaptasi.
"Kalau begitu mari makan, Bibi sudah menyiapkan semuanya, mari sini Bibi gendong dulu bayinya, uuhhh sayang, sayangnya Bibi sama Bibi dulu ya, Mamaknya mau makan sebentar"
"Terimakasih Bi"
Mereka pun makan dengan khidmat, sudah hampir senja saat ini, perjalanan yang melelahkan membuat perut Shirleen menerima apa saja makanan yang disuguhkan, entahlah mungkin karena Jacob tak hentinya melahap sumber makanannya saat diperjalanan tadi.
Sinar mentari berganti dengan bias bulan, ini adalah hari pertama Shirleen tinggal di tempat orang, setelah tadi ia tour sebentar mengenali semua isi rumah agar ia tidak tersesat nanti, ia mulai terbiasa akan kehadiran Bi Ida dan Pak Ramli, namun katanya sepasang suami istri itu hanya menemaninya sampai ia terbiasa saja, maksudnya untuk beberapa hari ini mereka akan menginap, setelahnya mereka akan datang saat pagi hari untuk membantunya dan pulang setidakmya sore atau petang. Seperti jadwal kerja Ipah dulu.
Ia tidak keberatan, lagi pula ada Ipah yang siap menemaninya.
"Disini kalau dini hari sampai subuh dingin Non, tidak ada pemanas, jika non kedinginan Bibi sudah siapkan selimutnya disini" ucap Bi Ida, sembari meletakkan empat buah selimut tebal di samping ranjang Tempat Misca dan Jacob tengah tertidur.
Rencananya Shirleen, kedua anaknya dan Ipah akan tidur bersama, mereka baru memulai hidup baru mereka disini, akan lebih baik jika dihadapi bersama dahulu.
Kamarnya cukup besar, muat saja untuk berempat walaupun Ipah harus tidur terpisah menggunakan kasur angin.
"Bibi tinggal dulu, nanti jika ada apa-apa bagunkan bibi, bibi dan bapak tidur di ruang TV"
"Iya Bi" jawab Shirleen, ia benar-benar lelah hari ini. Untung saja Jacob dan Misca sudah tidur setelah makan kemudian mandi tadi, jadi ia bisa tidur cepat malam ini.
"Ipah, kau tidurlah juga, nanti jika para bayi bangun bagaimana, aku tidak yakin mereka bisa langsung menyesuaikan diri, mata kita harus dipaksa melek lagi nanti"
"Ia Nona" jawab Ipah, ia lalu memulai debut tidurnya, karena tengah malam nanti bisa jadi ia akan mendengar tangis Jacob.
__ADS_1
Bersambung...
Like, koment, gift, dan vote.