
"Andai saja kamu mengizinkan kami untuk memberi tau Dareen tentang Fahira, mungkin kamu tidak perlu bersusah payah menghadapinya seperti ini Sri" ucap Bu Halima yang kini telah menjadi mertua Sri.
"Biarkan saja Bu, Mas Dareen juga sudah mulai membuka hati, biarkan seperti ini dulu"
"Tapi ibu merasa berdosa tidak memberitahukan sebuah kebenaran itu, kamu terus dihina walau Dareen tidak pernah mengatakannya dihadapan kami, anak itu memang benar-benar" Bu Halima mengingat ia yang pernah secara tidak sengaja mendengar perdebatan Sri dan putranya, ternyata Dareen belum bisa menerima Sri sampai saat ini.
"Tidak apa Bu, heeeh aku masih sabar begini kenapa ibu yang malah khawatir" Sri mencoba menenangkan mertuanya itu.
Saat ini mereka sedang memasak sarapan, Fahira masih tertidur di kamar setelah subuh tadi lelah bermanja dengan Sri.
"Aku yakin Bu, Mas Dareen orang yang sangat baik, meski ia belum bisa menerima pernikahan kami tapi aku tetap bisa mengerti semua itu mungkin karena kurangnya komunikasi saja"
"Kurang komunikasi ? Kurang komunikasi bagaimana ?" tanya heran Bu Halima.
Sri tersenyum kecil saat mengingat kejadian malam tadi.
Flashback.
"Kenapa sih Mas"
"Ya pokoknya Jangan ya jangan"
Sri tidak peduli, ia mulai mengambil ujung bawah bajunya dan akan menariknya ke atas.
"Sri..." ucap Dareen sedikit berteriak. "Lo gila yaaa, jadi cewek murahan banget" bentak Dareen yang kini sudah memegang tangan Sri untuk mencegah sebuah tindakan.
"Mas Dareen kenapa sih harus ngomong gitu, yah wajar aku buka baju aku di hadapan suami aku, kita sudah sah secara agama apanya yang murahan coba" ucap Sri lembut, namun itu malah membuat Dareen tidak nyaman.
"Denger, gue gak bakalan bisa nerima lo, jadi hentikan aksi gila lo yang terang-terangan godain gue, gue gak bakalan ter..."
"Ooohh jadi Mas Dareen sebenarnya tergoda sama aku" Sri langsung saja memotong ucapan Dareen. Satu poin baginya, benar saja Dareen tidak mungkin tidak mempunyai perasaan padanya kalau tidak dengan cinta biarlah Sri mendekatinya melalui naf*u, toh mereka sudah halal sekalipun Sri habis malam ini pun tidak apa baginya, anggap aja mereka sedang melakukan sebuah tugas mulia bagi pengantin baru sepertinya.
"Sri gue..." Dareen nampak geram namun dalam hatinya ia tidak bisa berbohong jantungnya juga berdegup kencang saat ini.
"Mas sini deh" ujar Sri sembari menepuk tempat disebelahnya.
"Mau ngapain lo ?"
"Sini dulu, aku mau ngomong sesuatu" pinta Sri lembut.
"Paan ?" tanya Dareen ketus saat ia sudah duduk di samping Sri.
__ADS_1
"Mas, coba deh bilang apa yang bisa bikin kamu nerima aku ? Beneran serius aku tanya ?"
"Heeehh lo itu seharusnya nggak jadi istri gue tau nggak, gue nggak pernah punya mimpi buat seumur hidup harus bareng lo" Tegas Dareen, ia tidak ingin memberi harapan pada Sri karena baginya ia tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita dihadapannya ini.
"Haahh" desah pelan Sri. "Jadi Mas maunya apa, berpisah kah ?" tanya Sri, masih lembut tidak ada kemarahan sedikitpun mengisi kata-katanya saat ini.
Dareen sebenarnya juga tidak tau apa kemauannya, berpisah ? Sungguh walau jalan itu pernah sempat ia pikirkan namun rasanya ia tidak akan berani mengambil langkah sebesar itu. Memutuskan menikah walau karena paksaan tapi sebenarnya ia juga berkeinginan pernikahannya hanya terjadi satu kali seumur hidup, namun sesalnya hanya mengapa harus dengan Sri.
"Mas..." Sri memegang tangan Dareen lalu mengecupnya singkat, dilihatnya Dareen hanya bisa terdiam setelah mendengar pertanyaan akan dibawa kemana pernikahan mereka.
"Meski tidak benar-benar mencintai, tapi setidaknya izinkan aku untuk mengumpulkan pahala saat menjadi istrimu Mas" ucap Sri, baginya sebisa mungkin ia harus meluluhkan hati sang suami.
Dareen masih terdiam, namun juga tidak melayangkan penolakan.
"Aku bukan wanita sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Dareen, jika suatu hari nanti Mas membutuhkanku bilang saja, aku akan selalu menunggu hari itu tiba"
Dareen memalingkan wajahnya, entah mengapa perkataan Sri seakan membuat dadanya sesak, matanya memanas mungkinkah ia terlalu kejam memperlakukan Sri pikirnya atau mungkin saat ini ia sedang terharu dengan perkataan seorang istri yang meminta cinta dari sang suami.
Ia beranjak kembali ke tempat tidurnya, namun langkahnya terhenti kala sebuah tangan menahannya.
"Mas..."
"Malam ini aku ingin tidur dengan Mas Dareen, dosaku akan semakin bertambah kalau tiap malam kita tidur terpisah Mas" ucap Sri.
"Terserah" acuh Dareen.
Sri lalu berkemas, ia akan tidur di kasur lantai menemani Dareen, ia tau walau sedikit namun hati Dareen pasti tersentuh, sehingga saat ini Dareen tampak tidak menolak permintaannya.
Flashback off.
Jason tersenyum samar kala melihat Shirleen sudah berada tepat dihadapannya.
Tidurnya terbangun karena tiba-tiba istrinya itu datang lalu duduk diranjang sedang menatapnya penuh cinta.
Ia tidak bisa menahan air matanya kala melihat Shirleen baik-baik saja, istrinya mengambil sebuah kain basah dan mulai mengelap tubuh dan wajahnya, mengusap air matanya juga.
Sentuhannya nyata, benar sentuhannya benar-benar nyata, kali ini benar-benar Shirleen pikirnya.
Setelah beberapa kali semalam ia mendapatkan Shirleen yang hanya bayangan namun kali ini ia yakin, iya begitu yakin kalau yang tengah mengelap tubuhnya ini benar-benar istrinya.
"By..." ucap Jason lirih. Ia masih betah berbaring menatap pergerakan istrinya itu.
__ADS_1
Shirleen mengangguk, dan itu semakin membuat Jason yakin dengan apa yang dilihatnya kali ini.
Ia memegang tangan Shirleen, nyata tangan itu kini sudah berada dalam genggamannya.
Jason ingin memeluk istrinya, namun sayangnya tubuhnya seolah tertahan dan tak bisa bangkit dengan mudah, ia melihat Shirleen tersenyum padanya lalu merentangkan tangan seolah meminta pelukan. Ia semakin gencar berusaha untuk bangkit namun entah mengapa rasanya tetap susah sekali.
"By..." Jason seakan meminta bantuan.
Namun Shirleen tidak bergeming, istrinya itu seakan masih tetap menunggu dirinya.
"By..."
Shirleen tidak menyahut, Jason begitu bingung dengan kondisinya, mengapa ia bisa tertahan berbaring di tempat tidur seperti ini. Saat ia sudah menemukan Shirleen mengapa ia tidak bisa menggapai istrinya dengan mudah.
Ia terus berusaha, apapun bisa ia lawan, tidak ada yang bisa membuatnya tidak berdaya seperti ini.
"By..." teriakannya menggema di kamarnya, bersamaan dengan tubuhnya yang seakan berhasil melepaskan apa yang menahannya tadi.
Ia mengedarkan pandangannya, kemana perginya sang istri yang tadi berada dihadapannya.
"By..." serunya memenuhi ruangan.
"By..."
Tidak ada sahutan, kamar mereka masih tampak sepi.
Ia melihat kain yang tadi digunakan istrinya itu mengelap tubuhnya benar-benar ada dan masih basah di ranjangnya. Berarti Shirleen memang benar-benar berada dihadapannya tadi.
Ia bangkit lalu memeriksa seluruh isi kamarnya, di kamar mandi maupun disudut-sudut lainnya, namun sayangnya tidak ada tanda-tanda Shirleen berada di kamarnya.
Bak seperti sudah terarah kakinya seolah melangkah sendiri menuju ruang cctv, lagi dan lagi ia tidak menemukan siapapun di kamarnya selain dirinya, dan ia juga akhirnya mengetahui bahwa apa yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi karena di rekaman cctv terlihat jelas ia yang baru saja bangun dari tidurnya pagi ini dengan berteriak.
"Kenapa begitu nyata, dan kain lap tadi kenapa bisa ?" gumamnya tak mengerti.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1