
"Wah ajaib, lo ama Jason emang beneran ajaib, katanya nggak tersentuh wanita, tapi sekalinya mau sama cewek langsung ngebet bet bet, lo serius mau nikahin dia ?" ucap Angga, saat ini ia dan Afik sudah mendengar cerita Yudha keseluruhan, dari awal mula pertemuan Yudha dan Weni hingga Yudha menyadari kalau sebanarnya lambat laun ia mulai suka dengan Weni.
Yudha mengangkat kedua bahunya, tanda ia pun juga belum yakin, ia sebenarnya memang ada perasaan ingin menikah dengan Weni. namun kalau tidak dalam keadaan terdesak, bisakah itu terjadi di beberapa tahun kemudian.
"Maksud lo apa cebong, udah nginep dirumah cewek kek gini, lo kalau disuruh nikahin gimana ?" gedek Afik, Yudha kalem-kalem ternyata brengsek, bisa-bisanya udah nyoba serumah tapi gak ada niat nikahin.
"Gue kalau ditanya gitu, jujur nggak tau Men, gue suka sama Weni, tapi kalau bisa maunya pacaran atau seenggaknya tunangan dulu deh kek Jason sama kak Shirleen, ya itu syukur-syukur kalau dia mau" ucap Yudha mengutarakan niatnya.
"Lah ni cebong" kesal Afik.
"Sebenarnya gimana sih perasaan lo ?" tanya Angga.
"Gue Ga, gue sih oke-oke aja kalau nikah, tapi kalau gue udah nikah gue nggak bakalan mau pisah sama dia, sementara gue bentar lagi balik ke Jerman, lo tau kan hari baru udah nungguin gue disana, gue takut kehilangan Weni, gue mau dia jadi pacar gue sebelum gue balik" terang Yudha.
"Pacar, heh ege, lo gila ya, setelah lo ajak dia jadian, lo mau uji ketahanan dengan berjauhan sama dia, astagah nih anaknya Mama Wina kok bego amat" ungkap Angga.
"Tau lo, lo pikir jemuran digantung" sindir Afik.
"LDR kan maksud lo, gue nggak jamin, mendingan lo sama Weni nggak pacaran sama sekali" ucap Angga lagi.
"Lo nggak mikirin perasaan dia Yud, ya itu kalau seandainya lo beneran jadian sih, pacaran hanya untuk ditinggal jauh, lo orang terbrengsek tau nggak, dikira nahan rindu itu kek nahan beol apa" sambung Afik.
"Gue juga nggak tau Men harus gimana, lo pikir gue seneng berusaha ngendapatin hatinya dia tapi dianya aja kayaknya nggak ada rasa sama gue" kesah Yudha.
"Harus mulai dari mana, gue harus ngapain, jujur gue bingung, gue nggak tau, yang jelas gue nggak mau kehilangan dia, dan itu juga cuma seandainya Ga, Fik, dianya aja gak respect" lanjutnya.
"Lo beneran udah lupa si Serong kayaknya" ucap Angga mengingatkan sang mantan Yudha yang katanya pernah bertahta dihati hingga membuat Yudha gagal move on.
"Berkat Weni Ga, sumpah gue gak pernah lagi mikirin Sarah, pikiran gue cuma Weni doang" ucap Yudha, tidak sadar senyumnya terkembang saat nama itu disebutkan lagi olehnya.
__ADS_1
"Iye kang bucin, otak lo emang gak bisa mikirin apa lagi selain tuh cewek, gak muat lagi otak lo buat mikirin Mama Wina yang dirumah sendirian udah khawatir banget sama lo, dasar anak durhaka" ucap Angga.
"Gue udah ngabarin nyokap gue, cuma gue bilang gue ada urusan dan gak bisa pulang beberapa hari, dan Mama udah bales iya kok, heh ya lo tau lah nyokap gue" ucap Yudha.
"Dah lo pulang, jangan murahan banget jadi cowok, bisa-bisanya nungguin anak gadis orang" ucap serius Angga.
Yudha sebenarnya juga malu melakukan hal senekat ini, tapi mau bagaimana lagi, dua hari lagi ia akan berangkat ke Jerman, dan sampai saat ini ia belum bisa menyentuh hati Weni barang sedikitpun, Weni seakan selalu menjaga jarak darinya, entahlah akan dibawa kemana hubungannya nanti.
"Kenapa, lo mau tetep disini, Yud denger, cinta boleh bego jangan, kalau Weni emang suka sama lo, ada rasa sama lo, ntar juga dia bakalan peduliin lo" ucap Angga lagi.
"Lo nggak perlu sampe segitunya kali, kenapa es batu kalau udah cair jadi bego ya, bukannya jadi air" sambung Afik, ia sungguh heran karena yang pertama Jason juga pernah senekat Yudha, bahkan Jason menurutnya lebih parah, bertanggung jawab untuk hal yang bukan karenanya, menjadi ayah sambung dua anak, Yudha menurutnya lebih mendingan, ah tidak hanya beda tipis menurutnya.
Yudha mengangguk paham, mungkinkah selama beberapa hari ini ia terlalu memaksa.
Weni pun keluar dari kamarnya bersama Shirleen, ia terlihat lebih fresh entah apa yang disosialisasikan Shirleen di dalam kamar tadi pikir Yudha.
"Wen !"
Keduanya berseru bersamaan.
"Lo duluan." ucap Yudha.
Weni menarik nafasnya pelan, akankah dan haruskah ia...
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, aku mau kita ketemu di cafe Jash, besok jam tiga sore, aku harap kamu bisa datang" ucap Weni.
"Ya, oke, emm, gue pasti dateng, kebetulan gue juga, ada yang mau gue omongin sama lo" gugup Yudha, didalam pikirannya ia tidak bisa memikirkan yang lain selain mungkinkah Weni ingin mengakhiri semuanya, hubungan yang bahkan belum berhasil ia jalin, benarkah akan berakhir besok jam tiga sore.
"Kamu bisa pulang dari rumah aku" dengan lembut Weni berkata, sungguh pengusiran yang halus.
__ADS_1
"Iya, gue bakalan pulang" ucap Yudha dengan terpaksa pada akhirnya.
Yudha menuju kamar tamu tempatnya untuk tidur di rumah Weni, ia mengambil jaketnya, namun saat ingin berkemas, sengaja ia tinggalkan satu bajunya di lemari pakaian. "Gue pastiin, gue bakalan kesini lagi, lo disini baek baek, gue jadiin jimat lo" ucapnya berbicara pada baju kotornya yang tergantung di lemari.
Dengan tampang songongnya, Yudha keluar dari kamar tamu, ia tidak perduli dengan tatapan Angga dan Afik yang menatap nyalang dirinya.
Yudha berlalu untuk menemui ibunya Weni di Teras samping, ia akan berpamitan sebentar, sebelum kemudian benar-benar pergi untuk pulang.
Shirleen mengatakan pada Angga dan Afik kalau ia masih ingin berada di Rumah Weni, jadi ia menyuruh Angga dan Afik untuk pulang duluan saja, dan mereka pun berpisah.
Jason sedang berbicara dengan salah satu orang kepercayaannya di salah satu rumah sakit ternama.
"Aku ingin kau selamatkan dia" ucapnya dingin dan pastinya penuh penekanan.
"Baik Tuan Muda"
"Dia belum sadar juga, padahal kondisinya sudah stabil menurut informasi yang aku dapat, aku hanya ingin dia tetap hidup" lanjut Jason.
Karena Misca, sekali lagi ia harus menurunkan egonya, hatinya terenyuh kala melihat Misca yang merasa begitu membutuhkan ayahnya.
Ia merasakan hal yang sama, namun hanya beda keadaan saja.
Misca berada jauh dari sang Ayah,namun Athar terlihat sangat menyayangi Misca, sementara ia dulu sewaktu kecil berada dekat dengan sang ayah, namun di hati terasa jauh karena keegoisan sang ayah.
"Semoga keputusan gue tepat" gumam Jason.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!