
"Selamat datang Nak Jason!" sapa Tuan Gilbert, sore ini mereka mengadakan janji temu untuk membicarakan rencana kerja sama yang telah mereka sepakati.
"Ya, bagaimana Kabar Tuan?" tanya Jason ramah, dirinya tidak mau memberikan keran buruk pada Tuan Gilbert.
"Baik! Lalu kau sendiri bagaimana? Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Tuan Gilbert.
Dalam hati Jason menyeruak kemarahan, apa lagi mendengar pria tua bangka di hadapannya ini menanyakan Shirleen, setelah mendengar sebuah rekaman yang dikirimkan Darwin waktu semalam, hendak sekali rasanya Jason menghabisi Tuan Gilbert hingga tak berdaya lalu dirinya berikan tubuh gempal dan perut buncitnya itu pada buaya peliharaan Tuan Fred. Enak saja mau merayu istrinya.
"Kami baik-baik saja!" jawab Jason datar.
"Hoho, aku hanya menanyakan istrimu, kau tidak usah khawatir, aku tau pemuda sepertimu pasti memiliki cinta yang besar dan menggebu, tidak mungkin aku mendekati istrimu kan! Bisa mati aku, hahaha!" ucap Tuan Gilbert menggoda Jason.
"Memang seharusnya begitu!" ucap Jason.
"Yah yah kau benar!"
"Bagaimana tawaran kemarin?" tanya Tuan Gilbert.
"Terserah Tuan saja!" jawab Jason.
"Malam ini apa bisa?" tanya Tuan Gilbert.
Kau terlalu terburu-buru Tuan, baiklah kalau kau sudah tidak sabar.
"Saya akan menyuruh orang rumah untuk bersiap-siap!"
"Hemmm, baiklah!"
Di depan Tuan Gilbert, Jason menelpon seseorang untuk menyiapkan segalanya.
Memenuhi undangan makan malam, Jason tersenyum smirk atas semua itu.
Lalu dirinya dan Tuan Gilbert membicarakan perihal kerja sama lebih lanjut. Jason pura-pura mengangguk mengerti, Tuan Gilbert dan Pamannya memang sudah menyiapkan segalanya dengan sangat matang nampaknya, tidak ada yang berubah, hanya mata-mata itu saja yang Jason tidak tau bagaimana nasibnya di tangan Darwin, semua berjalan seperti yang mereka rencanakan, Jason membiarkan itu.
"Sampai bertemu nanti malam Nak!" ucap Tuan Gilbert, saat mereka sudah selesai.
"Baik Tuan!" sahut Jason.
Jason bergegas kembali ke kantornya, dirinya akan membicarakan masalah ini pada Roy.
"Apa yang Tuan Muda bicarakan tadi benar, lalu bagaimana dengan Nona Muda?" tanya Roy.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melibatkannya, kau tau itu!" ucap Jason.
"Aku yakin mereka akan memanfaatkan kepolosan istriku itu!"
"Tuan Muda, sebaiknya Nona Muda tidak usah datang!"
"Yah kau benar, aku tidak bisa membahayakannya, apapun bisa terjadi kan?"
"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Jason.
"Biar saya yang menggantikannya, bilang saja Nona Muda tidak bisa hadir Tuan Muda!"
"Semudah itu?"
Roy diam, bagaimana pun dirinya tidak bisa membiarkan jika sampai terjadi sesuatu dengan Nona Muda mereka, apapun bisa terjadi di sana mengingat liciknya lawan mereka kali ini.
Sementara Nona Muda mereka adalah orang yang tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain, apa lagi Tuan Mudanya tidak bisa mengatakan bahwa rekan bisnis mereka kali ini adalah lawan yang memiliki masalah pribadi.
"Haaahh," Jason menghembuskan nafasnya, ini berat namun mau bagaimana lagi, "Aku sebenarnya bukan seorang pengecut, tapi nyatanya aku tidak bisa melibatkan istriku."
Jason menunduk dalam, dirinya dilema. Undangan makan malam ini jelas untuk dirinya dan sang istri, namun jika dirinya membawa Shirleen ke sana, dia tidak bisa menaruhkan keselamatan istrinya, tapi jika istrinya tidak datang maka pihak lawan pasti akan curiga.
"Bagaimana Tuan Muda!" ingin rasanya Roy protes, namun bibirnya terbiasa selalu menyetujui apapun perintah Tuan Mudanya, sehingga bibirnya bagai bergerak sendiri dan lancar saja mengatakan setuju.
"Kau dengarlah rekaman ini!" Jason memberikan sebuah rekaman, "Dan pelajari, aku sudah mendengarnya, bedebah itu... Jika sekali saja dia berani menyentuh istriku, akan kupotong lehernya." tangan Jason menggeram, rahangnya mengeras tersirat sekali kemarahan.
"Baik Tuan Muda!" Roy mengambil rekaman itu, dirinya tidak ingin membuat Tuan Mudanya semakin marah.
"Kau pelajari itu, nanti jemput kami di rumah jam tujuh, dan ya siapkan penjagaan ketat di sekitar rumah si tua bangka itu, aku tidak mau mengambil resiko." ucap Jason.
"Baik Tuan Muda!"
Jason berlalu, dirinya akan pulang. Tadi ia sudah memberitahukan Shirleen tentang undangan makan malam ini dan menyuruh Shirleen untuk bersiap, anak-anak akan ditinggal bersama Ipah dan mertuanya nanti.
Roy menggeram saat mendengar isi dari rekaman itu, dirinya berjanji tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi mencelakai Nona Muda mereka.
Tiga puluh lima menit berlalu, Jason sampai di rumahnya disambut kecupan hangat dari sang istri.
"Di mana kakak?" tanya Jason.
"Sudah berangkat ke rumah Mama, baru saja sebelum kau datang." jawab Shirleen.
__ADS_1
"Oohh!"
"Aku ingin bicara By!" ucap Jason.
"Apa?" tanya Shirleen, sembari tangannya sudah bekerja membuka jas suaminya, melonggarkan dasi dan membukanya.
"Tentang makan malam!" jawab Jason.
"Ah iya, ini kali pertamanya kan!" ujar Shirleen antusias.
Jason mengangguk, benar ini kali pertamanya Shirleen menghadiri acara bisnisnya.
"Tenang saja, aku tidak akan banyak bicara, aku mana mengerti perbincangan kalian seputar bisnis, apa Tuan itu ada istrinya, maksudku yang mengundang kita makan malam ini apakah pria yang sudah mempunyai istri, kalau sudah aku bisa berkawan dengan istrinya saja."
"Dia sudah tua dan tidak punya istri." jawab Jason.
"Oh, sayang sekali..." ujar Shirleen.
"Dengar By, emm..."
"Aku tidak akan menyukainya, mengapa kau sepertinya begitu takut? Memangnya siapa yang akan bisa menandingi suamiku, di sini sudah ada kamu mana bisa tergantikan, tenanglah aku akan selalu menjaga hatiku." ujar Shirleen, rupanya dirinya salah paham telah mengira Jason takut kalau Shirleen akan semudah itu menyukai rekan bisnisnya, padahal nyatanya bukan, Jason hanya mengkhawatirkan keselamatan istrinya.
"Cup!" Jason mengecup lembut bibir yang dari tadi nampak tidak lelah mengoceh. "Kau bersemangat sekali, aku kan jadi cemburu!" ucap Jason menyembunyikan kekhawatirannya.
"Heh, kau pikir aku gila mau menukarmu dengan bujang tua? Kau masih muda dan kuat untuk apa aku menukar dengan yang bangkotan, suamiku juga yang terkaya, lalu apa lagi, tidak ada lagi alasan untukku berpaling." ucap Shirleen bercanda diiringi tawa renyah.
"Hemm yang kuat ya sayang..." goda Jason, dirinya mendekat, bersentuhan dengan Shirleen. mencium lembut candunya, merasai manisnya, lelah seakan terbayarkan setelah melihat wajah manis istrinya apa lagi disambut dengan seperti ini.
"Iya kan benar, kau kuat sekali!" bisik Shirleen sedikit dibumbui kevulgaran, apa lagi tangannya sudah mengelus sesuatu dari balik celana, membuat sesuatu itu berhasil menegang, dirinya ingin menggoda sang suami, "Dan juga enak... hahaha!" lalu dengan tanpa dosa menghentikan elusannya, Shirleen keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sedikit cemilan. Dirinya tidak akan membuat makan malam, berhubung katanya akan menghadiri undangan makan malam, jadi dirinya hanya membuatkan makanan pengganjal lapar saja untuk sore ini.
"Oh ****!" umpat Jason saat menyadari sesuatu, "Dasar istri laknat..." maki Jason berteriak karena melihat hasil dari ulah Shirleen.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!
__ADS_1