Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Maafin gue Wen.


__ADS_3

"Wen, maafin gue ya !" ucap Yudha.


"Maaf kenapa ?" tanya Weni.


"Ya maaf karena nanti sore gue nggak bisa dateng untuk nemuin lo !" ucap Yudha, ada rasa kecewa yang Weni lihat dari mata lelaki yang mengaku mencintainya itu.


"Oh yang itu, santai aja kali Yud, aku juga udah disini, kan aku juga udah tau keadaan kamu."


"Duh gue jadi nggak enak kan." gumam Yudha yang ternyata masih bisa didengar Weni.


"Udah santai aja, aku ngerti kok !" ucap Weni.


Bukan nggak enak sama lo, tapi perasaan gue yang nggak enak, nah lo ada disini ngapain, gue takut lo nggak nerima gue Weni, gue belum siap.


Yudha menyunggingkan senyumnya, dalam hatinya masih waspada kalau saja Weni memutuskan hubungan yang belum juga dimulai itu.


Sementara Weni, ia tidak tau harus memulai percakapan apa lagi, ia sungguh kaku.


"Wen..."


"Yud !"


Keduanya saling menatap, seketika Weni merasakan jantungnya sulit dikondisikan, pun dengan Yudha yang semakin dilanda ketakutan, takut akan kehilangan seseorang yang belum sempat ia miliki.


Hening,


Hening,


Hening,


"Gue ngerti, lo nggak ada perasaan apapun kan sama gue ?" ucap Yudha tiba-tiba saat lamanya mereka terdiam, niatnya untuk membunuh kecanggungan namun ternyata salah, Weni malah semakin canggung dan tidak tau lagi harus bagaimana jika Yudha sudah bicara begitu.


"Heh, selama ini gue terlalu berlebihan kayaknya, maafin gue ya" ucap Yudha.menyunggingkan senyum palsu.

__ADS_1


Weni masih diam, bukan ia tidak mau menanggapi, namun ia begitu bingung saat ini.


"Gue sadar gue salah, nggak seharusnya rasa ini ada, bentar lagi gue bakalan pergi, dan gue adalah orang terbrengsek jika lo sampai nerima gue !"


"Gue takut banget lo pergi ninggalin gue, tapi gue bahkan udah mau ninggalin lo, jahat kan !"


"Wen, lo pasti dapet seseorang yang pantas dampingin lo, saat lo menemukan orangnya nanti kabarin gue ya, gue mau minta tolong sama dia untuk jangan pernah buat Weni gue nangis, gue bisa terima kalau lo nggak bisa sama gue, tapi gue nggak bisa terima kalau orang yang lo pilih malah nyakitin lo" ujar Yudha.


Namun siapa yang menduga seperdetik kemudian Weni menghambur kepelukannya, ia yang masih terbaring saat itu lumayan terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Weni.


Bahu Weni berguncang saat ia mengelusnya.


Apa kata-katanya tadi menyakiti Weni, entahlah mengapa ia bisa mengatakan ucapan seperti itu, kata itu keluar saja dari mulutnya, karena yang sebenarnya adalah ia sangat ingin melihat Weni bahagia, ia teringat akan ucapan Afik dan Angga yang mengatakan ia adalah lelaki paling brengsek jika memaksa seseorang untuk menjadi pacarnya namun sebentar lagi malah akan ia tinggalkan.


"Hiks hiks, lo emang brengsek, lo emang brengsek banget Yud." ucap Weni yang masih berada di pelukan Yudha.


"Iya gue tau, semoga lo bahagia ya, gue akan bahagia jika lo bisa bahagia, meskipun nggak sama gue." ucap tenang Yudha.


Saat Yudha mengatakan akan pergi, egonya tidak terima, matanya memanas entah mengapa.


Dan pertahanannya runtuh saat Yudha mengatakan laki-laki itu bisa terima jika dirinya nggak bisa bersama wanita yang dia cintai, tapi nggak akan bisa terima jika suatu saat nanti wanita itu tersakiti oleh orang lain yang wanita itu pilih, sunguh tidak ada yang lebih mengerti bagaimana rasanya berada diposisi semacam itu, benar apa yang dikatakan Shirleen, apa yang dirasakan Yudha saat ini adalah apa yang dirasakannya bertahun-tahun lamanya.


Sakit, itu sangat sakit.


"Aku pikir kamu akan bertahan dan tidak akan mudah menyerah seperti ini Yud, tapi nyatanya apa, kamu emang brengsek, kamu udah ngambil ciuman pertama aku dan kamu mau ninggalin aku, kamu udah bikin aku berharap tapi kamu malah mau ninggalin aku, kamu udah buat hati yang ragu ini menjadi yakin tapi malah dengan mudah kamu melepaskannya, kamu jahat, kamu brengsek, berjuang nggak sebercanda ini Yud." ucap Weni sambil terisak, lalu ia mengambil tasnya yang berada di nakas, dengan air mata yang beruraian ia pergi meninggalkan Yudha sendiri di ruang rawatnya.


Yudha yang melihat pergerakan Weni pun tersadar, Weni sebenarnya telah memutuskan untuk menerimanya hari ini, namun ia yang terlalu takut ditolak Weni malah membuatnya seakan mau memutuskan hubungan.


Padahal tidak ada niat sama sekali dirinya menyakiti, sungguh ia hanya takut Weni tidak akan bahagia jika bersamanya, ia akan pergi ke Jerman menggapai mimpinya, memang akan sangat brengsek jika sampai dirinya terlalu memaksa Weni untuk menerimanya.


Namun siapa sangka semuanya berubah, Weni menjawab perasaannya hari ini, dan ia malah dengan gampangnya menghancurkan perasaan wanita itu.


"Weni..." serunya keras, ia mencabut infus dari tangannya, dengan tergopoh-gopoh ia berusaha bangkit dan berdiri mengejar Weni, namun baru dua langkah kakinya berjalan, dikarenakan kondisinya yang masih lemah membuatnya mudah saja terjatuh dilantai.

__ADS_1


"WENIIII !" Teriaknya.


Angga dan Afik yang baru saja keluar melihat-lihat area Rumah Sakit karena ingin menghindari drama tatap-tatapan yang akan membuat jiwa jomblo keduanya meronta-ronta, samar mendengar teriakan Yudha.


Angga dan Afik dengan panik langsung saja bergegas menuju ruang rawat Yudha.


Semakin panik lagi kala melihat Yudha yang sudah berada dilantai, laki-laki jarang sekali menangis namun dilihatnya ada titik air mata yang jatuh karena menggenang dipelupuk mata Yudha.


Mereka tidak berani lagi bercanda, keduanya lalu mengangkat tubuh Yudha membawa kembali ke ranjang.


"Lo panggil Dokter gih !" suruh Angga pada Afik.


Afik segera bergegas menuju ruangan Dokter untuk diminta memeriksa sahabatnya itu.


Sementara Angga, masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, ia ingin sekali menanyakan dimana Weni, namun ia mengurungkan niatnya karena melihat Yudha yang termenung bagai sudah mati rasa.


Cinta memang bisa merubah segalanya, gue nggak bakalan terima jika lo disakitin lagi, kejadian seperti ini terulang lagi, setelah ditinggalkan Sarah menikah beginilah kondisi lo saat itu Yud, bagai mati rasa.


Gue nggak tau apa yang terjadi, tapi biar gimanapun gue bakalan buat siapa yang ngelakuin ini sama lo, harus bertanggung jawab, gue nggak bisa terima.


Angga bermonolog dalam hatinya, ia sudah pernah melihat kondisi Yudha yang seperti ini, Yudha sangat rapuh bukan seperti dirinya, yang jika tersakiti masih bisa bernyanyi riang gembira untuk menutupi segala luka, Yudha tidak setegar itu.


Jika sudah cinta, beginilah Yudha, boleh saja mengatakan Yudha adalah lelaki lemah dibalik wajahnya yang dingin, karena cinta ia bisa betah berdiam diri tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Angga merasa ia harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, yah nanti ia akan menemui Weni untuk menanyakan perihal masalah yang keduanya tengah hadapi, ia tidak akan terima jika sampai Weni meninggalkan Yudha hanya karena tidak punya sedikit pun perasaan terhadap Yudha, kalau perlu ia akan memaksa Weni untuk menerima Yudha, ya apapun akan ia lakukan, ia tidak akan sanggup menghadapi Yudha seperti tiga tahun lalu, tidak tolong jangan siksa Yudha.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2