Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
10. Orion Hilang


__ADS_3

Persiapan pernikahan Matilda dan George pun berjalan lancar. Rupanya Sarlan dan istrinya serius ingin mengadakan pesta pernikahan untuk kedua sepupu Arnold itu. Sarlan seolah ingin membayar rasa penasarannya yang gagal menggelar pesta pernikahan untuk Bulan dulu.


Mengerti akan keinginan orangtuanya, Bulan pun nampak setuju dan tak keberatan. Bahkan Bulan adalah orang yang paling antusias menyambut pernikahan Matilda dan George.


Malam itu Bulan kembali berbaring di tempat tidur sambil menyusui bayinya. Sejak sore Orion sedikit rewel dan itu


membuat Bulan harus lebih sabar menghadapinya. Sambil mengusap kepala Orion dengan sayang Bulan pun mengajak sang bayi bicara.


“ Ayahmu pasti senang kalo tau kedua sepupunya itu menikah. Bukan kah dia sengaja mendekatkan mereka ya Nak. Kamu sendiri senang kan melihat Om dan Tantemu itu bersatu...?” tanya Bulan setengah berbisik.


Orion nampak mengangguk sambil menggumamkan sesuatu. Bulan tersenyum lalu menciumi bayinya dengan gemas.


“ Kalo senyum gini kan tambah ganteng. Kenapa dari sore rewel terus sih. Ibu jadi bingung harus ngapain. Jangan-jangan Kamu kangen ya sama Ayahmu. Sabar ya Nak, Ayahmu sedang sibuk. Nanti kalo udah agak senggang dia pasti datang menjenguk Kita. Ibu juga kangen lho sama Ayah...,” kata Bulan lirih sambil memejamkan mata karena tak sanggup menahan air mata yang turun tiba-tiba.


Bulan mengusap matanya yang basah lalu tersenyum saat tangan mungil Orion mendarat di wajahnya. Tatapan lembut bayi itu seolah mengatakan jika semua baik-baik saja dan sang ayah akan segera datang untuk mereka.


“ Iya iya, Ibu tau. Makasih ya Nak Kamu udah mau nemenin Ibu dan menghibur Ibu. Sekarang Orion tidur ya,


mungkin sebentar lagi Ayah akan datang seperti biasanya...,” kata Bulan lirih sambil mendekap Orion dengan erat.


Arnold memang kerap mengunjungi Bulan dan Orion meski pun tanpa sepengetahuan Sarlan dan istrinya. Biasanya


Arnold akan datang saat tengah malam. Lalu sebelum Subuh ia akan melesat pergi meninggalkan Bulan dan Orion untuk kembali ke tempat asalnya. Dan saat Arnold datang berkunjung Matilda akan memilih tidur di atas kursi di dekat George karena tak ingin mengganggu kebersamaan Arnold dan Bulan.


Saat Bulan terlelap, jendela kamar terbuka perlahan dan memperlihatkan sosok Arnold yang tengah tersenyum


melihat anak dan istrinya terbaring di atas tempat tidur. Perlahan Arnold melompat masuk ke dalam kamar. Ia duduk di samping Bulan sambil memandangi kedua orang yang sangat dicintainya itu dengan tatapan rindu.


Arnold mendekatkan wajahnya lalu mencium Orion dan Bulan bergantian. Meski pun telah ia lakukan dengan lembut namun tetap saja membangunkan Bulan yang baru saja terlelap itu.


“ Arnold...,” panggil Bulan lirih lalu menghambur memeluk suaminya.


“ Iya Sayang. Maaf ya membuatmu menunggu...,” sahut Arnold sambil balas memeluk sang istri.


“ Gapapa. Kamu baik-baik aja kan...?” tanya Bulan sambil mengurai pelukannya.


“ Tentu saja. Kenapa Kamu menangis...?” tanya Arnold sambil mengusap sisa air mata Bulan dengan ujung jarinya.


“ Aku ga nangis...,” sahut Bulan sambil melengos.


“ Masa sih. Tapi kok matamu sembab kaya gini. Pasti kangen ya sama Aku...,” goda Arnold sambil tersenyum.


“ Apaan sih Kamu...,” sahut Bulan sambil memukul lengan Arnold lalu membenamkan dirinya ke dalam pelukan Arnold hingga membuat sang suami tertawa.

__ADS_1


Kemudian Arnold menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Bulan perlahan. Tatapan keduanya pun saling terkunci. Arnold pun mulai mencumbu Bulan dengan lembut hingga membuat Bulan mendes*h. Diiringi rintik hujan dan udara malam yang dingin keduanya larut dalam percintaan panas mereka. Rasa rindu karena lama tak bersua pun seolah terbayar lunas.


“ Aku mencintaimu Bulan...,” kata Arnold sambil menatap kedua netra Bulan dengan lembut usai menunaikan tanggung jawabnya di atas tempat tidur.


“ Aku juga mencintaimu Arnold...,” sahut Bulan sambil tersenyum malu-malu.


Keduanya kembali saling memeluk untuk meresapi rasa cinta yang membara di hati mereka. Sesaat kemudian Bulan mengurai pelukannya lalu menatap wajah Arnold.


“ Matilda dan George akan menikah lusa. Apakah Kamu bisa hadir...?” tanya Bulan.


“ Mmm..., Aku pasti hadir...,” sahut Arnold cepat.


“ Sebagai apa...?” tanya Bulan.


“ Maksudmu...?” tanya Arnold tak mengerti.


“ Maksudku, Kau hadir sebagai sepupu mereka atau sebagai Raja manusia serigala...,” sahut Bulan sambil mengikat rambutnya yang terurai.


“ Menurutmu, Aku harus tampil sebagai apa...?” tanya Arnold.


“ Kau minta pendapatku, itu artinya Kau siap dengan jawabanku. Aku mau Kamu hadir sebagai Suamiku dan Ayah dari Anakku. Bisa ga...?” tanya Bulan sambil menatap Arnold penuh harap.


“ Bisa...,” sahut Arnold mantap hingga membuat Bulan tersenyum bahagia lalu memeluknya erat.


\=====


Pesta pernikahan George dan Matilda digelar di depan rumah Sarlan. Warga desa yang memang telah mengenal keduanya pun nampak hadir untuk memberi restu. Penampilan sepasang pengantin yang memiliki darah ‘bule’ itu tak cukup menyita perhatian warga karena mereka justru terpana melihat kehadiran Arnold di tengah pesta.


Arnold nampak duduk manis di samping Bulan sambil menggendong Orion. Sesekali senyum tercetak jelas di wajahnya saat sang mertua mengatakan sesuatu. Rupanya Sarlan pun telah memaafkan Arnold dan menerima kehadirannya di dalam keluarga mereka. Sikap Sarlan yang berubah 180 derajat itu lah yang memancing perhatian warga.


Kehadiran Arnold sudah tentu membuat George dan Matilda bahagia. Selain hadir sebagai sepupu, Arnold juga hadir sebagai Raja dan mewakili keluarga besar mereka untuk memberi restu.


Sesekali George dan Matilda nampak tertawa melihat Arnold yang selalu mengekori Bulan seolah khawatir sang istri akan hilang. Sedangkan di sisi lain terlihat Arman yang kesal melihat kemesraan Arnold dan Bulan. Apalagi saat mendengar kalimat pujian yang dilontarkan warga.


“ Bulan sama Arnold itu serasi banget ya...,” kata salah seorang warga.


“ Iya. Yang cowok ganteng, yang cewek cantik. Pas banget...,” sahut warga lainnya sambil tersenyum.


“ Untung dulu Bulan kabur dari pernikahan itu, kalo ga pasti Pak Sarlan juga bakal nyesel karena maksa Bulan menikahi Arman. Cowok pengangguran, malas, ga setia lagi...,” kata seorang wanita sambil mencibir.


“ Betul. Kasian si Dati. Baru nikah delapan bulan tapi Arman udah nikah lagi. Dasar buaya...,” sahut seorang wanita dengan ketus.


“ Udah nasibnya si Dati karena mau aja dibohongin sama si Arman...,” kata warga lain sambil berlalu.

__ADS_1


Gunjingan warga itu membuat telinga Arman panas. Arman memang terpaksa menikahi wanita itu karena ia tak sengaja meniduri wanita itu saat ia mabuk. Wanita itu datang dan meminta pertanggung jawaban Arman. Saksi yang dihadirkan juga memberatkan Arman. Akhirnya Dati yang tak berdaya terpaksa merelakan suaminya menikah lagi karena Arman mengancam akan menceraikannya.


Tak tahan mendengar gunjingan warga akhirnya Arman memilih pergi dan urung menghadiri pernikahan George dan Matilda. Sementara itu dari tempatnya berdiri Arnold diam-diam mengawasi Arman. Ia tahu apa yang telah Arman lakukan pada istrinya itu. Ia berniat memberi pelajaran pada Arman suatu saat nanti. Bulan yang melihat sikap suaminya pun berbisik mengingatkan Arnold.


“ Tolong jangan buat kacau Ar. Abaikan saja dia karena Aku ga pernah menggubrisnya...,” kata Bulan sambil menggenggam jemari Arnold dengan erat.


Arnold tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia kembali mengekori Bulan sambil menggendong Orion saat istrinya menyalami para tamu.


\=====


George dan Matilda memilih tinggal di rumah lain karena tak ingin merepotkan Sarlan dan keluarganya. Letak rumah yang sengaja dibeli George dari salah satu warga desa hanya berjarak dua rumah saja dari rumah Sarlan.


Sedangkan Bulan dan Orion tetap tinggal bersama Sarlan dan istrinya atas persetujuan Arnold. Sarlan merasa Bulan akan lebih aman bersamanya saat Arnold harus pergi menunaikan tugasnya. Meski pun demikian George dan Matilda tetap menjaga dan mengawasi Bulan dan anaknya.


Karena jarak rumah mereka yang dekat menyebabkan Orion bisa mondar mandir ke rumah George dan Matilda. Belasan kali Orion melakukan itu dalam sehari. Bulan dan kedua orangtuanya sama sekali tak keberatan. Mereka mengerti bagaimana sayangnya George dan Matilda kepada Orion.


Namun hari itu sesuatu yang buruk terjadi. Orion yang berusia dua tahun itu mendadak hilang dari rumah. Bulan, George dan Matilda telah berusaha mencari namun tak juga membuahkan hasil. Hingga tengah hari Orion belum ditemukan dan itu membuat Bulan makin panik.


Menjelang sore sebuah surat kaleng datang dan membuat Bulan terkejut. Tanpa pikir panjang Bulan pergi menemui anaknya yang ternyata diculik oleh seseorang. George dan Matilda juga kedua orangtua Bulan tak mengetahui jika Orion diculik dan sang penculik minta Bulan untuk menjemput Orion seorang diri.


Bulan tiba di sebuah rumah kecil di dalam hutan sesuai petunjuk surat yang diterimanya tadi. Saat tiba di sana Bulan mendengar suara Orion yang sedang tertawa. Bulan pun berlari cepat lalu membuka pintu rumah dengan paksa.


Alangkah terkejutnya Bulan saat mengetahui Orion tengah berada di pangkuan Arman sambil mengunyah sesuatu pemberian Arman.


“ Orion kemari Nak...!” panggil Bulan tak sabar.


“ Ibu, Aku lagi mamam kue. Ibu mau ga...?” tanya Orion sambil menunjukkan bungkus kue yang tengah ia makan.


“ Buang itu Orion. Ibu kan udah bilang kalo Orion ga boleh makan sesuatu yang dikasih sama orang asing...,” kata Bulan gusar.


“ Tapi kuenya enak Bu. Paman ini yang beliin tadi...,” sahut Orion.


Namun sedetik kemudian tubuh Orion limbung dan bocah itu pun terhuyung ke depan hingga membuat Bulan menjerit. Dengan sigap Arman menangkap tubuh Orion sebelum membentur lantai lalu membaringkannya di atas kursi.


“ Lepaskan dia Arman. Apa yang Kau lakukan padanya...?!” tanya Bulan marah.


“ Aku hanya memberi sedikit obat supaya Anakmu itu tidur sebentar dan ga mengganggu Kita Bulan...,” sahut Arman sambil menyeringai lalu melangkah perlahan mendekati Bulan.


“ Apa maumu Arman...?” tanya Bulan sambil bergeser menjauh.


“ Aku mau Kau Bulan. Jika Kau menyerahkan dirimu secara suka rela, maka Aku akan membebaskan Anakmu. Jika tidak, maka jangan salahkan Aku jika Aku menyakitinya Bulan...,” sahut Arman sambil merangsek maju untuk menyergap Bulan.


Konsentrasi Bulan terpecah karena ia mengkhawatirkan Orion yang nampak terbujur kaku itu. Akibatnya dengan mudah Arman menangkapnya dan bersiap melecehkannya. Jeritan Bulan mengiringi datangnya Bulan purnama penuh yang menggugah kehadiran manusia serigala, sang makhluk malam yang kejam dan haus darah itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2