
Aruna nampak mengamati wajah Kautsar saat sang suami menceritakan kisah masa lalunya.
" Wenni itu adik kelas Aku di fakultas Teknik. Setahun di atas Kamu persisnya. Kami kenal ga sengaja pas acara baksos dulu. Wenni itu gadis yang baik, ramah, supel...," kata Kautsar.
" Cantik, modis dan menyenangkan...," tambah Aruna sambil mencibir.
" Tuh kan, belum apa-apa aja udah jelous. Gimana Aku mau ngelanjutin ceritanya kalo kaya gini...," keluh Kautsar sambil menghela nafas panjang.
" Siapa yang jelous, Kamu aja yang kepedean...," sahut Aruna cepat.
" Lanjutin ga...?" tanya Kautsar.
" Iya lanjut...," sahut Aruna sambil melengos.
Melihat sikap sang istri membuat Kautsar gemas lalu menarik Aruna ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan lembut.
" Udah deh ga usah modus...," kata Aruna sambil mendorong tubuh Kautsar hingga membuat Kautsar tertawa.
" Ok. Aku sama Wenni jadi Deket sejak baksos itu. Deket yang biasa ya. Ga ada perasaan apa pun di sana. Tapi sayangnya temen-temen ngeliatnya beda. Mereka pikir Aku sama Wenni itu pacaran, padahal ga sama sekali...," kata Kautsar.
" Kamu emang ga punya perasaan sama dia, tapi Kamu kan ga tau perasaan Wenni ke Kamu. Mungkin dia suka sama Kamu atau bahkan justru cinta...," kata Aruna.
" Iya juga sih. Tapi yang penting Aku ga pernah ngerasa ngasih harapan atau pehapein dia lho...," sahut Kautsar.
" Iya percaya. Terus gimana...? " tanya Aruna.
" Ga tau kenapa mendadak Robi jadi deketin Wenni. Aku sih ga masalah, toh ga ngaruh juga buat Aku. Cuma yang bikin Aku bingung kok sikap Wenni juga mendadak berubah sama Aku. Dia keliatan benci banget sama Aku dan mulai memusuhi Aku...," kata Kautsar.
" Itu pasti karena ilmu pelet yang dipake Robi.Apa sebelumnya Robi sama Kamu musuhan atau ada masalah...?" tanya Aruna.
" Kalo dari Aku pribadi sih ga ada. Ga tau kalo dari pihak Robi. Tapi Aku pernah denger dari temenku kalo sebenernya Robi itu ngiri sama Aku, iri sama prestasi Aku lebih tepatnya. Dia merasa Aku ini saingan berat dia dalam meraih prestasi akademik, walau Aku ga ngerasa kaya gitu. Selama ini Aku hanya fokus belajar dan ga mikirin hasilnya. Kalo kemudian Aku bisa dapat nilai baik dan direkomendasikan kerja di perusahaan besar itu Aku anggap bonus yang harus Aku syukuri...," kata Kautsar panjang lebar.
Aruna tersenyum mendengar penuturan suaminya. Kemudian ia maju dan memeluk Kautsar dengan erat dan Kautsar pun membalas pelukannya.
" Aku bangga sama Kamu Tsar...," kata Aruna sambil mengecup pipi Kautsar.
" Makasih...," sahut Kautsar dan balas mengecup kening Aruna.
" Terus lanjutannya gimana...?" tanya Aruna sambil mengurai pelukannya.
__ADS_1
" Oh iya. Setelah dua bulanan Wenni musuhin Aku, tiba-tiba Aku denger kabar kalo dia mengundurkan diri dari kampus. Ga tau apa sebabnya. Tapi sebelum itu terjadi, dua hari sebelum nya Aku sempet ngeliat dia nangis di bawah pohon. Ga tau nangisin apa...," kata Kautsar.
" Aku tau apa sebabnya dia nangis..., " sahut Aruna.
" Oh ya, emang apa sebabnya...?" tanya Kautsar penasaran.
" Wenni hamil anak Robi...," sahut Aruna.
" Apa ?!. Kamu ga bohong Sayang...?!" tanya Kautsar tak percaya.
" Iya...," sahut Aruna mantap.
" Kamu tau darimana, Robi...?" tanya Kautsar.
" Dari jin bayi merah dong, masa dari Robi. Kalo dari dia itu artinya dia oneng karena udah ngebuka aibnya sendiri. Coba Kamu pikir, mana ada cewek yang mau dideketin sama cowok yang udah menghamili cewek lain...," sahut Aruna.
" Oh iya ya. Kasian juga si Wenni. Pasti Robi ga mau tanggung jawab kan...?" tanya Kautsar.
" Betul...," sahut Aruna sambil menjentikkan jarinya.
Untuk sesaat Kautsar nampak termenung. Ia merasa iba pada nasib Wenni yang terpaksa berhenti kuliah karena hamil di luar nikah.
" Sedikit. Tapi mau bilang apa. Itu resiko yang harus Wenni tanggung karena ga mau denger nasehat temennya...," sahut Kautsar.
" Jadi sebelumnya udah ada yang ngingetin Wenni supaya ga deket-deket sama Robi...?" tanya Aruna.
" Iya, namanya Viola. Anak fakultas Ekonomi juga kalo ga salah...," sahut Kautsar.
" Oh, Aku paham. Rupanya kehamilan Wenni ga seratus persen karena dipelet ya. Siapa tau justru mereka ngelakuinnya atas dasar suka sama suka..., " kata Aruna.
" Keliatannya sih begitu...," sahut Kautsar.
" Kamu ga jelous sama mereka Tsar...?" tanya Aruna sambil menatap wajah Kautsar.
" Ck, masih aja ngebahas itu. Aku tuh ga punya perasaan apa-apa sama Wenni. Kalo Kamu ga percaya, biar Aku buktiin sekarang...," kata Kautsar gemas lalu menggendong tubuh Aruna dan membawanya ke kamar.
Aruna menjerit kaget sambil berusaha turun dari gendongan Kautsar. Namun sayang usahanya gagal. Tak lama kemudian jeritan Aruna tak lagi terdengar karena Kautsar sudah membungkamnya dengan ciuman panjang.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sementara itu di ruang rawat inap Robi.
Robi terbangun saat ia mendengar suara gaduh di dalam kamar. Ia membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
Tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri. Robi melirik jam dinding yang saat itu menunjukkan pukul dua dinihari. Robi yakin jika kedua orangtuanya sedang menunaikan sholat sunah tahajud di musholla Rumah Sakit.
Robi kembali memejamkan mata karena merasa pandangan matanya berkunang-kunang. Namun sesaat kemudian Robi kembali mendengar suara gaduh seperti suara besi tempat tidur yang digores oleh sesuatu. Terdengar nyaring dan sangat mengganggu.
" Ck, apaan sih. Berisik banget...," gumam Robi sambil melirik ke ujung kakinya yang tertutup selimut.
Kedua mata Robi membelalak saat ia melihat sosok bayi merah yang menjadi penyebab kecelakaannya itu tengah duduk bertengger di ujung kakinya. Kali ini bayi merah itu nampak menatap lekat kearahnya. Dengan sayap yang mengembang dan taring yang mencuat disertai tatapan tajam, membuat Robi gemetar ketakutan.
" K... Kau. Siapa Kau, apa maumu...?" tanya Robi dengan suara tercekat.
Jin berwujud bayi merah itu nampak melengos mendengar pertanyaan Robi.
" Manusia rendahan kaya Kalian ternyata sama aja. Kalo udah selesai misinya pura-pura lupa. Padahal sebelumnya menghiba dan rela buang uang banyak supaya keinginannya terpenuhi..., " kata bayi merah itu.
" Apa maksudmu...?" tanya Robi memberanikan diri.
" Aku adalah makhluk yang selama ini menjalankan keinginanmu. Mulai dari mengirimkan santet, membuat para gadis terpesona padamu, hingga membunuh orang yang menjadi musuhmu...!" sahut bayi merah itu lantang.
" Terus apa maumu sekarang...?" tanya Robi.
" Menagih bayaran, apalagi memangnya...," sahut bayi merah itu.
" Aku sudah membayar Bung Sam dengan bayaran yang mahal. Kalo mau, Kau bisa minta langsung sama dia...!" kata Robi sambil berusaha bangkit.
" Bayaran berupa uang itu untuk Bung Sam, sedangkan untukku Kau belum membayar sama sekali...," sahut bayi merah sambil melompat ke atas perut Robi.
" A... Aku harus bayar pake apa...?" tanya Robi hingga membuat bayi merah menyeringai.
" Pertanyaan bagus. Bayar lah dengan nyawamu...," sahut bayi merah sambil menggigit dada Robi tepat di jantungnya.
Robi membelalakkan mata tanpa suara saat gigi taring nan tajam milik jin berwujud bayi merah itu mengoyak dadanya. Gigi taring bayi merah itu sangat tajam hingga mampu menembus tulang dada Robi. Sesaat kemudian gigi taring itu menemui sasaran yaitu jantung Robi.
Sambil tersenyum mengejek, bayi merah itu mengoyak jantung Robi lalu memakannya begitu saja. Tubuh Robi mengejang sebentar lalu diam tak bergerak. Robi pun tewas seketika dalam kondisi mata membelalak dan dada yang terkoyak bersimbah darah.
bersambung
__ADS_1