Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
41. Melepas Aruna


__ADS_3

Malam ini Aruna tengah duduk di taman berhadapan dengan Santo, Agus dan Deni. Di samping Aruna terlihat Ustadz Zaid dan istrinya Ummi Syarifah.


Sebelumnya Aruna telah menemui kedua guru spiritualnya itu dan meminta bantuan mereka untuk mengantar arwah Mela menyebrang. Ustadz Zaid dan Ummi Syarifah bersedia membantu dan kini mereka hadir di taman tak jauh dari sekolah Aruna.


Saat tiba di taman terlihat Santo, Agus dan Deni nampak duduk menunggu. Aruna tersenyum melihat bagaimana semangatnya mereka untuk menuntaskan janji yang tertunda itu. Kemudian Aruna memperkenalkan kedua guru spiritualnya kepada Santo dan kedua temannya itu.


“ Kita lakukan sekarang aja Nak...,” kata ustadz Zaid.


“ Baik Ustadz...,” sahut Aruna.


Kemudian Aruna pun dengan sabar memberi pengarahan pada Santo, Deni dan Agus agar bisa membantu hantu Mela pergi ke tempat seharusnya. Ustadz Zaid dan ummi Syarifah tampak tersenyum saat mengamati cara Aruna mengarahkan tiga pria dewasa di hadapannya itu.


“ Jadi Om bertiga berdzikir aja, jangan putus ya Om...,” kata Aruna.


“ Ok siap...!” sahut Santo, Agus dan Deni bersamaan.


“ Tunggu Run. Apa tandanya kalo Mela berhasil nyebrang dan pergi dengan tenang...?” tanya Santo.


“ Om akan merasakan perasaan damai yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kita semua yang mengantar Mela pergi akan merasa damai saat berhasil membuatnya berada di tempat seharusnya...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Sesimple itu...?” tanya Agus.


“ Iya. Tapi yang Om bilang simple itu akan sangat berkesan nanti...,” sahut Aruna mantap.


“ Apa Saya ga bisa bicara atau ngeliat dia untuk terakhir kalinya Run...?” tanya Santo penuh harap.


Sebelum menjawab pertanyaan Santo, Aruna nampak menatap kedua guru spiritualnya untuk meminta pendapat. Saat kedua guru spiritualnya itu mengangguk, Aruna pun ikut mengangguk.


“ Mmm..., insya Allah bisa. Tapi ga lama ya Om...,” sahut Aruna.


“ Gapapa Run, yang penting Saya tau kalo Mela maafin Saya...,” kata Santo antusias.


“ Ok, Kita mulai sekarang ya Om...,” kata Aruna yang diangguki Santo, Agus dan Deni.


Kemudian ustadz Zaid mulai membaca beberapa ayat Al Qur’an. Di sampingnya terlihat ummi Syarifah yang juga tengah berdzikir sambil menundukkan wajahnya. Sebelum arwah Mela diantar pergi, arwah Mela masih diberi kesempatan untuk menampakkan wujudnya di hadapan Santo. Hanya Santo yang bisa melihat Mela tapi tidak dengan Agus dan Deni.


Aruna yang melihat Mela tampil dengan wujud aslinya sebelum ia meninggal dunia nampak berdecak kagum. Ternyata Mela adalah gadis yang sangat cantik. Rambutnya lurus, hitam dan panjang hingga sepinggang. Ada lesung pipi yang akan terlihat saat Mela tersenyum dan itu membuat siapa pun akan terpikat saat melihatnya. Seragam putih abu-abu yang dikenakannya pun terlihat bersih dan rapi menandakan jika semasa hidupnya Mela adalah sosok yang apik.


“ Dia di sana Om...,” bisik Aruna sambil menunjuk ke sebuah tempat.


Santo menoleh dan nampak terharu saat melihat kekasihnya itu. Perlahan Santo bangkit dan mendekati Mela lalu


menyapanya.

__ADS_1


“ Apa kabar Mela...?” sapa Santo dengan suara bergetar.


“ Aku baik Santo...,” sahut hantu Mela sambil tersenyum malu-malu.


“ Maafkan Aku Mela. Karena Aku datang terlambat dan bikin Kamu...,” ucapan Santo terputus karena ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya itu.


“ Gapapa Santo, bukan salahmu. Aku memaafkanmu kok. Aku senang akhirnya Kamu datang karena itu artinya Kamu ingat sama janji Kamu, janji Kita...,” sahut hantu Mela lirih.


“ Aku selalu ingat Mela. Aku ga pernah lupa sama Kamu dan semua kenangan Kita...,” kata Santo cepat.


“ Jangan ingat lagi Santo...,” pinta hantu Mela sambil menggelengkan kepalanya.


“ Kenapa...?” tanya Santo tak mengerti.


“ Aku ga mau Kamu sakit lagi karena terus mengingatnya. Lupain semua, dan hidup lah dengan baik. Aku akan bahagia jika Kamu bahagia Santo...,” sahut hantu Mela sambil menitikkan air mata hingga membuat Santo ikut menangis.


“ Iya Mel, Aku bakal turutin semua permintaan Kamu. Aku akan baik-baik aja dan bahagia nanti...,” kata Santo di sela isak tangisnya.


Hantu Mela tampak mengangguk sambil tersenyum. Ia mendongakkan kepalanya saat melihat sebuah cahaya menuju kearahnya.


“ Sudah waktunya Aku pergi Santo...,” kata hantu Mela sambil tersenyum tipis.


“ Sekarang...?” tanya Santo dengan berat hati.


“ Iya. Makasih Aruna, makasih semua. Sekarang Aku pergi yaa...,” kata hantu Mela sambil melambaikan tangannya. Perlahan tubuhnya melayang saat cahaya putih yang menyilaukan mata itu menjemputnya lalu membawanya pergi ke langit.


Santo dan Aruna balas melambaikan tangan sambil menatap kepergian Mela dengan mata berkaca-kaca.


“ Alhamdulillah...,” kata ustadz Zaid, ummi Syarifah dan Aruna bersamaan.


“ Kenapa Pak Ustadz, apa yang terjadi...?” tanya Deni penasaran.


“ Kita berhasil mengantar arwah teman Kalian itu pergi ke tempat seharusnya Nak...,” sahut ustadz Zaid sambil tersenyum.


“ Terus kenapa Santo nangis Ustadz...?” tanya Agus.


“ Gue bahagia Gus. Mela udah maafin Gue. Dia juga nyuruh Gue supaya bahagia...,” sahut Santo sambil mengusap air matanya.


“ Yang Mela bilang tuh bener To. Kita emang harus bahagia...,” kata Deni sambil menepuk pundak Santo.


“ Tapi bahagia yang terarah ya, yang sesuai syariat dan tuntunan agama. Jadi mulai sekarang Kalian harus hidup


lebih baik dan teratur. Jangan kebanyakan foya-foya dan maksiat. Kalo mau ngungkapin rasa syukur sebaiknya bersedekah, bukan malah mabuk-mabukan di club malam...,” kata ustadz Zaid sambil berlalu.

__ADS_1


Agus dan Deni yang merasa tersindir pun terdiam. Melihat kedua temannya salah tingkah membuat Santo tertawa geli.


“ Lo berdua kenapa...?” tanya Santo.


“ Gapapa. Kok, Ustadz bisa tau kebiasaan Kita ya. Jangan-jangan beliau indigo juga kaya si Aruna...,” sahut Agus


setengah berbisik.


Santo menggedikkan bahunya lalu melangkah mengikuti ustadz Zaid yang kini tiba di luar taman.


\=====


Kini Aruna telah lulus dari SMA. Ia melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Kalisha dan Adriana pun akhirnya harus merelakan kepergian Aruna yang mendapat beasiswa dari universitas negeri di Jawa Timur. Kini ketiganya tengah berada di dalam kereta api yang akan membawa Aruna pergi.


“ Ga nyangka Kita malah pisah kaya gini...,” kata Adriana sedih.


“ Jangan sedih dong Dri. Gue kan pergi buat mengejar cita-cita. Ini prosesnya dan harus Kita lewati. Insya Allah Kita kumpul lagi dan bikin usaha bareng nanti...,” sahut Aruna.


“ Sebentar, bukannya kampus yang Lo tuju itu juga tempatnya si Kautsar kuliah ya...?” tanya Kalisha hingga mengejutkan Aruna.


“ Masa sih, Lo tau darimana Kal...?” tanya Aruna.


“ Ya ampun Aruna, masa gitu aja ga


tau sih. Kan sekolah ini selalu mengumumkan nama siswa yang berprestasi di


mading termasuk siswa yang ngelanjutin pendidikan di bangku kuliah karena


beasiswa...,” sahut Kalisha dengan enggan.


“ Jujur Gue males ketemu sama dia. Atau Gue tolak aja tawaran beasiswa dari universitas itu ya...,” kata Aruna sambil menatap Kalisha dan Adriana bergantian.


“ Eh ga usah Run. Masa cuma gara-gara Kautsar Lo nolak beasisiwa itu padahal banyak yang pengen nempatin posisi itu lho...,” kata Adriana.


“ Betul Run. Lagian belum tentu Kautsar inget sama Lo. Dia terlalu populer dulu dan banyak penggemarnya, Kita mah cuma remahan rengginang aja buat dia alias ga penting. Jadi maju terus ya Run...,” kata Kalisha memberi semangat.


“ Ok deh, Gue emang ga bisa mundur lagi. Gue ga mau orangtua Gue kecewa...,” sahut Aruna sambil menoleh kearah Arka dan Diana yang berdiri di luar kereta sambil terus mengamatinya.


Ketiganya berpelukan sambil tertawa. Saat kereta api tujuan Pasar Turi Surabaya itu melaju  perlahan, Kalisha dan Adriana pun bergegas turun lalu melambaikan tangan kearah Aruna.


Aruna balas melambaikan tangan kearah orang-orang yang dikasihinya itu. Diantara empat orang yang melambaikan tangan kearah Aruna, Diana lah yang paling sedih. Ia nampak menangis di pelukan Arka saat kereta yang membawa Aruna tak lagi terlihat.


\=====

__ADS_1


__ADS_2