
Dalam kilasan peristiwa itu Aruna melihat bagaimana arwah Aldi 'mengerjai' para calon korbannya sebelum ia 'mengeksekusi' mereka.
Yang terakhir adalah empat orang pengawal kebanggan Moa, saudara sepupu Aldi yang juga telah melecehkan Aldi.
Empat orang itu memiliki nama panggilan yang sengaja disematkan Moa khusus untuk para pengawalnya itu. Mereka adalah Jan, Jen, Jun dan Jon.
Keempatnya adalah saksi sekaligus orang yang senantiasa membantu Moa menjalankan aksinya untuk melecehkan Aldi.
Biasanya salah satu dari mereka menjemput Aldi lalu membawanya ke suatu tempat. Kemudian Moa akan menyalurkan hasrat menyimpangnya itu di sana. Kadang kala keempat pengawalnya turut ambil bagian melecehkan Aldi setelah Moa pergi. Moa memang tak pernah menjalankan aksi bejatnya itu di kediaman Kakeknya karena ia sangat menghormati sang Kakek.
Setelah memberi pelajaran pada orang-orang yang telah menyakitinya, kini arwah Aldi pun mendatangi empat pengawal kebanggan Moa itu di tempat persembunyian mereka. Di sana keempatnya sedang asyik berbincang sambil menikmati miras dan ga*ja.
" G*la bener. Gue sampe ga bisa tidur kalo inget mayat Bos yang mengenaskan itu...," kata Jan sambil menghisap kuat rokoknya.
" Iya Jan. Pasti rasanya sakit banget tuh ditusuk pake dahan pohon Segede kepalan tangan orang dewasa. Hiiiyy...," sahut Jun sambil bergidik.
" Pasti lah. Mungkin ga sih kalo itu sebagai hukuman karena selama ini Bos kan suka banget memuaskan hasratnya lewat jalan itu...," kata Jen.
" Bisa aja. Tapi apa bener si Aldi yang ngelakuin itu. Kok Gue ga percaya ya...," sahut Jon.
" Kenapa ga percaya. Kan dia sendiri yang ngaku...," kata Jen.
" Masalahnya kan badannya si Aldi tuh ga sebanding sama badannya si Bos. Mustahil Bos bisa kalah sama Aldi. Bukannya selama ini Bos selalu berhasil meringkus Aldi dan menikmatinya...? " tanya Jon tak mengerti.
" Badan Bos emang besar, tapi otaknya kan cuma setengah. Beda jauh sama si Aldi. Biar badannya ga berotot, tapi otaknya cerdas. Makanya Gue percaya kalo Aldi bisa membunuh si Bos. Walau tenaganya ga sebanding sama Bos, tapi jangan lupa, si Aldi kan tetep aja cowok yang punya tenaga extra di saat terdesak...," sahut Jan.
" Bener juga Lo...," sahut Jun hingga membuat yang lain tersenyum.
Tiba-tiba keempat anak buah Moa dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan sendirinya. Mereka menoleh kearah pintu kemudian saling menatap satu sama lain.
" Lo ga kunci ya pintunya...?" tanya Jun.
__ADS_1
" Udah...," sahut Jen.
" Kok bisa kebuka sendiri...?" tanya Jun.
" Mana Gue tau...," sahut Jen.
" Udah lah paling cuma angin. Tutup aja lagi, gitu aja pake ribut...," kata Jon menengahi.
" Biar Gue yang nutup...," sahut Jan lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.
Saat tiba di ambang pintu Jan nampak mematung karena melihat penampakan Aldi dengan tubuh lusuh dan penuh darah. Sontak saja Jan menjerit ketakutan hingga mengejutkan ketiga temannya.
" Setaaannn...!" kata Jan lantang sambil lari ke dalam ruangan.
" Sia*an Lo, ngagetin aja. Mana ada setan di sini. Ini kan tempat paling aman yang Kita punya. Bertahun-tahun di sini Gue ga pernah liat maling apalagi setan...!" bentak Jun.
" Gu... Gue ga bohong Jun...," sahut Jan dengan suara bergetar.
Melihat sikap Jan yang sangat ketakutan membuat Jun, Jen dan Jon pun percaya.
" Aldi...," sahut Jan cepat.
" Maksud Lo hantunya si Aldi...?" tanya Jen tak percaya.
" Iya...," sahut Jun sambil menganggukkan kepalanya.
Jun baru saja menyelesaikan kalimatnya saat sebuah dahan pohon dilempar masuk ke dalam ruangan. Padahal di sekitar ruangan itu tak ada pohon besar selain rumput liar.
Melihat dahan pohon yang runcing di salah satu ujungnya membuat keempat anak buah Moa itu terkejut dan mundur beberapa langkah. Mereka teringat akan nasib yang dialami Moa yang meninggal dalam keadaan tertusuk dahan pohon di bagian du*urnya.
Keringat dingin nampak membasahi tubuh dan wajah keempat orang kebanggaan Moa itu. Apalagi saat dahan pohon itu mulai bergerak, melayang di udara sambil berputar perlahan seolah mencari sasaran. Melihat hal itu membuat keempatnya sontak berlarian meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Arwah Aldi nampak tertawa puas sambil melepas kepergian empat orang anak buah Moa itu. Mereka berlari tak tentu arah. Namun anehnya mereka seperti berlari di lokasi yang sama dan tak bisa menemukan jalan keluar.
Jen yang berlari diikuti Jun adalah orang pertama yang menyadari keanehan itu.
" Tunggu Jun. Kayanya Kita dari tadi lari-lari di sini doang ya...," kata Jen sambil berhenti berlari lalu menatap ke sekelilingnya.
" Gue ga tau Jen. Yang Gue tau kenapa Kita ga nemu jalan keluar dari tadi. Padahal kan tempat ini ga terlalu luas dan Kita hapal di luar kepala jalan tikus yang ada di sini...," sahut Jun dengan nafas terengah-engah.
" Kayanya Kita emang sengaja disesatkan sama hantunya si Aldi ya Jun...," kata Jen mulai panik.
" Pasti lah...," sahut Jun sambil menatap ke sekelilingnya.
Sementara itu Jon sedang berhenti di tengah hamparan rumput liar yang ada di sekitar tempat rahasia mereka. Ia sedang berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah itu.
Namun tiba-tiba Jon dikejutkan dengan kemunculan sosok pria yang melintas. Jon pun tersenyum karena senang. Ia pun mengejar pria itu bermaksud menanyakan jalan keluar dari tempat itu. Saat tiba di belakang pria itu Jon pun mulai bertanya.
" Permisi Pak. Kalo mau ke jalan raya lewat mana ya...?" tanya Jon.
Tak ada sahutan. Pria itu terus berjalan dan itu membuat Jon kesal. Ia pun mengulangi pertanyaannya sambil menarik kerah baju pria itu.
" Gue nanya udah sopan tapi Lo malah maksa Gue ngelakuin kekerasan. Gue tanya sekali lagi, kalo mau ke jalan raya lewat mana...?!" tanya Jon kesal.
" Saya ga tau. Saya juga lagi nyari milik Saya yang hilang Bang...," sahut pria itu dengan suara bergetar.
" Emang apaan yang hilang...?!" tanya Jon.
Pria itu menoleh kearah Jon dan itu membuat Jon terkejut lalu melepaskan cekalan tangannya dari kerah baju pria itu. Ternyata kedua mata pria itu hanya berupa rongga kosong. Ada beberapa belatung terlihat keluar masuk dari rongga kosong itu. Dan pria itu pun balik bertanya pada Jon.
" Apa Abang bisa bantu cari mata Saya...?" tanya pria itu sambil menyeringai.
" Sia*an. Setaaannn...!" kata Jon sambil lari tunggang langgang.
__ADS_1
Hantu pria itu tertawa dengan suara yang menyeramkan dan membuat bulu kuduk meremang. Suara tawanya terus mengikuti kemana pun Jon pergi dan itu membuat Jon frustasi. Karena tak tahan mendengar suara tawa hantu itu, Jon pun berhenti berlari lalu bersujud di tanah sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
\=\=\=\=\=