
Setelah kepergian polisi yang membawa Randu dan Dita, satu per satu warga pun mulai meninggalkan aula.
Aruna, Kautsar dan Reyhan serta Gladys dan adiknya masih bertahan di aula. Bersama mereka ada ustadz Amril dan jamaahnya. Mereka membahas peristiwa yang baru saja terjadi. Sedangkan dua warga yang terluka akibat serangan Randu telah diobati dan pulang ke rumah masing-masing.
" Saya minta maaf karena tak bisa menepati janji Saya Pak Ustadz...," kata Aruna.
" Janji apa Nak...?" tanya ustadz Amril.
" Tadi kan Saya janji akan menyerahkan semuanya kepada Ustadz. Terserah Pak ustadz mau ngapain si Dita dan Randu. Tapi ternyata Polisi lebih cepat bertindak...," sahut Aruna.
" Oh itu, gapapa Nak. Saya senang Polisi datang di saat yang tepat. Saya juga setuju Polisi menangkap mereka karena apa yang mereka lakukan adalah tindakan kriminal berat. Randu dan Dita bukan hanya membunuh satu orang tapi dua. Dan salah satunya adalah Kakeknya sendiri. Ini sungguh di luar dugaan...," sahut ustadz Amril.
Pembicaraan Aruna dengan ustadz Amril terhenti saat terdengar isak tangis Gladys. Aruna pun menoleh lalu mendekati Gladys dan memeluknya.
" Udah jangan nangis lagi. Yang penting sekarang Kamu udah tau semuanya dan bisa bantu doa supaya Mukhlis bisa pergi dengan tenang. Jangan bebani Mukhlis dengan tangismu...," kata Aruna lembut.
" Iya Mbak. Aku cuma kasian sama Mas Mukhlis. Pasti dia kesakitan banget saat itu karena ga ada siapa pun di rumahnya. Tapi Aku lega karena Dita bakal meringkuk lama di penjara...," sahut Gladys sambil mengusap air matanya.
" Iya. Sekarang apa rencana Kamu Dys...?" tanya Aruna.
" Aku berniat pindah dari rumah Mas Mukhlis Mbak. Itu bukan rumahku, Aku juga ga punya hubungan apa-apa sama Mas Mukhlis...," sahut Gladys.
" Bagus. Terus Kamu mau tinggal dimana...?" tanya Aruna.
" Pulang ke rumah warisan orangtuaku Mbak. Seperti yang Dita bilang, rumahku memang jelek tapi itu nyaman untuk ditempati karena itu milik Kami. Beda sama rumah Mas Mukhlis. Meski bagus tapi terasa panas karena selain bukan milik Kami, banyak barang aneh di sana yang bikin Kami ga betah. Untung semuanya udah berakhir jadi Kami bisa pulang...," sahut Gladys yang diangguki adiknya.
" Apa yang Kamu lakukan benar Nak. Tapi ada baiknya rumah itu dijual dan hasilnya digunakan untuk sedekah atas nama almarhum Mukhlis. Aku akan berkoordinasi dengan pengurus lingkungan dan ahli hukum untuk mengurusnya nanti karena Mukhlis hidup sebatang kara. Kamu dan Adikmu berhak menerima bagian karena Kalian termasuk kaum yang berhak menerima sedekah. Bukan begitu Pak RW, Pak RT...," kata ustadz Amril sambil menoleh kearah dua pria yang duduk di sampingnya.
" Betul Pak Ustadz...," sahut kedua pria itu bersamaan.
" Saya juga boleh nerima sedekah dari almarhum Mas Mukhlis, Pak Ustadz...?" tanya Gladys dengan wajah berbinar.
" Iya Nak. Kami juga akan pertimbangkan jasa Kalian yang telah menjaga rumah almarhum Mukhlis hingga saat ini...," sahut ustadz Amril sambil tersenyum.
__ADS_1
" Makasih Pak Ustadz. Kalo gitu Kami akan pindah secepatnya biar rumah itu bisa segera dijual...," kata Gladys.
" Sebaiknya Kamu tetap tinggal di sana sampe rumah itu laku terjual Dys. Selain untuk membersihkan rumah, Kamu bisa dapat upah sebagai imbalan karena Kamu udah menjaga dan merawat rumah itu. Bukan begitu Pak Ustadz...? " tanya Aruna.
" Betul Nak. Upah itu bisa diambil dari hasil penjualan rumah Mukhlis nanti...," sahut ustadz Mukhlis.
Gladys dan adiknya mengangguk tanda setuju. Sejujurnya mereka juga tak ingin ada orang lain yang menjaga rumah itu. Meski pun tak ada barang berharga di dalam rumah itu, namun mereka merasa tak rela jika ada yang mengambil dan memanfaatkannya dengan cara yang salah.
" Sebaiknya sekarang Kita doakan Mukhlis dan Kakek Dita agar bisa pergi ke tempat seharusnya. Kasian mereka kalo harus menunggu lebih lama lagi...," kata Aruna.
" Betul Sayang. Gimana kalo Pak Ustadz yang memimpin doa kali ini...?" tanya Kautsar sambil menatap kearah ustadz Amril.
" Baik lah...," sahut ustadz Amril sambil tersenyum.
Kemudian ustad Amril mulai memimpin doa dan semua orang yang ada di aula mengaminkan.
Saat doa sedang dilantunkan, Aruna melihat arwah Muklis dan sosok pocong merah jelmaan Kakek Dita tersenyum. Perlahan perubahan terjadi pada sosok pocong merah itu. Wajahnya yang hancur dan berdarah itu kembali pulih ke wujud semula seperti saat dia masih hidup. Kain merah yang melilit tubuhnya pun lenyap berganti dengan pakaian terakhir yang ia kenakan sebelum Dita melemparnya dengan kursi.
" Terima kasih Aruna. Aku bisa pergi dengan tenang karena semua sudah terungkap. Sampaikan salamku pada Gladys dan adiknya. Katakan jika Aku menyayangi mereka dengan tulus. Sampaikan juga salamku untuk Suamimu dan semua orang. Terima kasih karena sudah membantuku...," kata arwah Mukhlis.
Arwah Mukhlis mengangguk lalu menatap kearah cahaya yang menjemputnya. Aruna menyaksikan arwah Mukhlis melayang bersama cahaya putih keperakan itu lalu lenyap begitu saja.
Kemudian Aruna menatap kearah arwah Kakek Dita yang masih bertahan di tempat itu. Aruna maklum jika arwah pria renta itu belum bisa pergi karena jasadnya belum disempurnakan.
" Maaf kalo Saya lancang. Sebaiknya Pak Ustadz juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar jasad Kakek Dita bisa segera diurus untuk dimakamkan dengan layak...," kata Aruna.
" Kebetulan Kami datang memang untuk mengurus itu Mbak...!" kata seorang polisi tiba-tiba.
Semua orang menoleh dan terkejut melihat kehadiran polisi yang tadi meringkus Randu datang bersama beberapa polisi lainnya.
Semua orang berdiri menyambut kehadiran sang polisi.
" Maaf mengganggu. Kami datang untuk menjemput pengurus lingkungan dan Pak Ustadz agar menjadi saksi pembongkaran makam Kakek Dita...," kata sang polisi dengan santun.
__ADS_1
Ustadz Amril dan dua orang pengurus lingkungan pun saling menatap kemudian mengangguk setuju. Tak lama kemudian mereka meninggalkan aula dengan menggunakan mobil milik kepolisian. Sedang Kautsar dan Reyhan tampak mengikuti dari belakang dengan motor masing-masing.
\=\=\=\=\=
Proses pembongkaran makam Kakek Dita berjalan lancar. Para polisi yang berjaga sedikit kewalahan menghadapi warga yang ingin menyaksikan jalannya pembongkaran makam.
Saat diangkat dari lubang galian, jasad Kakek Dita memang sudah sulit dikenali. Wajahnya hancur karena sebelum menguburnya Randu sengaja melukainya dengan batu. Aruna nampak menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Kautsar karena tak sanggup melihat aksi kejam Randu pada tubuh Kakek Dita itu.
Setelah jasadnya diangkat dan diurus sebagaimana mestinya, arwah Kakek Dita nampak tersenyum senang.
" Apa Kakek senang sekarang...?" tanya Aruna.
" Aku senang Nak. Aku yakin Ustadz Amril akan mengurus jenazahku dengan baik nanti...," sahut arwah Kakek Dita sambil tetap tersenyum.
" Kalo gitu apa Kakek mau pergi sekarang...?" tanya Aruna hati-hati.
" Apa Aku udah bisa pergi ?. Bukan kah jasadku belum dikubur dengan layak...," sahut arwah Kakek Dita sambil menatap jasadnya yang ditutupi kain putih.
" Bisa Kek. Karena seharusnya Kakek ga di sini lagi. Ada tempat lebih baik untuk Kakek di sana...," sahut Aruna sambil menunjuk lubang cahaya di belakang arwah Kakek Dita.
Kakek Dita mengikuti arah yang ditunjuk Aruna. Wajahnya nampak berbinar saat melihat lubang cahaya itu.
" Aku mau Nak. Tolong bantu Aku...," pinta arwah Kakek Dita antusias.
" Baik Kek...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Terima kasih ya Nak. Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi sekarang...," kata Kakek Dita sambil melambaikan tangannya.
" Sama-sama Kek...," sahut Aruna sambil balas melambaikan tangannya.
Kautsar yang melihat apa yang dilakukan istrinya pun tersenyum. Kemudian Kautsar menarik Aruna ke dalam pelukannya saat melihat air mata menitik di wajah cantik sang istri.
" Dia udah pergi Sayang...," bisik Aruna yang diangguki Kautsar.
__ADS_1
Kautsar mengangguk lalu mengeratkan pelukannya. Keduanya tetap dalam posisi seperti itu meski pun di sekitar mereka orang-orang sibuk hilir mudik mengurus jenasah Kakek Dita.
bersambung