
Malam itu Aruna kembali tak bisa memejamkan matanya. Ia teringat akan janji Orion yang akan mengajaknya berziarah ke makam sang ibu. Aruna terlihat mondar-mandir di ruang tamu dan itu membuat Agung yang belum tertidur pun menegurnya.
“ Lo kenapa Run, kok bolak-balik aja daritadi...?” tanya Agung.
“ Gue ga bisa tidur Gung...,” sahut Aruna.
“ Pasti gara-gara Ria ngorok ya...,” tebak Agung asal.
“ Bukan...,” sahut Aruna.
“ Terus apa dong...?” tanya Agung.
“ Mana Gue tau. Lo sendiri ngapain masih di situ...?” tanya Aruna.
“ Mau ngambil minum, haus...,” sahut Agung sambil mengacungkan gelas kosong yang dipegangnya lalu beranjak ke dapur.
Tak lama kemudian Agung melintas di dekat ruang tamu sambil membawa gelas berisi air. Agung mengira Aruna telah kembali ke kamar karena tak menjumpai Aruna lagi di ruang tamu.
Sementara itu di kegelapan malam terlihat Aruna tengah mengikuti langkah Orion yang berlari menuju suatu tempat. Orion datang bertepatan saat Agung pergi ke dapur tadi. Orion berhenti di pemakaman desa lalu masuk ke sana dan berhenti di depan sebuah makam yang masih terawat.
“ Di sini Ibumu dimakamkan Aruna...,” kata Orion dengan suara serak.
Aruna pun mengikuti arah tatapan Orion yang menatap nisan di makam itu dengan tatapan sedih. Ada nama Risma tertulis di batu nisan dan itu membuat Aruna ikut sedih.
“ Apa kabar Sayang. Kali ini Aku ga datang sendiri. Aku datang bersama Anak Kita, Aruna. Kamu ingat kan. Pasti ingat dong. Kan Kamu yang ngasih nama cantik itu pada Anak Kita...,” kata Orion sambil mengusap batu nisan Risma dengan sayang.
Aruna tak kuasa menahan tangis saat Orion memperkenalkannya pada sang ibu seolah Risma masih hidup dan tengah duduk menatap mereka.
“ Ibuuu...,” kata Aruna lirih lalu bersimpuh di dekat makam ibu kandungnya itu.
Untuk beberapa saat Aruna menangis dan Orion membiarkan Aruna menumpahkan air mata di depan makam sang ibu. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Aruna. Meski ia telah lama tahu jika dirinya bukan anak kandung Arka dan Diana, tapi berada di samping makam wanita yang telah melahirkannya itu membuat perasaannya berkecamuk. Aruna teringat dirinya yang hanya sebentar berada dalam dekapan Risma.
Kemudian Orion mengulurkan tangannya dan membelai kepala Aruna untuk menenangkan gadis itu.
“ Dia bahagia memilikimu Nak. Kehadiranmu sangat ia nantikan. Bahkan sebelum meregang nyawa ia masih sempat menyusuimu meski pun saat itu dia dalam kondisi kritis...,” bisik Orion dengan suara bergetar.
“ Apa Kau mencintai Ibuku...?” tanya Aruna lirih.
“ Sangat. Diantara keempat Istriku, Risma lah yang paling Aku cintai. Aku sulit menerima kematiannya meski pun telah lewat belasan tahun. Jika dulu Aku dengan mudah menggantikan posisi Istriku yang wafat dengan wanita lain, tapi justru sekarang Aku sulit mencari pengganti Risma. Mungkin ga akan pernah bisa. Bagiku Risma terlalu sempurna dan tak terganti...,” sahut Orion sambil menatap langit dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar jawaban Orion membuat Aruna terharu. Kemudian ia membalikkan tubuhnya lalu memeluk Orion dengan erat. Orion terkejut sesaat namun ia nampak bahagia. Ia pun balas memeluk Aruna dengan erat sambil menciumi kepala gadis itu. Dan keduanya pun menangis bersama di depan makam Risma.
“ Maafkan Aku Ayah. Terima kasih karena telah mencintai Ibuku...,” bisik Aruna lirih.
Meski pun lirih namun Orion masih bisa mendengar kalimat yang diucapkan Aruna. Kedua matanya terpejam meresapi panggilan Ayah yang didengarnya tadi. Air mata pun menderas di wajahnya. Orion bahagia karena akhirnya bisa mendengar ‘panggilan keramat’ itu setelah belasan tahun menunggu.
“ Sama-sama Nak. Terima kasih karena Kamu telah mau menerima kehadiranku. Terima kasih juga karena Kamu tak membenciku atas apa yang telah Aku lakukan padamu dulu...,” kata Orion di sela isak tangisnya.
__ADS_1
“ Aku ngerti kenapa Ayah melakukan itu. Lagipula Ayah telah memilihkan orangtua terbaik untukku. Papa Arka dan Mama Diana sangat mencintaiku. Keluarga besar mereka juga menyayangiku, ga ada beda meski pun Aku hanya anak angkat...,” sahut Aruna sambil memejamkan matanya.
“ Aku tau. George dan Matilda menceritakan semuanya padaku. Aku percayakan Kamu dalam penjagaan mereka karena dulu mereka juga yang menjagaku...,” kata Orion sambil mengusap sisa air mata di wajah Aruna.
“ Masa sih Yah...?” tanya Aruna.
“ Iya. Mereka adalah orang kepercayaan Kakekmu. Om George adalah sepupu Kakekmu sedangkan Tante Matilda masih saudara jauh Kakekmu. Mereka ditugaskan menjaga keturunan Arnold yaitu Aku dan Kamu...,” sahut Orion.
“ Apa saudaraku yang lain yang beda Ibu juga dijaga oleh Om George dan Tante Matilda Yah...?” tanya Aruna namun Orion menggelengkan kepalanya.
“ Tidak. Mereka berbeda denganmu Aruna. Mereka tak punya peluang berubah jadi manusia serigala seperti Kita. Mereka hanya mewarisi sedikit sifat buasku tapi bukan gen manusia serigala. Musuh Kakekmu hanya bisa mencium aroma darah manusia serigala, karena itu mereka mengejar Kita dan menginginkan kematian Kita. Itu sebabnya Kakekmu memerintahkan Om George dan Tante Matilda mengawal Kita hingga dewasa. Harusnya Aku ikut menjagamu karena Kamu anakku. Tapi Aku terlalu sedih dengan kematian Risma dan tak sanggup membesarkanmu sendirian. Beruntung Om George dan Tante Matilda mau menggantikan tugasku itu. Maafkan Aku Aruna...,” kata Orion sambil menundukkan kepalanya.
“ Gapapa Yah. Aku maklum kok...,” sahut Aruna sambil tersenyum lalu kembali memeluk Orion.
“ Kita harus pulang sekarang Aruna, ini hampir pagi. Aku ga mau warga desa berpikiran negatif saat melihatmu berduaan denganku...,” kata Orion sambil mengusap kepala Aruna.
“ Baik lah. Tapi Aku masih boleh ziarah ke sini kan...?” tanya Aruna penuh harap.
“ Tentu Nak...,” sahut Orion mantap hingga membuat Aruna tersenyum.
“ Aku harus bilang apa kalo ada warga yang nanyain hubunganku dengan orang yang dimakamin di sini Yah...?” tanya Aruna.
“ Bilang kalo Risma adalah Ibumu. Kamu adalah anak kandung Risma dan Orion. Jika ada bertanya tentangku, bilang aja ga tau...,” sahut Orion cepat.
“ Apa warga desa juga kenal sama Ayah...?” tanya Aruna ragu.
“ Oh ya, pantesan cara Bu Menur menatapku sedikit beda dengan caranya menatap teman-temanku...,” kata Aruna.
“ Mungkin dia teringat sama Risma karena wajahmu dan Ibumu sedikit mirip...,” sahut Orion dengan tatapan sedih.
“ Ayah..., jangan sedih lagi ya. Ibu sudah kembali pada Sang Khaliq dengan tenang. Tugas Kita sekarang hanya mendoakannya supaya Ibu bisa masuk surga...,” kata Aruna sambil memeluk lengan Orion.
Orion tersenyum mendapati aruna tak lagi canggung berada di dekatnya. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Aruna dengan sayang.
“ Kamu benar Nak. Ayah harus berterimakasih pada Arka dan Diana karena telah mendidikmu dengan baik hingga membuatmu jadi wanita yang tangguh dan cerdas seperti ini...,” kata Orion bangga.
“ Aamiin. Kapan Ayah akan menemui Papa dan Mama...?” tanya Aruna.
“ Insya Allah Ayah akan menemui mereka nanti, tapi tunggu waktu yang pas ya Nak...,” sahut Orion sambil tersenyum dan diangguki Aruna.
Tak lama kemudian keduanya meninggalkan pemakaman dengan cepat karena fajar telah tiba. Orion mengantar Aruna hingga ke depan rumah.
“ Sekarang masuk dan istirahat lah, Kamu pasti capek...,” kata Orion sambil tersenyum.
“ Iya Ayah, makasih untuk semuanya...,” sahut Aruna lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Orion mengangguk kan kepalanya. Setelah memastikan Aruna masuk ke dalam rumah, Orion pun melesat pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
\=====
Pagi itu Aruna menceritakan tentang keberadaan makam ibu kandungnya di pemakaman desa kepada kelima temannya. Semua terkejut dan hampir tak percaya jika Aruna hanya anak angkat Arka dan Diana.
“ Lo tau sejak awal kalo Ibu kandung Lo dimakamin di desa ini Run...?” tanya Ria.
“ Iya...,” sahut Aruna cepat. Ia terpaksa berbohong karena tak ingin kelima temannya tahu jati dirinya yang sebenarnya.
“ Kenapa ga cerita sama Kita sih...?” tanya Ria.
“ Gue ga mau ganggu waktu liburan Kalian...,” sahut Aruna hingga membuat kelima temannya berdecak sebal.
“ Kalo gitu Kita ziarah ke makam Ibunya ya Aruna yuk guys...,” ajak Agung.
“ Setuju...,” sahut empat teman lainnya bersamaan.
Menur yang kebetulan melintas pun berhenti dan menoleh kearah genk Comot yang sedang duduk di teras rumah.
“ Mau ziarah kemakam siapa Mas...?” tanya Menur.
“ Ke makam almarhumah Ibunya Aruna Bu...,” sahut Agung mewakili kelima temannya.
“ Ibunya Aruna dimakamin di desa ini juga ?. Kalo boleh tau siapa namanya...?” tanya Menur dengan jantung berdetak cepat.
“ Namanya Risma Bu...,” sahut Aruna lirih.
“ Ris... ma. Jadi Kamu anaknya Risma dan Orion...?” tanya Menur sambil menatap lekat Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.
“ Iya, betul Bu. Ibu kenal sama orangtua kandung Saya...?” tanya Aruna yang sudah mengira jika Menur akan terkejut saat mengetahuinya.
“ Kenal, Saya kenal Mbak. Risma itu teman kecil Saya. Ya Allah..., pantesan Saya kaya pernah ngeliat Kamu. Ternyata Kamu Anaknya Risma toh. Kamu tuh mirip banget sama Risma...,” sahut Menur dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk Aruna erat.
Kelima teman Risma ikut terharu melihat Menur memeluk Aruna. Sesaat kemudian Menur mengurai pelukannya lalu menyentuh wajah Aruna perlahan.
“ Wajah dan kulitmu mirip Risma, tapi rambut dan cara berjalanmu mirip Orion. Masya Allah, perpaduan yang sangat indah bukan...,” kata Menur.
“ Iya Bu...,” sahut Aruna tak enak hati karena Menur terus memujinya.
“ Orion, dimana dia sekarang...?” tanya Menur sambil mengusap matanya yang basah.
“ Ayah tinggal jauh Bu. Saya dititipkan sama famili di Jakarta hingga dewasa, makanya Saya baru bisa berkunjung sekarang...,” sahut Aruna.
“ Kalo boleh Saya juga mau ikut ziarah ke makam Risma. Udah lama Saya ga ziarah ke sana...,” kata Risma.
“ Tentu saja boleh. Kita berangkat sekarang aja ya Bu...,” ajak Aruna dan diangguki Menur.
Kemudian genk Comot dan Menur pun berjalan kaki menuju pemakaman desa. Di kejauhan Orion nampak tersenyum saat mengetahui banyak orang yang peduli pada istri dan anaknya itu.
__ADS_1
Bersambung