
Sementara itu di Jakarta, tepatnya di rumah Kautsar saat malam hari.
Kautsar terlihat kesal karena sudah seharian Aruna tak juga memberi kabar seperti yang ia janjikan. Dan saat Kautsar berinisiatif menghubungi Aruna lebih dulu, justru ponsel Aruna sedang tak aktif atau berada di luar jangkauan.
" Kalo tau bakal sepusing ini jauh dari Aruna, mendingan ga usah dikasih ijin pergi aja tadi. Lagian kenapa Aruna ga bisa dihubungin sih...," gerutu Kautsar sambil melakukan panggilan lagi yang entah sudah berapa puluh kali ke ponsel Aruna.
Tiba-tiba Kautsar tersadar jika ini di luar kebiasaan Aruna. Selama mengenalnya dan menikah dengannya, Aruna selalu menepati janji meski sedang ngambek sekali pun.
" Ya Allah, tolong lindungi Istriku dan teman-temannya dimana pun mereka berada. Jika mereka mendapat hambatan, tolong bantu mereka ya Allah. Jika mereka tersesat tolong beri petunjuk ya Allah. Laa haula wala quwwata ilaa billahil aliyyil adziim. Hanya kepada Mu Aku berserah diri ya Allah. Aamiin yaa Robbal'alamiin...," doa Kautsar sambil mengusap wajahnya.
Selesai berdoa Kautsar melanjutkan dengan berdzikir dalam hati. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa agar lebih relaks. Seperti untaian benang merah yang saling terkait kedua ujungnya, doa Kautsar pun sampai kepada Aruna yang tengah kebingungan.
Saat itu genk Comot yang masih berada di hutan nampak kelelahan dan kebingungan. Lelah karena terus berjalan berusaha mencari jalan keluar. Bingung karena setelah lama berjalan mereka justru kembali ke tempat yang sama berulang kali.
Kini mereka tengah duduk di tanah sambil meluruskan kaki yang terasa pegal.
" Asli ini mah, kayanya Kita emang lagi dikerjain setan bingung. Masa Kita balik lagi ke sini. Dan ini udah keempat kali lho guys...," kata Agung kesal.
" Sabar Gung, ga usah emosi gitu. Bukan Lo sendirian yang capek, Kita juga kok...," sahut Fadil.
" Makanya fokuskan pikiran, ga usah mikir yang aneh-aneh...," kata Aruna datar.
" Ga ada yang mikir aneh-aneh kok Run. Tapi coba aja Lo tanya sama pasangan kasmaran di sana itu...," sahut Agung sambil melirik kearah Kenzo dan Ria.
Kemudian semua mata tertuju kearah Kenzo dan Ria yang sedang asyik bergenggaman tangan sambil saling menatap tanpa menyadari tatapan horror dari empat teman mereka.
" Wooii...! sadar dong. Kita lagi nyasar nih. Bukannya bantu mikir malah liat-liatan aja Lo kaya film India...!" kata Galang sinis.
Suara lantang Galang membuat Kenzo dan Ria tersadar lalu melepaskan tautan jari mereka. Kemudian keduanya bergeser menjauh hingga membuat semua orang mendengus kesal.
" Kenapa ngeliatin Gue kaya gitu...?" tanya Kenzo tak mengerti.
" Aruna bilang, Kita ga bisa nemu jalan keluar karena ada salah satu diantara Kita yang mikir aneh-aneh. Nah di dalam genk ini yang berpeluang mikir aneh kan cuma Lo sama Ria. Secara Lo berdua kan baru aja jadian, pasti ada sesuatu yang mau Kalian lakuin untuk mengekspresikan perasaan Kalian masing-masing...," kata Agung lugas.
__ADS_1
Ucapan Agung membuat Ria dan Kenzo salah tingkah. Ria terlihat membuang tatapannya kearah lain, sedangkan Kenzo tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Melihat respon Ria dan Kenzo membuat Aruna dan ketiga temannya berdecak kesal.
" Ini kondisi darurat. Bisa kan Kalian rem sedikit hasrat liar Kalian itu. Kita ini satu kelompok, apa yang Kalian lakukan pasti berimbas sama kelompok juga. Jadi please, tolong buang keinginan Kalian itu sebentar aja. Bisa kan...?" tanya Aruna penuh harap.
" Harus bisa dong Run. Buktinya Lo sama Kautsar aja yang udah halal jadi Suami Istri bisa tahan ga ngelakuin itu padahal udah tinggal serumah hampir empat bulan...," kata Agung ketus.
" Kita lagi ngebahas Ria sama Kenzo lho Gung, bukan Gue. Lagian soal urusan ranjang Gue sama Kautsar kenapa Lo yang kepo sih...," sahut Aruna tak suka.
" Sorry Run, Gue ga maksud kaya gitu...," kata Agung sambil mengulurkan tangannya untuk minta maaf.
Tapi nampaknya Aruna terlanjur kecewa. Ia mengabaikan Agung lalu bergeser menjauh dari Agung.
" Lah kok jadi Lo berdua yang sensi. Udah dong, Kita balik lagi sama topik utama Kita yuk. Nyari jalan keluar secepatnya. Ingat secepatnya...!" kata Fadil menengahi.
Seolah tersadar jika apa yang mereka alami sengaja dirancang sedemikian rupa oleh para makhluk astral yang mengintai. Aruna pun bergegas menggamit tangan Fadil.
" Fadil betul. Kita harus bersatu kaya gini. Mulai sekarang Kita harus jalan saling bergandengan, ga boleh lepas...," kata Aruna sambil memperlihatkan tautan telapak tangannya dengan Fadil.
" Betul. Sekarang Kita ikat aja tangan Kita supaya ga bisa lepas. Aruna sama Ria taro di tengah. Biar Kita lebih gampang ngawasin mereka...," kata Agung sambil mulai mengikatkan tangannya dengan tangan Kenzo.
Kemudian keenam orang itu pun mulai melakukan apa yang diusulkan Aruna dan Agung. Setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan Galang sebagai penunjuk jalan.
Dari balik pepohonan terlihat para makhluk astral sedang menggeram marah. Mereka kesal karena gagal memecah belah Aruna dan kelima temannya itu.
\=\=\=\=\=
Sambil melangkah mencari jalan keluar, semua anggota genk Comot tetap berusaha fokus.
" Guys, Gue ga tahan diem-dieman kaya gini. Tambah horror aja nih rasanya. Apalagi Gue jalan paling belakang...," kata Agung memecah kesunyian.
" Terus mau Lo apa Gung...?" tanya Galang.
__ADS_1
" Ya ngobrol kek, atau nyanyi sekalian biar ga sepi...," sahut Agung.
" Kita ga mungkin nyanyi di tengah hutan kaya gini Gung. Kalo ngobrol pun kayanya udah keabisan bahan...," kata Galang.
" Kita dzikir aja bareng-bareng, sholawatan atau apa kek gitu...," usul Fadil.
" Gue setuju. Gimana Run, diantara Kita berenam cuma Lo yang keliatan santai lho...," kata Galang sambil menatao Aruna.
" Gue kan udah bilang daritadi supaya berdzikir. Kalo Gue sih emang lagi dzikir dalam hati sambil jalan. Ga tau deh kalo Kalian. Tapi usul Fadil boleh juga tuh, Kita sholawatan aja bareng-bareng...," sahut Aruna.
" Ok, sekalian Galang yang pimpin deh...," kata Kenzo yang disetujui semua temannya.
Kemudian keenam anggota Agenk Comot kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendendangkan sholawat sambil bernyanyi.
" Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, wa asyghilidz dzoolimin bidz dzoolimiin. Wa akhrijna min bainihim saalimiin, wa ala alihi washohbihi ajmain...,"
Mereka melantunkan sholawat berulang-ulang dengan semangat. Dan itu membuat makhkuk astral yang mengintai mereka sejak tadi nampak ketakutan dan berlari menjauh.
Aruna yang mengetahui hal itu pun nampak tersenyum dan terus memberi semangat kepada kelima temannya. Apalagi saat itu Aruna melihat seberkas cahaya di kejauhan yang menandakan perjuangan mereka akan segera mendapatkan hasil.
" Lanjuutt guys !. Sebentar lagi di depan ada jalan. Ikutin aja cahaya itu sambil terus sholawat...!" kata Aruna lantang.
" Siaapp Run...!" sahut kelima teman Aruna semangat.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat terang yang ternyata ada di pinggir jalan raya. Aruna dan kelima temannya pun bersorak gembira sambil mengucap hamdalah berulang kali. Saat mereka menoleh ke belakang dimana mereka tersesat tadi, mereka hanya menjumpai sebuah lorong yang panjang dan gelap yang terletak diantara bangunan warung dan bengkel. Sungguh tak masuk akal !.
" Alhamdulillah Kita bisa keluar dengan selamat...," kata Ria dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk Aruna erat.
" Iya Ri. Alhamdulillah, semua karena Kita tetap berharap sama Allah dan tetap berusaha untuk bersama walau sempet ribut sedikit tadi...," sahut Aruna sambil mengusap punggung Ria dengan lembut.
" Sekarang Kita cabut dari sini yuk. Kita ke masjid untuk sholat dan membersihkan badan...," ajak Galang yang disetujui kelima temannya.
Kemudian mereka menyebrang menuju masjid yang berdiri kokoh di tepi jalan. Kelelahan dan rasa putus asa yang sempat menghinggapi genk Comot kini lenyap dan berganti dengan senyum bahagia.
__ADS_1
\=\=\=\=\=