
Minggu pagi Aruna dan Kautsar tengah bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti biasa Aruna bertugas mencuci pakaian mereka berdua, sedangkan Kautsar membersihkan rumah sekaligus memilah barang yang tak terpakai.
" Yang ini dipake ga Run...?!" tanya Kautsar sambil mengangkat kaos kaki milik Aruna.
" Yang coklat ya...?!" tanya Aruna dari halaman belakang.
" Iya, dibuang kan...?!" tanya Kautsar lantang.
" Jangan. Aku masih pake...!" sahut Aruna.
" Tapi udah bolong Run, nih liat...," kata Kautsar sambil memperlihatkan kaos kaki berwarna coklat kepada Aruna.
" Yah, kok bisa bolong sih...," keluh Aruna kecewa.
" Mana Kutau. Dimakan tikus kali, soalnya kan tikus suka sama kaos kaki yang bau...," sahut Kautsar asal.
" Sembarangan. Kaki Aku ga bau ya. Kaki Kamu kali yang bau...!" sahut Aruna sewot.
Kautsar tertawa senang karena berhasil mengerjai Aruna. Tiba-tiba bel pintu berdering menandakan ada tamu yang berkunjung.
" Siapa yang bertamu, ini kan masih pagi banget Tsar...?" tanya Aruna setelah menjemur pakaian terakhir yang telah dicucinya tadi.
" Yang pasti tamu lah...," sahut Kautsar sambil menepi.
" Udah tau, tapi siapa...?" tanya Aruna sambil menatap gemas kearah Kautsar.
" Aku ga tau. Kan lagi di sini sama Kamu...," sahut Kautsar sambil menggedikkan bahunya.
" Biar Aku liat...," kata Aruna sambil berjalan menuju pintu.
" Jangan, Aku aja...!" kata Kautsar sambil mencekal tangan Aruna dengan lembut.
" Kenapa...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Mmm..., baju Kamu basah dan nyeplak bentuk tubuh Kamu banget. Aku ga rela kalo ada laki-laki lain yang ngeliat...," sahut Kautsar sambil menatap tubuh Aruna lekat.
Aruna terkejut lalu melihat kearah dirinya sendiri. Saat itu kaos dan celana selutut yang ia kenakan basah di bagian depan dan sedikit membentuk bagian depan tubuhnya. Menyadari hal itu membuat wajah Aruna merona malu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu membalikkan tubuhnya kearah lain.
" Ck, dasar mes*m...," kata Aruna lirih lalu bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Kautsar pun hanya bisa tertawa mendengar ucapan Aruna. Kemudian ia melangkah menuju pintu depan.
Pintu pun terbuka dan Kautsar mematung di tempat. Hanya sesaat karena detik berikutnya Kautsar tersenyum lebar lalu memeluk kedua tamunya itu.
__ADS_1
" Ibu Ayah...!" kata Kautsar sambil mencium pipi sang ibu hingga membuat kedua orangtuanya tertawa.
" Assalamualaikum, apa kabar Nak...?" tanya Ahmad sambil mengusap kepala Kautsar dengan lembut.
" Wa alaikumsalam, Alhamdulillah baik Yah...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Kok sepi, mana Aruna...?" tanya Hardini sambil mengedarkan pandangan ke penjuru rumah.
" Ada di kamar Bu. Baru aja selesai nyuci baju. Mari silakan masuk, biar Aku panggil Aruna dulu...," sahut Kautsar sambil membawakan tas milik kedua orangtuanya.
Hardini dan Ahmad pun masuk lalu duduk di sofa ruang tamu. Mereka nampak tersenyum melihat dekorasi di rumah itu.
Sementara itu Kautsar hendak mengetuk pintu kamar Aruna bersamaan dengan gadis itu keluar dari kamarnya.
" Siapa tamunya Tsar...?" tanya Aruna saat ia membuka pintu kamar.
" Ayah sama Ibu...," sahut Kautsar cepat sambil menggamit tangan Aruna dan membawanya ke ruang depan.
Senyum mengembang di wajah Hardini dan Ahmad saat melihat Kautsar menggandeng tangan Aruna. Kemudian Hardini pun nampak merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Aruna yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.
" Apa kabar Nak...?" tanya Hardini sambil menciumi wajah Aruna.
" Alhamdulillah baik Bu. Kok ga ngabarin kalo mau dateng sih, Kami ga ada persiapan nih...," kata Aruna manja.
" Iya Bu...," sahut Ahmad sambil tersenyum.
" Ga nyangka Ayah sama Ibu masih kompak kaya gini...," kata Aruna sambil mencium punggung tangan Ahmad dengan takzim.
" Harus kompak dong. Emang Kalian ga kompak ?. Jangan-jangan Kalian lagi musuhan ya...?" tanya Hardini sambil mendelik kesal kearah Kautsar.
" Ga kok Bu. Kami juga akur dan kompak lho. Iya kan Sayang...?" tanya Kautsar sambil merengkuh bahu Aruna lalu mengecup pipinya.
" Iya dong...," sahut Aruna mantap sambil balas memeluk Kautsar hingga membuat kedua orangtua Kautsar bersorak bahagia.
" Alhamdulillah...," kata Hardini dan Ahmad bersamaan lalu tertawa.
" Kalo gitu Aku bikinin kopi sebentar ya...," kata Aruna yang diangguki Kautsar.
" Keliatannya Kita yang menang karena datang lebih dulu ya Bu...," kata Ahmad.
" Iya Yah...," sahut Hardini sambil mengekori Aruna.
" Emangnya Ayah janjian sama siapa...?" tanya Kautsar.
__ADS_1
" Pak Arka dan Bu Diana...," sahut Ahmad hingga membuat langkah Aruna terhenti.
" Papa sama Mama mau ke sini juga Bu...?" tanya Aruna antusias.
" Iya Nak. Mungkin mereka masih di jalan atau malah baru berangkat dari Jakarta...," sahut Hardini sambil mengusap punggung Aruna dengan lembut.
" Serius Bu...?" tanya Aruna.
" Iya...," sahut Hardini sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas hingga gadis itu tertawa.
" Kalo gitu Kita harus belanja Tsar. Di Rumah ga ada apa-apa lho...," kata Aruna sambil menoleh kearah suaminya.
" Ok Sayang...," sahut Kautsar.
" Emangnya Kalian ga pernah masak. Kok bisa ga ada apa-apa di rumah...?" tanya Hardini sambil mengecek lemari makan dan kulkas.
Aruna nampak kebingungan untuk menjawab. Karena nyatanya ia memang jarang memasak di rumah. Biasanya dia dan Kautsar hanya masak nasi. Sedangkan lauk mereka pesan atau beli di luar. Bahkan tak jarang mereka makan di luar karena Aruna terlalu sibuk mengerjakan tugas kuliah.
" Biasanya emang Kami belanja pas libur gini Bu. Kan Aruna masak buat lauk sehari-hari. Rencananya siang ini mau belanja bulanan sekalian makan siang di luar...," kata Kautsar sambil memeluk sang ibu.
Jawaban Kautsar membuat Aruna bernafas lega. Ia melirik Kautsar yang saat itu tengah menatap kearahnya. Kemudian Aruna tersenyum saat Kautsar mengedipkan sebelah matanya.
" Kirain Ibu Kamu ga pernah ngerasain masakan Aruna...," kata Hardini sambil menutup pintu lemari.
" Pernah lah Bu, sering malah. Masakan Aruna itu emang ga seenak masakan Ibu. Tapi Aku seneng karena dia mau berusaha masak walau pun sibuk...," sahut Kautsar sambil berbisik.
Hardini tertawa mendengar pengakuan Kautsar sedangkan Aruna lagi-lagi berterima kasih dalam hati karena Kautsar telah rela berbohong untuk menutupi kekurangannya.
Kemudian Hardini menoleh kearah Aruna yang saat itu tengah menyeduh kopi dan teh manis.
" Apa Kautsar sering bikin Kamu kesel Aruna...?" tanya Hardini.
" Kadang-kadang Bu...," sahut Aruna jujur.
" Pasti dia sering minta masakin ini itu sama Kamu ya...," kata Hardini sambil menahan tawa.
" Iya Bu. Aku ga ngerti bumbu dan cara masaknya. Walau pun udah liat di y**tube gimana cara masaknya, tetep aja ribet. Makanya kadang Aku beliin aja di luar...," sahut Aruna sambil nyengir hingga membuat Hardini tertawa.
Dalam hati Aruna mengutuk ucapannya yang terlalu fasih berbohong padahal apa yang ia ucapkan tak pernah terjadi. Kautsar bukan type suami yang rewel soal makanan, yang minta ini itu tanpa mengerti kondisi istrinya. Di dalam hati Aruna juga minta maaf kepada mertuanya karena sudah berbohong.
Sedangkan Kautsar yang berdiri di samping Hardini nampak tertawa puas mendengar kebohongan Aruna hingga membuat gadis itu merengut kesal.
\=\=\=\=\=
__ADS_1