Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
268. Bayangan Siapa ?


__ADS_3

Siang itu rumah kedua orangtua Alam terlihat ramai dengan warga. Rupanya ada pembagian sembako dan makanan dalam rangka memperingati seratus hari kematian Alam.


Para warga yang menerima pemberian orangtua Alam pun terlihat bahagia. Meski mereka tak mengenal almarhum Alam, namun mereka yakin jika Alam adalah pemuda yang baik. Sebagai ungkapan terima kasih, warga pun dengan suka hati mengucapkan sebaris doa untuk Alam dan kedua orangtuanya.


Banyaknya warga yang mendapat jatah sembako dan makanan membuat doa yang mengalir pun bertambah banyak.


Doa yang diberikan tanpa disadari telah melanggar perjanjian orangtua Alam dengan sang 'tuan'. Dan di saat bersamaan doa yang dilantunkan dengan tulus itu justru berimbas baik pada arwah Alam yang masih tertahan di Rumah Sakit.


Siang itu juga Aruna, Kautsar dan dokter Sheina berhasil mengantar arwah Alam menyebrang dan pergi ke tempat seharusnya.


Suasana haru pun tercipta saat arwah Alam mendapatkan bantuan berupa cahaya yang merupakan jelmaan doa tulus warga yang mengalir untuknya. Alam yang semula tertahan oleh sesuatu itu pun merasakan tubuhnya seperti lepas dan ringan. Pintu cahaya yang semula tertutup pun tampak terbuka lebar seolah siap menyambut kehadiran Alam.


" Aku melihat cahaya Aruna. Apakah itu artinya Aku bisa pergi sekarang...? " tanya arwah Alam dengan suara tercekat.


" Iya Alam. Kalo Kamu melihat lubang cahaya di atas sana itu artinya Kamu bisa pergi...," sahut Aruna.


" Kamu tau Aruna, Aku ga nyangka kalo pintu cahaya itu begitu terang. Warna-warni yang melingkupinya juga sangat indah. Lebih indah dari cahaya apa pun yang pernah Aku liat...," kata arwah Alam dengan mata berkaca-kaca.


" Iya Alam, Aku percaya itu. Sekarang pergi lah, waktumu tak banyak. Pergi lah dan jangan kembali...," pinta Aruna.


" Baik Aruna. Terima kasih telah bersedia membantuku dan mengungkap motif di balik kematianku. Aku ikhlas menerima semuanya Aruna. Sampaikan juga salamku untuk Suamimu...," kata arwah Alam.


" Sama-sama Alam. Aku dan Suamiku senang bisa membantumu...," sahut Aruna tersenyum sambil menautkan jemarinya dengan jemari Kautsar.


" Dan untuk dokter Sheina. Terima kasih telah membuatku bahagia dengan perhatian tulusmu. Andai bisa memilih waktu, Aku ingin bisa bersamamu hingga akhir hayat. Memilikimu dan menua bersamamu. Aku menyayangimu lebih dari yang Kau tau. Maaf jika kehadiranmu membuatmu tak nyaman...," kata arwah Alam dengan mata berkaca-kaca.


" Jangan katakan itu Alam. Aku bahagia bisa mengenalmu dan berbincang banyak hal denganmu. Andai Aku juga bisa memilih waktu, Aku ingin selalu bersamamu Alam. Melewati semuanya bersama dan Kupastikan Kamu ga akan kesepian...," sahut dokter Sheina dengan suara bergetar hingga membuat arwah Alam tersenyum.


" Senang rasanya mendengar ada seorang wanita yang menerima Aku dan bersedia bersamaku. Terima kasih dokter Sheina. Sekarang waktunya Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik dan selamat tinggal...," kata arwah Alam saat tubuhnya mulai dilingkupi cahaya.


" Selamat jalan Alam...," kata dokter Sheina sambil melambaikan tangannya.


Senyum tampak menghiasi wajah Alam. Cahaya yang melingkupi tubuhnya pun perlahan menarik Alam ke atas, terus ke atas dan semakin tinggi. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Alam tertarik ke dalam lubang cahaya itu dan lenyap di dalamnya.


" Alhamdulillah...," kata Aruna sambil menghela nafas panjang.


" Kenapa rasanya sangat ringan dan mudah ya Sayang, apa ada seseorang yang membantu Kita...?" tanya Kautsar sambil mengusap peluh di kening Aruna dengan telapak tangannya.

__ADS_1


" Mmm..., keliatannya ada yang mengirimkan doa untuk Alam. Yang Aku rasakan jumlahnya lebih dari satu. Mungkin itu yang membuat pekerjaan Kita terasa ringan dan mudah...," sahut Aruna.


" Syukur lah. Itu artinya banyak orang yang sayang dan peduli sama Alam selain dokter Sheina...," kata Kautsar sambil melirik kearah dokter Sheina yang sedang mengusap air mata yang menitik di pipinya.


" Apa Anda baik-baik aja dok...?" tanya Aruna sambil mendekati dokter Sheina.


" Aku gapapa Aruna. Aku senang mendengar banyak yang peduli sama Alam dan mendoakan dia. Karena ternyata itu bisa membantu Alam keluar dari sini lebih cepat. Walau jujur Aku merasa sedih karena harus kehilangan dia...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum kecut.


" Yah, sekarang Kita bisa tidur nyenyak karena Alam udah ada di tempat seharusnya...," kata Aruna.


" Kamu betul Aruna. Rasanya Aku juga perlu istirahat dan rileks sejenak. Mungkin setelah ini Aku akan pergi ke spa langgananku untuk melakukan beberapa treatment. Apa Kamu mau ikut Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Makasih atas tawarannya. Tapi maaf dok, Aku udah janji sama Suamiku untuk ikut kemana pun dia pergi hari ini...," sahut Aruna sambil menatap Kautsar dengan mesra.


Kautsar pun tersenyum lalu merengkuh bahu sang istri dengan lembut.


" Wah, Kalian selalu berhasil membuatku iri. Tapi gapapa, mungkin lain kali Kita bisa hang out bareng kan Aruna...?" tanya dokter Sheina.


" Insya Allah bisa dok...," sahut Aruna cepat hingga membuat dokter Sheina tersenyum.


Kemudian ketiganya keluar dari ruangan dokter Sheina dan berpisah di parkiran Rumah Sakit.


Rumah kedua orangtua Alam pun kembali sepi setelah pembagian sembako dan makanan usai. Para asisten rumah tangga juga baru saja selesai membereskan rumah. Setelah memastikan rumah kembali rapi dan bersih, mereka pun melangkah ke teras belakang untuk beristirahat.


Sedangkan di kamar terlihat kedua orangtua Alam sedang berbaring di atas tempat tidur. Keduanya terlihat sangat kelelahan.


" Ga nyangka acara pembagian sembako tadi berjalan lancar ya Yah...," kata ibu Alam.


" Iya. Aku senang karena semua warga yang datang kebagian dan keliatannya mereka bahagia menerima pemberian Kita tadi...," sahut ayah Alam.


" Mereka pasti bahagia dong Yah. Apa yang Kita kasih kan bisa menghemat pengeluaran mereka selama seminggu...," kata ibu Alam dengan bangga.


" Kamu betul Bu...," sahut ayah Alam sambil tersenyum puas.


Tiba-tiba obrolan kedua orangtua Alam terhenti. Mereka melihat bayangan beberapa orang berkelebat di balik jendela. Mereka bergegas bangkit dan saling menatap dengan bingung.


" Itu siapa Yah, kok banyak orang di samping rumah...?" tanya ibu Alam.

__ADS_1


" Ga tau Bu. Mungkin si Bibi lagi bersihin samping rumah...," sahut ayah Alam.


" Ga mungkin Yah. Bibi udah selesai daritadi kok. Coba liat siapa di sana Yah. Jangan-jangan ada maling...," kata ibu Alam panik.


Ayah Alam bergegas bangkit lalu mendekat kearah jendela. Karena tak melihat apa pun, ayah Alam pun membuka daun jendela.


Saat daun jendela terbuka, sebuah tangan mencekal tangan ayah Alam lalu menariknya keluar. Ayah Alam menjerit saking terkejutnya. Ibu Alam yang melihat suaminya ditarik keluar pun berusaha mengejar.


Dari balik jendela ibu Alam melihat suaminya tengah dipukuli oleh beberapa orang berpakaian hitam. Pria itu tak sempat menjerit lagi karena pukulan bertubi-tubi yang mendarat di wajah dan tubuhnya telah membuatnya jatuh pingsan.


Ibu Alam menyaksikan bagaimana tubuh suaminya diangkat dalam posisi terlentang lalu dihempaskan ke tanah dengan keras hingga terdengar suara berderak menandakan tulang punggungnya patah.


Ibu Alam menjerit keras bersamaan dengan darah yang muncrat keluar dari mulut sang suami. Setelahnya pandangan matanya menggelap dan tubuhnya pun merosot di lantai.


\=\=\=\=\=


Ibu Alam membuka matanya dan terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Tak jauh darinya terlihat sosok sang suami yang terbujur kaku tak bergerak.


Ibu Alam mengulurkan tangannya untuk menyentuh sang suami. Dengan hati-hati ia memalingkan wajah sang suami. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah sang suami yang telah hancur. Saat itu ibu Alam sadar jika sang suami tak lagi bernyawa.


" Kau sudah bangun rupanya...," sapa sebuah suara.


" Ada apa ini, siapa Kalian...?" tanya ibu Alam sambil menatap pria berjubah dan berpenutup kepala hitam itu dengan lekat.


" Kami ada di sini atas perintah Tuan untuk menjemput Kalian...," sahut pria berjubah hitam itu cepat.


" Apa salahku dan Suamiku...?" tanya ibu Alam.


" Kalian telah melanggar perjanjian. Ada doa dan nama Tuhan disebut saat acara pembagian sembako dan Tuan tak suka itu. Jadi Kalian harus membayar dengan nyawa Kalian...," sahut pria berjubah hitam itu.


Mendengar ucapan pria itu ibu Alam terkejut. Ia beringsut mundur. Pria berjubah hitam itu pun nampak menyeringai lalu melangkah cepat mendekati ibu Alam yang gemetar ketakutan. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sebilah parang lalu menyabetkannya ke leher ibu Alam.


Sedetik kemudian kepala ibu Alam jatuh menggelinding dan tubuhnya pun tersungkur ke lantai dengan leher bersimbah darah. Tak ada jeritan yang terdengar karena semua berlangsung sangat cepat.


Setelahnya pria berjubah hitam itu menoleh kearah barisan pria di belakangnya. Mereka mengangguk lalu mendekati tubuh tanpa kepala itu.


Sesaat kemudian para pria itu menyingkirkan jasad kedua orangtua Alam dari tempat itu dengan kasar. Sedangkan pria berjubah hitam nampak tersenyum puas sambil menjilati darah yang membasahi parang yang ada dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2