Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
26. Perubahan Aruna


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Ahmad, rombongan sekolah pun mengubah jadwal kepulangan lebih cepat dari yang seharusnya. Semua siswa nampak kecewa namun mereka pun berusaha maklum dengan keputusan itu.


“ Padahal belum puas di sini...,” kata salah satu siswa.


“ Iya. Cuma gara-gara Aruna si cewek aneh itu, Kita yang kena getahnya...,” sahut siswa lainnya.


“ Emang kenapa lagi sih dia. Ga di sekolah ga di sini, selalu aja bikin ulah. Dasar cewek aneh...,” gerutu siswa lainnya sambil mengemasi barang-barangnya.


Mika yang kebetulan melintas dan mendengar ucapan para siswa itu pun berhenti lalu berteriak marah sambil berkacak pinggang.


“ Kalian kalo ga tau sebabnya ga usah sotoy ya. Udah bagus ada aruna yang ngasih tau kalo tempat ini ga beres, jadi Kita bisa pulang lebih cepet. Coba kalo Aruna ga ngasih tau sama semua guru, bisa-bisa pulang dari sini Kita cuma tinggal nama doang alias mati tau ga. Mau Lo kaya gitu...?!” kata Mika lantang hingga mengejutkan para siswa yang sedang menggunjing Aruna.


“ Eh cewek error, maksud Lo apaan ngomong kaya gitu. Yang Gue bilang tadi bener kok. Gara-gara temen Lo yang aneh itu Kita jadi pulang lebih cepat. Harusnya Kita masih bisa sehari lagi di sini jadi bisa pulang bawa cerita seru. Kalo kaya gini apa yang mau diceritain...,” sahut siswa bertubuh tambun itu dengan ketus.


“ Oh Lo masih mau di sini. Ya udah silakan. Gue bisa bilang sama Pak Ahmad supaya nunda waktu pulang...,” kata Mika.


“ Emang Lo bisa...?” tanya siswa itu dengan sinis.


“ Bisa. Kita liat aja gimana reaksi Pak Ahmad nanti...,” sahut Mika sambil berlalu.


“ Dasar cewek jadi-jadian. Dibilang cewek tapi ga kaya cewek, dibilang cowok tapi kok bodynya mirip cewek...,” sungut seorang siswa hingga membuat teman-temannya tertawa.


Tapi sesaat kemudian tawa mereka terhenti karena Mika kembali dengan mengajak Ahmad bersamanya.


“ Mereka yang minta supaya nunda kepulangan Kita Pak...,” kata Mika sambil menunjuk kearah para siswa yang menolak pulang.


“ Kalian yakin masih mau di sini...?” tanya Ahmad.


“ Yakin dong Pak. Emang apa sih alasannya sampe Kita harus pulang sore ini Pak...?” tanya si tambun.


“ Pake pura-pura segala Lo, ini kan gara-gara si Aruna...,” sela salah satu siswa yang diangguki siswa lainnya.


“ Kalian benar. Kita pulang gara-gara Aruna ketemu sama hantu penunggu sungai yang katanya mau mampir malam ini ke sini lalu mengundang Kita ke rumahnya. Kalo Kita bertahan di sini malam ini, itu artinya Kita harus menyambut kedatangan hantu itu dengan tangan terbuka. Gimana, apa Kalian siap...?” tanya Ahmad dengan mimik serius hingga mengejutkan para siswa.


“ Wah kalo gitu mendingan Kita pulang sekarang aja Pak...,” sahut para siswa saling bersahutan


“ Lho kenapa ?. Bukannya Kalian mau ngerasain pengalaman yang sama kaya Aruna...?” tanya Ahmad.


“ Ga mau Pak...!” sahut para siswa bersamaan dengan wajah panik.


“ Ok. Kalo gitu Kalian cepat berkemas dan masuk ke bus sesuai nomor duduk Kalian...!” kata Ahmad sambil menahan tawa.


“ Siap Pak...!” sahut para siswa lalu bergegas melangkah menuju bus diiringi tatapan Ahmad dan Mika.


“ Makasih ya Pak karena udah mau bersihin nama Aruna...,” kata Mika dengan santun.


“ Sama-sama Mika. Sekarang Kamu juga masuk ke dalam bus ya...,” kata ahmad sambil tersenyum.


“ Baik Pak...,” sahut Mika lalu bergegas kembali ke dalam bus dimana Aruna, Sheila dan Noni duduk.


\=====


Setelah kembali ke rumah Aruna pun menceritakan pengalamannya kepada ummi Syarifah.

__ADS_1


“ Jadi Kamu ketemu siapa di sungai itu...?” tanya ummi Syarifah.


“ Aku ketemu seorang nenek yang lagi nyari ikan Ummi. Waktu aku deketin dia keliatan bingung karena ikan yang dia tangkap baru sedikit sedangkan hari udah menjelang Maghrib. Karena kasian Aku bantuin dia nangkepin ikan yang kebetulan berseliweran di deket kaki Aku...,” sahut Aruna.


“ Apa nenek itu cerita sesuatu...?” tanya ummi Syarifah.


“ Mmm..., dia cuma bilang kalo dia harus menjual ikannya itu ke pasar. Rencananya uang hasil penjualan ikan mau dibeliin daging sapi. Katanya sih anaknya itu bosan makan ikan dan pengen makan sate Ummi...,” sahut Aruna.


“ Gitu ya, apa dia ngasih sesuatu ke Kamu...?” tanya ummi Syarifah.


“ Iya Ummi. Dia ngasih lima ekor ikan mas besar. Terus sama Pak guru disuruh kirim ke dapur supaya bisa dimasak untuk lauk makan malam...,” sahut Aruna.


Jawaban Aruna membuat ummi Syarifah tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengusap kepala Aruna dengan lembut.


“ Alhamdulillah, itu artinya dia suka sama Kamu Nak...,” kata ummi Syarifah sambil tersenyum.


“ Emang siapa dia sebenarnya Ummi...?” tanya Aruna.


“ Dia makhluk halus penunggu sungai Nak. Biasanya dia berdiam di goa yang ada di sekitar sungai itu...,” sahut ummi Syarifah.


Jawaban ummi Syarifah membuat Aruna terkejut sekaligus mengerti dan mengaitkannya dengan cerita ketiga temannya tentang gua yang mereka masuki kemarin.


\=====


Sejak pertemuannya dengan Matilda dan George, hidup Aruna makin berwarna. Meski pun Matilda dan George hanya menampakkan diri sesekali, namun Aruna tahu jika sepasang suami istri itu selalu berada di sekitarnya.


Aruna memang dekat dengan ummi Syarifah dan selalu menceritakan apa pun pengalaman spiritual yang dialami. Namun entah mengapa Aruna enggan menceritakan pertemuannya dengan Matilda dan George. Aruna merasa jika kehadiran dua makhluk berbeda jenis itu masih misteri untuknya.


Padahal tanpa Aruna sadari, mulutnya selalu terkunci dan pikirannya terbang entah kemana tiap kali ia akan menceritakan tentang Matilda dan George kepada sang guru.


“ Belum saatnya Sayang. Aruna masih terlalu muda untuk tahu jati dirinya yang sebenarnya. Dia akan sulit menceritakan itu dan justru malah salah paham nanti...,” sahut George.


“ Salah paham gimana Sayang...?” tanya Matilda tak mengerti.


“ Dia bakal berpikir kalo Kita ini sama dengan makhluk halus yang sering dia temui, padahal Kita kan jelas berbeda. Saat akil baligh ia akan mengalami perubahan seperti Kita sedikit demi sedikit. Tugas Kita hanya menjaganya tetap aman saat dia berubah dan mengarahkannya supaya ga salah jalan...,” sahut George.


“ Aruna bakal berubah di purnama depan ini Sayang...?” tanya Matilda tak sabar.


“ Iya...,” sahut George cepat sambil tersenyum penuh makna.


“ Aku ga sabar menanti hari itu. Selama ini Kita hanya menjaga anak laki-laki dari keturunan klan Kita. Tapi kali ini menjaga sosok anak perempuan cantik yang juga punya kemampuan supra natural merupakan hal istimewa bagiku...,” kata Matilda sambil tersenyum.


“ Apa bedanya sih, mereka kan sama aja Sayang...,” kata George.


“ Tentu beda dong Sayang. Anak perempuan itu manis dan lucu. Apalagi saat mereka pake baju yang beraneka bentuk dan warna lengkap dengan aksesorisnya. Wuiihh..., itu bikin Aku bahagia banget...,” sahut Matilda antusias.


“ Jadi ingat ke masa Kamu muda dulu ya...,” kata George ikut tersenyum.


“ Iya...,” sahut Matilda malu-malu.


“ Kamu memang cantik Matilda. Dari dulu sampe sekarang, dimataku Kamu selalu cantik...,” puji George sambil menggosokkan tubuh serigalanya ke tubuh Matilda.


“ Makasih Sayang. Tapi karena kecantikanku itu membuatku terlena dengan rayuan Dani. Dan gara-gara dia Aku ga bisa memiliki Anak...,” kata Matilda sendu.

__ADS_1


“ Jangan sebut nama itu lagi Matilda, Aku ga suka...!” sahut George gusar.


“ Maafkan Aku George, maaf...,” kata Matilda sambil memeluk erat suaminya yang kini berwujud serigala itu.


“ Lupakan semuanya, Kita harus bahagia sekarang. Dia sudah menerima karmanya kan...?” tanya George lembut yang disambut anggukan kepala Matilda.


Untuk sesaat keduanya larut dalam suasana mengharu biru. Namun mereka kembali fokus mengawasi Aruna saat melihat gadis itu keluar dari rumah. Terlihat Diana yang sedang menasehati Aruna yang mendorong sepeda kesayangannya keluar rumah. Sedangkan Aruna nampak manggut-manggut mendengarkan petuah sang mama. Hal itu membuat Matilda dan George tertawa karena Aruna terlihat lucu dan menggemaskan saat itu.


“ Siap Mama. Udah belum nih ngomongnya, kalo udah Aku berangkat ya...,” kata Aruna dengan mimik lucu.


“ Ck, Kamu tuh sama banget sih kaya Papa Kamu. Kalo Mama lagi ngomong serius pasti langsung cabut...,” sahut Diana sambil berdecak sebal.


“ Bukan gitu Mama. Aku udah telat nih, ga enak kan sama temanku...,” kata Aruna.


“ lya iya, hati-hati di jalan...,” sahut Diana sambil tersenyum kecut.


“ Makasih Ma, Assalamualaikum...,” kata Aruna lalu mengayuh sepedanya dengan cepat.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Diana sambil menatap kepergian Aruna lalu menggelengkan kepalanya.


Sedangkan George dan Matilda pun ikut melesat cepat kearah kepergian Aruna tanpa sepengetahuan Diana.


\=====


Malam itu langit nampak terang dihiasi bintang dan bulan purnama yang berwarna keemasan. Terlihat cantik dan


menenangkan.


Arka terlihat mengendarai mobil meninggalkan rumah bersama Diana di sampingnya. Sedangkan Aruna tinggal di rumah karena harus mengerjakan tugas sekolah.


“ Kami ga lama kok, sebentar juga pulang...,” kata Diana saat melihat Aruna menutup pintu pagar.


“ Janji ya Ma, ga lama-lama...,” sahut Aruna dengan mimik kesal.


“ Insya Allah. Mana ada sih kondangan sampe semalaman. Paling lama satu jam...,” kata Diana.


“ Kalo ntar Papa sama Mama ketemu teman lama pasti lama juga kan akhirnya...,” sahut Aruna.


“ Oh, kalo itu pengecualian...,” kata Diana sambil tersenyum.


“ Mama...,” rengek Aruna hingga membuat Arka tertawa.


“ Iya iya. Udah sana kerjain PRnya. Assalamualaikum...,” kata Arka dan Diana bersamaan.


“ Iya, wa alaikumsalam...,” sahut Aruna lirih lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamarnya aruna terlihat gelisah. Sesekali Aruna mondar mandir sambil memegangi tengkuknya. Ada rasa haus yang amat sangat juga rasa sakit di sekujur tubuhnya. Saat tak sengaja menoleh kearah cermin Aruna terkejut bukan kepalang.


Perlahan Aruna mendekati cermin untuk memastikan jika pantulan di cermin itu bukan lah dirinya. Aruna melihat


wajahnya yang berbeda. Ada bulu halus yang tumbuh memenuhi wajahnya hingga ke leher. Aruna juga melihat bentuk kepalanya yang aneh. Dari sela bibirnya Aruna melihat gigi taring yang menyembul keluar. Aruna membuka mulutnya untuk melihat gigi taringnya itu. Betapa terkejutnya Aruna saat melihat semua gigi di dalam mulutnya kini berupa gigi tajam runcing seperti binatang buas.


Aruna menjerit tertahan sambil mundur beberapa langkah ke belakang. Jeritan Aruna terdengar oleh George dan

__ADS_1


Matilda yang selalu berada tak jauh darinya. Keduanya segera mendatangi Aruna. Mereka nampak mengawasi Aruna di ambang jendela yang tiba-tiba terbuka itu dengan tatapan tajam dan penuh harap.


Bersambung


__ADS_2