Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
177. Mencari Raga


__ADS_3

Dian dalam raga Lian tersentak kaget saat menyadari cara sang dukun menatapnya. Ia merasa jika sang dukun juga tengah menginginkan raga Lian.


Dian pun mundur beberapa langkah ke belakang hingga membuat sang dukun tertawa.


" Kamu takut Dian...?" tanya sang dukun di sela tawanya.


" Ga Kek...," sahut Dian cepat.


" Kalo ga takut, kenapa Kamu mundur sejauh itu. Apa Kamu pikir Aku akan melakukan itu juga sama raga yang Kamu pinjam ini...?" tanya sang dukun.


Dian terdiam namun dalam hati ia tak rela jika sang dukun merusak raga Lian. Bagaimana pun Dian punya banyak harapan pada raga Lian yang ia pinjam itu.


Dian ingin suatu saat bisa menikah dan mempersembahkan kesuciannya pada suaminya. Sebuah keinginan yang mulia namun sayangnya tak diimbangi perilaku yang baik.


Sang dukun yang bisa membaca pikiran Dian pun tertawa terbahak-bahak hingga membuat Dian bingung.


" Kenapa Kakek tertawa...?" tanya Dian tak suka.


" Kamu ingin melakukan itu pertama kali dengan seorang laki-laki yang menikahimu kelak. Bukan kah begitu...?" tanya sang dukun.


" Betul. Apa itu salah...?" tanya Dian.


" Ga salah. Tapi terdengar aneh...," sahut sang dukun.


" Apanya yang aneh. Mempersembahkan kesucian pada suami yang sah adalah sebuah kebanggaan. Dan Kalian kaum laki-laki, sebrengs*k apa pun Kalian, Kalian juga pasti ingin mendapati istri Kalian masih peraw*an di malàm pertama. Iya kan...?" tanya Dian sinis.


" Itu betul. Tapi bukan itu maksudku...," kata sang dukun.


" Lalu apa maksud Kakek...?" tanya Dian tak mengerti.


" Maksudku, apa Kau yakin jika raga ini masih suci. Bukan kah saat bertemu dengannya Kau melihatnya tinggal di rumah bagus dengan perabotan lengkap. Apa Kamu ga pernah berpikir darimana dia mendapatkan semuanya. Apakah Kamu pernah berpikir jika dia mendapatkan semuanya karena dia telah menjadi simpanan laki-laki kaya...?" tanya sang dukun mencoba memprovokasi Dian.


Dian nampak termenung sejenak. Dalam hati ia mengiyakan kecurigaan sang dukun. Selama ini Dian tak pernah tahu darimana harta kekayaan yang Lian miliki. Namun Dian tak ingin tahu dan tak peduli. Yang penting bagi Dian adalah dia pemilik semua harta itu sekarang.

__ADS_1


Sementara ruh Lian yang juga mendengar ucapan sang dukun pun nampak marah. Ia meluapkan kemarahannya dengan mendorong pintu hingga pintu terbuka lebar. Dian dan sang dukun nampak terkejut lalu menoleh kearah pintu.


" Kenapa pintu itu terbuka. Apa Kau tak mengunci pintu...?" tanya sang dukun.


" Mana Ku tau. Aku udah kunci pintu tadi. Mungkin pintu itu ditiup angin...," sahut Dian asal.


" Tak ada angin yang bisa membuka pintu sekencang itu Dian...!" kata sang dukun gusar.


Dian pun mendelik kesal. Sambil menutup pintu, Dian mengatakan sesuatu yang membuat sang dukun kesal.


" Ga usah teriak Kek. Aku ga tuli. Biar Aku tutup pintu itu dan Kita selesaikan ritualnya. Setelah itu Aku harus kembali ke ru...," ucapan Dian terputus saat sang dukun membekap mulutnya.


Tiba-tiba Dian merasa kepalanya sangat pening dan pandangannya menghitam. Sesaat kemudian Dian jatuh pingsan dalam pelukan sang dukun. Melihat Dian jatuh pingsan sang dukun tertawa senang. Kemudian dia membaringkan raga Lian di samping jasad Dian.


Melihat raganya dibaringkan seperti itu ruh Lian pun menoleh kearah Aruna.


" Apalagi yang Kamu tunggu Aruna !. Dukun itu akan memanfaatkan tubuhku untuk memuaskan hasratnya. Aku ga rela Aruna, sampai mati ke seribu kali pun Aku ga rela...!" kata ruh Lian lantang.


Kautsar yang berdiri siaga di samping Aruna pun nampak berusaha sabar melihat aksi sang dukun yang mulai memantrai kedua wanita yang berbaring di hadapannya itu.


" Sekarang Kautsar...!" kata Aruna yang disambut Kautsar dengan tendangan keras di pintu.


Sang dukun nampak terkejut saat mengetahui pintu rumahnya hancur berkeping-keping. Ia nampak bingung lalu menoleh kearah Kautsar yang berdiri gagah di ambang pintu. Ia makin terkejut saat melihat kehadiran Aruna di belakang Kautsar.


" Lancang sekali Kalian, masuk ke rumahku tanpa permisi...!" hardik sang dukun sambil menutupi tubuh Dian dan Lian dengan selimut.


" Tak perlu sopan santun masuk ke rumah dukun mes*m sepertimu Pak Tua...," sahut Kautsar santai sambil tersenyum sinis.


" Kurang ajar. Kau bosan hidup rupanya...!" kata sang dukun lalu mulai menyerang Kautsar dengan jurus mematikan.


Meski pun tubuh renta dan usianya terbilang sepuh, namun sang dukun masih bisa bergerak dengan lincah. Karenanya Kautsar tak segan meladeni aksi sang dukun.


Sementara itu Aruna berhasil menyelinap masuk ke dalam ruangan bersama ruh Lian. Kini keduanya tengah berada di samping tubuh Lian dan Dian.

__ADS_1


" Apa yang terjadi Aruna...?" tanya ruh Lian sambil menatapi raganya dan jasad Dian yang tanpa busana itu bergantian.


" Tolong jangan ganggu konsentrasiku Lian...," pinta Aruna.


Ruh Lian mengangguk lalu menjauh dari Aruna. Ia membiarkan Aruna menyelesaikan tugasnya. Sambil menunggu, ruh Lian menoleh kearah Kautsar dan sang dukun yang tengah terlibat pertarungan seru.


Ruh Lian nampak menyunggingkan senyum saat melihat posisi Kautsar jauh di atas angin. Jika mau Kautsar bisa saja mengakhiri pertarungan itu. Tapi nampaknya Kautsar sengaja mengulur waktu untuk mengalihkan perhatian sang dukun dari Aruna.


Di depan raga Lian Aruna nampak berdzikir sambil mengulurkan tangannya. Ujung jemari Aruna menyentuh kening raga Lian dan jasad Dian bersamaan hingga terdengar bunyi seperti suara besi panas yang dimasukkan ke dalam air.


Dari tempatnya berdiri ruh Lian bisa menyaksikan kening Lian dan Dian sama-sama terluka. Hanya bedanya jika jasad Dian masih bisa kembali utuh, sedangkan kening raga Lian nampak melesak ke dalam dan menimbulkan bau busuk.


" Ini lah wujud asli Kalian sekarang...," kata Aruna sambil menjauhkan jemarinya dari jasad Dian dan Lian.


Di tempatnya berdiri ruh Lian merasa keningnya sakit bukan kepalang. Saking sakitnya sampai ruh Lian bersimpuh di lantai.


Sementara itu sang dukun yang sadar jika telah terjadi sesuatu pada raga Lian dan Dian pun nampak gusar. Kini ia berbalik menyerang Aruna.


" Hentikan anak bod*h...!" maki sang dukun sambil melesat cepat kearah Aruna.


Sayangnya langkah sang dukun terhenti karena terhalang oleh Kautsar. Sang dukun terpaksa harus berhadapan dengan Kautsar yang kini berbalik menyerangnya.


Di depan sana terjadi keanehan usai Aruna menyentuh kening Lian dan Dian. Pendaran warna warni memenuhi ruangan disertai suara mendengung yang memekakkan telinga.


Sang dukun melompat mundur menjauhi Kautsar. Sedangkan Kautsar langsung merangsek maju melindungi Aruna dari sesuatu yang tak ia mengerti.


" Apa ini Aruna ?. Apa ga sebaiknya Kita pergi dari sini...?" tanya Kautsar.


" Gapapa. Ini prosesnya Tsar. Kita harus di sini mengawal ruh Lian agar kembali ke asalnya...," sahut Aruna.


Tiba-tiba Aruna melihat ruh Lian dan Dian terhisap ke langit-langit ruangan selama beberapa saat, setelahnya kedua ruh itu melesat ke sana kemari seolah mencari 'wadah' aslinya. Dan saat itu terjadi sang dukun menggeram marah lalu menjerit histeris.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2