Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
33. Rahasia Kalisha


__ADS_3

Aruna masih berdiri berhadapan dengan hantu pria tanpa kepala itu di tengah trotoar. Ia nampak bingung bagaimana cara membantu pria itu.


“ Nama Bapak siapa...?” tanya Aruna.


“ Namaku Komar...,” sahut hantu pria itu sambil meletakkan kembali kepalanya di atas tubuhnya.


Melihat wajah Komar yang tampak kesakitan membuat Aruna iba. Ia yakin jika Komar telah mengalami penyiksaan sebelum tewas. Saat Aruna hendak bertanya lagi tentang jati diri Komar, tiba-tiba George dan Matilda mendatanginya.


“ Kenapa masih di sini Sayang...?” tanya Matilda dengan suara lembut.


“ Eh, Tante. Aku lagi ngobrol sama bapak ini...,” sahut Matilda.


“ Untuk apaAruna, Kamu kan ga kenal sama dia...,” kata Matilda dengan mimik wajah tak suka.


“ Sebaiknya Kamu pulang sekarang Aruna, ini udah terlalu larut untukmu...,” kata George mengingatkan.


“ Tapi...,” ucapan Aruna terputus saat George mendekat kearahnya.


“ Sekarang Aruna...,” kata George tegas sambil menggeram marah.


Karena tak ingin membuat George lebih marah lagi, Aruna pun bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan hantu pria itu begitu saja. George dan Matilda pun berlalu setelah menyuruh hantu pria itu pergi.


\=====


Aruna tiba di rumah dengan selamat. Sambutan hangat Diana dan Arka membuat Aruna merasa nyaman. Sebelumnya Aruna memang telah memberitahu sang mama jika ia tengah membantu mempertemukan keluarga Deon.


“ Pasti capek banget ya Nak...,” kata Diana sambil membelai kepala Aruna dengan sayang.


“ Banget, tapi Aku seneng Ma...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Sebaiknya mandi pake air hangat ya Nak, kalo udah makan terus istirahat...,” kata Arka.


“ Siap Pa. Apa Papa sama Mama udah makan...?” tanya Aruna.


“ Kami ga bisa makan dengan tenang kalo Kamu belum sampe rumah Aruna. Makanya please cepetan mandinya, abis itu Kita makan bareng ya. Mama udah lapar banget nih...,” kata Diana dengan mimik sedih.


“ Ok Mama Sayang, tunggu sebentar ya. Aku bakal kembali sepuluh menit lagi...,” sahut Aruna lalu bergegas menutup pintu kamar.


“ Mandi apaan sepuluh menit...,” gumam Arka sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat Diana tertawa.


\=====


Malam harinya Aruna didatangi hantu Komar dalam mimpinya. Aruna seolah dipaksa menyaksikan sebuah peristiwa yang sangat mengenaskan. Di sana ia melihat Komar sedang berlari seperti tengah menghindari sesuatu. Seluruh tubuh Komar basah dengan peluh, wajahnya pun pucat pasi.


Komar berhenti berlari di suatu tempat karena kelelahan. Kemudian ia bersembunyi di balik sebuah batu besar. Nampaknya orang atau sesuatu yang mengejar Komar kehilangan jejak, hingga Komar bisa sedikit bernafas lega dan beristirahat sejenak.

__ADS_1


Karena kelelahan Komar pun tertidur. Nafasnya nampak teratur dan tenang untuk beberapa waktu. Namun tiba-tiba nafas Komar seperti memburu, ia merasa sangat sulit bernafas seolah ada sesuatu yang mencekal aliran nafasnya hingga memaksa Komar membuka matanya.


Komar nampak mematung dengan mata membelalak saat menyaksikan sosok yang tengah mencekik lehernya. Di hadapan Komar tengah berdiri sosok manusia serigala yang nampak menyeringai lapar. Rupanya sosok makhluk jadi-jadian itu lah yang mengejar Komar sejak tadi. Komar menggelengkan kepalanya sambil berusaha menaraik tangan makhluk itu dari lehernya namun sia-sia.


“ Ja... jangan...,” kata Komar dengan suara terputus-putus.


“ Aarrgghhh...,” sahut manusia serigala itu.


“ Ingat lah siapa Aku dan apa yang telah Kita lakukan bersama selama ini...,” kata Komar menghiba.


Manusia serigala itu nampak tersentak lalu mengendurkan cekikannya. Diantara ambang batas kesadarannya ia seolah sedang berusaha mengingat siapa Komar. Ia terdengar melenguh seperti meminta maaf pada Komar lalu perlahan melepaskan cekalannya di leher Komar. Kemudian ia membalikkan tubuhnya lalu perlahan melangkah meninggalkan Komar.


Namun saat makhluk itu menjauh datang lah sosok manusia serigala lainnya hingga membuat Komar yang hampir bangkit pun kembali terjengkang. Manusia serigala yang nampaknya berusia lebih muda dari manusia serigala pertama tadi langsung menerkam tubuh Komar.


Komar menjerit saat manusia serigala muda itu menyerangnya tanpa ampun. Manusia serigala yang sudah melangkah menjauhi Komar pun terkejut dan membalikkan tubuhnya saat mendengar jeritan Komar. Ia terpaku di tempatnya saat melihat tubuh Komar terangkat ke atas. Rupanya manusia serigala muda itu telah mencekal leher Komar lalu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi hingga Komar mengejang dengan kaki dan tangan menggapai ke udara.


Manusia serigala pertama pun berlari cepat kearah Komar karena bermaksud menyelamatkan pria itu. Sayangnya ia kalah cepat dari manusia serigala muda yang tengah mencekal leher Komar. Manusia serigala muda dengan beringas menancapk gigi-gigi taringnya ke leher Komar hingga membuat tubuh pria itu bergetar hebat. Manusia serigala muda itu nampak menyesap habis darah dalam tubuh Komar tanpa ampun.


Manusia serigala pertama berusaha merebut tubuh Komar hingga terjadi lah tarik menarik antara dua manusia serigala berbeda usia itu. Komar yang sekarat nampak menatap serigala muda yang tengah beringas itu dengan tatapan sendu. Kerasnya tarikan dua manusia serigala itu membuat luka di leher Komar makin menganga lebar. Sebelum nyawanya pergi Komar masih bisa melihat anak perempuan yang ia cintai yaitu Kalisha. Namun hanya sejenak, karena detik berikutnya leher Komar terdengar berderak menandakan tulang lehernya patah. Dan sesaat kemudian kepala Komar terlepas dari tubuhnya.


Aruna menjerit tertahan lalu terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu itu. Aruna mengucap istighfar berulang kali untuk meredakan rasa takutnya.


“ Astaghfirullah aladziim..., ya Allah itu mimpi kan. Kalisha, itu Kalisha kan. Kenapa ada dia di sana...?” gumam Aruna gusar.


Sambil duduk di atas tempat tidur Aruna meraih gelas berisi air lalu meneguk isinya hingga tandas. Setelahnya Aruna menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“ Sayang lagi M, kalo ga pasti bisa sholat malam biar minta petunjuk sama Allah...,” gumam Aruna sambil memejamkan mata.


\=====


Keesokan harinya Aruna pergi sekolah seperti biasa. Saat tiba di kelas Aruna sengaja mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari seseorang.


“ Cari siapa Run, Gue ya...?” tanya Bagus percaya diri.


“ Ge er aja Lo, Gue ga cari siapa-siapa kok...,” sahut Aruna sambil melangkah menuju mejanya.


“ Jujur aja kenapa sih Run. Lo malu ya kalo ketauan naksir sama Gue...?” tanya Bagus sambil mengekori Aruna.


“ Ya Allah, harus berapa kali sih Gue bilang sama Lo Bagus yang paling bagus sedunia. Gue ga naksir sama Lo...!” kata Aruna kesal namun berhasil membuat Bagus sang ketua kelas tertawa.


Saat Aruna tengah menghadapi tingkah Bagus yang ajaib itu, Kalisha pun nampak melangkah memasuki kelas. Aura kelas yang semula hangat dan ceria tiba-tiba berubah gelap dan dingin. Semua mata menatap Kalisha dengan tatapan bingung . Sedangkan Kalisha nampak menatap ke satu titik dengan fokus. Yah, arah tatapan Kalisha tertuju kepada Aruna.


Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Aruna nampak tenang sedangkan Kalisha nampak mengobarkan permusuhan melalui sikap dan tatapannya itu. Beruntung bel tanda mulai pelajaran pun berbunyi hingga keduanya tak harus bersinggungan. Kalisha duduk di kursinya sedangkan Aruna nampak menghela nafas lega. Bagus sang ketua kelas pun nampak tersenyum bahagia karena tak harus terlibat dalam urusan dua teman wanitanya itu.


Jam istirahat pun tiba. Kalisha sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menghampiri Aruna. Entah mengapa Kalisha masih kesal dan tak suka akan sikap Aruna di kantin kemarin. Aruna pun nampak santai. Ia sengaja menunggu kelas sepi karena ia juga ingin bicara dengan Kalisha sesuai nasehat Noni kemarin.

__ADS_1


“ Gue mau ngomong sama Lo Aruna...!” kata Kalisha lantang.


“ Sama, Gue juga...,” sahut Aruna santai hingga membuat Kalisha tersenyum sinis.


“ Apa mau Lo sebenernya Aruna...?!” tanya Kalisha sambil berjalan menghampiri Aruna yang tengah berdiri siaga di


tempatnya.


“ Ga terbalik ya Kal. Harusnya Gue yang nanya kaya gitu sama Lo. Apa mau Lo sampe terus menerus mengganggu Gue, ga capek ya tiap hari selalu bikin ulah. Asal Lo tau ya Kal, temen-temen tuh muak ngeliat tingkah Lo yang ga jelas itu...,” kata Aruna sambil menatap Kalisha dengan tatapan tajam.


“ Gue ga peduli...,” sahut Kalisha ketus hingga membuat Aruna bertambah kesal.


“ Terus sekarang mau Lo apa...?” tanya Aruna.


“ Gue mau makan Lo Aruna. Kayanya mengoyak daging Lo, mengunyahnya pelan-pelan dan meminum darah Lo tuh menyenangkan dan bikin Gue puas...,” sahut Kalisha sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna hingga nafasnya keduanya bisa saling menerpa wajah masing-masing.


Mendengar ucapan Kalisha membuat Aruna tertawa geli dan itu membuat Kalisha kesal.


“ Lo yakin mau ngelakuin itu Kalisha...?” tanya Aruna di sela tawanya.


“ Iya, Lo ga percaya kan kalo Gue bisa ngelakuin itu...?” tanya Kalisha dengan sinis.


“ Percaya...,” sahut Aruna cepat.


“ Oh ya, kenapa...?” tanya Kalisha.


“ Karena orang yang udah sanggup melukai Ayahnya pasti juga sanggup melukai orang lain...,” sahut Aruna sambil menatap Kalisha lekat hingga membuat gadis itu terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang.


“ A... apa maksud Lo Aruna...?” tanya Kalisha gugup.


“ Lo pasti paham maksud Gue Kalisha...,” sahut Aruna sambil bersiap melangkah keluar dari kelas.


“ Gue ga paham apa maksud Lo...!” kata Kalisha lantang.


“ Sssttt..., ga usah teriak-teriak. Ntar Lo malu. Sekarang jauhi Gue atau Gue ga akan segan mengungkap kejahatan yang udah Lo lakuin ke Pak Komar...,” sahut Aruna sambil menatap Kalisha dengan tatapan setajam elang.


Jawaban Aruna membuat tubuh Kalisha menegang. Kalisha nampak mengepalkan tangannya dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Kepanikan jelas terlihat di wajah Kalisha dan itu membuat Aruna tersenyum penuh kemenangan.


Aruna melangkah keluar kelas dengan santai. Saat tiba di luar kelas, semua teman sekelas Aruna tengah berkerumun seolah menunggu apa yang akan terjadi antara Aruna dan Kalisha.


“ Hei bubar... bubar. Ga ada apa-apa di sini. Jajan sana, hush... hush...!” usir Bagus dengan lantang.


Aruna tersenyum saat semua temannya membubarkan diri satu per satu sesuai instruksi sang ketua kelas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2