
Jika makhluk hitam dalam mimpi Aruna itu terkejut mendengar ucapan Pipit, Aruna justru tampak tersenyum senang.
Aruna pun mulai berdzikir dan itu membuat makhluk itu panik. Makhluk itu merasa udara di sekitarnya terasa panas. Ia menjauhi Pipit lalu berdiri sambil menatap gadis cilik itu dengan seksama.
Merasa tak ada pergerakan dari makhluk di hadapannya, Pipit pun menurunkan kedua lengan yang tadi ia gunakan menutupi kepala. Pipit memberanikan diri menatap makhluk hitam bertanduk tiga itu. Sayup-sayup Pipit mendengar suara lantunan dzikir dan sholawat. Dan dengan mudahnya Pipit mengikuti alunan dzikir dan sholawat yang Aruna baca itu. Bahkan Pipit nampak terhibur dengan lantunan sholawat yang dibawakan dengan irama tertentu itu dan tentu saja Aruna pun bahagia melihatnya.
Perlahan mimpi itu berakhir bersamaan dengan kecupan Sayang Kautsar yang mendarat di kening Aruna.
" Maaf ya kelamaan nunggunya...," bisik Kautsar hingga membuat Aruna terbangun.
" Gapapa. Apa Kamu udah selesai...?" tanya Aruna.
" Udah. Kita pindah ke kamar ya...," kata Kautsar yang diangguki Aruna.
Kemudian Kautsar menggendong Aruna dan membawanya ke kamar tidur mereka. Aruna nampak tersenyum dan itu membuat Kautsar penasaran.
" Senyum-senyum terus daritadi. Mimpi apa sih Sayang...?" tanya Kautsar.
" Kok Kamu tau kalo Aku tadi mimpi...?" tanya Aruna sambil mengerutkan keningnya.
" Tau dong. Waktu Aku deketin, Kamu lagi tersenyum sambil menggumam walau ga jelas apa yang Kamu ucapin. Tapi mata Kamu tetap terpejam...," sahut Kautsar sambil meletakkan tubuh Aruna di atas tempat tidur.
Aruna tersenyum lalu menceritakan mimpinya kepada sang suami.
" Kasian ya...," kata Kautsar.
" Iya. Tapi beruntung dia bisa dzikir dan sholawat jadi dia ga jadi diterkam sama makhluk itu...," sahut Aruna.
" Bukannya Kamu bilang Pipit juga udah digigit sama mahkluk itu...?" tanya Kautsar mengingatkan Aruna.
" Iya. Mungkin saat itu Pipit lagi ga waspada. Makanya makhluk itu dengan mudah menggigitnya..., " sahut Aruna.
" Kalo kaya gini ceritanya Aku jadi ga tenang ngelepasin Kamu untuk membantu arwah Pipit itu lho Sayang...," kata Kautsar.
" Kok gitu...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Coba Kamu pikir deh. Makhluk itu kan suka sama anak-anak. Korbannya sebagian besar anak-anak. Dan saat ini Kamu sedang mengandung. Bukannya itu sama aja kalo Kamu mengantarkan nyawa anak Kita...?" tanya Kautsar hati-hati.
Aruna tersentak lalu menatap Kautsar. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Tak ada yang bicara. Keduanya membisu dan mencoba berpikir untuk mencari solusi.
" Biar Kamu ga khawatir, Aku bakal minta Om George dan Tante Matilda untuk nemenin Aku nanti...," kata Aruna akhirnya.
" Kalo Kamu ditemenin sama mereka Aku bakal ijinin Kamu pergi...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ok. Makasih Sayang...," kata Aruna sambil mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.
" Sama-sama Sayang...," sahut Kautsar sambil balas memeluk Aruna.
\=\=\=\=\=
Sore itu George dan Matilda nampak menunggu di teras rumah Aruna. Kali ini mereka sengaja datang bertamu layaknya manusia normal. Aruna dan Kautsar yang baru tiba pun nampak tersenyum bahagia melihat kehadiran mereka.
" Assalamualaikum...! " sapa Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Wa alaikumsalam...," sahut Matilda dan George bersamaan sambil tersenyum.
" Hai anak-anak, apa kabar...?" tanya Matilda sambil tersenyum.
Matilda dan George pun berdiri dari posisi duduk mereka. Sedangkan Aruna nampak bergegas turun dari motor untuk menghampiri Matilda dan George.
" Alhamdulillah baik Tante...," sahut Aruna sambil menghambur ke pelukan Matilda.
Kautsar pun melakukan hal yang sama. Ia mendekati George dan memeluknya dengan erat.
" Ajak Om dan Tante masuk ke rumah dong Sayang...," kata Kautsar mengingatkan sang istri.
" Oh iya. Maaf sampe lupa saking kangennya. Ayo Om, Tante. Silakan masuk...," kata Aruna.
George dan Matilda pun tertawa melihat sikap gugup Aruna.
" Kalo Aruna nekad bantuin arwahnya Pipit, apa itu ga bahaya buat Aruna dan bayi Kami nanti Om...?" tanya Kautsar hati-hati.
" Sebenernya cukup berbahaya juga Nak. Apalagi makhluk itu sangat suka sama darah anak-anak. Dan darah bayi adalah makanan istimewa untuk makhluk itu...," sahut George.
" Terus gimana dong Om...?" tanya Aruna panik.
" Kami akan dampingi Kamu menghadapi makhluk itu Aruna...," sahut Matilda yang diangguki George.
Kautsar dan Aruna pun nampak bahagia mendengar ucapan Matilda. Kini Kautsar bisa dengan tenang melepas istrinya membantu arwah Pipit.
" Apa Kamu ga bisa ikut Nak...?" tanya Matilda sambil menatap Kautsar.
" Sebenernya Aku mau ikut Tante, tapi sayangnya Aku ada kerjaan di luar kota. Kalo waktunya ga berbenturan insya Allah Aku bakal bantuin. Sekarang Aku ga akan khawatir lagi kalo Aruna ditemenin sama Om dan Tante...," sahut Kautsar dan itu membuat Matilda maklum dengan kecemasan Kautsar.
Tiba-tiba ponsel Kautsar berdering, Kautsar pun memberi kode untuk menerima panggilan telephon itu lalu menyingkir ke dalam ruang kerja untuk mengecek pekerjaannya. Aruna, George dan Matilda pun melanjutkan perbincangan mereka dengan santai.
" Sebenernya Kami punya info, mungkin tak terlalu penting untukmu tapi Kami harus menyampaikan ini Nak...," kata George setelah meneguk kopi yang disuguhkan Aruna.
__ADS_1
" Oh ya. Apa itu Om...?" tanya Aruna penasaran.
" Ternyata Luluk dan Usi adalah kaki tangan si pelaku pesugihan itu...," sahut George.
" Masuk akal. Aku juga ngeliat mereka mencuri di rumah ibu Pipit Om...," kata Aruna.
" Kapan Kamu ngeliat mereka mencuri Nak...?" tanya Matilda.
" Seperti biasa Aku dapat petunjuk lewat mimpi Tante...," sahut Aruna.
Matilda mengangguk tanda mengerti.
" Sebaiknya Kita segera bertindak sebelum jatuh korban berikutnya Nak...," kata George.
" Aku setuju Om. Kapan Kita bergerak...?" tanya Aruna antusias.
" Setelah tujuh hari kematian Pipit adalah waktu yang pas...," sahut George.
" Tujuh hari setelah kematian Pipit, apa itu artinya malam ke delapan Om...?" tanya Aruna.
" Betul...," sahut George cepat.
" Itu kan besok malam Om...," kata Aruna hingga membuat George dan Matilda terkejut.
" Oh ya, Kami pikir lusa Nak...," kata Matilda.
" Bukan Tante. Itu besok malam...," sahut Aruna bersikukuh.
" Ok, Kita bergerak besok. Sekarang persiapkan dirimu sebaik mungkin. Istirahat yang cukup dan jangan lupa minum vitamin. Om khawatir tenagamu terkuras dan itu ga baik untuk bayimu nanti...," kata George.
" Siap Om...," sahut Aruna mantap.
Bersamaan dengan itu Kautsar terlihat keluar dari kamar kerjanya dan kembali bergabung dengan Aruna, George dan Matilda.
" Apa udah ketemu kapan waktunya...?" tanya Kautsar sambil duduk di samping Aruna.
" Insya Allah Kami bergerak besok...," sahut Aruna.
" Tapi besok pagi Aku udah harus berangkat liat proyek Sayang...," kata Kautsar.
" Pergi lah Nak. Insya Allah Aruna aman bersama Kami...," kata George menengahi.
" Ok, Aku titip Aruna ya Om Tante...," sahut Kautsar sambil memeluk Aruna erat.
__ADS_1
Entah mengapa kali ini Kautsar merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna. Namun Kautsar mencoba berpikir positif karena ada George dan Matilda yang akan menemani Aruna.
\=\=\=\=\=