
Arka dan Diana tiba di rumah Kautsar dan Aruna saat jam menunjukkan pukul lima sore. Rupanya Arka dan Diana harus menemui seseorang lebih dulu.
Saat tiba di depan rumah keduanya disambut oleh Hardini dan Ahmad.
" Assalamualaikum..., " sapa Arka dan Diana saat mereka baru turun dari Taxi.
" Wa alaikumsalam...," sahut Hardini dan Ahmad bersamaan.
Kemudian Arka dan Ahmad saling rangkul begitu pun Diana dan Hardini.
" Kirain ga jadi dateng Bu Diana...," kata Hardini.
" Insya Allah jadi dong Bu. Tadi ada urusan sebentar, Papanya Aruna nemuin temennya yang kebetulan tinggal di Surabaya...," sahut Diana sambil tersenyum.
" Oh gitu, masuk yuk...," ajak Hardini yang diangguki Diana.
" Kemana Aruna dan Kautsar, kok sepi ?. Padahal Saya udah kangen banget sama mereka...," kata Diana kecewa.
" Mereka lagi keluar sebentar, katanya sih belanja bulanan. Maunya berdua terus, Saya aja ga boleh ikut...," sahut Hardini sambil mengerucutkan bibirnya.
" Masa sih...?" tanya Diana dengan mata berbinar bahagia.
" Iya Bu...," sahut Hardini cepat hingga membuat Diana tersenyum.
Semula Diana mengira kehidupan Aruna dan Kautsar akan diwarnai pertengkaran karena mereka menikah akibat dijodohkan.
Aruna selalu mengatakan yang bagus tentang Kautsar, termasuk tentang rumah tangganya yang katanya baik-baik saja. Tapi sejujurnya Diana ragu. Dan saat mendengar ucapan Hardini tadi Diana sedikit lega. Tapi hanya sedikit. Karena dia belum percaya 100% jika belum melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Tiba-tiba suara deru motor terdengar memasuki halaman rumah. Diana menoleh dan melihat Aruna turun dari boncengan motor dibantu Kautsar. Sikap keduanya mencerminkan jika hubungan mereka baik-baik saja.
" Assalamualaikum..., " sapa Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Arka dan Ahmad bersamaan.
Mendengar suara sang papa membuat Aruna terkejut lalu berlari menghambur ke pelukan Arka dan menjatuhkan belanjaannya begitu saja.
" Papaaa...!" jerit Aruna.
" Ups, hati-hati Nak...," kata Arka sambil tertawa diikuti Ahmad dan Kautsar.
Aruna tak peduli. Ia memeluk sang papa dengan erat untuk beberapa saat. Setelahnya ia mengurai pelukannya dan bertanya.
" Mama mana Pa...?" tanya Aruna.
" Di sebelah sini...!" sahut Diana dari ruang tengah.
Aruna menoleh lalu berbalik dan menghambur ke pelukan sang mama. Keduanya saling memeluk erat dengan kondisi Diana yang menitikkan air mata haru.
__ADS_1
" Aku kangen Mama...," rengek Aruna hingga membuat Diana tersenyum bahagia.
" Iya Sayang. Mama juga kangen sama Kamu...," sahut Diana sambil menciumi wajah Aruna.
Setelah beberapa saat saling memeluk, keduanya pun saling mengurai pelukan. Aruna nampak tersenyum malu saat semua orang tertawa menyaksikan sikap kekanakannya tadi.
" Darimana Kalian...?" tanya Diana saat Kautsar memeluknya setelah sebelumnya Kautsar juga memeluk Arka.
" Belanja bulanan ke mini market depan Ma...," sahut Kautsar.
" Kok banyak banget, Kalian kan cuma berdua...?" tanya Diana saat melihat beberapa tas kanvas diletakkan di atas meja.
" Kami sengaja belanja agak banyak Ma. Kan ada tamu di sini...," sahut Aruna.
" Belanja keperluan dapur juga...?" tanya Hardini.
" Iya Bu. Kata Aruna, dia pengen belajar masak sama Ibu...," sahut Kautsar sambil melirik kearah Aruna.
" Ish, jangan dibocorin dong Tsar. Aku kan malu...," kata Aruna sambil mencubit lengan Kautsar hingga membuat semua orang tertawa.
" Kenapa harus malu. Belajar masak itu kan bagus. Selain bisa menghemat pengeluaran juga bisa bikin ikatan diantara Kalian lebih kuat. Iya kan Bu Dini...," sela Diana sambil menoleh kearah Hardini.
" Betul banget Bu...," sahut Hardini sambil mengacungkan jempolnya.
Mendengar ucapan Diana dan Hardini wajah Aruna dan Kautsar nampak merona.
\=\=\=\=\=
" Tidur dimana nih Tsar...?" tanya Aruna saat kedua pintu kamar telah tertutup rapat.
" Aku sih gampang, dimana aja juga bisa...," sahut Kautsar santai.
" Terus Aku gimana...?" tanya Aruna.
" Di atas sofa di ruang tengah aja, kan lebih besar dan empuk...," sahut Kautsar sambil menarik tangan Aruna ke ruang tengah.
" Kalo Aku di sini Kamu dimana...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar.
" Mmm..., di lantai aja. Kan Kamu ga bakal mau tidur berdua di sofa sama Aku meski pun sofa ini muat untuk dua orang...," sahut Kautsar santai.
Aruna terdiam. Ia menatap Kautsar yang tengah sibuk mengibas karpet. Setelahnya Kautsar meraih dua bantalan sofa dan meletakkannya di atas karpet untuk digunakan sebagai bantal.
" Udah malem tidur yuk...," kata Kautsar sambil membentangkan selimut untuk menutupi kakinya.
Aruna mengangguk ragu, lalu ikut membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia memiringkan tubuhnya untuk menatap Kautsar.
" Kenapa...?" tanya Kautsar sambil mencubit ujung hidung Aruna gemas.
__ADS_1
" Gapapa nih Aku tidur di atas ?. Bukannya ga sopan ya...?" tanya Aruna dengan suara lirih.
" Gapapa. Ini kan darurat...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
" Tapi...," ucapan Aruna terputus saat Kautsar mengecup bibirnya dengan cepat.
" Ssstt..., jangan berisik. Tidur aja udah malam...," kata Kautsar sambil mengusak kepala Aruna dengan sayang.
" Kautsar...!" panggil Aruna kesal.
" Iya Sayang...," sahut Kautsar sabar.
Belum sempat Aruna melanjutkan ucapannya tiba-tiba hujan turun dengan deras hingga membuat Kautsar bangun dan mengecek seluruh penjuru rumah. Aruna yang melihatnya pun ikut bangun dan mengekori Kautsar.
" Cari apaan...?" tanya Aruna penasaran.
" Lagi ngecek ada yang bocor ga...," sahut Kautsar sambil mengambil baskom dan maletakkan serbet di dalamnya.
" Baskom itu untuk apa...?" tanya Aruna lagi.
" Buat nampung air yang netes lah. Sengaja dikasih kain supaya ga berisik dan airnya ga muncrat kemana-mana...," sahut Kautsar.
" Emangnya kalo ujan di sini bocor Tsar ?. Terus gimana sama buku-buku Aku...?" tanya Aruna.
" Oh iya, selama tinggal di sini Kamu belum pernah ngerasain ujan gede kaya gini ya Run. Tapi Kamu tenang aja. Yang bocor tuh sekitar dapur atau ruang tengah. Kamar mah aman...," sahut Kautsar sambil meletakkan baskom setelah sebelumnya menggulung karpet di ruang tengah.
Aruna nampak menghela nafas lega kemudian kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Kautsar nampak mondar mandir sambil mengecek lokasi bocor.
" Kamu ga tidur Tsar. Besok kan Kamu harus kerja. Bukannya Kamu bilang besok harus meeting ya...," kata Aruna mengingatkan.
" Iya sih. Tapi Kamu liat kan di sini bocor. Pas banget di tempat yang mau Kupake tidur...," sahut Kautsar sambil menguap.
Aruna terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.
" Ya udah tidur di atas sini sama Aku...," kata Aruna.
" Di sini...?" tanya Kautsar tak percaya.
" Ck, iya. Tapi janji jangan bikin yang aneh-aneh ya...," sahut Aruna sambil membalikkan tubuhnya kearah sandaran sofa.
Kautsar tersenyum lalu ikut membaringkan tubuhnya di sofa itu. Karena tubuhnya lebih besar maka Kautsar terpaksa tidur dalam posisi miring menghadap Aruna.
Aruna membuka mata lalu menoleh saat merasakan tangan Kautsar memeluk perutnya dari belakang.
" Kautsar, Aku udah bilang jangan aneh-aneh. Kok Kamu malah meluk Aku sih. Sengaja cari kesempatan dalam kesempitan ya...," protes Aruna.
" Udah malem Aruna. Besok aja ya berdebatnya...," kata Kautsar sambil memejamkan mata lalu membenamkan wajahnya di pundak Aruna.
__ADS_1
Aruna terkejut namun tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tak lama kemudian terdengar dengkuran halus pertanda Kautsar telah masuk ke alam mimpi. Aruna menghela nafas panjang dan akhirnya ikut terlelap dalam pelukan Kautsar.
\=\=\=\=\=