Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
79. Banyak Jalan Rahasia


__ADS_3

Yusi yang tengah berada di dalam ruangan bersama Kenzo nampak mendelik kesal saat pintu diketuk dari luar.


" Masuk...!" kata Yusi lantang.


Daun pintu terbuka dan menperlihatkan Coleng di ambang pintu. Ia nampak menundukkan kepala sebelum masuk ke dalam ruangan.


" Ada apa Coleng. Kau merusak prosesnya, tau ga...?!" tanya Yusi marah.


" Ma... maaf Bos. Saya terpaksa ke sini karena mau ngasih tau kalo kamar putih berguncang hebat Bos...," sahut Coleng dengan suara rendah namun masih bisa didengar oleh Yusi.


" Apa, mana mungkin...?!" kata Yusi tak percaya.


" Tapi memang begitu kejadiannya Bos...," sahut Coleng sambil menatap Yusi.


" Kurang ajar. Pasti ada yang udah berani masuk ke sana. Ayo Coleng, tangkap dan habisi penyusup itu...!" kata Yusi marah lalu meninggalkan Kenzo begitu saja.


" Baik Bos...," sahut Coleng sambil mengamati Kenzo dengan tatapan penuh hasrat.


Coleng nampak membasahi bibirnya dengan ujung lidah saat melihat kondisi Kenzo yang menggeliat dengan peluh membanjiri sekujur tubuh dan wajahnya.


Yusi menoleh kesal kearah Coleng. Ia tahu apa yang ada di benak Coleng yang memang memiliki kelainan s*x dan penyuka sesama jenis itu.


" Coleng...!" panggil Yusi lantang.


" I... iya Bos...," sahut Coleng gugup lalu bergegas keluar dari kamar dan menutup pintu.


Dari balik jendela Aruna nampak bergidik jijik saat melihat cara Coleng menatap Kenzo.


" Itu salah satu kebusukan yang tersimpan di tempat ini Aruna...," kata hantu Kemala.


" Menjijikkan...," sahut Aruna.


" Betul...," kata hantu Kemala sambil tersenyum sinis.


" Kapan Aku bisa masuk ke sana dan mengeluarkan Kenzo dari sana...?" tanya Aruna.

__ADS_1


Tapi belum lagi hantu Kemala menjawab, tiba-tiba pintu ruangan dimana Kenzo terjebak nampak didobrak dari luar. Aruna tersenyum saat melihat beberapa pria berseragam polisi merangsek maju dan mendekati Kenzo.


" Dia terluka. Dua orang ke sini dan bawa dia keluar segera. Sisanya geledah tempat ini...!" kata salah seorang polisi.


" Siap Ndan...!" sahut para polisi bersamaan.


Kemudian dua orang polisi segera membantu Kenzo berdiri. Namun karena kondisinya yang terlalu lemah membuat Kenzo tersungkur jatuh ke lantai. Dua polisi itu dengan sigap menggotong tubuh Kenzo lalu membawanya keluar.


Melihat Kenzo dibawa keluar, Aruna pun bergegas keluar dari tempat persembunyiannya itu dengan bimbingan hantu Kemala.


Aruna tiba di halaman penginapan dan terharu saat melihat tiga mobil polisi dan satu Ambulans terparkir di halaman. Aruna juga melihat keempat temannya sedang berdiri di luar pagar penginapan.


Jeritan histeris terdengar saat tubuh Kenzo dibawa menuju Ambulans. Aruna tahu pasti siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Ria, kekasih Kenzo.


" Ayo, Kita tuntaskan semua sekarang...," ajak Aruna sambil membalikkan tubuhnya kearah semula.


" Apa Kamu ga mau bergabung dulu dengan teman-temanmu...?" tanya hantu Kemala.


" Nanti aja. Urusan di sini lebih penting dari sekedar basa basi dengan mereka. Aku senang karena tau mereka baik-baik aja...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Ga juga. Mereka lebih sering bikin Aku kesel...," sahut Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.


" Masa sih...?" tanya hantu Kemala tak percaya.


" Kamu jangan tertipu sama penampilan mereka Kemala. Mulut mereka tuh pedes banget kaya cabe rawit satu ton, nyakitin dan bikin tensi naik kalo ngomong. Untung Aku ga terpengaruh sama ucapan mereka. Kalo ga, pasti udah lama Aku keluar dari genk itu..," sahut Aruna berusaha meyakinkan.


Ucapan Aruna justru membuat hantu Kemala tertawa. Ia yakin jika Aruna tak sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.


" Rasanya udah lama banget Aku ga bisa tertawa sepuas ini. Makasih Aruna...," kata hantu Kemala saat tawanya reda.


" Sama-sama. Terus Kita kemana nih...?" tanya Aruna.


" Ayo ikut Aku...," sahut hantu Kemala lalu melayang menyusuri jalan lain di samping penginapan.


Aruna nampak menggelengkan kepala karena lagi-lagi menemui jalan yang menghubungkan halaman dengan tempat lain.

__ADS_1


" Tempat ini luar biasa membingungkan...," kata Aruna yang disambut tawa hantu Kemala.


Aruna kemudian berlari kecil mengikuti hantu Kemala. Langkahnya ikut berhenti saat hantu Kemala berhenti.


Ternyata saat itu polisi tengah menggeledah 'kamar putih' dimana Aruna mengambil jimat tadi. Dari tempatnya berdiri hantu Kemala masih bisa melihat Yusi yang menyelinap menjauh dari kamar itu.


Aruna terkejut dan mengejar hantu Kemala yang melayang mengikuti sang ibu. Coleng yang berniat mengikuti Yusi pun tak bisa berkutik saat dua polisi bertubuh tegap menangkapnya.


Hantu Kemala nampak menyeringai puas saat melihat Coleng ditangkap polisi. Aruna yang melihat senyum hantu Kemala pun maklum dan menduga Coleng adalah salah satu pria yang membuat teman-teman Kemala menderita.


\=\=\=\=\=


Yusi berlari jauh dari penginapan. Kini ia tiba di sebuah tempat di ketinggian. Dari tempatnya berdiri Yusi bisa melihat pergerakan orang-orang di bawah sana.


" Hancur sudah semuanya. Hancur !. Sia*an, siapa yang bikin semuanya kacau. Padahal sedikit lagi Aku bakal sampe di tahap tertinggi yang memungkinkan Aku mengendalikan semuanya tanpa bantuan Pak Tuo lagi. Brengs*k, kurang ajar...!" maki Yusi sambil menendang apa pun yang berada di dekatnya.


Lama memaki membuat Yusi lelah dan terduduk di tanah. Ia nampak menundukkan wajahnya sambil memejamkan mata. Bayangan saat ia melarikan diri kembali melintas.


Saat itu Yusi baru saja keluar dari ruangan tempat ia menyekap Kenzo. Langkah kakinya membawa dirinya berhenti tak jauh dari kamar putih. Yusi membelalakkan matanya saat melihat banyak polisi tengah berkumpul di depan kamar itu dan menerobos masuk setelah berhasil mendobrak pintu.


Yusi menahan Coleng yang bergerak mendatangi kamar putih.


" Jangan g*la Kamu Coleng. Di sana banyak Polisi. Bisa aja Kamu langsung ditangkap saat memperlihatkan diri di depan mereka...," kata Yusi setengah berbisik.


" Gapapa Bos. Biar Saya maju untuk mengalihkan perhatian Polisi. Dan Bos bisa kabur dari sini. Lari sejauh mungkin dan jangan kembali...," sahut Coleng sambil menatap tajam kearah Yusi.


Untuk sesaat Yusi nampak terharu dengan kesetiaan Coleng. Bagaimana pun Coleng adalah anak kandungnya, buah dari perzi*a*an Yusi dengan Pak Tuo. Entah Coleng menyadari hubungan darah diantara mereka atau tidak, Yusi pun tak peduli. Selama ini ia memposisikan Coleng sama dengan antek-anteknya yang lain.


Tanpa menunggu persetujuan Yusi, Coleng maju mendekati kerumunan polisi itu. Bisa ditebak bagaimana reaksi polisi saat melihat kehadiran Coleng. Ia ditangkap dan langsung diinterogasi di tempat.


Saat itu lah Yusi melihat peluang untuk kabur. Dengan sigap Yusi berbalik arah dan memilih jalan lain lalu kabur melarikan diri.


Yusi tiba di halaman belakang. Ia langsung menuju ke semak-semak yang ada di dekat pagar dan menyibaknya dengan cepat. Saat semak-semak disibak, terlihat sebuah lubang besar dan Yusi pun masuk ke dalamnya. Ternyata di balik lubang telah terparkir sebuah motor dan dengan motor itu lah Yusi melarikan diri ke tempat ini.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2