Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
287. Arwah Mukhlis


__ADS_3

Aruna tengah menatap lekat arwah Mukhlis yang tiba-tiba muncul entah darimana. Kehadirannya mengejutkan Aruna hingga membuatnya mematung beberapa saat.


Namun Aruna langsung merangsek maju mendekati Kautsar saat arwah Mukhlis terlihat ingin merasukinya.


" Jangan ganggu dia...," kata Aruna sambil menghadang arwah Mukhlis.


" Kamu bisa melihatku...?" tanya arwah Mukhlis takjub.


" Iya. Katakan saja apa maumu tapi jangan coba-coba merasukinya...," kata Aruna.


" Kenapa ?. Dia temanku...," sahut arwah Mukhlis.


" Tapi dia Suamiku dan Aku ga ijinkan Kamu merasukinya...," kata Aruna lagi.


" Ada yang harus Aku sampaikan dan Aku perlu mediator untuk menceritakan semuanya. Apa Kamu bisa membantuku...?" tanya arwah Mukhlis.


" Insya Allah. Ceritakan saja semua keluhanmu...," sahut Aruna.


" Aku mati setelah merasakan sakit yang amat sangat di perutku. Aku tak tau apa sebabnya. Tapi sebelumnya tetanggaku bilang kalo ada seorang wanita masuk ke dalam rumahku saat Aku pergi bekerja. Aku curiga dia melakukan sesuatu di rumahku. Anehnya Aku ga melihat ada yang hilang di dalam rumah. Sebelum mati Aku masih mencoba menghubungi Kautsar, tapi sayangnya dia ga menerima telephon dariku. Aku mau tau kenapa dia ga mau merespon telephon ku. Padahal saat itu Aku benar-benar butuh bantuannya...," kata arwah Mukhlis sambil menunduk.


Aruna menghela nafas panjang. Ia mengerti jika arwah Mukhlis penasaran siapa wanita itu dan apa yang ia lakukan di dalam rumahnya. Mukhlis juga penasaran mengapa Kautsar mengabaikannya.


" Apa ga ada orang lain yang bisa Kamu andalkan untuk membantumu saat itu ?. Kenapa harus Suamiku yang Kamu hubungi...?" tanya Aruna.


" Karena Aku yakin Kautsar akan segera datang jika diminta. Dia orang baik dan tulus dalam berteman. Selama ini Aku mengenalnya seperti itu...," sahut arwah Mukhlis cepat hingga membuat Aruna tersenyum mendengar pujian untuk suaminya itu.


" Tapi Sayang dia ga merespon panggilanmu apalagi datang membantumu...," kata Aruna yang diangguki arwah Mukhlis.


" Betul. Aku kecewa dan terus bertanya mengapa. Aku juga penasaran siapa wanita yang masuk ke rumahku. Aku yakin dia berniat menyakiti Aku, tapi apa salahku. Kenapa dia melakukan itu dan Aku ingin tau apa tujuan tindakannya...," kata arwah Mukhlis sendu.


" Lalu kenapa Kamu ga mencoba menghubungi Gladys. Siapa Gladys sebenernya...?" tanya Aruna.


" Dia temanku. Satu-satunya teman wanita yang Aku punya. Dia baik dan Aku menyukainya...," sahut arwah Mukhlis malu-malu.


" Kalo Gladys itu temanmu, bagaimana dengan Dita...?" tanya Aruna.


" Kamu kenal Dita juga...?" tanya arwah Mukhlis tak percaya.

__ADS_1


" Belum lama dia lewat sini dan Aku sempat bertanya beberapa hal sama dia tadi..., " sahut Aruna.


" Oh gitu...," kata arwah Mukhlis dengan enggan hingga membuat Aruna mengerutkan keningnya.


" Kamu keliatan ga suka sama Dita. Apa tebakanku betul...?" tanya Aruna.


" Mmm..., Dita ya. Dia hanya cucu pemilik kontrakan. Aku ga seberapa kenal apalagi dekat sama dia...," sahut arwah Mukhlis.


" Tapi Dita bilang Kalian dekat kok...," kata Aruna bingung.


" Itu kan hanya perasaannya aja. Tapi Aku emang ga ada hubungan apa-apa sama Dita. Aku ini ga gampang deket sama perempuan. Satu-satunya perempuan yang dekat denganku ya cuma Gladys. Sayangnya Gladys ga pernah tau kalo Aku menyukainya. Dia justru menikah dengan pria lain yang Aku tau hanya akan menyakitinya...," sahut arwah Mukhlis.


" Apa Kamu tau kalo Gladys mengklaim akan menikah denganmu lusa. Dia mengundang Suamiku dan temannya untuk hadir di pernikahannya itu...?" tanya Aruna.


" Oh ya. Jadi Gladys melakukan itu ?. Akhirnya dia mau menerima lamaranku. Sayangnya dia terlambat karena dia menerimaku saat Aku udah mati...," sahut. arwah Mukhlis sambil tersenyum kecut.


" Dan menyusun pesta pernikahan denganmu seorang diri...," sela Aruna.


" Ya, sangat disayangkan...," sahut arwah Mukhlis.


" Sebenarnya tujuan Kami bertiga datang ke sini untuk mencari tau kenapa Gladys mengundang Kami untuk datang di resepsi pernikahan Kalian. Padahal jelas-jelas Kamu udah meninggal dunia. Tapi mendengar penjelasanmu tadi Aku sedikit mengerti apa tujuan Gladys melakukan itu...," kata Aruna.


" Kamu akan tau nanti. Sekarang bisakah Kamu membawa Kami masuk ke dalam rumah itu...?" tanya Aruna.


" Bisa. Ayo ikuti Aku...," ajak arwah Mukhlis.


Aruna mengangguk. Ia menggamit tangan suaminya lalu membawanya melangkah menuju rumah yang sekarang ditempati Gladys. Reyhan pun nampak mengikuti pasangan suami istri itu dari belakang.


Rupanya Gladys sudah mengetahui kedatangan mereka bertiga sejak beberapa waktu yang lalu. Dia nampak berdiri menyambut kedatangan mereka di ambang pintu rumah. Hal ini sedikit mengejutkan Aruna. Namun saat ia melihat arwah Mukhlis yang tersenyum, ia pun menjadi tenang.


" Assalamualaikum..., " sapa Aruna.


" Wa alaikumsalam. Mari silakan masuk...," sahut Gladys dengan ramah.


" Terima kasih...," sahut Aruna, Kautsar dan Reyhan bersamaan.


Gladys nampak duduk di sofa besar. Kemudian ia meminta adik laki-lakinya membuatkan suguhan untuk ketiga tamunya itu. Sang adik nampak mengangguk lalu masuk ke dalam rumah untuk memenuhi permintaan Gladys.

__ADS_1


" Maaf kalo kedatangan Kami mengganggu..., " kata Reyhan mengawali pembicaraan.


" Gapapa. Jujur Aku memang menunggu kedatangan Kalian sejak beberapa hari ini. Aku pikir Kalian ga datang. Tapi maaf, siapa Mbak cantik ini...?" tanya Gladys sambil menatap Aruna.


" Ini Istriku, namanya Aruna...," sahut Kautsar cepat sambil merengkuh bahu Aruna dengan lembut.


" Istri ya. Jadi Mas Kautsar udah menikah...," kata Gladys lebih menyerupai gumaman namun terdengar jelas oleh ketiga tamunya.


Reyhan yang tak suka dengan sikap Gladys pun langsung menyela cepat.


" Ehm, langsung aja nih Dys. Apa maksud Lo ngundang Kita ke pernikahan Lo sama Mukhlis. Lo sadar kan kalo Mukhlis itu udah meninggal dunia. Atau jangan-jangan Lo lagi halu ya...?" cecar Reyhan tak sabar.


" Sabar dong Mas Reyhan. Silakan minum dulu ya...," kata Gladys sambil tersenyum.


" Ga usah basa-basi deh. Buruan bilang atau Kita pergi sekarang...," ancam Reyhan sambil menatap Gladys lekat.


" Ok. Aku memang sengaja mengundang Kalian karena Aku mendapat petunjuk lewat mimpi kalo Kalian lah yang bakal membantuku mengungkap Kematian Mas Mukhlis...," kata Gladys dengan mimik wajah serius.


" Mengungkap Kematian Mukhlis. Bukannya dia meninggal karena sakit ?. Apanya yang mau diungkap. Dasar aneh...," kata Reyhan kesal.


" Aku ga percaya kalo Mas Mukhlis meninggal karena sakit !. Sehari sebelumnya dia baru aja melamarku. Dia sehat-sehat aja kok waktu itu. Bagaimana mungkin dia mendadak meninggal setelah melamarku. Ga masuk akal...!" kata Gladys lantang sambil berurai air mata.


Sikap Gladys mengejutkan Reyhan namun tidak dengan Aruna dan Kautsar. Keduanya terlihat tenang karena sudah tahu apa yang terjadi.


" Maut itu urusan Allah Dys. Ga ada seorang manusia pun yang bisa mengendalikannya. Jangan lupa itu...," kata Reyhan mengingatkan.


" Tapi Mas Mukhlis ga mungkin meninggalkan Aku setelah berjanji banyak hal kan...?" tanya Gladys di sela isak tangisnya.


" Kalo itu Aku ga bisa banyak komentar. Tapi menilik dari sikapmu kayanya Kamu mencurigai seseorang. Kalo memang iya, kenapa ga lapor Polisi aja sih...," kata Reyhan.


" Terlambat...," sahut Gladys.


" Apanya yang terlambat...?" tanya Reyhan.


" Aku tau Mas Mukhlis meninggal secara ga wajar setelah sebulan kematiannya. Aku ga mau lapor Polisi karena ga mau mengusik kuburannya. Aku ga tega ngeliat jasadnya diotak-atik untuk cari bukti. Tapi Aku juga mau orang yang bertanggung jawab atas kematian Mas Mukhlis diseret ke penjara atau minimal warga tau keburukannya itu...," sahut Gladys berapi-api.


Reyhan menatap kearah Aruna dan Kautsar yang saat itu juga tengah menatapnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2