
Setelah lintah besar itu selesai menjilati darah Puri yang berceceran di lantai, lintah itu nampak beringsut menjauh.
Lintah raksasa yang berkepala Edi nampak tersenyum puas.
" Aku menunggu imbalan yang Kau janjikan. Bukan kah Aku telah menyerahkan darah orang yang kusayangi padamu...?" tanya Edi menagih janji.
Lintah besar yang tadi menghirup darah Puri pun nampak menyeringai puas lalu bertanya.
" Apa yang Kau inginkan...?" tanya lintah besar itu.
Edi tak menjawab. Ia hanya tersenyum penuh makna. Dan lintah besar itu mengangguk seolah mengerti apa yang ada di dalam benak Edi.
\=\=\=\=\=
Kenzo masuk SMA favorit di kotanya. Ia pandai dan menjadi kebanggan kedua orangtuanya serta kakek neneknya. Kenzo dibesarkan sebagai anak tunggal karena Nina selalu mengalami keguguran setelah kelahiran Kenzo.
Elan tahu persis penyebab keguguran istrinya. Karenanya ia meminta Nina memakai alat kontrasepsi agar Nina tak hamil lagi. Semula Nina marah karena Elan menentang keinginannya untuk memiliki anak lagi setelah Kenzo. Tapi alasan yang dikemukakan Elan membuat Nina mengerti.
" Aku ga sanggup liat Kamu sakit lagi karena harus mengalami keguguran berulang kali Ma...," kata Elan.
" Hanya itu...?" tanya Nina ragu.
" Iya. Emangnya apalagi...?" tanya Elan tak mengerti
" Mungkin ada sebab lain. Siapa tau ada wanita lain di luar sana yang juga sedang mengandung anakmu. Makanya Kamu mencegah Aku hamil supaya anak itu ga terlantar..., " sahut Nina sambil melengos.
Ucapan Nina membuat Elan tertawa. Ia tak menyangka jika istrinya cemburu dengan wanita lain yang sama sekali tak pernah ia miliki.
" Aku ga punya wanita lain. Bagiku Kamu dan Kenzo udah lebih dari cukup mengisi hidupku...," kata Elan sungguh-sungguh.
__ADS_1
" Kamu ga bohong...?" tanya Nina.
" Iya Sayang...," sahut Elan sambil tersenyum.
Nina pun tersenyum sambil mengusap air mata yang turun di wajahnya. Kemudian Elan memeluk istrinya dan berjanji dalam hati untuk melindungi anak dan istrinya itu meski pun nyawa taruhannya.
Kepandaian Kenzo membuat Edi kesal dan iri. Apalagi ketiga anak Edi tak bisa sekolah di sekolah umum karena keterbatasan yang mereka miliki. Ketiganya terpaksa sekolah di SLB dan tentu saja biaya yang dibutuhkan sangat besar. Dalam hal itu lah Edi merasa paling keberatan. Tapi untuk mundur apalagi minta bantuan pada kedua orangtuanya Edi terlalu gengsi.
Sebagai pelampiasan kebenciannya Edi pun mulai 'mengerjai' Kenzo yang ia anggap sebagai penyebab kegagalannya memiliki kekayaan ayah angkatnya itu.
Kenzo yang tak pernah menaruh curiga pada Omnya itu selalu menerima apa pun pemberiannya. Dan tiap kali memberikan sesuatu kepada Kenzo, Edi selalu minta agar Kenzo merahasiakan pemberiannya itu dengan berbagai alasan.
" Papamu tak menyukai Om karena kesalahan Om di masa lalu. Tapi sungguh Om menyesal telah melakukan kesalahan itu Ken. Om udah bertobat tapi Papamu ga percaya. Saat ini Om sedang berusaha meyakinkan Papamu untuk mau memaafkan Om...," kata Edi.
" Iya Om, Aku ngerti kok...," sahut Kenzo saat itu.
" Nah itu sebabnya, jangan bilang sama Papamu kalo Om ngasih Kamu sesuatu ya Ken. Om ga mau Papamu salah paham. Padahal Om cuma mau berbuat baik sama keponakan Om yang cuma satu-satunya ini...," kata Edi hingga membuat Kenzo tersentuh.
" Termasuk Mamamu...," pinta Edi.
" Iya iya Om. Mama juga ga perlu tau...," sahut Kenzo sambil tertawa.
Edi pun tertawa puas. Kemudian sejak saat itu ia sering memberi uang, makanan atau pun hadiah kepada Kenzo.
Saat Kenzo mempertanyakan sikapnya yang 'over baik' itu, Edi pun sudah mempersiapkan jawaban yang lagi-lagi membuat Kenzo tersentuh.
" Om tau Kamu suka basket. Om juga dulu pemain basket. Harusnya Om bisa menyalurkan kecintaan Om ke anak Om, Edwin atau Edgar. Tapi Kamu kan tau kondisi mereka Ken. Mereka cacat dan ga mungkin bisa bergabung dengan team basket mana pun. Om pikir ga ada salahnya Om beliin Kamu sepatu basket karena selain menyalurkan hobi setidaknya Om bisa merasa bangga jika Kamu pake sepatu itu untuk berlatih basket Ken...," kata Edi sambil memasang mimik wajah sedih.
" Ok, Om tenang aja. Aku bakal pake sepatu basket ini tiap kali Aku latihan...," sahut Kenzo hingga membuat wajah Edi berbinar bahagia.
__ADS_1
" Kalo gitu sebelum Om balik ke rumah Om, gimana kalo Kita makan siang bareng Ken...?" tanya Edi.
" Maaf Om, Aku ga bisa. Siang ini ada les Matematika di sekolah. Mungkin sore Aku baru ada waktu luang...," kata Kenzo.
" Oh gapapa. Om bisa tunggu sampe Kamu selesai les Matematika. Setelah itu Kita cari makan bareng. Gimana...?" tanya Edi.
" Apa ga kelamaan Om. Bukannya Om laper dan harus buru-buru balik ke rumah...?" tanya Kenzo.
" Buat Kamu apa sih yang ga. Menunda kepulangan beberapa jam ga masalah buat Om...," sahut Edi mantap.
" Terus gimana sama Tante Puri dan anak-anak Om. Apa mereka ga marah kalo tau kepulangan Om tertunda gara-gara Aku...?" tanya Kenzo tak enak hati.
" Kamu ga usah khawatir Ken. Tante Puri dan Anak-anak Om itu pengertian. Mereka paham kalo Om sayang sama Kamu. Makanya tiap kali Om nemuin Kamu dan pulang sedikit telat, mereka ga pernah protes...," sahut Edi berusaha meyakinkan Kenzo.
Kenzo pun mengangguk tanda mengerti. Setelahnya ia berjalan menuju kelas meninggalkan Edi yang setia menantinya di gerbang sekolah.
" Aku harus bisa memulai semuanya sekarang atau ga sama sekali. Umpan udah disebar, ikan udah dijaring. Aku ga bakal punya kesempatan lain dan kali ini harus berhasil...," gumam Edi sambil mengepalkan tangannya.
\=\=\=\=\=
Makan bersama perdana Edi dan Kenzo pun terjadi sore itu. Edo sengaja mengajak Kenzo makan di rumah makan lesehan yang menyajikan menu tradisional.
Kenzo nampak antusias menyantap hidangan yang dipilih Edi untuknya. Perbincangan santai pun terjadi dan itu membuat Kenzo lengah. Tanpa Kenzo sadari Edi telah memasukkan sejenis bubuk ke dalam makanan yang disantapnya. Efeknya memang tak langsung terlihat. Tapi jika dosis yang sama diberikan secara berulang kali bisa ditebak bagaimana reaksinya.
Setelah makan bersama perdana sore itu, Edi lebih mudah mengontrol Kenzo. Ia bisa meminta Kenzo untuk menemuinya kapan pun ia mau dan Kenzo selalu menurutinya. Kenzo seolah tak bisa menolak keinginan Om yang bain dan telah banyak memberinya hadiah.
Elan dan Nina sama sekali tak menaruh curiga akan perubahan sikap Kenzo yang menjadi lebih pendiam itu. Mereka mengira Kenzo berubah karena sibuk belajar untuk menghadapi ujian kelulusan sekolah.
Apalagi kemudian Kenzo berhasil lulus dengan nilai yang nyaris sempurna. Tentu saja itu membuat kedua orangtuanya bangga.
__ADS_1
\=\=\=\=\=