
Seminggu pun berlalu. Aruna dan Kautsar masih sibuk dengan aktifitas masing-masing dan di tempat yang berbeda.
Setelah kembali ke rumah Kautsar memanggil tukang untuk memperbaiki jendela yang rusak akibat diterjang Aruna saat menjadi manusia serigala.
Kemudian Kautsar juga memperbarui dekorasi ruang tengah dan kamar tidur mereka. Ia juga mengganti beberapa perabotan di kamar tidur dengan yang baru. Ia berharap dengan memberi suasana baru di dalam rumah akan membuat perasaan Aruna lebih baik dan bisa melupakan rasa bersalahnya itu.
Kautsar melakukan semuanya seorang diri. Sebelumnya ia meminta ijin libur dari kantor untuk menyelesaikan rencananya. Jika awalnya Kautsar meminta ijin dua hari, ternyata semua selesai lebih cepat dari perkiraannya. Hingga Kautsar bisa kembali bekerja lebih cepat dari jadwal seharusnya.
" Semoga pas ngeliat ini Kamu suka ya Sayang...," gumam Kautsar sambil tersenyum.
Saat itu Kautsar berdiri di ambang pintu kamar tidurnya. Dari tempatnya berdiri Kautsar bisa menatap ke dua arah sekaligus, yaitu ke kamar dan ruang tengah. Ia merasa puas dengan hasil kreasinya kali ini dan berharap Aruna menyukainya.
Beberapa saat kemudian Kautsar menutup pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan. Ia duduk di hadapan meja makan lalu meneguk kopi dengan pelan seolah tak punya semangat hidup. Namun suara alarm di ponselnya mengejutkan Kautsar. Ia meraih ponsel lalu ingat jika hari ini ia harus menghadiri meeting di kantornya.
" Aku harus survive sambil menunggu Aruna kembali. Semangat Kautsar !. Aruna tak suka melihatmu lemah dan terpuruk kaya gini. Bangkit dan tersenyum lah. Dengan begitu Aruna akan percaya jika Kamu baik-baik saja. Buktikan jika Kamu ga marah atau kecewa dengan apa yang dia lakukan malam itu...!" kata Kautsar lantang untuk memotivasi dirinya sendiri.
Setelah mengatakan kalimat motivasi itu Kautsar bergegas mengenakan sepatunya. Kemudian ia meraih jaket dan tas lalu melangkah lebar menuju keluar. Tak lama kemudian motor Kautsar terdengar meraung meninggalkan halaman rumah.
Perjalanan menuju kantor dilalui Kautsar dengan tenang. Sambil melantunkan sholawat dalam hati Kautsar memacu kendaraannya membelah jalan raya yang mulai padat itu. Setengah jam kemudian Kautsar tiba di parkiran kantor dan bertemu dengan beberapa rekannya.
" Hei Tsar, ada undangan nih...!" kata Reyhan sambil melambaikan kartu undangan kearah Kautsar.
" Undangan apaan...?" tanya Kautsar sambil menghentikan langkahnya.
" Undangan pernikahannya si Gladys...," sahut Reyhan sambil menyerahkan kartu undangan untuk Kautsar.
" Gladys. Siapa Gladys, kok Gue ga kenal. Salah orang kali Lo...," kata Kautsar sambil menatap Reyhan dan kartu undangan di tangannya bergantian.
" Astaghfirullah aladziim. Sombong amat sih Lo Tsar. Sok ganteng Lo. Masa Gladys aja ga kenal...," kata Reyhan sambil menggelengkan kepalanya.
" Bukan sok ganteng Rey. Gue kan emang ganteng. Tapi suer, Gue ga kenal sama Gladys yang Lo bilang ini...," sahut Kautsar sambil mengembalikan kartu undangan pernikahan itu kepada Reyhan.
__ADS_1
" Dasar kampret. Udah tau di kantor ini yang namanya Kautsar cuma Lo. Pake nolak segala lagi. Udah terima aja. Soal dateng atau ga itu urusan Lo. Yang penting Gue udah nyampein amanat itu ke tangan Lo...," kata Reyhan kesal sambil berlalu.
Kautsar pun hanya bisa mematung sambil menatap punggung Reyhan yang menjauh. Tak ingin ambil pusing, Kautsar pun memasukkan kartu undangan itu ke dalam tasnya. Setelahnya ia melangkah cepat mengekori Reyhan.
Jika Kautsar menjalani rutinitasnya seperti biasa, maka Aruna justru masih sibuk menata hati sambil menanam beberapa jenis bunga yang ia ambil dari beberapa tempat di sekitar bukit.
Pagi itu kembali dilewati Aruna dengan sibuk mengerjakan 'pekerjaan rumah' di kediaman George dan Matilda. Setelah selesai membantu Matilda menyiapkan sarapan, Aruna bergegas keluar rumah untuk melakukan aktifitas lainnya yang menjadi kegemarannya belakangan ini.
" Aruna ada dimana Sayang...?" tanya George saat sedang duduk menikmati sarapan paginya.
" Ada di samping rumah...," sahut Matilda sambil menuangkan minuman hangat ke dalam gelas.
" Di samping rumah sepagi ini. Mau ngapain dia di sana ?. Jangan bilang kalo dia lagi sibuk sama tanaman bunga...," kata George tak suka.
" Memang itu yang dilakukan Aruna Sayang. Kenapa sih, kok Kamu kedengaran ga suka gitu...?" tanya Matilda sambil melirik kearah suaminya.
" Bukan ga suka tapi sampe kapan Aruna terus sembunyi dalam kesibukannya itu. Bunga-bunga itu ga bisa bicara Sayang. Jadi mereka ga akan bisa memberi Aruna masukan atau saran tentang apa yang harus dia lakukan. Yang seharusnya dilakukan Aruna adalah pulang menemui Suaminya. Kasian kan Kautsar terus menunggu di rumah setiap hari...," kata George.
" Sepertinya Kamu bicara mewakili perasaanmu sendiri Sayang. Tapi gapapa. Satu hal yang mau Aku bilang. Aruna dan Kautsar itu berbeda dengan Kita. Jika Kita berasal dari klan yang sama, mereka berasal dari dua alam yang berbeda. Jelas itu butuh penyesuaian yang lama kan...," kata Matilda bijak.
" Aku tau itu. Aku hanya ga tega ngeliat Kautsar berdiri menunggu Aruna pulang di depan pintu setiap malam...," sahut George dengan suara rendah.
" Beri waktu sedikit lagi untuk Aruna. Dia pasti pulang kok. Kamu liat aja nanti...," kata Matilda.
" Kenapa Kamu seyakin itu Sayang...?" tanya George penasaran.
" Feelingku sebagai wanita yang mengatakan itu...," sahut Matilda sambil berlalu.
George menatap punggung sang istri sambil menggelengkan kepala. Ia tahu apa yang diucapkan Matilda pasti akan terwujud karena ia kerap membuktikannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Kautsar sedang menikmati makan siangnya di kantin perusahaan. Reyhan juga sedang duduk bersamanya. Tiba-tiba seorang wanita cantik nampak melenggang kearah Kautsar dan langsung menyentuh pundaknya saat menyapa.
" Udah terima undangan dariku kan...?" tanya wanita itu sambil tersenyum.
" Maaf, Anda siapa ya...?" tanya Kautsar sambil bergeser menjauh dari wanita itu. Ia terlihat tak nyaman dengan sikap wanita itu.
Pertanyaan Kautsar membuat wanita itu terkejut lalu menoleh kearah Reyhan seolah ingin minta penjelasan.
" Ehm, ini yang namanya Gladys Tsar. Dia yang ngundang Lo hadir di pernikahannya itu. Lo ga lupa kan...?" tanya Reyhan dengan enggan.
" Oh kartu undangan yang tadi pagi...?" tanya Kautsar.
" Iya...," sahut Reyhan cepat.
" Oh gitu. Maaf sebelumnya. Tapi Kita kan emang ga saling kenal. Kok Kamu bisa ngundang Saya ke acara besarmu nanti...?" tanya Kautsar bingung.
" Bukan Aku yang ngundang Kamu tapi calon Suamiku. Aku sebenernya kerja di gedung sebelah. Aku ke sini karena ada temanku yang kerja di kantor Kalian. Dari kantor Kalian ini Aku ngundang Kamu dan Reyhan aja selain temanku tentunya...," sahut Gladys sambil tersenyum.
Kautsar dan Reyhan saling menatap sejenak dengan tatapan bingung.
" Calon Suamimu, kalo boleh tau siapa namanya...?" tanya Reyhan.
" Apa Kamu juga belum baca nama yang tertera di kartu undangan itu Rey. Gimana sih Kalian ini. Ga menghargai banget sih...," gerutu Gladys sambil menghentakkan kakinya.
" Maaf Dys. Gue emang belum sempet baca isi kartu undangan Lo tadi. Tapi ntar pasti Gue baca kok. Iya kan Tsar...?" tanya Reyhan tak enak hati.
" Iya...," sahut Kautsar dengan enggan.
" Kalo gitu Kalian baca aja isi undangannya ya. Nanti Kalian juga tau kok siapa calon Suamiku itu...," kata Gladys sambil berlalu.
Kautsar dan Reyhan hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi sikap wanita cantik di depan mereka itu. Setelah Gladys menjauh keduanya kembali melanjutkan makan siang mereka yang terhenti tadi.
__ADS_1
bersambung