Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
29. Amanah Deon


__ADS_3

Berbekal alamat yang diberikan hantu Deon yang dihapal Aruna di luar kepala, Aruna pun pergi menuju alamat yang dimaksud dengan menggunakan Taxi on line. Saat tiba di depan rumah Aruna nampak mengerutkan keningnya karena tak percaya.


“ Ini alamatnya Mbak...,” kata supir Taxi.


“ Masa sih Pak, ga salah ya...?” tanya Aruna ragu karena tak menyangka jika kakak Deon tinggal di rumah kecil dan kumuh. Padahal Deon mengatakan jika papinya seorang pengusaha sukses dan kaya.


“ Ga kok Mbak. Jalan Kenangan 8 nomor 25A emang di sini Mbak...,” sahut supir Taxi sambil menoleh kearah Aruna yang masih mematung di tempat duduk sambil mengamati rumah di depannya.


Karena mengerti jika Aruna baru pertama kali datang ke alamat tersebut, supir Taxi pun menawarkan diri untuk menemani Aruna hingga keperluannya selesai.


“ Kalo mau Saya bisa temani Mbak masuk ke dalam...,” kata supir Taxi.


“ Mmm..., iya deh. Saya kok ragu kalo ini rumahnya. Saya juga dapat alamat ini dari teman Saya Pak. Saya pikir rumahnya besar tapi nyatanya cuma rumah kecil yang sedikit kotor dan tua...,” sahut Aruna tak enak hati.


“ Kenapa teman Mbak itu ga ikut ke sini...?” tanya supir Taxi sambil membuka pintu mobil untuk Aruna.


“ Dia juga lagi sibuk dan ga bisa nganterin Pak. Saya diminta nemuin Kakaknya, ga tau ada di rumah atau ga...,” sahut Aruna.


“ Hati-hati Mbak. Jangan sampe dijebak dan masuk perangkap. Kan banyak tuh gadis muda yang dibohongin temannya. Bilang mau diajak kerja ga taunya malah dijual ke pria hidung belang...,” kata supir Taxi mengingatkan.


“ Saya pernah denger cerita itu Pak. Tapi Bapak ga perlu khawatir, Saya ke sini cuma mau nyampein amanah aja kok. Kalo udah selesai, Saya langsung pulang. Terima kasih udah ngingetin Saya ya Pak...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Iya, yuk Saya antar ke dalam...,” kata supir Taxi dengan santun.


Baru saja kaki Aruna dan supir Taxi on line itu tiba di teras rumah, terdengar jeritan dari dalam rumah. Tak lama kemudian terlihat seorang gadis membuka pintu dengan kasar. Gadis itu nampak terkejut melihat kehadiran dua orang asing di depannya.


“ Kalian siapa, mau apa ke sini...?” tanya gadis itu panik.


“ Maaf, apa Kakak yang namanya Devia...?” tanya Aruna.


“ Iya betul. Kamu siapa ?. Jangan bilang Kamu suruhan orang yang mau menghancurkan Saya dan Adik Saya...,” kata Devia sambil berusaha menutup pintu.


“ Saya ke sini mau nyampein pesen dari Deon Kak...,” kata Aruna sambil menahan daun pintu yang hampir tertutup itu dengan kedua tangannya.


Mendengar ucapan Aruna membuat Devia membuka pintu perlahan. Ia nampak lebih tenang dan itu membuat Aruna tersenyum.


“ Kamu kenal sama Deon ?. Dimana dia, kenapa ga pulang-pulang. Apa dia ga tau kalo keluarga Kami udah hancur...?” tanya Devia sambil mengedarkan pandangannya seolah mencari keberadaan Deon.


Aruna urung menjawab pertanyaan Devia karena mendengar ponsel milik supir Taxi on line berdering pertanda ada pesan masuk. Supir Taxi on line terlihat bingung namun Aruna segera memintanya pergi.


“ Kalo ada orderan diambil aja Pak. Saya gapapa kok ditinggal. Ntar Saya cari Taxi lain aja...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Gitu ya Mbak. Kalo gitu Saya pergi dulu ya Mbak. Assalamualaikum...,” sahut sang supir Taxi on line lalu bergegas pergi.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Aruna lalu kembali menoleh kearah Devia.


“ Jadi dimana Deon...?” tanya Devia tak sabar.

__ADS_1


“ Dia ada di suatu tempat Kak. Deon cuma minta Saya nyampein sama Kakak kalo dia punya tabungan emas yang dia simpan di bawah pohon di depan rumah. Deon mau Kakak ambil itu lalu dijual. Terus hasil penjualannya buat biaya operasi adiknya...,” sahut Aruna.


“ Deon tau kalo Derry sakit...?” tanya Devia dengan mata berkaca-kaca.


“ Iya Kak...,” sahut Aruna cepat.


“ Tapi Aku ga mungkin ke sana. Rumah itu udah disita sama Bank dan dilelang. Sekarang rumah itu udah jadi milik orang lain...,” kata Devia sedih.


“ Kata Deon Kakak bisa minta bantuan Om Jaka. Biar dia yang ngurus semuanya nanti...,” sahut Aruna.


“ Oh iya. Om Jaka kan mantan pengacara keluarga Kami dan dia bilang bakal bantuin Kakak kapan pun diperlukan...,” kata Devia dengan mata berbinar.


“ Itu bagus. Sekarang Kakak bisa hubungin Om Jaka dan minta dia nemenin Kakak ngambil emas itu kan...?” tanya Aruna.


“ Iya...,” sahut Devia yang langsung menghubungi mantan pengacara keluarganya itu.


Saat Devia sedang menelephon, Aruna mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah. Tiba-tiba ia mendengar suara benda yang terjatuh di dalam rumah. Dengan sigap Aruna dan Devia bergegas masuk ke dalam rumah.


“ Derry...!” panggil Devia.


“ Kakak, maaf Aku ga sengaja. Tanganku keringetan jadi pas pegang gelas eh malah licin dan gelasnya jatuh deh...,” kata Derry lirih.


“ Gapapa Sayang. Sini Kakak bantu ya...,” sahut Devia sambil bergegas mengambil air minum di gelas lain.


 Aruna mengamati interaksi kedua kakak beradik itu sambil tersenyum.Setelah selesai membersihkan lantai dan menidurkan Derry, Devia keluar dari kamar menemui Aruna yang duduk di kursi tamu.


“ Oh iya. Saya Aruna Kak...,” sahut Aruna sambil mengulurkan tangannya.


“ Kenal Deon dimana ...?” tanya Devia lalu duduk di hadapan Aruna.


“ Ga sengaja kenal di jalan deket sekolah Kak. Terus gimana Kak, apa Om Jaka mau bantuin Kakak...?” tanya Aruna mencoba mengalihkan pembicaraan.


“ Iya. Om Jaka lagi otw ke sini...,” sahut Devia.


“ Kalo gitu Saya pamit ya Kak, soalnya udah mau Maghrib...,” pamit Aruna.


“ Gitu ya. Padahal masih pengen ngobrol banyak sama Kamu Aruna...,” kata Devia kecewa.


“ Insya Allah kapan-kapan Saya ke sini lagi Kak...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Janji ya, Kakak tunggu lho...,” kata Devia antusias.


“ Iya, insya Allah...,” sahut Aruna.


Kemudian Devia mengantar Aruna hingga keluar rumah. Sebelum Aruna naik Taxi yang kebetulan melintas, Devia mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga Aruna tersenyum.


\=====

__ADS_1


Devia pergi ke rumah lama ditemani Jaka. Beruntung sang pemilik rumah mengerti dan membiarkan Devia mengambil sesuatu dari dalam tanah di pekarangan rumah yang kini sah menjadi miliknya.


Saat melihat kotak besi itu kedua mata Devia nampak berkaca-kaca. Setelah membuka isinya Devia tak kuasa menahan tangis. Di dalam kotak besi berukuran kecil itu tersimpan tiga batang emas yang masing-masing berukuran 100 gram.


“ Hapus air matamu Devia. Ingat, gunakan itu untuk mengobati Derry sesuai permintaan Deon. Sisanya bisa Kamu gunakan untuk membiayai hidupmu dan Derry, atau Kamu bisa jadikan modal usaha biar uangnya bisa berkembang...,” kata Jaka dengan suara bergetar karena terharu.


“ Iya Om. Aku hanya ga nyangka aja. Deon yang susah diatur dan keras kepala itu malah udah punya pikiran buat investasi kaya gini. Walau pun nyimpen di tempat yang ga lazim kaya gini tapi ini sangat membantu Om. Aku jadi malu sama Deon. Harusnya sebagai Kakak perempuan Aku punya inisiatif buat nyimpen emas, eh ini malah terbalik. Aku malah sibuk foya-foya dan ga mikirin masa depan. Pas semuanya hilang Aku ga bisa berbuat apa-apa selain hanya meratap dan menyesali semuanya...,” sahut Devia sambil mengusap wajahnya yang basah itu dengan tissu.


“ Jangan lagi meratap Devia, ga ada gunanya sekarang. Bangkit lah dan songsong masa depanmu. Buktikan sama semua orang kalo Kamu juga bisa survive dan maju walau tanpa orangtua di sisimu...,” kata Jaka memberi semangat.


“ Iya Om, makasih...,” sahut Devia sambil tersenyum.


Selanjutnya Devia menjual dua batang emas dan hasilnya ia gunakan untuk membiayai pengobatan Derry. Sambil menunggu donor ginjal yang tepat, Derry menjalani pengobatan rawat jalan. Sebagian uang hasil penjualan emas digunakan oleh Devia untuk membuka usaha warung kelontong di rumah. sedangkan satu batang emas lagi disimpan untuk biaya pendidikan Derry kelak. Devia memilih tak melanjutkan kuliahnya karena ingin fokus merawat Derry.


Dua bulan kemudian operasi cangkok ginjal untuk Derry dilaksanakan. Operasi berjalan lancar hingga membuat Devia, Derry, Jaka dan istrinya bahagia. Berita tentang operasi Derry sampai ke telinga Aruna. Meski pun ia jarang berkunjung, namun Aruna tetap memantau kondisi Derry dan Devia sesuai permintaan Deon.


Hingga suatu hari Aruna bertemu dengan Jaka dan istrinya saat mengunjungi Devia dan Derry. Setelah saling menyapa Devia pun menceritakan siapa Aruna kepada Jaka dan istrinya itu.


“ Terus dimana Deon sekarang, kenapa dia ga pulang dan menemui dua sodaranya ini...?” tanya Jaka penasaran.


“ Iya, Aku juga udah kangen sama Kak Deon lho Kak...,” kata Derry.


Aruna nampak menelan saliva dengan sulit. Di sampingnya hantu Deon nampak menganggukkan kepala seolah setuju jika Aruna menceritakan semuanya.


“ Maaf sebelumnya. Tapi ini bukan kemauanku. Deon datang nemuin Aku di sekolah dan bilang kalo Aku harus membantunya. Awalnya Aku nolak. Tapi saat Deon cerita kalo adiknya sakit keras dan Kakaknya hampir jual diri untuk biaya pengobatan adiknya, Aku jadi tersentuh dan memutuskan membantu...,” kata Aruna mengawali ceritanya.


“ Kok Deon nemuin Kamu di sekolah, emang bisa ?. Kan Deon bukan lagi siswa di sana yang bisa keluar masuk dengan bebas...?” tanya Jaka tak percaya.


“ Iya Om. Deon nemuin Aku bukan dengan wujud manusia tapi dengan wujud hantu...,” sahut Aruna lirih.


“ Wujud hantu, maksudmu Deon udah meninggal...?” tanya Devia dengan suara tercekat.


“ Iya Kak...,” sahut Aruna cepat hingga mengejutkan semua orang di ruangan itu.


Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Aruna. Saat Aruna bercerita, hantu Deon nampak menatap wajah Devia dan Derry bergantian. Kesedihan terpatri jelas di wajah kakak beradik itu hingga membuat Deon menangis.


“ Rasanya ini ga masuk akal Aruna. Kami sulit percaya sama ceritamu itu...,” kata Jaka.


“ Gapapa kalo Om ga percaya. Tapi Papinya Deon bisa jelasin semuanya supaya Kalian percaya...,” sahut Aruna.


“ Apa hubungannya Papi sama kematian Deon Aruna...?” tanya Devia.


“ Bukan Aku yang harus jelasin semuanya Kak, tapi Papi Kalian...,” sahut Aruna.


Suasana di dalam ruangan itu pun hening untuk sesaat. Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing termasuk Jaka dan istrinya. Keduanya nampak saling menatap seolah sedang menyembunyikan sesuatu dan Aruna tahu itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2