
Saat Shofia menghindar, Aruna langsung mengedipkan matanya kearah Muca seolah mengisyaratkan agar Muca membawa Mici menjauh dari tempat itu.
Muca yang mengerti isyarat yang diberikan Aruna pun bergegas menghampiri Mici lalu membawanya menjauh dari arena pertempuran.
Malam kian larut dan pertempuran pun kian sengit seiring perubahan yang dialami Aruna. Jika diawal ia hanya mengalami perubahan tekstur kulit yang mulai menebal ditambah tumbuhnya bulu-bulu halus di sekujur tubuh, maka saat malam meninggi wujud Aruna kian menyeramkan. Selain itu kekuatan Aruna pun bertambah dan itu membuat nyali Shofia menciut.
" Apa sebenernya Kamu ini Aruna...?!" tanya Shofia sambil melompat mundur setelah bersinggungan dengan Aruna tadi.
" Menurutmu apa Shofia...?" kejar Aruna sambil mengibaskan tangannya yang dipenuhi kuku panjang dan runcing itu.
Shofia nampak berusaha terus menghindar dari kejaran Aruna. Namun sayangnya ia sedikit lengah karena terpesona dengan perubahan wujud Aruna dan dia harus menelan rasa sakit akibat kelalaiannya itu. Sebuah tendangan mendarat telak di dada Shofia dan membuatnya terjengkang ke tanah.
" Aku belum pernah melihat makhluk jadi-jadian seperti ini. Katakan siapa Kamu sebenarnya Aruna...?!" tanya Shofia lagi sambil memegangi dadanya yang sakit akibat tendangan Aruna tadi. Ada darah segar yang mengalir dari sela bibirnya pertanda jika Shofia terluka dalam saat ini.
Aruna berhenti menyerang lalu berdiri tegak di hadapan Shofia.
" Perhatikan Aku baik-baik Shofia...!" kata Aruna lantang.
Perlahan kulit wajah Aruna yang menebal itu makin mengkerut. Bulu pun ikut tumbuh di seluruh permukaan kulit wajahnya. Mulut Aruna yang ditumbuhi gigi nampak menyeringai dan itu membuat Shofia mundur ketakutan.
Saat Shofia melihat kedua telinga Aruna berubah membentuk telinga hewan dan tubuhnya membesar seperti beruang besar, Shofia pun jatuh terduduk.
Dari jauh Muca dan Mici nampak tersenyum melihat kondisi Shofia.
" Sekarang dia baru sadar tengah berhadapan dengan siapa...," kata Muca sinis.
" Betul. Semoga Aruna memberinya sedikit kenang-kenangan supaya Shofia ga terlalu sombong dan sadar diri akan posisinya...," kata Mici kesal.
" Aku setuju. Tapi Aku yakin Aruna ga sejahat itu...," sahut Muca.
" Kamu lupa Sayang. Wanita yang cemburu bisa melupakan semua tata krama dan rasa welas asih nya...," kata Mici sambil tersenyum penuh makna.
" Kalo itu Aku angkat tangan. Kalian para wanita memang sulit terbaca...," sahut Muca sambil menggelengkan kepalanya.
Di depan sana terlihat Shofia tengah bersimpuh memohon pengampunan Aruna. Sedangkan Aruna nampak berdiri sambil menatap marah kearah Shofia.
" Aku janji ga akan mengganggu Kautsar lagi dan Aku akan pergi sejauh mungkin. Tapi tolong ampuni Aku Aruna...," pinta Shofia.
" Kesabaran ku sudah habis Shofia...," kata Aruna dingin hingga membuat tubuh Shofia makin gemetar.
" Tolong beri Aku kesempatan hidup Aruna...," pinta Shofia sambil menangis.
__ADS_1
" Baik. Tapi ada harga yang harus Kau bayar Shofia. Serahkan salah satu anggota tubuhmu padaku...," sahut Aruna.
" Apa maksudmu...?" tanya Shofia sambil mendongakkan wajahnya menatap Aruna.
" Tinggalkan salah satu kaki atau tanganmu dan Kau bisa pergi dari sini sejauh yang Kau mau...," sahut Aruna.
" Itu ga mungkin. Aku bakal jadi orang cacat Aruna...!" kata Shofia lantang.
" Pilihanmu hanya satu, iya atau tidak...," sahut Aruna tegas sambil mengembangkan telapak tangannya seolah siap menyerang Shofia.
Shofia nampak memejamkan mata sejenak. Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya seolah minta dikasihani namun Aruna tak peduli.
Perlahan Shofia bangkit lalu berdiri di hadapan Aruna. Tubuhnya nampak oleng akibat luka yang dideritanya.
" Aku akan lakukan apa yang Kau minta Aruna...," kata Shofia dengan suara parau.
" Lakukan sekarang, atau Kau perlu bantuan...?" tanya Aruna tapi Shofia menggeleng.
" Ga perlu Aku bisa sendiri... Aaakkkhhh...!" sahut Shofia bersamaan dengan putusnya lengan kirinya hingga sebatas siku.
Darah nampak mengalir deras dari lengan yang terputus itu. Shofia pun menangis keras meratapi dirinya yang tak lagi sempurna. Sedangkan Aruna hanya menatap tanpa ekspresi kearah Shofia.
Perlahan Shofia mengangkat tangannya lalu menyerahkan potongan tangan kirinya itu kepada Aruna.
Aruna melirik kearah Muca dan memintanya mengambil potongan tangan Shofia. Muca mengangguk lalu maju dan meraih potongan tangan Shofia.
" Pergi lah. Jangan sampai Aku melihatmu lagi Shofia...," kata Aruna sambil menatap tajam kearah Shofia.
" Baik, terima kasih...," sahut Shofia lirih sambil menundukkan kepalanya dengan takzim di hadapan Aruna.
Sebelum melesat pergi, Shofia menoleh kearah Muca dan Mici lalu mengatakan sesuatu.
" Maafkan semua kesalahanku. Tolong jangan membenciku. Aku memang tak sepadan dengan Kalian dan itu membuatku iri. Maaf. Tolong sampaikan pada sang raja Aku bangga pernah menjadi putrinya. Terima kasih...," kata Shofia sambil menundukkan kepalanya di hadapan Muca dan Mici.
Muca dan Mici nampak saling menatap tak percaya melihat perubahan sikap Shofia. Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum tipis saat Shofia melesat pergi.
" Akhir yang menyedihkan...," kata Muca.
" Itu sepadan untuk semua kejahatan yang pernah dia lakukan..., " sahut Mici sambil mencibir.
" Terus Kita apain potongan tangan ini Aruna...?" tanya Muca sambil menatap Aruna.
__ADS_1
" Kubur saja...," sahut Aruna singkat.
" Baik. Tapi apa boleh Aku bertanya...?" tanya Muca ragu.
" Tentu...," sahut Aruna.
" Apa hukuman potong tangan itu bisa bikin Shofia jera...?" tanya Muca.
" Harusnya begitu. Aku pernah melukai tubuh dan wajahnya dengan cakarku. Tapi Shofia berhasil menyembuhkan luka itu dengan cara operasi plastik. Makanya Aku ga melakukan itu lagi karena dia pasti akan operasi lagi. Dengan membuatnya cacat otomatis juga membuatnya malu. Dan hukuman seperti itu lebih layak untuknya karena akan selalu diingat sepanjang hidupnya...," sahut Aruna.
" Kenapa Kamu ga membunuhnya Aruna. Bukan kah itu mudah untukmu...?" tanya Muca lagi.
" Aku ingin. Tapi sisi manusiaku mengingatkan Aku agar Aku tak melakukan itu. Biar lah dia menanggung dosa yang dia lakukan. Dan Allah yang akan menghukumnya nanti bukan Aku...," sahut Aruna bijak.
" Luar biasa. Kamu memang orang baik, ga salah Kami memilih berteman denganmu Aruna...," puji Mici sambil menggelayut manja di lengan Aruna yang kini telah kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.
" Jangan terlalu memuji, nanti Aku bisa melayang...," kata Aruna hingga membuat Muca dan Mici tertawa.
Kemudian Muca menggali tanah lalu menguburkan potongan tangan milik Shofia. Saat itu lah Aruna teringat akan luka yang diderita Muca dan Mici.
" Luka Kalian gimana, parah kah...?" tanya Aruna.
" Gapapa Aruna. Luka semacam ini bisa sembuh sendiri. Maaf kalo Kami berbohong karena Kami memang dipaksa Shofia untuk memancingmu keluar...," kata Muca tak enak hati.
" Lupakan, Aku Gapapa kok...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Terima kasih Aruna...," kata Muca dan Mici bersamaan.
" Sama-sama. Kalo gitu Aku pulang sekarang ya...," pamit Aruna.
" Iya, biar Kami antar...," kata Muca antusias.
" Ok, makasih...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Kemudian Aruna naik ke atas punggung Muca sedangkan Mici berlari lebih dulu.
Tak lama kemudian ketiganya tiba di depan rumah. Setelah memastikan Aruna masuk ke dalam rumah, Muca dan Mici pun pergi.
Perlahan Aruna membuka pintu dan menyelinap masuk. Namun langkahnya terhenti saat suara Kautsar menyapanya.
" Darimana Aruna...?" tanya Kautsar sambil menatap Aruna lekat.
__ADS_1
Aruna nampak terkejut melihat Kautsar berdiri di hadapannya dengan tatapan setajam elang.
bersambung