Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
227. Pidato Singkat


__ADS_3

Diantara para peserta meeting terlihat Kalisha, Drajat dan Kenzo. Meski ketiganya duduk berjauhan, tapi terlihat jelas jika Drajat dan Kalisha tak menyukai kehadiran Kenzo di ruangan itu.


" Maaf kalo pertanyaan Saya kurang patut. Apa mahasiswa magang itu juga harus ikut meeting kali ini Pak Simon...?" tanya Kalisha sambil menunjuk Kenzo dengan ujung dagunya.


" Betul sekali. Ini semua atas permintaan Pak Erlan selaku pimpinan...," sahut Simon sambil tersenyum.


" Tapi untuk apa...?" tanya Kalisha penasaran.


" Sabar, sebentar lagi pertanyaan Bu Kalisha akan segera terjawab...," sahut Simon.


Kalisha pun terdiam sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.


Sedangkan di kursinya Kenzo tampak asyik dengan ponselnya seolah tak peduli dengan kondisi sekitarnya. Rupanya saat itu Kenzo sedang berusaha menutupi kegugupannya. Namun senyum nampak mengembang di wajah Kenzo saat mendengar suara detak tiga pasang sepatu memasuki ruangan meeting itu.


Erlan nampak tersenyum saat memasuki ruangan. Saat semua peserta meeting ingin berdiri sekedar melakukan penghormatan, Erlan nampak melambaikan tangan seolah mencegah mereka melakukan itu.


Bianca dan Aruna duduk di sebelah kiri Erlan. Keduanya sama tegangnya dengan peserta meeting lainnya.


Kemudian Erlan menyapa para peserta meeting sekaligus langsung menyampaikan niatnya mengadakan meeting internal perusahaan kali ini.


" Assalamualaikum , selamat pagi semua...!" sapa Erlan.


" Wa alaikumsalam, selamat pagi Pak...," sahut semua orang di dalam ruangan.


" Baik, terima kasih atas kehadirannya untuk memenuhi undangan Saya pagi ini. Tanpa banyak kata Saya ingin menyampaikan jika keberadaan Saya di perusahaan ini hanya sementara. Dan Saya harus segera kembali ke Jakarta karena pekerjaan Saya yang lain menanti Saya di sana...," kata Erlan.


Untuk sesaat ruangan pun hening. Kemudian Erlan berjalan menghampiri Kenzo dan berdiri di belakang kursinya. Semua mata menatap bingung kearah Erlan kecuali Aruna dan Bianca.


" Dan Saya bermaksud menyerahkan tampuk pimpinan perusahaan ini pada seseorang yang tentu saja atas persetujuan Ayah Saya selaku owner perusahaan ini...," kata Erlan berteka-teki.


Mendengar ucapan Erlan membuat semua orang saling menatap bingung.


" Saya perkenalkan Kenzo, anak tunggal Saya. Dia lah yang akan menggantikan Saya memimpin perusahaan ini...," kata Erlan sambil menepuk pundak Kenzo.


Semua orang terkejut dan menganga tak percaya. Terutama Drajat dan Kalisha yang selama ini kerap meremehkan Kenzo.


Kenzo pun bangkit dari duduknya dan berdiri di samping sang papa. Tinggi tubuh Kenzo yang melebihi sang papa membuat Erlan tersenyum bangga. Wajah Kenzo yang sejak tadi menunduk kini terangkat. Kenzo pun menganggukkan kepala sambil memperlihatkan senyum khasnya.


" Ayo Nak, sapa dulu semua orang supaya mereka lebih mengenalmu...," kata Erlan sambil menepuk punggung Kenzo dengan lembut. Kenzo mengangguk lalu mulai menyampaikan salam perkenalan.

__ADS_1


" Assalamualaikum semua, selamat pagi. Perkenalkan Saya Kenzo. Mungkin beberapa orang sudah mengenal Saya. Selama ini Saya magang di bagian gudang. Kalo boleh cerita sedikit, sebenernya Saya sama sekali ga punya keinginan untuk menduduki posisi pimpinan di perusahaan ini. Awalnya Saya memang menghubungi Kakek Saya karena kondisi perusahaan yang sedikit terganggu sejak kepergian Pak Hasby. Ternyata Kakek mengutus Papa Saya untuk datang ke sini sekaligus melatih Saya untuk menduduki posisi ini. Dan hari ini adalah hari dimana Papa Saya harus kembali ke Jakarta. Jadi insya Allah ke depannya Saya yang akan menggantikan tugas Beliau. Dan Saya sadar diri kalo Saya bukan orang yang piawai. Karena itu Saya mohon kerja samanya agar Kita bisa sama-sama memajukan perusahaan ini. Terima kasih...," kata Kenzo sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Setelahnya terdengar tepuk tangan membahana di ruangan itu. Semua menoleh ke asal suara. Ternyata Aruna lah pelakunya. Aruna nampak berdiri sambil menatap kagum kearah Kenzo yang tersipu malu. Semua tersenyum melihat tingkahnya dan kemudian ikut bertepuk tangan untuk mengapresiasi pidato singkat Kenzo tadi.


Kenzo dan Erlan pun tersenyum melihat reaksi semua orang. Erlan nampak memeluk Kenzo dengan erat sambil membisikkan sesuatu. Kenzo pun mengangguk tanda mengerti apa yang diinginkan sang papa.


Tak lama kemudian semua orang berdiri lalu menghampiri Kenzo dan Erlan. Mereka menjabat tangan Kenzo dan Erlan secara bergantian sambil mengucapkan selamat.


Tiba lah saatnya Kalisha dan Drajat yang harus menyampaikan ucapan selamat kepada Kenzo. Rupanya keduanya sama-sama teringat akan sikap mereka terhadap Kenzo selama ini. Keduanya terlihat gugup. Namun Kalisha berusaha bersikap tenang. Sedangkan Drajat justru tampak tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


" Selamat ya Mas Kenzo. Ternyata penyamaran Mas Kenzo selama ini berhasil ya. Saya aja sampe terkecoh lho. Maafkan Saya yang ga bisa mengenali pewaris perusahaan ini...," kata Kalisha diplomatis.


" Gapapa Bu Kalisha. Mohon kerja samanya ya dan terima kasih...," sahut Kenzo dengan tenang.


Kalisha mengangguk sopan lalu beralih menjabat tangan Erlan dan segera berlalu. Giliran Drajat pun tiba. Ia terlihat sangat gugup. Bahkan saking gugupnya Drajat tak mampu berkata apa-apa selain maaf.


" Maaf, maaf...," kata Drajat sambil menjabat tangan Kenzo dengan erat.


Kepalanya tertunduk dalam. Kenzo pun nampak tersenyum lalu menepuk pundak Drajat dengan lembut.


" Sama-sama Pak Drajat. Mohon kerja samanya dan terima kasih...," kata Kenzo tegas.


Erlan dan Kenzo saling menatap sambil tersenyum.


Setelah ramah tamah dengan pimpinan baru meeting pun berakhir. Saat semua orang meninggalkan ruangan Aruna pun menepuk punggung Kenzo dengan keras.


" Hebat Lo Ken, ga nyangka Lo bisa jadi Direktur secepat ini...!" kata Aruna.


" Aruna, Gue Bos Lo sekarang. Kenapa masih kaya gini aja sih...," gerutu Kenzo sambil mendelik kesal.


" Iya iya. Sorry Bos. Tapi Gue seneng banget Ken. Selamat ya...!" kata Aruna sambil merentangkan kedua tangannya.


Kenzo pun tertawa lalu menyambut pelukan Aruna dengan hangat. Bianca dan Erlan nampak tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Aruna dan Kenzo.


" Udah jangan lama-lama. Ntar Ria salah paham lagi sama Gue...," kata Aruna sambil mendorong tubuh Kenzo agar menjauh namun itu mengejutkan Kenzo dan membuatnya terbentur meja.


" Aruna !. Kasar banget sih jadi cewek. Inget ya Run, Lo kan lagi hamil...!" kata Kenzo kesal.


" Ups, sorry lagi. Gue lupa tuh...," sahut Aruna dengan wajah memelas hingga membuat Kenzo menggeram kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan semua orang yang tersisa menoleh kearah pintu. Ria terlihat berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca.


" Sayang, kenapa Kamu...?" tanya Kenzo sambil melangkah menghampiri Ria.


Ria pun langsung menghambur memeluk Kenzo dan menangis keras hingga membuat Kenzo bingung. Sedangkan Erlan, Bianca dan Aruna hanya tersenyum.


" Kata mereka Kamu diangkat jadi Direktur perusahaan ini. Apa itu bener Ken...?" tanya Ria sambil mengurai pelukan.


" Iya Sayang...," sahut Kenzo sambil merapikan rambut Ria yang berantakan.


" Apa itu artinya Kita bakal putus Sayang...?" tanya Ria sambil terisak.


" Kok putus ?. Emang apa hubungannya jabatan Aku sekarang sama hubungan Kita...?" tanya Kenzo tak mengerti.


" Bukannya biasanya anak tunggal kaya Kamu yang pewaris perusahaan besar kaya gini udah disiapin jodohnya ya. Itu kan artinya Kita bakal putus karena keluarga Kamu pasti ga setuju sama hubungan Kita Ken...," sahut Ria sambil berurai air mata.


Ucapan Ria membuat Kenzo terkejut lalu menatap sang papa seolah meminta jawaban. Erlan pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Kamu jangan khawatir Ria. Justru Om sama Tante lagi nyiapin diri buat ketemu sama orangtua Kamu. Kami bermaksud melamar Kamu untuk jadi pendamping Kenzo. Gimana Ria, apa Kamu siap...?" tanya Erlan sambil menyentuh pipi Ria yang basah dengan air mata itu.


" Apa Om serius...?" tanya Ria.


" Iya, seribu rius malah...," gurau Erlan.


Ria dan Kenzo pun saling menatap kemudian tertawa. Aruna dan Bianca pun ikut terharu mendengar ucapan Erlan tadi. Keduanya nampak tersenyum bahagia.


" Mimpi apa semalam Lo bisa dapet kabar menyenangkan kaya gini Ri...," kata Aruna hingga membuat Ria menoleh.


" Yang penting sebentar lagi Gue bakal married Run. Married...!" jerit Ria sambil memeluk Aruna.


Lagi-lagi suara tawa kembali terdengar menggema di ruangan itu. Kemudian Kenzo menghampiri sang papa lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.


" Makasih Pa...," kata Kenzo dengan suara bergetar.


" Sama-sama Nak. Papa tau dia adalah sumber kebahagiaanmu. Jadi Papa, Mama, Kakek dan Nenek memang merencanakan ini sejak dua Minggu yang lalu. Apa Kamu senang...?" tanya Erlan.


" Banget Pa...," sahut Kenzo dengan wajah berbinar.


Kebahagiaan terus menggema di dalam ruangan itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata nampak menatap tak suka kearah mereka. Tatapan yang diselimuti amarah dan dendam yang nampaknya akan membuat masalah baru nanti.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2