Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
145. Masa Lalu


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kegiatan di dapur Puri kembali ke kamar dan tak keluar hingga malam hari. Puri merasa kecewa dengan sikap suaminya yang selalu melampiaskan kemarahannya pada anak mereka Cinta. Ia kembali teringat awal mula petaka yang merenggut kebahagiaan rumah tangganya dulu.


Setelah bertahun-tahun menikah Puri dan Edi belum juga dikaruniai anak. Mereka telah mencoba berbagai cara agar Puri bisa hamil. Walau pun mereka belum dikaruniai anak, mereka tetap terlihat bahagia.


Kebahagiaan Puri dan Edi terusik saat kakak lelaki Edi yang merupakan papa Kenzo itu menikah. Mereka merasa jika pernikahan kakak Edi yang bernama Elan itu memberi imbas buruk pada rumah tangga mereka.


Bagaimana tidak. Ayah Elan dan Edi berjanji akan memberi dua per tiga kekayaan yang dimilikinya kepada mereka yang memberikannya cucu pertama, apa pun jenis kelaminnya.


Saat istri pertama Elan diketahui mengandung, kedua orangtua Elan dan Edi sangat bahagia. Edi dan Puri yang iri pun membuat siasat buruk. Mereka sengaja membubuhi racun pada makanan yang disajikan khusus untuk ibu hamil itu. Efeknya luar biasa. Istri Elan tak hanya mengalami keguguran, tapi dia juga harus meregang nyawa karena pendarahan hebat.


Puri yang bertugas membubuhkan racun pada makanan istri Elan nampak shock karena tak menyangka perbuatannya akan berakibat fatal. Sedangkan Edi terlihat santai dan itu membuat Puri marah.


" Obat apa yang Kamu kasih sama Aku Bang. Kenapa dia mati...?" tanya Puri kala itu.


" Hanya obat penghilang nafsu makan...," sahut Edi santai.


" Kalo obat penghilang nafsu makan ga kaya gitu efeknya Bang. Kita udah membunuh orang Bang...!" kata Puri marah.


" Diam !. Kau tau apa soal membunuh. Ini hanya kecelakaan. Aku juga ga tau kalo efeknya sefatal itu. Lagipula bukan kah obat itu memang untuk penghilang nafsu makan ?. Kau liat, si Elan jadi kehilangan nafsu makan melihat kematian istrinya...!" sahut Edi tak kalah marah.


Puri nampak menangis sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika suaminya bisa merencanakan pembunuhan dan melibatkannya dalam aksi keji itu.


" Kamu jahat Bang...," kata Puri lirih.


" Aku jahat karena Aku sedang berjuang untuk Anakku, untuk Kita. Aku ga rela Elan yang mendapatakan dua per tiga harta kekayaan Ayahku itu...," sahut Edi.


" Baj*ng*n. Ceraikan Aku Bang. Aku ga mau jadi istri pembunuh...!" kata Puri lantang.


" Kamu ga bisa menuntut cerai. Aku akan bocorkan aksimu pada semua orang. Aku akan bilang Kamu telah meracuni dia karena Kamu iri dengan kehamilannya. Kau tau mereka akan lebih percaya sama Aku karena selama ini Aku tetap bertahan denganmu. Padahal Aku bisa mencari perempuan lain untuk Kunikahi dan mengandung anakku. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Pikirkan baik-baik dan jangan menangis...!" kata Edi sambil beranjak keluar kamar.

__ADS_1


Puri menjerit marah mendengar ancaman Edi. Ia takut masuk penjara. Karenanya ia memilih diam dan tetap bertahan di samping Edi hingga detik ini.


\=\=\=\=\=


Elan yang terpukul mulai curiga pada Edi dan Puri. Namun ia tak memiliki bukti yang cukup untuk menyeret Edi dan istrinya ke penjara.


" Aku yakin mereka telah melakukan sesuatu yang membuat Istriku meninggal. Tapi apa. Ga ada jejak yang bisa Aku telusuri. Ga ada luka di tubuh Istriku, semua terlihat normal. Apalagi dokter bilang Istriku meninggal karena darah tinggi. Rasanya mustahil. Selama ini Istriku baik-baik saja. Hasil pemeriksaan kemarin juga ga menunjukkan gejala penyakit apa pun. Aneh...," gumam Elan sambil menghapus air matanya.


Setelah kematian istrinya Elan memutuskan hijrah dari rumah pemberian orangtuanya. Dia merantau ke kota H dan bertemu dengan Nina. Setelah mengenal dekat dan saling jatuh cinta, Elan dan Nina pun memutuskan menikah.


Namun sebelumnya Elan memberitahu Nina tentang kemelut yang ada di keluarganya.


" Aku sedang ga akur sama adik laki-lakiku dan istrinya. Jadi kemungkinan Kita akan menikah tapi tanpa dihadiri keluargaku...," kata Elan kala itu.


" Kenapa begitu. Tapi orangtuamu bisa hadir kan...?" tanya Nina.


" Mungkin ga. Karena Aku berencana menikah tanpa memberitahu mereka...," sahut Elan hingga membuat Nina terkejut.


" Iya. Aku ingin ga ada lagi orang yang mengacaukan pernikahanku. Aku ga mau kehilangan istriku untuk kedua kalinya hanya karena rasa iri Edi dan Istrinya itu...," sahut Elan.


" Apa mereka membencimu dan ga ingin Kamu menikah...?" tanya Nina.


" Kayanya sih gitu. Mereka berharap Aku ga menikah karena mereka berambisi memiliki dua per tiga kekayaan Ayahku. Dulu Ayahku pernah berjanji akan memberikan hartanya itu pada salah satu dari Kami yang mampu mempersembahkan cucu pertama untuknya. Aku hampir memiliki anak, tapi gara-gara janji Ayahku Aku harus kehilangan anak dan istriku sekaligus. Istriku meninggal saat sedang hamil enam bulan. Aku curiga kematian istriku karena diracun oleh Edi dan istrinya. Aku berniat melaporkan hal itu ke Polisi tapi Aku ga tega sama Mamaku. Beliau pasti terpukul kalo tau Anak kesayangannya masuk bui...," kata Elan panjang lebar.


Nina nampak terkejut sesaat lalu mengangguk tanda mengerti. Ia mengulurkan tangannya lalu meraih jemari Elan.


" Aku bersedia menikah denganmu. Bagiku Kamu aja udah cukup. Tentang keluargamu bisa Kita pikirkan nanti...," kata Nina sambil tersenyum.


" Makasih Nina. Aku akan membawamu menemui orangtuaku saat Kita sudah menikah nanti. Tolong bersabar sedikit ya...," pinta Elan.

__ADS_1


" Iya. Aku percaya Kamu ga akan membohongi Aku Elan...," sahut Nina.


Elan tersenyum lalu memeluk Nina erat. Dalam hati Elan berjanji akan berusaha melindungi Nina dan anak mereka kelak. Ia tak ingin kehilangan anak dan istrinya untuk yang kedua kalinya karena ulah adik dan iparnya itu.


Pesta pernikahan Elan dan Nina pun digelar di kota H. Meski pun tanpa kehadiran keluarga Elan, pernikahan mereka tetap berjalan sempurna. Keluarga Nina tak mempermasalahkan hal itu karena Elan telah menceritakan semuanya. Pertimbangan lain adalah karena Elan memang telah mampu dalam segi finansial sehingga tak perlu dukungan keluarga untuk membiayai pernikahannya dengan Nina.


Setelahnya rumah tangga Elan dan Nina terlihat harmonis. Elan benar-benar menepati janjinya untuk membahagiakan Nina. Mereka tinggal di rumah yang dibeli Elan dari hasil jerih payahnya.


Dan memasuki dua bulan usia pernikahan mereka, Nina dinyatakan hamil. Kebahagiaan pun mewarnai kehidupan Elan dan Nina. Namun kecemasan Elan bertambah saat ia diharuskan memenuhi janjinya pada Nina.


Entah bagaimana ceritanya, di usia kandungan yang ke lima bulan Nina punya keinginan untuk bertemu dengan kedua mertuanya itu. Elan tak bisa menolak karena ia sangat menyayangi Nina. Elan mencoba bernegosiasi dengan Nina.


" Bisakah Kita ketemu orangtuaku setelah Anak ini lahir...?" tanya Elan hati-hati.


" Kenapa, Kamu malu mempertemukan Aku dengan orangtuamu...? " tanya Nina kesal.


" Bukan itu Sayang. Aku cuma khawatir ada orang yang tak menginginkan kehadiranmu dan anak Kita lalu berusaha melukai Kalian...," sahut Elan gusar.


" Apa ini masih tentang Adikmu dan istrinya itu...?" tanya Nina.


" Iya. Aku ga mau mereka menyakiti Kamu dan Anak Kita Nina...," sahut Elan.


" Aku dan anak Kita akan baik-baik aja Elan. Tolong atur aja pertemuanku dengan orangtuamu. Di tempat umum pun boleh asal Aku bisa kenal dan memeluk mereka sebentar...," kata Nina penuh harap.


" Apa harus...?" tanya Elan.


" Anggap aja ini ngidamnya Ibu hamil. Bisa kan ?. Atau Kamu mau anak ini lahirnya ngiler terus karena keinginannya ga terpenuhi...?" tanya Nina setengah merajuk.


Elan pun terdiam. Ia berpikir keras bagaimana cara mempertemukan istrinya dengan kedua orangtuanya tanpa diketahui Edi dan Puri.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2