
Polisi berhasil menemukan jejak Puri dan ketiga anaknya. Tak sulit karena Puri memang bukan penjahat yang sengaja sembunyi dari khalayak ramai.
Saat ditemukan Puri dan ketiga anaknya tengah berada di wahana bermain di sebuah kota.
Dengan sabar Puri mendampingi ketiga anaknya bergantian saat main di wahana yang berbeda sesuai permintaan mereka. Sikap Puri sempat mencuri perhatian dan itu membuat sebagian pengunjung kagum dengan kesabaran Puri mengasuh ketiga anak remajanya yang memiliki kekurangan itu.
Setelah puas bermain Puri mengajak ketiga anaknya mampir di sebuah rumah makan. Lagi-lagi Puri dan ketiga anaknya mencuri perhatian pengunjung. Meski pun membutuhkan waktu lama, tapi Puri berhasil membuat ketiga anaknya makan.
Saat itu lah seoran Polisi wanita menghampiri Puri.
" Selamat sore, dengan Ibu Puri...?" sapa sang polisi wanita bernama Hanna itu dengan ramah.
" Selamat sore. Iya betul. Maaf, Ibu ini siapa ya...?" tanya Puri.
" Perkenalkan nama Saya Hanna, Saya polisi yang ditugaskan menjemput Bu Puri dan anak-anak...," sahut Hanna.
Mendengar jawaban Hanna membuat Puri terkejut. Ia berdiri lalu mengajak Hanna menjauh dari meja dimana ketiga anaknya berada. Puri tak ingin ketiga anaknya cemas karena mereka harus dijemput oleh seorang polisi.
" Polisi, kenapa Saya harus dijemput Polisi. Saya ga melakukan kejahatan apa pun. Apa lari dari rumah yang seperti neraka itu sebuah kejahatan...?" tanya Puri sambil menatap nanar ke sekelilingnya.
" Rumah seperti neraka, maksud Bu Puri gimana ya...?" tanya Hanna tak mengerti.
" Lho kenapa Bu Hanna malah balik bertanya. Bukannya Suami Saya yang lapor sama Polisi kalo Saya kabur membawa ketiga anak Kami...?" tanya Puri.
Mendengar pertanyaan Puri membuat Hanna tersenyum. Ia maklum jika telah terjadi kesalah pahaman di sini.
" Maaf. Bukan Suami Ibu yang melapor tapi ini perintah atasan Saya...," kata Hanna.
" Terus salah Saya apa ?. Kenapa Saya ditangkap...?" tanya Puri gusar.
" Bu Puri ga ditangkap karena melakukan kesalahan. Kami mencari Ibu untuk mengabarkan jika Suami Ibu mengalami kecelakaan di dalam rumah. Dia ditemukan terluka bersimbah darah tanpa seorang pun tau apa sebabnya...," sahut Hanna dengan sabar.
" Bang Edi terluka. Terus gimana keadaaannya sekarang Bu...?" tanya Puri cemas.
" Pak Edi dilarikan ke Rumah Sakit. Pihak kepolisian masih berusaha mencari sebab luka-luka yang dideritanya. Tapi Kami juga perlu bantuan Ibu untuk memberi informasi tentang siapa saja yang dekat dengan Pak Edi belakangan ini...," sahut Hanna.
__ADS_1
" Saya ga tau apa-apa. Rasanya sia-sia aja Bu Hanna minta informasi sama Saya...," sahut Puri sambil melengos.
" Gapapa. Tapi kehadiran Ibu di samping Pak Edi bisa menepis dugaan kalo Bu Puri adalah pelaku penganiayaan terhadap Pak Edi...," kata Hanna.
Puri nampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. Walau hatinya berat untuk kembali, namun ia juga tak mau menjadi tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan suaminya.
" Ok, Saya ikut. Tunggu sebentar ya Bu Hanna. Saya harus membujuk ketiga anak Saya dulu...," kata Puri akhirnya.
" Baik, silakan Bu...," sahut Hanna sambil tersenyum.
Kemudian Puri melangkah mendekati ketiga anaknya. Ternyata tak sulit membujuk mereka. Dengan mudah Edwin, Edgar dan Cinta ikut kemana Puri dan Hanna membawa mereka.
Di dalam mobil terjadi perbincangan antara Puri dan Edwin. Cinta dan Edgar nampak mendengarkan dengan seksama penuturan sang mama. Puri mengatakan jika Edi memerlukan kehadiran mereka di sampingnya.
" Kenapa Papa perlu Kita Ma. Bukannya selama ini Papa ga suka sama Kita...?" tanya Edwin tak mengerti.
" Mama tau Kalian bertiga pasti sakit hati sama sikap Papa. Tapi tolong maafin Papa ya Anak-anak. Sekarang Papa sakit dan butuh Kita untuk menghiburnya...," sahut Puri.
" Emang Papa mau kalo Kita hibur Ma. Papa selalu bilang sakit kepala tiap kali denger suara Aku. Jangan-jangan ntar malah Kita disiram pake air gara-gara berisik...," kata Edwin sedih.
" Iya Ma...," sahut Edwin pasrah hingga membuat Puri tersenyum.
Hanna yang duduk di samping supir nampak kagum melihat kesabaran Puri menasehati anaknya.
" A... ku ga ma... u li...at Pap... pa...," kata Cinta tiba-tiba.
" Lho kenapa...?" tanya Puri yang tahu pasti apa jawaban Cinta.
" Pap... pa ja... hat. A... ku ta... kut...," sahut Cinta sambil melengos kesal.
" Kan tadi Mama udah bilang kalo Papa sakit. Kita harus maafin Papa supaya Allah ga marah. Cinta ingat kan, gimana Allah kalo lagi marah...?" tanya Puri.
Ucapan Puri membuat Cinta tersentak kaget. Cinta nampak menganggukkan kepala sambil mengucapkan kalimat yang 'menampar' siapa pun yang mendengarnya.
" I... ya. A... ku le... bih ta... kut sa... ma Allah da... ri pa... da Pap... pa...," sahut Cinta terbata-bata.
__ADS_1
" Anak pinter...," kata Puri sambil mencium kening Cinta dan membuat remaja itu tersenyum bangga.
Mobil yang membawa rombongan Puri dan ketiga anaknya terus melaju membelah jalan raya. Mobil berhenti saat tiba di parkiran Rumah Sakit. Puri, Hanna dan supir mobil nampak bergegas membantu ketiga anak Puri turun dari mobil. Setelahnya mereka mendampingi anak-anak Puri hingga tiba di kamar rawat inap Edi.
Puri dan ketiga anaknya nampak berdiri mematung melihat kondisi Edi yang terbaring lemah dan dibalut perban. Ketiga anak Puri nampak bingung karena itu kali pertama mereka melihat orang dibalut seperti mummi.
" Eehh... uuhh...," kata Edgar sambil menggoyang lengan Puri seolah bertanya siapa orang yang dibalut perban itu.
" Itu Papa Nak...," kata Puri dengan suara tercekat.
" Aahh... uuhh...," sahut Edgar sambil menggelengkan kepalanya seolah menolak kenyataan jika orang yang terbaring di hadapannya adalah ayah kandungnya.
" Papa lagi sakit. Makanya diperban kaya gitu...," kata Puri menjelaskan hingga Edgar mau mengerti.
" Silakan Bu...," kata Hanna.
" Makasih Bu Hanna...," sahut Puri yang diangguki Hana.
Perlahan Puri mendekati suaminya. Air mata nampak mengembang di kelopak matanya menyaksikan pria yang berstatus suaminya itu terbaring lemah tak berdaya.
" Bang Edi...," panggil Puri lirih namun cukup membuat Edi bangun dan membuka matanya.
Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu. Edi nampak mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh Puri. Namun sayangnya Puri mengabaikan uluran tangan suaminya karena Puri terlalu takut untuk menyambutnya. Puri khawatir Edi akan menyakitinya setelah tahu ia membawa pergi ketiga anak mereka dan tabungan mereka di brankas. Padahal Edi tak tahu apa pun tentang itu.
Edi baru siuman sejam yang lalu dan terkejut mendapati dirinya berada di ruangan Rumah Sakit.
Melihat Puri tak menyambut uluran tangannya Edi pun nampak kecewa. Ia menghela nafas panjang seolah berusaha mengerti mengapa Puri mengabaikannya.
Kemudian Edi mengalihkan tatapannya kearah lain dan melihat ketiga anaknya tengah berdiri berdampingan di belakang Puri. Edi menyunggingkan senyum manis saat melihat kehadiran mereka dan itu mengejutkan Puri. Karena selama ini hanya caci maki yang keluar dari bibir sang suami.
Reaksi berbeda justru ditunjukkan ketiga anak Puri. Mengira sang papa akan marah, Edgar dan Cinta nampak merapat sambil memeluk Edwin. Mereka selalu bersikap seperti itu saat menghadapi kemarahan Edi.
Hati Puri pun berdesir perih saat melihat reaksi ketiga anaknya itu.
" Kenapa di saat Kamu ga berdaya kaya gini Kamu baru melihat mereka Bang. Senyum Kamu ini ga berarti apa-apa buat mereka karena luka yang Kamu goreskan terlalu banyak. Beruntung Allah memberi mereka kekuatan dan hati yang seluas samudra hingga mereka mau datang untuk memaafkanmu...," keluh Puri dalam hati sambil menahan tangis.
__ADS_1
\=\=\=\=\=