Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
309. Ada Yang Lain


__ADS_3

Dokter Sheina nampak mengetuk meja di hadapannya dengan ujung jarinya. Ia tengah berpikir keras sambil duduk memeras otak. Ia sedikit kesal karena hingga detik ini belum bisa mengendalikan hasrat hewan liar yang ada di dalam tubuhnya.


" Kenapa ga pernah bisa. Aku liat Aruna dengan mudahnya melewati semua tanpa hambatan. Apa yang salah ya. Atau karena Aku terlambat mendapat pertolongan...?" gumam dokter Sheina.


" Bukan terlambat mendapat pertolongan. Tapi usiamu untuk belajar memang sedikit terlambat Sheina...," kata Matilda tiba-tiba hingga mengejutkan dokter Sheina.


" Matilda...! " panggil dokter Sheina sambil menghampiri Matilda lalu memeluknya erat.


" Aku datang karena mengantar Aruna untuk mengecek kehamilannya Shei...," kata Matilda sambil tersenyum.


" Oh ya, mana Aruna...?" tanya dokter Sheina sambil melirik kearah pintu.


" Mungkin sebentar lagi. Dia datang bersama Kautsar. Aku sengaja pergi lebih dulu karena ga tahan melihat kemesraan mereka...," sahut Matilda sambil melengos.


Dokter Sheina pun tertawa karena tahu betul bagaimana sikap Aruna di kehamilannya kali ini. Jika di kehamilan pertamanya Aruna terkesan cuek dan mandiri, di kehamilan kedua Aruna justru terlihat manja dan rapuh.


" Dan merepotkan...," kata Matilda seolah bisa membaca pikiran dokter Sheina.


" Kamu betul. Tapi sayangnya Aku suka saat dia merengek manja seperti itu. Aku ga bisa membayangkan jika Aruna memiliki anak. Bisa-bisa bayinya lebih mandiri dibanding ibunya...," kata dokter Sheina sambil tertawa.


Matilda ikut tertawa hingga seorang perawat mengetuk pintu dan mengatakan pasien berikutnya telah siap.


" Suruh masuk ya Sus, makasih...," kata dokter Sheina.


" Baik dok...," sahut sang perawat.


Tak lama berselang masuk lah Aruna dan Kautsar ke dalam ruangan. Melihat Aruna yang sedikit kerepotan dengan perut buncitnya itu, dokter Sheina pun tak dapat menahan diri. Ia dan Matilda tertawa hingga membuat Aruna merenggut kesal.


" Kalian bahagia sekali melihatku kerepotan kaya gini...," gerutu Aruna.


" Sayang jangan ngeluh dong. Kasian kan debaynya...," kata Kautsar mengingatkan.


" Iya iya maaf. Abisnya Kak Sheina dan Tante Matilda bikin gara-gara. Aku kan jadi kepancing Yah. Maafin Bunda ya Nak. Bunda ga repot sama sekali kok bawa Kamu kemana-mana...," kata Aruna sambil mengusap perutnya berkali-kali.


Kautsar, Matilda dan dokter Sheina pun tersenyum. Kemudian Kautsar membantu membaringkan Aruna di brankar agar dokter Sheina lebih mudah mengecek kehamilannya.


Tak lama kemudian suster Ina masuk untuk membantu dokter Sheina. Ia mengoleskan semacam gel dingin ke permukaan perut Aruna. Rupanya akan dilakukan pengecekan USG empat dimensi pada kehamilan Aruna.


Kautsar dan Matilda nampak mengamati layar monitor dengan seksama. Mereka tersenyum saat melihat bayi dalam perut Aruna bergerak.

__ADS_1


" Bayinya sehat dan aktif lho Run...," kata dokter Sheina.


" Alhamdulillah, Aku senang dengernya Kak...," sahut Aruna.


" Berat tubuh si bayi dengan usia kandunganmu juga seimbang. Bagus...," kata dokter Sheina lagi.


" Alhamdulillah...," gumam Kautsar lalu mengecup kening sang istri dengan sayang.


Tiba-tiba dokter Sheina nampak mengerutkan keningnya saat melihat pergerakan lain di balik tubuh sang bayi.


" Sebentar, ini apa ya...?" tanya dokter Sheina sambil mengamati gambar di layar monitor.


" Ada apa Kak...?!" tanya Kautsar dan Aruna bersamaan.


" Masya Allah. Ini sungguh menakjubkan...!" sahut dokter Sheina antusias dengan mata berbinar.


" Kenapa Shei, jangan berteka-teki deh...," kata Matilda tak sabar.


" Sister Kamu liat kan...," kata dokter Sheina sambil menoleh kearah Matilda.


" Liat apa...?" tanya Matilda tak mengerti.


" Maksudmu bayi itu ga sendiri...? " tanya Matilda hingga mengejutkan Aruna dan Kautsar.


" Ga sendiri gimana maksudnya Tante...?" tanya Kautsar cemas.


Bukan tanpa alasan Kautsar khawatir jika ada makhluk lain yang menyusup ke dalam kandungan Aruna. Selama kehamilan Aruna kerap berinteraksi dengan makhluk halus dan dua kali mengalami fase berubah menjadi manusia serigala. Dan itu cukup membuat Kautsar panik. Apalagi baru kali ini Aruna menjalani pemeriksaan USG empat dimensi.


" Kamu ga mikir yang lain kan Tsar...?" tanya dokter Sheina sambil menatap Kautsar.


" Jangan salahkan Aku kalo pikiranku melantur kemana-mana. Salah Kakak sendiri yang ga langsung jelasin ada apa sebenarnya..., " sahut Kautsar ketus.


Bukannya marah mendengar jawaban Kautsar, dokter Sheina justru tersenyum manis.


" Kalian bakal punya bayi kembar. Itu maksudku dengan ada yang lain tadi...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.


Untuk sesaat Aruna dan Kautsar saling menatap tanpa bicara sepatah kata pun. Mereka tersadar saat Matilda bersorak gembira.


" Masya Allah !. Aruna hamil anak kembar...?!" tanya Matilda.

__ADS_1


" Iya Sist...," sahut dokter Sheina mantap.


" Aku ga mimpi kan Kak...?" tanya Aruna dengan suara bergetar.


" Kamu ga mimpi Aruna. Bayimu yang satu ngumpet di belakang saudaranya. Mungkin dia malu atau sengaja sembunyi untuk ngasih surprise sama Ayah Bundanya...," kata dokter Sheina.


" Masya Allah, Alhamdulillah..., " sahut Kautsar dan Aruna bersamaan.


Kautsar pun memeluk Aruna dengan erat. Air mata nampak menitik di wajah keduanya. Sesaat kemudian Kautsar mengurai pelukannya sambil menghapus air mata sang istri.


" Kita bakal punya anak kembar Sayang. Dua anak sekaligus. Apa Kamu siap...?" tanya Kautsar.


" Insya Allah siap. Aku siap...," sahut Aruna lalu kembali memeluk Kautsar sambil menangis.


" Penantianmu dan kesabaranmu saat kehilangan bayimu diganti sama Allah dengan yang lebih baik. Kamu bakal punya anak kembar Sayang. Kembar...!" kata Matilda berapi-api.


" Iya Tante...," sahut Aruna sambil tertawa.


" Tapi kenapa baru ketauan sekarang kalo istriku hamil anak kembar Kak...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Salahkan istrimu yang terus menolak tiap kali Aku menganjurkan periksa USG. Beruntung Kita mengetahuinya sekarang. Bayangkan kalo Kita tau saat melahirkan...," sahut dokter Sheina cepat.


Semua mata di dalam ruangan pun tertuju kearah Aruna.


" Maaf...," kata Aruna sambil nyengir.


" Sudah lah. Yang penting Kita tau kalo kondisi Aruna dan bayi kembarnya saat ini baik-baik saja. Melihat bobot masing-masing bayi, Keliatannya Kamu harus sedikit menambah porsi makan Aruna. Ga usah terlalu banyak yang penting asupan gizi dan vitaminnya cukup untuk Kalian bertiga...," kata dokter Sheina.


" Bukannya tadi Kakak bilang kalo berat bayi dengan usia kehamilanku seimbang...?" protes Aruna.


" Itu kan sebelum Aku tau kalo ada dua bayi di dalam rahimmu Aruna. Untuk bobot dua orang bayi di usia kandunganmu yang sekarang itu jelas masih kurang. Dan Kamu harus patuh sama semua aturan yang Aku terapkan kalo mau Kamu dan si kembar sehat...," kata dokter Sheina tegas.


" Baik lah. Aku udah janji bakal nurut. Jadi terserah Kakak aja...," sahut Aruna.


" Jangan merasa terbebani dengan aturanku Aruna. Lakukan dengan senang hati supaya bayi dalam kandunganmu juga ikut senang...," kata dokter Sheina lagi.


" Siap Kakak cantik...," sahut Aruna sambil tersenyum.


Kemudian Aruna mengusap perutnya dengan lembut. Sedangkan Kautsar nampak mendengarkan dengan seksama 'petuah bijak' yang disampaikan dokter Sheina.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2