Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
54. Jati Diri


__ADS_3

Aruna makin jauh masuk ke dalam hutan. Langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya seolah sengaja menghadang langkahnya.


“ Kita ketemu lagi Aruna...,” sapa Orion lalu membalikkan tubuhnya.


Aruna masih mengenali suara Orion namun ia terkejut saat melihat Orion yang berwujud manusia itu berdiri di depannya. Orion bertubuh tinggi besar. Berwajah tampan dengan kulit sawo matang, rambut hitam dan kedua bola mata berwarna biru. Untuk sesaat Aruna terpana dengan ketampanan Orion.


“ Orion...?” panggil Aruna ragu.


“ Iya Sayang, ini Aku. Ayahmu...,” sahut Orion sambil tersenyum hingga membuat Aruna terkejut.


“ A... Ayahku. Apa maksudmu...?” tanya Aruna dengan suara bergetar.


Orion menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya. Kemudian ia menarik tangan Aruna lalu memeluk gadis itu dengan erat. Tak ada penolakan dari Aruna. Justru gadis itu merasa nyaman dalam pelukan Orion. Perasaan aneh yang dirasakannya beberapa hari ini seolah menemukan jawaban dalam pelukan Orion. Aruna yakin jika saat yang dinantinya akhirnya tiba. Jati dirinya akan segera terungkap.


“ Jadi yang dibilang Om George dan Tante Matilda itu benar...?” tanya Aruna.


“ Iya. Maafkan Aku Aruna, semua terjadi di luar kendaliku. Aku terpaksa menitipkanmu pada Arka dan Diana karena


Aku tak ingin Kamu terluka...,” kata Orion sambil mengecup kening Aruna dengan sayang.


“ Siapa Ibuku...?” tanya Aruna dengan suara tercekat menahan tangis.


Orion menatap Aruna sejenak kemudian mengalir lah cerita dari bibirnya tentang jati diri Aruna.


“ Ibumu wanita yang kuat, sederhana dan cantik. Namanya Risma. Dia penduduk asli desa ini. Aku bertemu dengannya saat Aku sedang sembunyi dari kejaran musuh. Kondisiku saat itu sangat mengenaskan. Ibumu berbeda dengan orang lain, saat melihatku Risma ga lari tapi justru membantuku. Dia mengobati lukaku hingga Aku sembuh...,” kata Orion mengawali ceritanya.


“ Dimana Kalian bertemu...?” tanya Aruna.


“ Di sini...,” sahut Orion sambil menjejakkan kakinya beberapa kali di atas tanah yang dipijaknya.


“ Dimana Ibuku sekarang...?” tanya Aruna tak sabar.


“ Biar Aku lanjutkan ceritaku dulu ya...,” kata Orion sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas.


“ Baik lah...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Risma dan Aku sering bertemu di hutan ini hingga lambat laun Kami saling jatuh cinta. Risma ingin Aku menikahinya tapi Aku ga mau...,” kata Orion.


“ Kenapa, bukan kah Ibuku sangat cantik dan dia berjasa padamu...?” tanya Aruna kesal.

__ADS_1


“ Saat itu Aku merasa tak layak untuknya karena Aku bukan pria lajang. Aku sudah beristri dan memiliki beberapa orang anak. Aku ga ingin melukai hatinya dan menjadikannya wanita simpanan...,” sahut Orion.


“ Ck, menyebalkan...,” gerutu Aruna sambil melengos.


Aruna kesal karena mengira ayah kandungnya adalah seorang play boy. Hal yang paling ia benci dari seorang pria justru ditemui pada sosok ayahnya itu.


“ Tapi Aku juga ga bisa membohongi diriku sendiri karena ternyata Aku terlalu mencintainya. Karena tak ingin Risma salah paham, Aku pun menceritakan siapa diriku sebenarnya. Aku bilang kalo Aku bukan manusia. Aku setengah manusia setengah serigala. Suatu waktu Aku bisa saja berubah menjadi monster yang akan menyakitinya seperti yang telah kulakukan pada ketiga Istriku...,” kata Orion sambil memejamkan matanya.


“ Apa yang Kau lakukan...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Aku telah membantai ketiga Istriku saat Aku berubah menjadi serigala Aruna. Aku tak bisa mengendalikan diriku dan memangsa mereka begitu saja. Setelah sadar ke kondisi normal Aku melihat mayat Istriku yang mengenaskan. Leher koyak dan darah dimana-mana. Aku bingung, Aku benci diriku sendiri. Saat itu Aku masih belajar mengendalikan kekuatanku itu dan Aku ga mau Risma menjadi korban karena kegagalanku


mengendalikan diri...,” sahut Orion hingga mengejutkan Aruna.


“ Kau membantai mereka di waktu bersamaan...?” tanya Aruna yang dijawab gelengan kepala Orion.


“ Aku menikahi mereka di waktu yang berbeda Aruna. Aku menikahi Istri keduaku setelah Istri petamaku wafat, begitu pula Istri ketiga. Aku menikahinya setelah Istri keduaku wafat. Saat bertemu Ibumu Istri ketigaku belum lama wafat. Dan mereka bertiga tewas di tanganku...,” sahut Orion dengan mata berkaca-kaca.


“ Apa saat menikahi Ibuku Kamu bisa mengendalikan diri...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Bisa !. Aku sudah banyak belajar dan akhirnya bisa mengusai diriku. Aku tak menyakiti Risma sama sekali meski pun saat itu naluri membunuh dalam diriku datang dan mencoba mempengaruhiku...,” sahut Orion mantap.


“ Anak-anakku tak berumur panjang, mereka meninggal di usia belia. Hanya Kamu yang bertahan dan tetap hidup hingga saat ini Aruna. Itu karena Aku membawamu pergi dan menitipkanmu pada Arka dan Diana...,” sahut Orion.


“ Kau memangsa mereka juga...?” tanya Aruna.


“ Tidak. Tapi mereka meninggal karena sakit. Darahku dan darah istri-istriku berbeda hingga menyebabkan anak-anakku lahir dengan membawa berbagai kelainan genetik. Secara fisik mereka sehat, tapi mereka tak cukup kuat untuk melawan serangan yang datang dari luar...,” sahut Orion.


“ Kenapa Kau menitipkan Aku pada Papa Arka dan Mama Diana...?” tanya Aruna.


“ Maafkan Aku Aruna, Aku terpaksa melakukannya. Ibumu meninggal usai melahirkanmu. Selain itu musuh lamaku sesama manusia serigala sedang mengejarku. Mereka ingin membunuhku dan keturunanku karena Kita adalah pewaris tahta kerajaan manusia serigala yang dipimpin oleh Kakekmu Arnold. Dan hanya keturunan langsung dari Arnold yang bisa menempati tahta itu. Aku sengaja menyembunyikanmu dengan cara menitipkanmu pada pasangan suami istri itu karena Aku tak ingin musuhku menemukanmu dan melukaimu nanti...,” sahut Orion.


“ Ibuku meninggal karena ulahmu...?” tanya Aruna.


“ Tidak. Dia meninggal karena pendarahan usai melahirkanmu. Saat itu Aku menyaksikan kematiannya sambil


menggendongmu Aruna. Setelah memberi nama pada bayi yang dilahirkannya, Risma pergi...,” sahut Orion sambil mengusap ujung matanya yang basah.


Orion kembali teringat saat ia masuk ke dalam ruangan rawat inap Risma sambil menggendong bayinya.

__ADS_1


“ Sayang, liat Anak Kita. Dia cantik banget ya...,” kata Orion sambil menyerahkan bayinya kepada Risma untuk disusui.


“ Iya Sayang. Dia juga kuat dan tangguh seperti Kamu...,” sahut Risma sambil mengecup kepala bayinya dengan sayang.


“ Aku belum memberi nama untuknya, apakah Kamu udah nyiapin nama untuknya...?” tanya Orion kala itu.


“ Aru... na, namanya A... ru...na Sayang...,” sahut Risma terbata-bata.


Saat itu Orion belum menyadari jika istrinya tengah sekarat. Orion mengira Risma tengah dalam pengaruh obat bius dan menganggapnya wajar.


“ Aruna artinya cahaya yang bersinar di ufuk timur. Bukan kah dia lahir menjelang Subuh tadi...?” tanya Risma lirih lalu mulai memejamkan matanya perlahan sambil mendekap Aruna yang tengah menyusu.


“ Kamu betul. Dia lahir bersama cahaya matahari terbit yang menerangi dunia setelah malam gelap yang panjang. Dan itu artinya dia hadir membawa cahaya dalam kehidupan Kita. Bukan begitu Sayang...?” tanya Orion sambil menatap Risma yang terpejam.


Tak ada sahutan dan itu membuat Orion tersenyum karena mengira istrinya kembali tertidur. Namun saat ia mengamati lebih seksama, ternyata ia tak melihat gerakan layaknya orang yang tertidur. Perlahan Orion mendekatkan jari telunjuknya ke lubang hidung Risma. Ada kecemasan di wajahnya saat tak merasakan nafas Risma.


“ Risma, bangun Sayang...,” kata Orion berulang-ulang sambil menepuk pipi Risma dengan lembut.


Tak ada sahutan sama sekali. Bahkan perlahan tubuh Risma mulai membeku. Di saat bersamaan bayi Aruna menangis keras hingga membuat Orion tersadar. Orion meraih Aruna dari dekapan Risma sambil menangis karena tersadar jika saat itu ia telah kehilangan Risma. Tangisan Orion dan Aruna seolah menjadi lagu sedih pengiring kepergian Risma kembali pada Sang Khaliq.


Orion pun ingat jika tak seorang pun ia ijinkan untuk menggendong Aruna walau saat itu ia sibuk mengurus pemakaman Risma. Orion bertahan di depan makam Risma hingga menjelang Maghrib. Ia baru beranjak dari sana saat menyadari kedatangan musuh-musuhnya. Orion pergi bersama bayinya entah kemana dan sejak saat itu Orion tak pernah kembali ke desa itu.


Orion mengakhiri ingatannya lalu menegakkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Aruna.


“ Lalu dimana Ibuku dimakamkan...?” tanya Aruna sambil terisak.


“ Di pemakaman desa. Aku mengunjungi makamnya sebulan sekali sambil membawakan bunga kesukaannya. Aku juga memberitahu Risma jika Aku telah menitipkanmu pada orang yang tepat dan berharap bisa bertemu dengannya suatu saat nanti...,” sahut Orion.


“ Aku ingin menziarahi makam Ibuku...,” kata Aruna lirih.


“ Nanti malam Kita ke sana. Sekarang kembali lah, mereka bingung mencarimu...,” kata Orion sambil menunjuk


kearah air terjun dimana genk Comot duduk menunggu.


“ Iya. Tapi ini belum selesai kan...?” tanya Aruna.


“ Kita bisa lanjutkan nanti...,” sahut Orion sambil tersenyum.


Aruna mengangguk sambil menghapus air matanya. Sesaat kemudian Aruna kembali bergabung dengan kelima temannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2